NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Luka Semalam dan Benteng Prasangka yang Meretas

Udara dingin kawasan kaki Gunung Salak menusuk hingga ke tulang, namun rasa dingin itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang merajai dada Naya. Sejak jeritan hesteris dan denting pisau yang terjatuh di atas lantai kayu semalam, rumah kayu bersahaja itu tenggelam dalam keheningan yang mencekat.

Gavin tidak pergi. Pria itu tidak pernah menggeser posisinya sedikit pun dari ambang pintu kamar. Sepanjang malam, ia duduk bersandar di dinding luar kamar Naya, membiarkan luka pada telapak kakinya yang tertusuk pecahan gelas mengering tanpa diobati. Jejak darah kering di atas lantai kayu menjadi saksi bisu kegilaan cinta, keputusasaan, dan dosa masa lalu yang kini menagih bayaran.

Naya meringkuk di atas pembaringan, masih mengenakan mukena putih yang kini kusam dan kusut. Matanya bengkak, sembap, dan menyiratkan keletihan jiwa yang amat sangat. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan ayahnya yang dipeluk kehinaan di balik jeruji besi berbenturan dengan wajah Gavin yang menatapnya penuh obsesi suci.

Pernikahan yang ia sangka sebagai pelabuhan terakhir dari pelarian hidupnya, ternyata tak lebih dari sebuah panggung teater yang dirancang di atas reruntuhan penderitaan keluarganya sendiri. Rasa cinta yang merambat di dadanya kini menjelma menjadi sembilu. Bagaimana mungkin ia bisa memeluk pria yang darahnya mengalir dari sosok yang merenggut nyawa dan nama baik ayahnya?

Ketika bayang-bayang pohon pinus di luar jendela mulai memanjang tersapu sinar matahari pagi, ketukan pelan terdengar di pintu kamar.

"Naya..." suara Gavin terdengar sangat parau, pecah oleh keputusasaan yang tertahan. "Evan sudah menyiapkan sarapan dan obatmu. Buka pintunya, Tolong... Kamu boleh membenciku, kamu boleh meludahi mukaku, tapi jangan siksa dirimu dengan tidak makan."

Naya tidak menjawab. Ia bahkan tidak bergeming.

Pintu yang memang tidak dikunci itu perlahan terdorong. Gavin melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah setiap jengkal lantai kayu yang ia pijak bisa pecah kapan saja. Penampilannya sangat berantakan; kemeja kasualnya kusut, lingkaran hitam tebal mengitari matanya, dan langkah kakinya pincang karena luka semalam. Di tangannya, ia membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas air putih.

Gavin meletakkan nampan itu di atas meja nakas—menutupi bekas tempat amplop cokelat yang semalam menghancurkan dunia mereka. Pria itu berlutut di samping ranjang, menjaga jarak agar tidak memicu histeria Naya seperti semalam.

"Aku tahu, permintaan maaf seribu kali pun tak akan sanggup menghapus fakta bahwa darah Ardiansyah telah menorehkan luka paling dalam di hidupmu," bisik Gavin, matanya menerawang menatap jemari Naya yang terkepal rapat di atas selimut. "Tapi Naya... demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, ketakutanku kehilanganmu jauh lebih besar daripada ketakutanku akan neraka. Jika kamu ingin aku membayar dosa ayahku, katakan bagaimana caranya. Aku akan lakukan. Apa saja, Naya."

Naya perlahan memiringkan kepalanya, menatap Gavin dengan tatapan dingin yang tak pernah Gavin lihat sebelumnya. Tatapan dari seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.

"Bagaimana cara membayarnya, Gavin?" suara Naya terdengar begitu pelan, namun bergetar hebat oleh kepahitan. "Bisa kamu hidupkan kembali ayahku? Bisa kamu bersihkan nama almarhum yang mati dalam hinaan masyarakat? Bisa kamu hapus fakta bahwa selama tiga tahun ini, setiap kali kamu menyentuhku, kamu sedang melihat anak dari korban kejahatan keluargamu?!"

Gavin terdiam, tenggorokannya menyempit, tak sanggup menyanggah satu kata pun. Setiap pertanyaan Naya adalah belati yang menancap tepat di jantungnya.

"Kamu menyebut ini cinta, Gavin," lanjut Naya seraya bangkit duduk, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Air mata baru kembali menetes membasahi pipinya yang pucat. "Tapi bagiku, ini adalah penjara paling kejam. Kamu memenjarakanku dalam bayang-bayang rasa bersalahmu. Kamu menikahiku agar jiwamu merasa tenang, bukan?!"

