Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekacauan
Pintu lift berdenting pelan saat tiba di lantai tiga Gedung Spesialis Rumah Sakit Harapan. Siang itu di koridor tampak dipadati oleh barisan pasien paruh baya dan keluarga yang mengantar. Kesibukan khas rumah sakit, suara perawat memanggil nomor antrean melalui pengeras suara, langkah kaki yang terburu-buru, serta aroma karbol yang pekat—mengisi seluruh atmosfer ruangan.
Dimas melangkah keluar terlebih dulu dari lift, diikuti oleh dua pengawal yang langsung mengambil posisi di depan kursi roda Ibu Alisa. Dua pengawal lainnya berjaga ketat di barisan belakang, memastikan perimeter keamanan tiga ratus enam puluh derajat tetap terjaga sempurna.
Naura mendorong kursi roda ibunya dengan perlahan menuju meja administrasi untuk menyerahkan berkas kontrol medis. Meskipun kalung safir pemberian Adrian yang melingkar di lehernya memberikan sedikit rasa hangat dan aman, firasat buruk yang dia rasakan sejak subuh tidak kunjung hilang. Dadanya terus berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah instingnya sedang berteriak bahwa ada bahaya besar yang mengintai di balik dinding-dinding putih ini.
"Nyonya Naura, silakan menunggu di ruang tunggu khusus VIP di sebelah kanan. Pemeriksaan Ibu Anda akan dijadwalkan sepuluh menit lagi," ucap Dimas setelah menyelesaikan urusan administrasi, menunjuk ke sebuah ruangan dengan pintu kaca buram yang agak terpisah dari kerumunan umum.
Naura mengangguk pelan. "Terima kasih, Dimas."
Mereka melangkah memasuki ruang tunggu VIP yang jauh lebih tenang. Namun, tepat ketika Ibu Alisa baru saja menduduki salah satu sofa empuk di dalam ruangan tersebut, sebuah suara benturan keras yang diikuti oleh teriakan histeris memecah ketenangan lantai tiga.
Brak!
"Kebakaran! Ada asap di koridor barat! Keluar semuanya!"
Teriakan panik itu bergaung hebat melalui lorong-lorong rumah sakit. Dalam hitungan detik, alarm sistem keselamatan gedung mulai berbunyi nyaring dengan lampu merah yang berputar-putar di langit-langit. Dari arah koridor luar, kepulan asap putih yang sangat pekat dan tebal bertiup masuk dengan cepat, menyelimuti pandangan mata dalam sekejap.
Suasana tenang di lantai tiga seketika berubah menjadi neraka kekacauan massal. Ratusan pasien dan pengunjung yang panik mulai berlarian menyelamatkan diri secara serabutan. Mereka saling dorong, berteriak ketakutan, dan berdesakan menuju pintu keluar tangga darurat, menciptakan situasi yang luar biasa kacau.
Di dalam ruang tunggu VIP, Dimas seketika bersiaga penuh. Dia menarik senjatanya secara tersembunyi di balik jas hitamnya. "Pengawal! Bentuk barisan melingkar! Amankan Nyonya dan Ibu Alisa sekarang juga! Kita kembali ke lift privat!" perintah Dimas tegas, suaranya berusaha mengalahkan kebisingan alarm dan teriakan histeris dari luar.
Dua pengawal langsung memegang kursi roda Ibu Naura, sementara dua lainnya mencoba membuka jalan menembus kepulan asap putih yang mulai menyesakkan dada. Naura menggenggam erat tangan ibunya, menahan rasa takut yang teramat sangat. Napasnya mulai tersengal-sengal karena asap buatan yang dirancang oleh anak buah Anton untuk mengaburkan jarak pandang.
Saat mereka baru saja melangkah keluar dari ruang VIP ke koridor yang dipenuhi asap tebal, gelombang massa pengunjung yang panik datang menerjang dari arah berlawanan. Benturan fisik tidak dapat dihindarkan. Massa yang berdesakan secara membabi buta menghantam barisan para pengawal dengan sangat keras.
"Naura! Pegang tangan Ibu, Nak!" teriak ibunya di tengah kebisingan.
Namun sial, sebuah dorongan kuat dari sekelompok pria yang berlari panik membuat cengkeraman tangan Naura pada ibunya terlepas secara paksa. Tubuh ringkih Naura terdorong beberapa langkah ke belakang, menjauh dari lingkaran kursi roda ibunya. Kepulan asap putih yang tebal dalam sekejap menghalangi pandangan matanya, memisahkan dirinya dari Dimas dan para pengawal.
"Dimas! Adrian!" teriak Naura histeris, mencoba melangkah maju kembali ke arah suara ibunya. Namun, di tengah pandangan yang hanya berjarak setengah meter akibat asap, sebuah tangan kekar dengan sarung tangan hitam tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya dari arah belakang dengan sangat kasar.
