Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Masa berontak
Langit malam perlahan-lahan merengkuh kawasan sekitar pemakaman umum. Cahaya keemasan senja yang tadi membias tipis kini telah sepenuhnya ditelan kegelapan, disusul suara azan Magrib yang bersahut-sahutan dari beberapa menara masjid di kejauhan.
Udara dingin perlahan merayap, membawa aroma tanah basah dan wangi kamboja yang menusuk hidung.
Lea baru saja mengusap sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya. Dengan langkah pelan dan mata yang masih sembab kemerahan, ia beranjak berdiri meniggalkan pusara ibunya yang makin temaram.
Kakinya yang pegal membawanya melangkah keluar melewati gerbang pemakaman yang mulai sepi.
Tepat di tepi jalan raya dekat kompleks pemakaman, sebuah warung tenda sederhana dengan pendar lampu gantung kekuningan berdiri tenang.
Di sana, seorang penjual bubur sumsum paruh baya sedang sibuk melayani pembeli. Aroma manis kuah gula merah dan gurihnya santan yang mengepul hangat mendadak mengusik perut Lea yang kosong sejak siang.
Lea kemudian duduk di salah satu bangku kayu panjang yang sedikit terkelupas catnya. "Pak, bubur sumsumnya satu mangkok ya," panggil Lea dengan suara serak.
"Siap, Neng. Pakai kuah gulanya yang banyak?" tanya si penjual ramah.
"Iya, Pak..."
Tak berapa lama, semangkok bubur sumsum hangat dengan lelehan gula jawa yang kental disajikan di hadapannya. Lea meraih sendok bebek plastik, mengaduknya pelan, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
Rasa gurih dan manis yang lembut membelai lidahnya, memberikan sedikit rasa nyaman di tengah kekacauan emosi yang membelenggu hatinya.
Ketika isi mangkok porselen itu tinggal tersisa beberapa suap lagi, dari kejauhan terdengar derum mesin sepeda motor yang khas dan nyaring.
BROOMM... Screeech!
Sebuah sepeda motor matic bongsor berwarna hitam berhenti tepat di samping warung tenda. Pengendaranya melepaskan helm dengan gerakan terburu-buru, dan memperlihatkan wajah Kenzo yang diliputi peluh tipis dan raut panik yang amat sangat.
Matanya yang tajam menyapu sekeliling sebelum akhirnya terkunci pada sosok Lea yang sedang duduk memegang sendok.
Kenzo langsung melompat turun dari motornya, dan melangkah lebar mendekati adiknya.
"Lea!" bentak Kenzo dengan suara yang tertahan namun penuh dengan nada cemas dan amarah yang meluap. "Lu ngapain di sini, sih?! Lu tau gak seluruh orang nyariin lu?! Milla telepon gua bilang lu hilang dari jam istirahat sekolah!"
Lea mendongak dengan pelan. Wajahnya tetap datar, seolah bentakan kakaknya adalah angin lalu. "Aku kan udah WhatsApp Bang Kenzo tadi, ngasih tau kalau aku lagi di daerah pemakaman Mama."
Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar, dan menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi. "WhatsApp lu baru masuk pas gua udah panik setengah mati! Gua langsung tancap gas ke sini! Lu tau gak di rumah tuh..." Kenzo menghentikan kalimatnya sejenak, saat mengingat raut wajah pucat dan cemas ibu tiri mereka tadi. "...ah, tau ah!"
"Abang dimarahin Papa ya?" tanya Lea pelan, sambil menyuap sisa bubur terakhirnya.
"Bukan soal dimarahin Papa!" tegas Kenzo seraya mendudukkan diri di bangku kayu di samping Lea, dan mengusap lehernya yang tegang. "Lu kenapa kabur dari sekolah, Lea? Kenapa harus ke kuburan Mama jam segini?"
Lea meletakkan sendoknya, dan meremas lembaran tisu dapur di tangannya. Matanya kembali berkaca-kaca saat ingatan tentang percakapan teman-temannya di kelas tadi pagi kembali berputar di kepalanya.