"TIDAK!" tegas Gavin, menatap Naya dengan ketulusan yang membakar. "Awalnya aku mencarimu memang karena rasa bersalah, aku tidak akan memungkirinya! Tapi detik aku melihatmu berjuang sendirian bertahan hidup, detik aku melihat ketulusan hatimu di tengah dunia yang kejam ini... rasa bersalah itu musnah, Naya! Yang tersisa hanya cinta. Cinta yang teramat sangat hingga aku rela menjadi iblis untuk melindungimu dari iblis yang sebenarnya!"

Naya terkekeh sumbang—sebuah tawa kecil yang sarat akan air mata pernikahan yang kering. "Iblis yang sebenarnya? Bukankah iblis itu adalah keluargamu? Ibu Eleanor... dan mendiang ayahmu?"

Belum sempat Gavin membalas, suara gemuruh mesin mobil yang mendadak berhenti di halaman depan menggetarkan ketenangan rumah kayu itu. Tak lama kemudian, suara benturan keras pintu rumah yang didobrak paksa terdengar bergema hingga ke dalam kamar.

Gavin berdiriseketika, naluri pelindungnya langsung bangkit. Ia menggeser tubuhnya ke depan Naya, menyembunyikan istrinya di balik punggungnya.

"Evan! Ada apa?!" teriak Gavin seraya melangkah keluar kamar.

Namun bukan Evan yang berdiri di lorong rumah. Tiga orang pria berjas hitam dengan wajah dingin tampak menahan Evan yang sudah tersungkur di lantai dengan sudut bibir berdarah. Dan di tengah-tengah mereka, melangkah masuk seorang wanita paruh baya dengan anggun, mengenakan gaun sutra kelabu dan kacamata hitam yang perlahan dilepasnya.

Eleanor Ardiansyah.

Naya, yang menyusul keluar dari kamar dengan langkah gemetar, membeku di tempatnya. Ibu mertuanya—wanita yang selalu menatapnya bagaikan kotoran yang menempel di sepatu mahalnya—kini berdiri di dalam rumah rahasia mereka.

"Pemandangan yang sangat dramatis untuk sebuah pelarian," sindir Eleanor dengan senyum tipis yang amat dingin. Suaranya bergema menembus dinding-dinding kayu yang sunyi. "Ibu kira kamu bersembunyi di tempat yang lebih mewah, Gavin. Ternyata kamu menyeret dirimu ke gubuk busuk ini hanya demi seorang wanita pembuat sial."

"Cukup, Ibu!" bentak Gavin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Matanya menyala penuh amarah. "Bagaimana Ibu bisa menemukan tempat ini?!"

Eleanor tertawa pelan, sebuah tawa yang meremehkan. "Kamu meremehkan jaringan Ardiansyah Group, Nak. Kamu pikir kamu bisa lari dari Ibu hanya karena kamu membawa wanita ini? Dan kamu..." Mata tajam Eleanor beralih menatap Naya yang berdiri pucat di belakang Gavin. "...Ibu lihat kamu sudah membaca surat dari 'sahabat' lamamu. Baguslah. Setidaknya kamu sadar diri sekarang di mana posisimu."

Naya mencengkeram lipatan pakaiannya, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya di tengah kehancuran jiwanya. "Kenapa... Kenapa Anda tega melakukan ini pada ayah saya, Nyonya Eleanor? Kenapa Anda menghancurkan hidup keluarga kami sepuluh tahun lalu?!"

Eleanor melangkah mendekat, mengabaikan tatapan membunuh dari Gavin. Ia berhenti persis dua langkah di depan Naya, menatap wanita muda itu dengan pandangan sarat penghinaan.

"Kenapa?" ulang Eleanor dengan nada datar. "Karena ayahmu hanyalah serangga kecil yang mudah dikorbankan demi menyelamatkan nama besar Ardiansyah! Ayahmu yang bodoh itu percaya begitu saja pada janji manis suamiku. Dia menandatangani berkas audit itu karena dia butuh uang untuk biaya berobat ibumu yang sekarat! Dia menjual dirinya sendiri, Anindya Naya! Kami tidak memaksa, kami hanya memanfaatkan kebodohan dan kemiskinan keluargamu!"

"IBU!" raung Gavin, hendak melangkah maju menyerang ibunya sendiri, namun dua pengawal Eleanor langsung memasang badan.

Kata-kata Eleanor bagaikan petir di siang bolong bagi Naya. Fakta baru yang diungkapkan mertuanya itu menghantam ulu hatinya begitu telak. Ayahnya... mengorbankan nama baiknya demi mengobati ibunya yang dulu sakit sakaratul maut?

"Dan sekarang," lanjut Eleanor tanpa belas kasihan sedikit pun, "kamu masuk ke dalam hidup anakku, memanfaatkan rasa kasihan dan rasa bersalah Gavin untuk menguras hartanya, memecah belah hubungan ibu dan anak, serta menghancurkan reputasi perusahaan yang dibagun dengan darah dan air mata! Kamu tidak berbeda dengan ayahmu—benalu!"

