Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 3 - Bayangan di Gerbang Dunia
Angin malam menyapu jalanan kota Veyra, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran. Kai melangkah cepat menuju lorong tempat ia meninggalkan Aurelia, liontin batu emas di dadanya terasa hangat, seolah berdenyut mengikuti irama langkahnya. Setiap kali ia memikirkan sesuatu yang penting — keselamatan putrinya, ancaman yang mengintai — batu itu terasa semakin hangat, memberi isyarat samar bahwa ia tidak berjalan sendirian.
Saat tiba di tempat itu, ia berhenti sejenak di mulut lorong gelap, jantungnya berdebar kencang. Aurelia masih terbaring di sana, tertidur pulas, napasnya tenang dan teratur. Cahaya samar dari tubuhnya sendiri seakan memeluk gadis kecil itu, menjaganya tetap hangat. Kai tersenyum tipis, rasa syukur yang mendalam menyelimuti hatinya — untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan menderita, ia tidak merasa sepi dan tak berdaya.
Ia berlutut di samping putrinya, mengusap rambut halus di keningnya. Aurelia membuka mata perlahan, tersenyum saat melihatnya.
"Ayah… kau kembali."
"Tentu saja," bisiknya, mengangkat tubuh kecil itu ke pelukannya. "Ayah tidak akan pergi tanpa Aurelia. Sekarang kita harus berangkat, Sayang. Tempat ini tidak aman lagi."
"Kita pergi ke mana?" tanyanya, memeluk leher ayahnya erat-erat.
"Ke tempat di mana Ayah bisa menyembuhkanmu. Ke tempat di mana rahasia kita menunggu untuk ditemukan."
Kai berdiri, memastikan Aurelia nyaman di pelukannya, lalu berbalik menuju arah yang berbeda dari gerbang kota yang ia buka tadi. Ia tidak bisa lewat jalan utama — kehadirannya sudah diketahui, dan mereka yang mengkhianatinya pasti sudah bersiap menunggu. Ia harus mencari jalan lain, jalan yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh mereka yang memahami rahasia kota ini.
Guru Harun telah memberitahunya sebelum ia pergi — di kaki bukit sebelah barat, di balik reruntuhan kuil kuno yang ditinggalkan ratusan tahun lalu, terdapat sisa gerbang pertama yang pernah dibangun oleh nenek moyang mereka. Tidak ada yang tahu ke mana gerbang itu mengarah, tapi catatan kuno menyebutnya sebagai "Jalan yang Menembus Kabut".
Perjalanan ke sana memakan waktu hampir sepanjang malam. Kai melintasi jalan setapak tersembunyi di antara semak belukar, naik turun bukit yang curam, sesekali berhenti untuk bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki atau teriakan penjaga yang mulai mencari jejaknya. Kekuatan di tubuhnya membuatnya bergerak lebih cepat, lebih tenang, dan lebih waspada daripada biasanya — ia bisa mendengar suara napas orang dari jarak jauh, merasakan getaran tanah saat ada yang mendekat, seolah indranya kini diperhalus oleh sesuatu yang jauh lebih tajam daripada penglihatan biasa.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mereka tiba di tempat itu.
Reruntuhan kuil kuno berdiri di tengah hutan lebat, dinding-dindingnya tertutup lumut dan tanaman merambat, sebagian telah runtuh ditelan waktu. Di tengah halaman yang dipenuhi batu berserakan, berdiri sebuah lengkungan batu besar — gerbang yang tidak memiliki pintu, hanya ruang kosong yang tampak lebih gelap daripada yang seharusnya, seakan udara di dalamnya tertekan, berputar perlahan seperti kabut tebal yang tak mau berpindah.
"Ini dia…" bisik Kai, melangkah mendekat. Liontin di dadanya semakin panas, bersinar terang, memancarkan cahaya emas yang menyatu dengan kabut di tengah gerbang itu.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakangnya — cepat, berat, dan tidak berusaha menyembunyikan kehadirannya. Kai berbalik perlahan, menempatkan dirinya di antara sosok yang datang dan Aurelia di pelukannya.
Tiga orang muncul dari balik pepohonan. Di depan berdiri seorang wanita muda, rambut hitamnya terurai tertiup angin, matanya tajam dan waspada, memegang sebilah pedang panjang yang berkilau di cahaya fajar. Di belakangnya berdiri dua orang lelaki — satu berbadan tegap dengan palu besar di tangan, yang lain lebih ramping, matanya terus bergerak memeriksa sekeliling, seakan mencari jalan keluar atau bahaya tersembunyi.
