Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mamat Diusir dari Pos Ronda
Aroma tembakau murah dan kopi hitam sangrai yang mengepul dari cangkir-cangkir seng berkarat mendominasi udara di Pos Ronda RW 04 Kampung Kalisari. Jam dinding plastik berbentuk segi delapan menunjukkan pukul dua pagi. Tiga orang pemuda kampung dan seorang pria paruh baya berkumis tebal melingkar di atas bale-bale bambu. Di tengah mereka, sebuah papan karambol tergeletak dengan tepung kanji yang ditabur sembarangan di atas permukaannya.
Mamat merapatkan kain sarung hitam kusam milik kakeknya yang kini melilit longgar di pundaknya. Setelah memadamkan "asap mistis" obat nyamuk bakar di dapur rumahnya, perutnya mendadak berbunyi nyaring. Ketakutan akan penagih utang memang sempat melumpuhkan rasa lamparnya, tetapi begitu rencana gilanya menjadi dukun buatan terpatri di otak, rasa lapar itu kembali menagih haknya. Dan tidak ada tempat terbaik di Kalisari untuk mendapatkan rokok gratisan dan kopi sisa selain Pos Ronda.
Dengan langkah pelan—yang dicobanya buat sedemikian rupa agar terkesan berwibawa meski lebih mirip orang encok—Mamat menaiki tangga kayu pos.
"Malam, Bro..." Mamat menyapa dengan nada suara yang sengaja diberatkan dua oktaf.
Pak Harjo, pria berkumis tebal yang juga menjabat sebagai ketua keamanan RT, menyipitkan mata. Lentera minyak dan lampu neon lima watt yang berkedip-kedip di atap pos menerangi penampilan Mamat. Sarung hitam kusam melilit lehernya seperti selendang, ikat kepala hitam dari potongan kain perca menutupi jidatnya yang lebar, dan sebuah batu akik merah berukuran sebesar telur burung puyuh melingkar longgar di jari manis tangan kanannya.
"Mamat? Kamu mau ronda apa mau ikut grup teater ketoprak?" tanya Pak Harjo skeptis. Tangannya yang memegang bidak karambol terhenti di udara.
Darto dan Bowo, dua pemuda pengangguran sebaya Mamat yang duduk di pojok, langsung meledak dalam tawa. Darto sampai menepuk-nepuk paha jeansnya yang bolong di bagian lutut.
"Mat, Mat! Itu sarung simbahmu yang bau terasi kamu pakaikan ke leher begitu?" ledek Darto sambil melempar puntung rokok kretek ke sudut pos. "Kena angin malam sedikit langsung berasa jadi pendekar kamu?"
Mamat tidak terkecoh. Dia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya yang kerempeng, lalu memutar batu akik merah di jarinya. Dia harus menyemaikan benih-benih reputasi barunya malam ini juga.
"Kalian tidak paham," sahut Mamat datar, mencoba menirukan gaya bicara para orang tua di sinetron kolosal. "Kain ini bukan sembarang kain. Ini penolak bala. Saya baru saja menyerap energi dari punden perbatasan desa."
Bowo berhentik tertawa sejenak, lalu memandang Mamat dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Punden? Punden sungai Garang? Bukannya jam satu tadi Mbak Wiwin berteriak ada maling di kebun pisangnya? Kamu dari mana jam segitu, Mat?"
Jantung Mamat serasa berhenti berdetak selama satu detik full. Wajahnya yang agak pucat mendadak menjadi merah padam di bawah temaram lampu neon. Beruntung, kegelapan malam dan debu-debu di wajahnya menyamarkan perubahan warna kulit tersebut.
"Saya... saya sedang melakukan penerawangan ghaib!" potong Mamat cepat, suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya dia mengontrolnya kembali agar tetap terdengar berat. "Kalian pikir Mbak Wiwin teriak karena maling? Bukan! Itu aura negatif dari sosok penunggu pohon pisang yang sedang mengganggu kesucian rumahnya. Saya hadir di sana untuk memagari tempat itu secara ghaib!"
Pak Harjo menyandarkan punggungnya ke tiang pos. Kumis tebalnya bergerak-gerak saat dia terkekeh sinis. "Oalah, Mat, Mat. Kamu itu kalau omong kosong suka tidak pakai rem. Wong jelas-jelas Mbak Wiwin bilang ada bayangan pria kerempeng cuma pakai kaos oblong kotor berlari menabrak tempat sampah. Di kampung ini, yang kerempeng dan kaosnya belum dicuci seminggu ya cuma kamu!"
"Itu penampakan wujud astral saya yang tertangkap mata awam!" Mamat membela diri dengan gigih. Tangannya menunjuk ke langit-langit pos ronda. "Aura kalian semua ini kotor! Makanya tidak bisa melihat dimensi ghaib!"
"Sudah, sudah!" Pak Harjo mengibaskan tangannya, merasa terganggu dengan ocehan Mamat. "Mat, kalau kamu ke sini mau minta kopi atau minta rokok, bilang saja. Jangan pakai acara kesurupan begitu. Tapi maaf, rokok kretek tinggal dua batang dan ini punya Darto. Kopi tinggal ampasnya di cangkir."
Mamat melirik ke arah cangkir seng di atas meja. Ampas kopi hitam menyisa di dasar cangkir, menggoda tenggorokannya yang kering. Namun rasa gengsinya yang kini berada di level tertinggi sebagai "calon dukun besar" menahannya untuk meminta ampas tersebut.