Sindiran pedas itu menusuk relung hati Naya yang paling dalam. Rintihan air mata pernikahan yang selama ini ia tahan meledak kembali. Prasangka buruk yang disematkan padanya, tuduhan bahwa ia adalah wanita pemuji harta, serta kenyataan pahit tentang pengorbanan ayahnya berbaur menjadi sebuah gejolak perlawanan yang mendadak menyala di dalam dadanya.

Selama ini Naya hanya diam. Selama ini ia menerima segala hinaan Eleanor karena merasa bersalah atas identitas palsunya. Tapi hari ini, di atas puing-puing Patah hatinya, Naya menyadari satu hal: bertoleransi pada ketidakadilan tidak akan pernah membuat iblis berhenti meremukkannya.

Naya melangkah keluar dari perlindungan bahu Gavin. Ia berdiri tegap, menegakkan kepalanya di hadapan Eleanor Ardiansyah. Meskipun matanya bersimbuh air mata, sorot matanya kini memancarkan keberanian yang membakar.

"Cukup, Nyonya Eleanor," ucap Naya dengan suara tegas dan berwibawa, membuat Eleanor sedikit terkejut. "Anda menyebut ayah saya serangga, Anda menyebut kami kemiskinan yang bisa dibeli... tapi ketahuilah, ayah saya mati dengan martabat yang jauh lebih tinggi daripada Anda dan suami Anda!"

"Naya..." bisik Gavin terpana melihat perubahan pada istrinya.

"Ayah saya mengorbankan dirinya demi cinta pada istrinya!" seru Naya, keluhan dan perlawanannya meluncur deras tanpa bisa dihentikan. "Sedangkan Anda dan almarhum suami Anda menyerahkan kehormatan dan keimanan Anda demi tumpukan harta dan tahta yang sementara! Siapa yang sebenarnya jahat di sini, Nyonya?! Siapa yang sebenarnya miskin jiwanya?!"

Muka Eleanor memerah padam. "Berani sekali kamu—"

"Saya memang tidak punya harta seperti Anda!" potong Naya dengan nada bergelut melawan intimidasi mertuanya. "Saya memang bukan berasal dari keluarga bangsawan! Tapi saya tidak pernah menjual harga diri saya! Jika Anda pikir saya bertahan di samping Gavin karena harta Ardiansyah Group, Anda salah besar! Ambil seluruh harta itu! Ambil jabatan Gavin! Ambil perusahaan Anda yang dibangun di atas penderitaan orang lain!"

Naya berbalik menatap Gavin, air matanya menetes pelan mengiringi keputusan paling berat dalam hidupnya.

"Gavin... dengarkan aku," ujar Naya, suaranya melunak namun sarat kepastian. "Aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Tapi aku tidak bisa hidup dalam rumah tangga yang berlandaskan dosa berdarah dan kepura-puraan. Aku tidak bisa menjadi istri yang membuatmu kehilangan ibumu, dan aku tidak bisa menjadi wanita yang mengkhianati arwah ayahku sendiri dengan menikmati kemewahan dari pria yang keluarganya menghancurkan hidupku."

"Naya, apa yang kamu katakan?! Jangan seperti ini, aku mohon!" panggil Gavin dengan suara penuh kegilaan, mencoba meraih tangan Naya, namun Naya mundur setapak.

"Hari ini, di hadapan ibumu dan di hadapan Allah..." Naya melepaskan cincin pernikahan yang melingkar manis di jari manisnya, lalu meletakkannya di atas telapak tangan Gavin yang bergetar. "...aku kembalikan kebebasanmu, Gavin. Kembalilah menjadi putra Ardiansyah Group. Bersihkan namamu. Jangan hancurkan hidupmu demi wanita yang hatinya sudah hancur berkeping-keping ini."

Gavin menatap cincin di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Seluruh dunianya runtuh. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun itu mendadak jatuh berlutut di depan Naya, menggenggam erat cincin itu di dadanya seraya terisak parah.

"Tidak, Naya... Jangan tinggalkan aku... Aku mohon, buang aku ke mana saja, tapi jangan tinggalkan aku..." tangis Gavin pecah, pertahanan pria perkasa itu hancur total.

Eleanor menatap pemandangan itu dengan napas memburu. Ia menang dalam upayanya memisahkan mereka, namun melihat putranya berlutut dan merintih seperti kehilangan nyawa membuat dadanya sendiri terhantam rasa sakit yang aneh. Apakah ini kemenangan yang ia inginkan?

