Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Muslihat di Balik Benteng
"Anak muda dari Shinano itu memiliki mata yang terlalu tajam untuk seseorang seusianya, Kanbei."
Toyotomi Hideyoshi menuangkan sakramen beras hangat ke dalam cangkir porselen mewahnya. Angin malam Gunung Ishigaki berembus menerobos tirai kemah komando raksasa, menggoyangkan panji-panji bernoda labu kuning yang tergantung di pilar utama. Di luar kemah, suara riuh puluh ribuan prajurit, derak pedati pasokan, dan dentuman batu-batu besar yang dipindahkan para buruh terdengar bagaikan deru gelombang pasang yang tak pernah surut.
Kuroda Kanbei, yang duduk di atas bantal jerami di seberang meja rendah, tidak langsung menjawab. Ia menggeser peta Kanto dengan jemarinya yang kurus sebelum mendongak menatap sang Kampaku.
"Sanada Nobushige bukan sekadar prajurit muda yang haus darah, Tuan," sahut Kanbei lambat. Suaranya serak namun jernih, membawa ketenangan dingin di tengah riuhnya suasana perkemahan. "Dia adalah cerminan dari Masayuki. Masayuki mengirim putranya ke Odawara bukan karena rasa takut yang murni kepada klan Toyotomi, melainkan untuk membaca ke mana arah angin kemenangan akan berhembus."
Hideyoshi menyipitkan matanya, lalu terkekeh pelan sebelum meminum sakramennya dalam satu tegukan. "Rubah tua dari Shinano itu selalu bermain di dua sisi. Tapi malam ini, aku ingin melihat apakah darah muda Sanada bisa kita gunakan untuk meretakkan benteng Odawara lebih cepat."
"Mereka sudah menunggu di luar, Tuan Kampaku," ujar Kanbei seraya membetulkan posisi tongkat kayunya. "Hamba telah menyusun penempatan pasukan mereka di sayap utara, tepat di celah jalan pegunungan yang berhadapan dengan gerbang pertahanan Hojo Ujifusa."
"Panggil mereka masuk," perintah Hideyoshi, mengibaskan lengan baju sutranya yang mewah.
Tirai kemah utama tersingkap. Sanada Nobushige melangkah masuk bersama kakaknya, Sanada Nobuyuki, serta Anayama Kosuke yang mengawal di belakang mereka.
Langkah kaki Nobushige mantap dan tanpa ragu, meski udara di dalam kemah raksasa itu dipenuhi oleh wibawa menekan dari penguasa tertinggi Jepang. Baju zirah akatoshiku merah menyalanya memantulkan cahaya pelita minyak, memperlihatkan ukiran enam keping koin Rokumonsen di dada yang tampak bagaikan bara api menyala.
Nobushige dan Nobuyuki berlutut di atas tikar tatami, menundukkan kepala dengan khidmat di hadapan Hideyoshi dan Kuroda Kanbei.
"Sanada Nobushige dan Sanada Nobuyuki dari Shinano, menghadap Tuan Kampaku," ucap Nobushige dengan suara lantang dan jernih.
Hideyoshi menatap kedua bersaudara itu dengan mata kecilnya yang licik, lalu tersenyum lebar—sebuah senyuman ramah yang sering kali menyembunyikan niat mematikan di baliknya.
"Berdirilah, anak-anak muda dari Shinano!" panggil Hideyoshi riang. "Masayuki beruntung memiliki putra-putra gagah seperti kalian. Perjalanan dari perbatasan Kai pasti sangat melelahkan, bukan?"
"Suatu kehormatan bagi klan Sanada untuk memenuhi panggilan Tuan Kampaku," jawab Nobuyuki dengan nada sopan dan terukur, mengambil alih diplomasi formal. "Pasukan berkuda kami sebanyak dua ribu prajurit telah bersiap di posisi yang ditentukan dan siap menerima perintah."
Kuroda Kanbei condong ke depan, menancapkan tongkat kayunya ke lantai kayu perkemahan. Matanya yang tajam mengunci pandangan Nobushige.
"Dua ribu prajurit berkuda Shinano adalah kekuatan yang sangat berharga, Nobushige-dono," sela Kanbei, suaranya datar tanpa emosi. "Namun di Odawara, kita tidak bertarung di padang rumput terbuka tempat kuda bisa berlari bebas. Kita menghadapi benteng batu berparit ganda yang dilindungi oleh puluhan ribu senapan."
Nobushige menatap balik sang ahli strategi tanpa rasa gentar. "Klan Sanada tidak hanya bertarung di atas punggung kuda, Tuan Kanbei. Di Pegunungan Shinano, kami terbiasa memanjat tebing batu dan merebut benteng-benteng yang dianggap mustahil untuk ditembus."
Hideyoshi tertawa renyah mendengar jawaban bernada percaya diri itu. "Bagus! Jawaban yang sangat disukai seorang prajurit!"
Hideyoshi lalu menunjuk ke arah peta Kanto yang dibentangkan Kanbei di atas meja. "Kanbei, tunjukkan pada mereka posisi tugas klan Sanada."
Kanbei menggeser sebuah segel kayu berwarna merah ke arah garis pertahanan utara Benteng Odawara.