"Aku kangen Mama, Bang..." bisik Lea dengan suara bergetar. "Aku gak betah di rumah. Rumah itu udah bukan rumah kita lagi sejak perempuan itu datang."
Kenzo terdiam. Kemarahan di matanya perlahan luntur, berganti menjadi tatapan redup yang penuh pemahaman.
Si penjual bubur mendekat seraya menyerahkan segelas air putih. Lea pun membayar buburnya dengan uang lembaran yang ia ambil dari saku seragam, lalu berdiri dari duduknya.
"Yuk pulang," ajak Kenzo seraya meraih helmnya kembali. "Hari udah gelap banget. Suara azan Magrib juga udah lewat dari tadi. Nanti Papa makin panik."
Namun, Lea justru menggelengkan kepalanya rapat-rapat, dan menolak melangkah menuju motor.
"Aku gak mau pulang sekarang, Bang," ujar Lea tegas.
Kenzo mengerutkan keningnya. "Mau ke mana lagi, Lea? Ini udah malam!"
"Temenin aku nongkrong di kafe bentar, Bang. Please..." mohon Lea dengan mata bulatnya yang memancarkan keputusasaan. "Aku cuma butuh tempat tenang. Kalau pulang sekarang, aku pasti ketemu sama perempuan itu lagi. Aku belum siap, Bang. Aku mohon..."
Kenzo menatap adiknya dalam-dalam. Ia bisa melihat betapa rapuhnya Lea saat ini. Rasa kasihan dan naluri protektif seorang kakak sulung akhirnya mengalahkan akal sehatnya. Kenzo pun menghela napas pasrah, seraya menepuk jok belakang motornya.
"Ya udah. Naik. Tapi gak usah lama-lama."
Motor hitam yang dikendarai Kenzo melaju membelah jalanan kota yang makin ramai oleh pendar lampu kendaraan malam. Suara azan Magrib dari masjid-masjid di sepanjang jalan perlahan-lahan sayup menghilang, tergantikan oleh riuh rendah klakson dan derum mesin.
Tanpa bimbingan dan pengawasan khusus yang konsisten, kedua remaja ini memang kerap melewatkan kewajiban salat lima waktu.
Dulu, sewaktu almarhumah ibu mereka masih ada, ada sosok lembut yang selalu mengetuk pintu kamar mereka setiap kali azan berkumandang, dan membimbing mereka mengambil wudu dan salat berjemaah.
Namun, sejak ibunya meninggal dan Yoga makin sibuk bekerja membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup serta menutupi rasa duka, tradisi itu perlahan menguap.
Meski Yoga sering kali mewanti-wanti dan mengingatkan mereka untuk tidak meninggalkan salat, ketiadaan figur ibu yang mendampingi secara emosional membuat pesan-pesan itu hanya lewat di telinga mereka.
Apalagi sejak kehadiran Ayu di rumah tersebut, masalah dan konflik batin yang menumpuk justru membuat Kenzo dan Lea makin acuh, dan sengaja mengabaikan ibadah sebagai bentuk pemberontakan terselubung atas ketidakbahagiaan yang mereka rasakan.
Beberapa saat kemudian, motor Kenzo akhirnya berhenti di pelataran sebuah kafe berkonsep industrial outdoor yang cukup jauh dari kompleks Perumahan mereka.
Pendar lampu hias gantung dan alunan musik pop manis langsung menyambut kedatangan mereka. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasang anak muda yang sedang bersantai.
Mereka memilih meja kayu di sudut paling remang, agak jauh dari pusat keramaian. Kenzo memesan dua cangkir minuman dingin dan se piring kentang goreng untuk mereka.
Lea duduk bersandar di kursi, pandangannya kosong menatap es batu yang perlahan mencair di dalam gelasnya.
"Diminum dulu esnya," tegur Kenzo pelan, sambil mendorong gelas ke arah adiknya.
Lea meraih sedotannya, dan menyedot minuman itu sedikit, lalu meletakkannya kembali. Kesunyian di antara mereka berlangsung cukup lama sebelum akhirnya Lea membuka suara, dan memecahkan kecanggungan.
