NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kanopi Purba

Kanopi hijau Alas Purba langsung menelan sisa-sisa cahaya sore begitu kaki tim Hera melangkah melewati batas vegetasi terluar.

Pohon-pohon raksasa dengan diameter selebar mobil jip berdiri seperti pilar-pilar purba yang menopang langit. Udara mendadak berubah menjadi sangat lembap, pekat oleh aroma tanah basah, pembusukan alami dedaunan, dan wewangian flora yang asing bagi indra penciuman orang kota.

Baskara berjalan di paling depan. Tangannya memegang sebilah parang taktis yang sesekali digunakan untuk menebas semak belukar yang menghalangi jalan setapak. Langkah kakinya sangat berhati-hati, matanya bergerak lincah menyisir setiap sudut gelap di antara celah akar.

"Yudha, jaga jarak tiga langkah di belakang Profesor Hera," perintah Baskara dengan suara rendah namun tegas tanpa menoleh ke belakang. "Fokus pada sektor kanan. Senter taktis jangan dinyalakan dulu sampai benar-benar gelap. Hemat baterai."

Yudha, yang berjalan di baris paling belakang untuk menutup barisan, mendengus pelan sambil membetulkan posisi tali senapan laras panjang yang melingkari bahunya.

"Siap, Komandan. Tapi menurut pemindai termal portabel saya, area radius lima ratus meter ini bersih dari mamalia besar. Hanya ada koloni serangga dan reptil kecil. Santai saja sedikit."

"Jangan pernah santai di medan yang tidak kamu kenal, Yudha," balas Baskara dingin. Parangnya menebas sebatang sulur berduri dengan satu gerakan bersih. "Data digital bisa salah. Instingmu yang menyelamatkan nyawa. Pahami itu."

"Iya, iya, paham," gumam Yudha pelan, meski matanya tetap bergerak waspada sesuai prosedur standar operasi mereka.

Di antara kedua pengawal terlatih itu, tiga orang ilmuwan kota berjalan dengan ritme yang berbeda. Di baris tengah, Hera melangkah dengan ketegasan yang mutlak.

Tas ranselnya yang penuh dengan jurnal dan kamera saku sama sekali tidak tampak membebani pundaknya.

Pikirannya terfokus pada satu hal: menemukan bunga itu secepat mungkin.

Tepat di belakang Hera, Amara berjalan sambil terus merapatkan jaket gunung tebalnya. Gadis itu tidak bisa berhenti menatap pohon-pohon yang semakin lama semakin terlihat intimidatif.

"Aduh, Prof Hera, ini beneran aman kan?" oceh Amara, memecah keheningan hutan dengan suaranya yang cempreng. "Maksudku, lihat deh akar pohon yang di sebelah kiri itu. Bentuknya mirip banget kayak ular piton raksasa yang lagi melingkar. Kalau tiba-tiba akarnya bergerak gimana? Ih, merinding!"

"Itu hanya akar tunjang dari famili Ficus, Amara. Mereka tidak memiliki sistem saraf untuk bergerak aktif menyerangmu," sahut Kevin dari sebelah Amara.

Pria berkacamata itu sama sekali tidak melihat ke jalan. Matanya terpaku pada layar perangkat sensor genggam yang terus menampilkan grafik fluktuasi angka. Tangannya sibuk mengetik catatan di komputer tablet kecil yang dikalungkan di lehernya.

"Ih, Kevin! Kamu tuh enggak punya estetika ketakutan banget sih!" protes Amara sambil melangkah hati-hati menghindari lumut yang licin. "Gini-gini aku kan mikirin keselamatan kita juga. Lagian, denger deh suara-suara jangkrik atau apa itu di atas pohon? Bunyinya aneh banget. Kayak suara orang lagi bisik-bisik. Jangan-jangan penunggu hutan yang dibilang Pak Danu tadi lagi ngomongin kita!"

"Secara akustik, itu adalah suara tonggeret purba yang merespons penurunan suhu udara secara drastis," jawab Kevin datar, jemarinya terus menari di atas layar.