"Tugas klan Sanada adalah mengunci celah Gunung Usui dan memotong jalur komunikasi antara Benteng Odawara dengan benteng-benteng satelit klan Hojo di Hachigata dan Shimotsuke," terang Kanbei. "Namun, sebelum serangan umum dimulai saat penebangan hutan Gunung Ishigaki selesai lusa, aku ingin klan Sanada melakukan serangan pengecoh di gerbang utara."
Nobuyuki mengerutkan dahinya tipis. "Serangan pengecoh?"
"Benar," lanjut Kanbei dingin. "Klan Hojo saat ini sangat yakin bahwa seluruh kekuatan utama kita terkonsentrasi di pesisir selatan. Jika klan Sanada melakukan gempuran cepat di sektor utara besok malam, perhatian komandan pertahanan Hojo akan terpecah. Mereka akan mengalihkan sebagian pasukan cadangan mereka dari celah tengah menuju utara."
Nobushige menyimak setiap kata yang meluncur dari bibir Kanbei. Otak militernya yang tajam langsung menangkap maksud tersirat di balik perintah tersebut. Serangan pengecoh di garis depan gerbang utara berarti klan Sanada harus bertindak sebagai umpan terbuka—menerjang hujan anak panah dan tembakan senapan musuh agar fokus pertahanan Hojo teralih dari proyek pembangunan benteng rahasia di Gunung Ishigaki.
Itulah taktik khas Kuroda Kanbei, mengorbankan bidak-bidak luar demi memastikan mahakarya utamanya tak tersentuh.
"Tuan Kanbei," panggil Nobushige pelan namun tegas. "Apakah serangan pengecoh ini akan didukung oleh pasukan artileri senapan dari klan Uesugi di sayap kiri?"
Kanbei menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkesan oleh kecepatan berpikir Nobushige yang langsung menyadari risiko taktik tersebut.
"Pasukan Uesugi akan memberikan tembakan bantuan dari bukit sebelah barat," jawab Kanbei. "Namun barisan depan yang menyentuh parit pertahanan tetaplah klan Sanada. Apakah kau ragu, Nobushige-dono?"
"Klan Sanada tidak pernah ragu menjalankan tugas," jawab Nobushige lurus, matanya berkilat penuh tekad. "Namun kami bertarung untuk membawa kemenangan bagi Tuan Kampaku, bukan untuk membuang nyawa prajurit kami secara sia-sia. Jika klan Sanada menjadi pemicu di utara, saya memohon izin agar pasukan kami diizinkan menggunakan taktik penyusupan malam khas Shinano, bukan serangan membabi buta di siang hari."
Hideyoshi menatap Nobushige dengan rasa kagum yang makin tebal. Pria yang naik dari status pembawa sandal itu sangat menyukai prajurit yang memiliki keberanian untuk bernegosiasi di meja komando tanpa kehilangan rasa hormat.
"Izin diberikan!" potong Hideyoshi cepat sebelum Kanbei sempat bersuara. Hideyoshi menepuk mejanya girang. "Gunakan cara apa saja yang kau suka, Nobushige! Serang mereka di tengah kegelapan, bakar menara pengawas mereka, dan buat klan Hojo gemetar memikirkan nama Sanada!"
"Hamba menjunjung tinggi perintah Tuan Kampaku," balas Nobushige seraya membungkuk dalam-dalam.
Satu jam kemudian, ketiga utusan Sanada melangkah keluar dari kemah utama Toyotomi. Udara malam Gunung Ishigaki terasa dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan asap kayu bakar dari ribuan api unggun perkemahan.
Nobuyuki berjalan di samping adiknya dengan raut wajah cemas. "Kanbei sengaja menjadikan kita umpan, Nobushige. Dia ingin menguji kekuatan kita sekaligus menghemat pasukan utama Toyotomi."
"Aku tahu, Kak," jawab Nobushige tenang, membetulkan letak pedang panjang di pinggangnya. "Tapi ini adalah kesempatan yang diberikan takdir. Jika kita berhasil meretas pertahanan utara Odawara besok malam dengan taktik kita sendiri, nama klan Sanada tidak akan lagi dipandang sebelah mata oleh Hideyoshi maupun Tokugawa Ieyasu."
"Kau sangat berani bernegosiasi langsung dengan Kanbei di depan Hideyoshi tadi," puji Anayama Kosuke dari belakang. "Banyak daimyo tua yang gemetar jiwanya hanya untuk menatap mata Kuroda Kanbei."
Nobushige menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah puncak Gunung Ishigaki yang masih tertutup rapat oleh rindangnya pohon-pohon cedar tua. Di balik kegelapan hutan itu, ribuan buruh sedang menyelesaikan benteng kayu raksasa yang akan mengejutkan dunia dua hari lagi.
"Kanbei bertarung dengan angka dan kalkulasi dingin," kata Nobushige pelan, matanya menerawang jauh. "Tapi perang bukan sekadar hitungan di atas kertas. Besok malam, klan Sanada akan membuktikan bahwa keberanian dan keliaran taktik gunung sanggup menembus kalkulasi paling rumit sekalipun."
Nobushige memutar tubuhnya, berjalan kembali menuju perkemahan pasukannya di lereng utara. Di dalam dadanya, semangat muda Sanada membara hangat—siap menyambut gempuran pertama di Odawara, sementara di tempat yang jauh di barat, Mumei kecil di Gunung Kurama dan Bennosuke di Mimasaka terus melangkah menelusuri jalan takdir mereka masing-masing di bawah naungan langit Jepang yang sedang bergolak.