"Jangan melangkah lebih jauh," ucap wanita itu, suaranya tegas namun tidak penuh permusuhan. "Gerbang ini belum stabil. Jika kau masuk tanpa persiapan, kau akan hanyut ke tempat yang tak diketahui siapa pun."
Kai tidak mundur. Ia menatap mereka dengan tenang, meski tubuhnya siap bergerak seketika. "Siapa kalian? Dan mengapa kalian ada di sini?"
"Namaku Elara," jawab wanita itu, menurunkan pedangnya sedikit namun tetap waspada. "Kami mencari seseorang. Seseorang yang baru saja membangkitkan kekuatan yang telah tidur terlalu lama."
Ia menatap liontin di dada Kai, lalu matanya melebar sedikit. "Itu… tanda keturunan Naga Tertinggi. Benar saja, kabar itu nyata."
"Kabar apa?" tanya Kai, melangkah maju satu langkah. "Siapa yang mengirim kalian?"
"Tak ada yang mengirim kami," jawab pemuda bertubuh ramping itu, melangkah maju. "Namaku Ren. Dan dia Dagan." Ia menunjuk pemuda berbadan tegap yang mengangguk pelan. "Kami adalah mereka yang menunggu. Ketika gerbang mulai terbuka, ketika darah naga kembali mengalir, kami tahu — perjalanan baru saja dimulai."
Elara melangkah mendekat, menatapnya lurus. "Kau pikir kau satu-satunya yang tersisa? Tidak. Ada kami, dan ada yang lain — tersebar di berbagai tempat, menunggu tanda bahwa perubahan besar akan datang. Pengkhianatan yang kau alami… itu bukan kebetulan. Itu adalah tanda bahwa kekuatan gelap juga sudah bergerak."
Kai mengerutkan kening. "Kekuatan gelap?"
"Ya. Mereka yang takut akan kembalinya keturunan naga, mereka yang ingin menguasai semua gerbang dunia untuk menaklukkan setiap tempat yang bisa dijangkau," Dagan berbicara untuk pertama kalinya, suaranya berat namun tenang. "Istrimu… ia hanyalah alat. Di belakangnya ada kekuatan yang jauh lebih besar, yang bergerak di balik bayang-bayang, menyusun rencana sejak bertahun-tahun lalu."
Kai mengepalkan tangannya erat-erat, rasa marah kembali membakar dadanya — bukan hanya pada istrinya, tapi pada mereka yang memanfaatkannya, yang membiarkan keluarganya hancur demi ambisi yang tak mereka miliki.
"Mengapa kalian memberitahuku ini?" tanyanya pelan.
"Karena kau tidak bisa melakukannya sendirian," jawab Elara tegas. "Melintasi gerbang ini saja sudah berbahaya. Menyelamatkan putrimu, membongkar rencana musuh, melawan kekuatan yang merambah dunia… tak ada satu orang pun yang mampu melakukannya sendirian. Kau butuh tim. Kami butuh pemimpin. Dan tampaknya… takdir sudah menyatukan kami di sini."
Kai terdiam, menatap ketiga orang itu satu per satu. Ia tidak mengenal mereka, tidak tahu apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Namun di mata mereka, ia tidak melihat tipu daya — melainkan keteguhan, kesungguhan, dan sesuatu yang mirip dengan kepedulian. Ia memikirkan kata-kata Guru Harun — bahwa ia akan bertemu sekutu di perjalanan. Mungkin… inilah mereka.
Aurelia menarik kerah bajunya pelan. "Ayah… mereka terlihat seperti orang baik," bisiknya lembut.
Kai tersenyum tipis pada putrinya, lalu mengangkat wajah menatap mereka. "Kalau begitu, ikutlah. Tapi ingat — tujuan utamaku adalah menyelamatkan putriku. Segala hal lain datang sesudahnya."
Elara tersenyum tipis, mengangguk. "Kami paham. Dan kami akan membantu."
Mereka berempat melangkah mendekati gerbang itu bersama-sama. Saat Kai mengulurkan tangan, kabut di tengah lengkungan batu itu berputar semakin cepat, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Angin kencang bertiup dari balik gerbang, membawa aroma yang belum pernah Kai cium sebelumnya — segar, tajam, dan penuh energi yang murni.
"Siap?" tanya Elara, memegang gagang pedangnya.
Kai memeluk Aurelia lebih erat, mengangguk. "Siap."