"Saya tidak butuh kopi kalian," ujar Mamat penuh martabat, walau perutnya mendadak berbunyi kruuuk yang cukup nyaring di keheningan malam.
Darto kembali tertawa terbahak-bahak. "Halah! Perutmu saja tidak bisa dibohongi, Ki Mamat! Itu suara jin penunggu perutmu yang kelaparan?"
"Darto, jaga mulutmu!" bentak Mamat dengan gaya yang dibuat-buat anggun. "Segala ucapanmu di pos ronda ini bisa menjadi kualat kalau kamu meremehkan orang yang memegang pusaka!" Mamat mengacungkan jari manisnya yang dilingkari batu akik merah besar. Karena ukurannya yang kelonggaran, batu akik itu mendadak meluncur jatuh dari jarinya, meluncur di atas papan karambol yang bertabur tepung kanji, lalu masuk dengan mulus ke dalam lubang pojok papan.
Pluk!
Keheningan melanda Pos Ronda RW 04 selama beberapa detik.
Darto menatap lubang papan karambol, lalu menatap Mamat. Bowo ikut melongo. Pak Harjo hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Wah... trik karambol baru ini?" celetuk Bowo bodoh.
Mamat yang sebenarnya panik karena batu akik pusaka kakeknya masuk ke lubang karambol yang kotor oleh tepung, langsung memutar otak cepat. Dia tidak boleh terlihat panik. Dia melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Itu... adalah pertanda," ujar Mamat dingin. "Pusaka batu akik Mustika Merah Delima Kalisari sengaja mengunci dirinya di dalam tanah... eh, di dalam lubang karambol, sebagai peringatan bahwa tempat ini akan dilanda kemalangan kalau kalian terus meremehkan ilmu spiritual."
Pak Harjo berdiri dari duduknya. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat Mamat yang kerempeng refleks melangkah mundur satu step. Pak Harjo merogoh lubang karambol, mengambil batu akik merah yang kini dipenuhi tepung kanji putih, lalu melemparkannya tepat ke dada Mamat.
Mamat menangkapnya dengan gagap.
"Mamat," kata Pak Harjo dengan suara berat khas bapak-bapak yang sudah kehabisan kesabaran. "Kamu itu sudah dua puluh lima tahun hidup di kampung ini. Dari kecil suka mencuri jambu Pak RT, SMP suka membolos di Sungai Garang, sampai sekarang kerjaanmu cuma mengintip dan tidur di pos ronda sampai siang. Jangan coba-coba keliling kampung pakai kain gorden hitam begini lalu pura-pura jadi dukun."
"Tapi Pak RT... eh, Pak Harjo, saya ini betul-betul dapat wangsit—"
"Tidak ada wangsit-wangsit!" potong Pak Harjo tegas. "Sekarang kamu pulang! Jangan mengganggu warga yang sedang ronda malam. Kalau besok kamu masih keluyuran pakai pakaian begini sambil menakut-nakuti warga soal jin dan aura negatif, tak adakan rapat warga buat mengusirmu dari Kalisari! Paham?!"
Darto dan Bowo tertawa bersahut-sahutan menyaksikan Mamat yang kini terpojok di tangga pos.
"Pulang sana, Ki Mamat! Cari makan dulu, jinmu kasihan dari tadi teriak-teriak minta nasi uduk!" seru Darto sambil tertawa.
Mamat mengepalkan tangannya. Rasa malu melingkupi dadanya, tetapi rasa dendam dan tekadnya justru makin membara. Orang-orang ini tidak percaya padanya sekarang. Tapi tunggu besok. Ketika keputusasaan menghampiri kehidupan mereka, mereka pasti akan merangkak datang ke rumahnya.
"Kalian akan menyesal!" seru Mamat sambil berbalik arah, berusaha mempertahankan sisa-sisa kewibawaannya. "Apabila esok hari ada musibah yang menimpa Kampung Kalisari, jangan salahkan Ki Mamat Sastrogati!"
Mamat melangkah turun dari pos ronda dengan menyapu kain sarungnya secara dramatis. Namun, karena kain sarung hitam itu terlalu panjang dan ikatan di lehernya agak kendor, ujung kainnya tersangkut di paku tangga bawah pos.
Sreeek!
Kain sarung itu terlepas dari pundak Mamat, meninggalkannya hanya mengenakan kaos oblong kusam bertuliskan "Caleg DPR 2019" dan celana pendek selutut yang bolong di pantat.
"Hahaha! Pendekar kualat! Sarungnya lepas!" teriak Darto histeris dari atas pos.
Mamat dengan cepat menyambar kain sarungnya yang tersangkut paku, tidak peduli kain itu sedikit robek di bagian ujung, lalu berlari melintasi jalanan kampung yang gelap tanpa menengok lagi ke belakang. Suara gelak tawa ketiga orang di pos ronda terus membayanginya hingga dia sampai di depan pintu belakang rumahnya sendiri.
Napas Mamat terengah-engah. Dia bersandar di dinding papan rumahnya yang lapuk. Wajahnya yang memerah karena malu kini berubah menjadi senyuman licik yang membakar.
"Ketawa saja kalian sekarang," bisik Mamat sambil mengusap batu akik merahnya yang bertabur tepung kanji. "Besok pagi, penagih pinjaman online akan datang. Dan aku tidak punya pilihan lain. Suka tidak suka, Kampung Kalisari harus punya dukun baru besok pagi. Dan dukun itu... adalah aku!"
Dia melangkah masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan bertekad untuk mempersiapkan segala perlengkapan "pesugihan dan penyucian jiwa" paling absurd yang pernah ada di Kota Semarang.