Hmmph!
Naura terbelalak ketakutan. Dia mencoba memberontak dengan sekuat tenaga, menyikut dada bidang pria yang mendekapnya. Namun, saputangan yang digunakan pria itu untuk membekapnya telah dibasahi oleh cairan kloroform berkadar tinggi. Hanya dalam hitungan detik, rasa lemas yang luar biasa langsung menyerang seluruh persendian tubuh Naura. Pandangan matanya mulai kabur dan berputar, sebelum akhirnya kesadarannya runtuh sepenuhnya menjadi kegelapan yang pekat.
Pria bermasker hitam dan jaket ojek daring itu—anak buah Anton—dengan sigap menangkap tubuh Naura yang lunglai. Dia memanggul tubuh ramping Naura di pundaknya, lalu bergerak dengan sangat cepat menembus kabut asap menuju pintu tangga darurat belakang yang sudah dijaga oleh dua rekannya yang lain, sama sekali tidak terdeteksi oleh Dimas yang masih sibuk mengamankan Ibu Naura di tengah kepungan massa.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan di kantor pusat Mahendra Group yang terletak beberapa kilometer dari rumah sakit, Adrian sedang memimpin rapat evaluasi harian bersama tim hukum perusahaan. Wajah tampannya tampak kaku dan fokus seperti biasa, mendengarkan pemaparan dokumen dengan saksama.
Bzzz... bzzz... bzzz...
Sebuah alarm getar dengan frekuensi yang tidak biasa mendadak berbunyi dari saku jas hitamnya. Itu bukan nada dering panggilan telepon bisnis biasa. Itu adalah aplikasi sistem keamanan militer khusus yang terhubung langsung dengan kalung safir yang melingkar di leher Naura.
Adrian merogoh gawainya dengan cepat. Begitu matanya menangkap layar gawai yang berkedip-kedip merah menyala dengan status [Peringatan: Detak Jantung Abnormal & Pergerakan Lokasi Tidak Wajar], seketika membuat seluruh darah di dalam tubuh sang CEO terasa mendadak membeku. Aura membunuh yang luar biasa pekat dan mengerikan langsung meledak keluar dari tubuh Adrian, membuat seluruh tim hukum di dalam ruangan rapat seketika menghentikan presentasi mereka dan gemetar ketakutan tanpa tahu apa yang terjadi.
Adrian berdiri dari kursi kebesarannya dengan sentakan kasar hingga kursi kerja kulit premium itu terlempar ke belakang dan menghantam dinding kaca dengan keras.
Pria itu langsung menekan tombol panggil cepat pada gawainya, menghubungkannya dengan alat komunikasi nirkabel milik Dimas. Panggilan tersambung setelah dering ketiga, diiringi oleh suara riuh alarm kebakaran rumah sakit yang berbunyi nyaring di latar belakang panggilan.
"Dimas! Laporkan situasimu sekarang juga!" perintah Adrian, suaranya sangat rendah, berat, dan bergetar menahan amarah iblis yang siap memusnahkan siapa saja.
Di seberang panggilan, suara Dimas terdengar sangat panik dan terengah-engah—sebuah nada yang belum pernah Adrian dengar seumur hidupnya dari asisten pribadinya yang selalu tenang itu. "T-Tuan Adrian... maafkan saya! Terjadi sabotase asap di lantai tiga Rumah Sakit Harapan. Massa panik menerjang kami dan... dan Nyonya Naura terpisah dari pengawalan. Kami sedang menyisir area lorong, namun Nyonya... Nyonya sudah tidak ada di lokasi!"
Praakk!
Adrian mencengkeram gawainya begitu kuat hingga layar kacanya retak di bawah tekanan jemarinya. Sepasang mata elang sang CEO kini sepenuhnya menggelap, memancarkan kilat obsesi dan keposesifan berbahaya yang telah menembus batas kewajaran. Wilayah kekuasaannya telah diinjak, dan wanita miliknya telah direnggut dari perlindungannya.
"Kumpulkan seluruh tim keamanan paramiliter Mahendra Group sekarang juga, Dimas!" raung Adrian melalui telepon, suaranya menggelegar penuh Ancaman yang mematikan. "Lacak posisi koordinat GPS militer dari kalung safir Naura melalui sistem pusat. Aku sendiri yang akan memimpin tim untuk menjemput istriku. Dan sampaikan pada siapa pun yang berada di balik penculikan ini... mereka telah menandatangani surat kematian mereka sendiri di tanganku!"
Adrian memutus panggilan, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan cepat yang sarat akan hawa membunuh. Dia melangkah keluar dari ruang rapat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan tim hukum yang masih terpaku ketakutan. Singa Mahendra kini telah sepenuhnya mengamuk, dan badai pembalasan terdahsyat di ibu kota bersiap untuk dilepaskan demi menyelamatkan sang belahan jiwa.