Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam lama
"Kamu mau ke mana?"
Vara menghampiri Dirga yang terlihat sudah rapi.
Dirga menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis. "Aku ada pertemuan penting, Sayang."
Vara mengernyitkan kening. "Penting?"
Dirga mengangguk.
"Harus banget malam ini, Sayang?" lanjut Vara.
"Iya, Sayang. Besok klien kita sudah kembali ke negeri asalnya dan meminta membahas pekerjaan malam ini juga," jelas Dirga sambil menghampiri Vara. "Besok aku sudah cuti, Sayang. Reno sudah mengatur jadwalku. Setelah itu, kita liburan."
Jika Vara belum mengetahui kebusukan suaminya, mungkin ia akan benar-benar senang mendengar rencana tersebut. Namun, kini ia hanya perlu memainkan perannya dengan baik.
Vara menatap Dirga dengan wajah berbinar, lalu tersenyum seolah benar-benar antusias mendengar rencana itu.
"Benarkah? Kita mau liburan?"
"Iya, Sayang."
"Wah, aku jadi nggak sabar."
Vara kemudian membantu merapikan beberapa barang yang akan dibawa Dirga.
"Biar aku bantu siapkan berkasnya."
"Nggak perlu, Sayang." Dirga segera menghentikannya. "Berkasnya sudah ada di mobil."
"Oh, sudah?"
"Iya. Kamu istirahat saja. Ini sudah malam."
Vara mengangguk. "Tapi kamu jangan terlalu capek, ya."
"Iya."
"Kalau begitu, aku tunggu sampai kamu pulang."
Dirga langsung menggeleng. "Nggak usah menunggu. Pertemuannya mungkin akan selesai larut malam. Aku berencana menginap di hotel dekat kantor supaya besok lebih mudah."
Vara menatap suaminya beberapa saat, lalu tersenyum lembut.
"Baiklah. Kalau begitu, hati-hati. Jangan lupa kasih kabar."
"Iya, Sayang. Aku akan ngabarin kamu setiap saat." Dirga mengecup kening Vara sekilas sebelum mengambil tasnya.
Vara hanya berdiri di tempatnya dan melambaikan tangan ketika Dirga berjalan keluar dari kamar.
"Selamat jalan, Sayang."
Pintu kamar tertutup.
Senyum di wajah Vara perlahan menghilang. Ia sudah tahu ke mana sebenarnya suaminya pergi. Namun, untuk saat ini, lebih baik Dirga tetap menganggapnya sebagai istri yang mudah dibohongi.
Sementara itu, Dirga berjalan menuju mobil dengan senyum miring di wajahnya.
"Dasar bodoh," gumamnya pelan. "Gampang banget dibohongi."
Di ruang tengah, Diana yang baru keluar dari dapur mengerutkan kening saat melihat Dirga berjalan menuju pintu.
"Dirga."
Dirga menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Kamu mau ke mana malam-malam begini?"
Sebelum menjawab, Dirga melirik sekilas ke arah kamar Vara. Setelah memastikan pintunya masih tertutup, ia mendekati Diana.
"Mah, aku mau ke Monica."
Diana langsung menatapnya dengan wajah tidak percaya.
"Vara bagaimana?"
"Menantu Mama itu gampang dibohongi. Bilang aja ada urusan kerjaan."
Diana tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Baginya, Vara benar-benar terlalu mudah dibohongi. Sedikit alasan saja sudah cukup untuk membuat menantunya itu percaya.
"Vara memang bodoh. Nggak curiga sama sekali sama kamu."
Dirga hanya tersenyum tipis. "Ya sudah, aku ke Monica dulu. Besok aku akan liburan sama Vara. Setelah itu, kita mulai rencana kita."
Diana menatapnya lekat-lekat. "Serius kamu?"
"Iya, Mah." Dirga merapikan kerah bajunya. "Aku akan buat Vara terbang dulu, lalu kujatuhkan."
Senyum puas perlahan muncul di wajah Diana. Mendengar rencana itu membuatnya semakin yakin bahwa semua yang mereka inginkan akan segera menjadi milik mereka.
"Mama sudah nggak sabar pengin lihat Vara menderita."
"Aku juga, Mah."
Sorot mata Diana berubah tajam. Senyum di wajahnya perlahan menghilang, digantikan tatapan penuh dendam.
"Dendam Mama akan terbayarkan."
Dirga mengangguk kecil.
"Mah, aku pergi dulu."
"Iya. Pergi sana."
Dirga pun berjalan keluar dari rumah. Diana tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan kepergian putranya sampai sosoknya menghilang di balik pintu.
Setelah Dirga pergi, Diana kembali ke kamarnya. Namun, saat menaiki tangga, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Tatapannya tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto seorang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan dengan senyum bahagia.
Diana menatap foto itu cukup lama. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Ada dendam lama yang kembali terasa setiap kali melihat wajah mereka.
"Jika aku tidak bisa membalas dendam kepada kalian..." gumamnya pelan.
Rahang Diana mengeras. Tatapan masih tertuju pada foto tersebut.
"Maka keturunanmu yang akan kubuat menderita."