"Dan data kelembapan kita baru saja melonjak hingga delapan puluh delapan persen. Prof Hera, ada anomali penurunan suhu yang tidak wajar di depan kita. Harusnya suhu tidak turun secepat ini dalam jarak sedekat ini dari pinggiran desa."

Hera menghentikan langkahnya sejenak, membuat seluruh tim ikut berhenti. Dia menoleh ke arah Kevin. "Berapa penurunannya, Kevin?"

"Tiga derajat Celsius dalam waktu kurang dari lima menit berjalan, Prof. Dan anehnya, medan magnet di sekitar kita mulai menunjukkan fluktuasi minor. Jarum kompas digital saya agak tidak stabil," jelas Kevin sambil menunjukkan layar tabletnya yang berkedip kemerahan.

Hera memeriksa data tersebut, matanya berbinar. "Itu artinya kita semakin dekat dengan area anomali vegetasi yang mendistorsi energi lingkungan. Teruskan mencatat setiap perubahan sekecil apa pun, Kevin. Amara, tetap fokus pada langkahmu dan kurangi bicaramu agar energimu tidak habis." ucap Hera memperingatkan Amara.

"Baik, Prof" Amara cemberut, namun dia tetap waspada melihat sekeliling. "Tapi kalau ada hantu pohon, aku yang pertama kali lari ya." ijin Amara mengantisipasi hal buruk yang barangkali bisa terjadi.

"Tidak ada yang boleh lari sendiri," potong Baskara tegas dari depan. Dia membalikkan badan, menatap tajam ke arah Amara dan Kevin. "Jika terjadi sesuatu, kalian berdua langsung merapat ke posisi Profesor Hera. Yudha akan membentuk perimeter belakang, saya di depan. Paham?"

"Paham, Komandan!"

jawab Yudha dengan nada sedikit mengejek, memberikan gestur hormat dua jari yang langsung dibalas Baskara dengan gelengan kepala tanda tidak sabar.

"Yudha, saya serius," kata Baskara, suaranya merendah, memberikan tekanan intimidasi yang nyata. "Ini bukan latihan di barak. Kita bertanggung jawab atas nyawa putri dari pemilik Grahansa Corp. Satu kesalahan kecil, dan kita tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi."

Ketegangan taktis antara kedua pengawal itu membuat suasana di sekitar tim menjadi semakin berat. Yudha langsung menghilangkan nada bercandanya, wajahnya berubah serius saat dia menaikkan posisi laras senjatanya.

"Dimengerti, Kapten. Saya siap."

"Ayo jalan lagi. Hari semakin gelap," perintah Hera, tidak ingin perdebatan internal merusak ritme perjalanan mereka.

Tim kembali melangkah. Kali ini keheningan terasa lebih pekat. Ocehan Amara mereda menjadi gumaman doa-doa kecil yang keluar dari bibirnya setiap kali dia mendengar suara ranting patah atau kepakan sayap burung malam di atas kanopi.

Kevin tetap menjadi mesin pencatat data yang efisien, tidak memedulikan kegelapan yang mulai merayap naik dari dasar hutan.

Setengah jam berlalu, cahaya matahari benar-benar hilang dari langit Alas Purba. Kegelapan yang pekat dan absolut langsung mengurung mereka.

Baskara mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat berhenti.

"Nyalakan senter taktis. Mode sorot rendah," perintah Baskara.

Klik. Klik. Klik.

Empat berkas cahaya putih memotong kegelapan hutan. Cahaya senter mereka memantul pada kabut tipis yang mulai tebal, menyingkap jajaran pohon raksasa yang tampak semakin rapat dan menyeramkan.

Di kejauhan, di batas jangkauan cahaya senter mereka, siluet dua buah pohon yang berukuran jauh lebih masif dari pohon lainnya mulai terlihat samar-samar.

"Apa itu, Apa kalian melihatnya?" tanya Hera sambil mengambil posisi nyaman untuk lebih fokus lagi, berharap apa yang dilihatnya adalah kenyataan yang akan di cari nanti.

Hera mengarahkan senternya ke depan, menatap lurus ke arah siluet dua pohon raksasa tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena antusiasme ilmiah yang membakar dadanya. Langkah mereka telah membawa mereka ke ambang batas yang dilarang.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!