Tiba-tiba, dari arah luar pintu yang terbuka, sosok Rian—pria yang selama ini menjadi dalang konspirasi dan penyebar berkas rahasia—muncul bersama beberapa wartawan yang membawa kamera menyala.

"Luar biasa! Pemandangan yang sungguh menyentuh hati!" seru Rian seraya bertepuk tangan provokatif. Kamera-kamera wartawan mulai menembakkan kilatan lampu kilat, mengabadikan momen kehancuran keluarga Ardiansyah di rumah kayu tersebut.

"Rian?!" pekik Eleanor murka. "Bagaimana kamu—"

"Terima kasih atas drama indahnya, Nyonya Eleanor," potong Rian dengan senyum iblisnya. "Seluruh Indonesia sekarang sedang menonton secara langsung bagaimana Ardiansyah Group dibangun di atas penggelapan dana dan bagaimana Anda menghancurkan hidup keluarga Anindya Naya! Salinan audit tahun 2016 sudah saya sebarkan ke pihak kepolisian dan bursa saham!"

Kepanikan seketika melanda ruangan itu. Eleanor terduduk lemas di sofa, wajahnya pucat pasi saat menyadari bahwa permainan konspirasi yang ia rancang justru memakan dirinya sendiri. Saham Ardiansyah Group dipastikan akan anjlok ke titik terendah, dan ancaman penjara kini mengintai dirinya atas keterlibatannya dalam kasus sepuluh tahun lalu.

Di tengah kekacauan itu, di antara kilatan lampu kamera dan jeritan panik Eleanor, Naya berdiri diam. Tiba-tiba, sebuah kesadaran dahsyat menghantam sanubarinya.

Inilah takdir.

Inilah cara takdir mempermainkan kehidupan mereka. Pernikahannya dengan Gavin bukanlah sebuah kebetulan yang penuh dosa, bukan pula sekadar obsesi atau rasa bersalah. Pernikahan ini adalah jalan yang ditakdirkan Tuhan untuk membuka kebenaran yang selama sepuluh tahun terkubur dalam kegelapan. Gavin dikirim ke hidupnya bukan untuk menyiksanya, melainkan untuk menjadi kunci yang membongkar kejahatan dan mengembalikan martabat almarhum ayahnya.

Naya menatap Gavin yang masih berlutut di lantai, memeluk kakinya dengan sisa kekuatan yang ada, bersiap pasang badan melindungi Naya dari kerumunan wartawan yang mulai merangsek masuk. Pria itu—terlepas dari segala rahasia dan dosa keluarganya—telah mengorbankan segalanya: tahta, harta, kehormatan, bahkan hubungannya dengan sang ibu, hanya demi mendekap dan mencintai Naya dengan tulus.

Inilah kisah pernikahan dan cinta kita, batin Naya menyayat hati. Saling melukai, saling mempertahankan, bergelut dalam perlawanan, hingga akhirnya disadarkan oleh hakikat takdir yang sebenarnya.

"Gavin..." bisik Naya lembut, merengkuh kepala suaminya yang terkulai di lututnya.

Gavin mendongak, menatap Naya dengan mata merah bersimbuh air mata. "Naya... aku akan melindungimu, sampai napas terakhirku..."

Naya tersenyum manis di tengah banjir air matanya—sebuah senyuman ketulusan cinta yang akhirnya mengalahkan benteng prasangka dan dendam. Ia tahu, jalan di depan mereka akan sangat terjal. Prahara hukum, skandal media, dan kebencian masyarakat akan memburu mereka. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya merasa tidak lagi berjalan sendirian.

"Bangun, Gavin," bisik Naya tegas namun hangat, menggenggam jemari suaminya yang berdarah. "Kita hadapi takdir ini bersama-sama. Bukan sebagai korban, tapi sebagai suami istri yang akan menyelesaikan apa yang telah dimulai masa lalu."

Gavin terpana, sebuah kehangatan dahsyat meledak di dadanya. Pria itu bangkit, berdiri kokoh di samping Naya, menggenggam erat tangan istrinya di hadapan sorotan kamera, di hadapan ibunya yang hancur, dan di hadapan takdir yang kini tak lagi sanggup memisahkan mereka.

Namun, ketika langkah pertama untuk menghadapi badai itu baru saja dimulai, Rian menatap mereka dengan tatapan sinister dari sudut ruangan. Pria itu merogoh ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang.

Rencana B dijalankan sekarang. Habisi mereka berdua.

Sanggupkah ketulusan cinta yang baru saja mekar di atas Patah hati itu bertahan dari ancaman nyawa yang sesungguhnya? Dan rahasia kelam apa lagi yang disimpan oleh Rian untuk menghancurkan sisa-sisa napas pernikahan mereka?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!