Mereka melangkah masuk.
Sensasi yang menyusul tak bisa dijelaskan dengan kata-kata — bukan jatuh, bukan terbang, melainkan seakan ditarik ke arah segala arah sekaligus. Cahaya menyilaukan mata, suara angin bergema di telinga, dan tubuh terasa ringan lalu berat, seakan dunia di sekitar mereka berubah bentuk dengan cepat. Aurelia memeluk leher ayahnya erat-erat, menempelkan wajah ke bahunya tanpa bersuara, percaya sepenuhnya pada pelukan yang menahannya.
Kemudian semuanya mereda.
Matahari menyinari wajah mereka — namun cahayanya lebih terang, lebih hangat, dan memancarkan nuansa keemasan yang lembut. Udara di sini jauh lebih segar, penuh energi yang membuat setiap napas terasa mengisi tubuh dengan kekuatan baru. Di sekeliling mereka terbentang lembah hijau yang luas, dipenuhi bunga-bunga berwarna cerah yang tak pernah dilihat di dunia asal mereka. Di kejauhan, gunung-gunung menjulang tinggi dengan puncak yang bercahaya samar, seakan ada bintang-bintang yang tertanam di balik batuan itu.
"Kita… sudah tiba," bisik Ren, matanya membelalak takjub. "Ini dunia pertama."
Namun keindahan tempat itu ternoda oleh bayangan yang mendekat. Dari arah hutan di depan mereka, muncul sekelompok makhluk — setengah manusia, setengah seperti binatang buas, dengan cakar tajam dan mata yang menyala merah. Mereka bergerak mengelilingi kelompok itu, mendengus, menatap seakan mereka adalah makanan yang masuk ke perangkap.
"Penjaga lembah," ucap Elara rendah, mengacungkan pedangnya. "Mereka tidak membiarkan orang asing lewat begitu saja."
"Kalau begitu, kita lewati dengan cara mereka paham," ucap Dagan, mengangkat palu besarnya ke bahu, siap menghantam.
Kai menatap makhluk-makhluk itu, lalu ke arah jalan yang menembus lembah. Ia tidak ingin bertarung tanpa alasan, tidak di tempat asing ini, tidak dengan Aurelia di pelukannya. Namun ia tahu — mereka tidak akan membiarkan mereka lewat begitu saja.
Ia melangkah maju, melepaskan satu tangannya dari pelukan Aurelia, mengangkatnya ke depan. Cahaya keemasan memancar dari telapak tangannya, tidak menyerang — melainkan menyebar perlahan, membentuk lingkaran pelindung di sekeliling mereka. Makhluk-makhluk itu berhenti mendadak, mundur selangkah, mendengus gelisah seakan takut mendekat ke arah cahaya itu.
"Kami tidak bermusuhan," ucap Kai, suaranya bergema lembut namun tegas, menjangkau mereka semua. "Kami hanya lewat. Dan kami tidak akan menyakiti kalian, selama kalian tidak menghalangi jalan kami."
Makhluk-makhluk itu saling bertukar pandang, lalu satu di antara mereka — yang terbesar, dengan tanda emas di dahinya — melangkah maju. Ia menatap Kai lama sekali, lalu menundukkan kepalanya perlahan, memberi hormat. Kemudian ia mundur, memberi jalan, dan yang lainnya ikut menyingkir.
Ren menghela napas panjang tak percaya. "Kau… tidak melawan mereka, tapi mereka tunduk padamu."
"Kekuatan naga bukan hanya untuk menghancurkan," jawab Kai pelan, menurunkan tangannya namun tetap menjaga cahaya pelindung itu menyala. "Ia juga untuk dihormati."
Mereka berjalan melewati lembah itu dengan tenang, makhluk-makhluk penjaga itu mengawasi dari kejauhan namun tidak lagi menghalangi. Saat semakin jauh, Aurelia mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan mata berbinar.
"Ayah hebat," katanya pelan.
Kai tersenyum, mencium kening putrinya. "Bukan Ayah yang hebat, Sayang. Tapi kekuatan yang melindungi kita."
Namun di kejauhan, di balik bukit yang bersinar, sepasang mata mengawasi perjalanan mereka — mata yang dingin, penuh perhitungan, dan tersenyum tipis seakan rencana yang sudah lama disusun akhirnya berjalan sesuai keinginan.
Perjalanan mereka baru saja dimulai. Dan dunia pertama ini hanyalah permulaan dari ribuan tantangan yang menanti di setiap langkah ke depan.