Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Sial, Hari Keberuntungan Apa Ini?
HAH?!
Jika cerita ini adalah video, dapat di pastikan jika kata 'HAH' Su Wanwan menembus layar kalian. Sebuah kenyataan yang tiba-tiba dan tidak dapat di prediksi ini muncul begitu saja, seperti kamu baru saja mandi namun tiba-tiba menginjak tai.
Su Wanwan langsung berdiri, "Hu Zheng, kau sadar apa yang kau katakan?!"
"Nyonya, Hu Zheng sadar."
Su Wanwan terdiam, dia bukan ragu untuk menolak. Hanya saja ia merasa tidak menyangka, akan ada orang yang mengatakan menyukainya setelah sekian lama.
Perasaan ini tidak kalah hebat saat kamu baru saja beranjak remaja, masih menjadi seorang gadis polos dan di puji sekian rupa oleh lawan jenis yang tampan.
'Oh astaga, sadarlah. Jangan berlarut dalam euforia ini, hentikan.'
"Hu Zheng--"
"Nyonya..."
Su Wanwan terdiam, saat pemuda ini mendongak dengan tatapan memelas, seketika hatinya seperti di tembak meriam.
Ternyata wajah Hu Zheng seperti ini, dulu wajahnya terlihat dekil seolah tidak pernah di basuh, rambutnya panjang dan agak berantakan. Namun saat ini, wajah yang di tatap nya terlihat bersih dan terawat, tidak sampai putih bersih, namun warna kulit gandum sehat untuk seukuran pria jantan itu sudah cukup bagus. Garis rahang nya tegas, hidung nya mancung dan ternyata bibirnya tipis, merah dan terlihat lembap di tambah dengan tatapan nya yang terlihat lebih dewasa. Ia sungguh memikat, sekarang kesan pemuda kasar itu telah menghilang sepenuhnya.
Serangan damage ini terlalu besar untuk hatinya yang serapuh kertas.
Di kehidupan modern ia pernah menikah dan berpisah karena suaminya meninggal muda. Setelah itu ia tidak pernah berkomitmen lagi dengan seorang pria, pria hanya menghambat nya mencari uang. Jika dari dulu ia tidak menikah, mungkin dia sudah jadi Sultan bukan karyawan setengah sukses.
Namun tak dapat di pungkiri suaminya saat itu memang tampan dan ia menangisi kematian nya selama satu bulan penuh.
Sekarang ada seorang pemuda yang bilang menyukainya? Meskipun tubuh biologis nya baru berumur awal tiga puluhan dan ia tidak ingin terus menahan diri seolah ia seorang biarawati.
Namun dengan pelayan sendiri yang sudah ia anggap anak angkat rasanya tidak baik, hatinya menolak namun mata dan hatinya seolah berteriak. 'Peluk aku, cium aku, paksa aku sampai mau!'
Jiwa nenek kesepian dari dua kehidupan itu akhirnya mulai melemah, pikiran jahat mulai merasuki. 'Tidak apa-apa kan? Lagipula banyak hubungan seperti ini di dunia ini...'
'Lihatlah wajahnya yang tampan, tubuhnya yang seksi, otot nya yang padat. Jika di sentuh...'
Tangan Su Wanwan terulur ingin menyentuh wajah nya, hingga saat jari itu hampir menyentuh wajah Hu Zheng. Sebuah ketukan pintu menyadarkan nya.
Tok!
Tok!
Tok!
Su Wanwan segera menarik tangan nya dengan wajah yang melotot terkejut.
Tok!
Tok!
Tok!
"Nyonya, apakah nyonya sudah tidur? Ada yang ingin Rongxin sampaikan kepada nyonya..."
"Bai Rongxin?" Terkejut Su Wanwan dengan suara yang tertahan.
Seperti seorang istri yang menyembunyikan selingkuhan nya, entah kenapa hati Su Wanwan begitu tidak bisa di ajak kerjasama. Ia panik tanpa alasan dan tanpa pikir panjang langsung menarik Hu Zheng ke bawah ranjang.
Setelah memastikan Hu Zheng bersembunyi, Su Wanwan langsung berlari membuka pintu. "Bai Rongxin, ada apa?"
"Nyonya, Rongxin bawakan sesuatu untuk Nyonya. Rongxin bantu simpan untuk nyonya ya..." Bai Rongxin langsung masuk sambil membawa sebuah nampan yang di tutup tudung saji.