"Bang... Abang benci gak sama Tante Ayu?" tanya Lea tiba-tiba, matanya menatap lurus ke dalam mata Kenzo.
Kenzo menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket hoodie hitamnya. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap datar ke arah pendar lampu di atas meja.
"Gua gak kenal dia," sahut Kenzo singkat dengan nada suaranya yang tenang namun terdengar dingin.
"Tapi dia udah ngerebut semuanya, Bang!" potong Lea, suaranya mendadak meninggi hingga membuat beberapa pengunjung di meja lain sempat menoleh. Lea pun menurunkan nada suaranya, namun emosi yang tertahan di matanya membara amat pekat.
"Tadi di sekolah..." cerita Lea dengan bibir gemetar, "Milla sama Rina sibuk memuji-muji wanita itu. Mereka bilang wanita itu baik, lembut, keibuan... Mereka bilang aku beruntung punya ibu tiri seumuran yang bisa diajak cerita. Mereka gak tahu apa-apa, Bang!"
Kenzo tetap diam, dan menyimak setiap patah kata yang keluar dari mulut adiknya tanpa menyela sedikit pun.
Air mata Lea pun kembali menetes membasahi pipinya. "Aku benci banget sama dia, Bang. Aku benci cara dia tersenyum sok manis tiap pagi. Aku benci cara dia melayani Papa seolah-olah dia udah bertahun-tahun jadi istri di rumah itu. Dan yang paling bikin aku sakit hati... dia ngerebut Moana!"
Lea meremas jemarinya sendiri di atas meja hingga memutih. "Semalam, pas Moana nangis karena mimpi buruk, biasanya aku yang datang, Bang. Aku yang peluk Moana, aku yang nyanyiin dia lagu biar tidur lagi... Tapi semalam, wanita itu yang masuk duluan ke kamar Moana. Dia acting seolah-olah dialah ibu kandungnya Moana! Posisi aku sebagai kakak direbut gitu aja, Bang!"
Tangis Lea pecah semakin mendalam, sembari menutup wajahnya dengan kedua belapak tangan. Bahunya berguncang hebat karena menahan rasa sesak yang menghimpit dada.
Kenzo menatap adiknya yang terisak-isak. Meski Kenzo tidak banyak membalas atau meluapkan emosinya secara meledak-ledak seperti Lea, tatapan matanya yang meredup memperlihatkan bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan kepedihan dan keterasingan yang sama.
Ia paham betul rasa sakit yang dirasakan Lea, rasa takut kehilangan kenangan almarhumah ibu mereka, serta rasa terancam oleh kehadiran sosok baru yang mencoba mengisi ruang kosong di rumah mereka.
Kenzo lalu mengulurkan tangannya di atas meja, dan mengusap pelan punggung tangan Lea yang berguncang.
"Gua paham, Lea..." bisik Kenzo dengan suara yang amat dalam. "Gua paham banget apa yang lu rasain."
Lea mendongak dan menatap kakaknya dengan mata yang sembab dan merah. "Abang juga benci kan sama dia? Kita gak boleh biarkan dia menggantikan Mama, kan?"
Kenzo tidak menjawab secara gamblang. Ia hanya menatap adiknya dengan tatapan tegar namun sarat akan beban berat yang dipikul bersama. "Udah, jangan menangis lagi. Muka lu udah jelek banget."
Kenzo menyodorkan selembar tisu ke arah Lea. Meski jawaban Kenzo sangat minim, kehadiran sang kakak yang mau mendengarkan dan menyimak seluruh tumpahan sakit hatinya membuat perasaan Lea sedikit lebih lega.
Namun, di balik keheningan meja kafe itu dan waktu yang makin larut menembus malam, mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa di rumah megah yang mereka tinggalkan, sang ayah dan Ayu sedang berada dalam puncak kepanikan yang hebat dan menunggu kepulangan mereka dalam rasa cemas yang tak bertepi.
Bersambung...