"E-eehh..." Su Wanwan sama sekali tidak berniat membawanya masuk, namun karena sudah terlanjur ia segera melirik luar dan langsung menutup pintu.
"B-bai Rongxin, apa yang kamu bawa?"
"Nyonya, ini resep Ayam tepung yang nyonya pernah sebutkan waktu lalu. Rongxin ingin menyajikan nya untuk nyonya tadi, namun nyonya langsung pergi ke kamar."
"Ah, ayam tepung?" Meskipun agak terkejut Bai Rongxin bisa memasaknya padahal ia hanya menyebutkan nya asal, namun di lihat dari bentuk dan aromanya. Sepertinya rasanya sungguh enak.
"Nyonya silahkan coba"
Meskipun selalu makan daging setiap makan, namun tidak ada ayam tepung. Sudah lama rasanya dia tidak makan, jadi tanpa sungkan Su Wanwan mengambil nya.
Siapa sangka rasanya memang enak, Bai Rongxin sepertinya memang berbakat dalam memasak hidangan.
Melihat nyonya nya menyukai hidangan yang di masaknya, Bai Rongxin tersenyum bahagia. Dengan pikiran yang terlintas di benaknya, wajahnya tiba-tiba memerah malu.
"Nyonya, sebenarnya ada yang ingin Rongxin sampaikan..."
"Oh, katakan saja" Su Wanwan asik memakan ayam tepung.
Brukh!
"Nyonya, anda seperti bulan di atas langit. Terlihat indah dan sempurna, bagaikan budha turun ke dunianya. Sangat baik dan berbelas kasih, Bai Rongxin yang tidak tahu diri ini sangat mengagumi nyonya dan ingin menjadi selir kecil anda."
Tung...
Ayam yang di pegang Su Wanwan terjatuh, ia seketika mematung kaku. Bai Rongxin masih tetap bersujud kepadanya, Su Wanwan cukup bingung-- hari apa ini sebenarnya. Apakah di zaman ini ada April mop?
"Bai Rongxin..."
Tok!
Tok!
Tok!
Baru sempat menyebut namanya, sebuah ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Bai Rongxin dan Su Wanwan sama-sama terkejut, mereka melihat pintu seketika.
"A-ada orang, nyonya biarkan Rongxin sembunyi..." Tanpa jawaban, Bai Rongxin langsung melompat ke bawah ranjang untuk bersembunyi.
Su Wanwan. "..." Terdiam tanpa daya.
Tok!
Tok!
Tok!
Karena pintu terus menerus di ketuk, Su Wanwan mau tak mau membukanya. Hanya saja hatinya terasa sangat tidak enak, apakah hal yang sama akan terulang ketiga kalinya.
"Eh, bayangan apa ini..." Bai Rongxin yang di bawah ranjang menyadari ada bayangan lain di sebelahnya, saat menyadari itu adalah orang, mulutnya ingin berseru terkejut namun Hu Zheng membungkam nya.
"Jangan berisik!" Bisik Hu Zheng.
Mata Bai Rongxin melotot, bagaimana Hu Zheng bisa ada di bawah ranjang tempat tidur nyonya? Apakah Hu Zheng berniat mesum!?
"Huft, hah..." Sebelum membuka pintu Su Wanwan menghela napas panjang terlebih dahulu.
Kriett...
Hingga saat pintu di buka nya, sosok tubuh Shen Yuzhi langsung melesat memeluknya. Membuat tubuhnya yang tidak siap langsung terdorong ke dalam.
"Shen Yuzhi..."
"Nyonya, maafkan Yuzhi yang dulu menolak nyonya. Sekarang Yuzhi bersedia melayani nyonya, Yuzhi bersedia menjadi selir nyonya."
"..."
Ia terbengong ling-lung, pertama Hu Zheng menyampaikan perasaan nya dan dia masih bisa merasa senang, kedua Bai Rongxin menyogok nya dengan ayam tepung untuk masuk dan langsung menyampaikan perasaan nya dengan berlebihan, dan yang ketiga Shen Yuzhi langsung menerkam nya untuk menyampaikan perasaan.
Apakah ini masih alur cerita? Apakah dia benar-benar seorang antagonis? Apakah dia harus membangun harem?
Sial, hari keberuntungan apa ini?