"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Kebahagiaan di Atas Penghianatan Bayangan
Matahari perlahan menyembul dari balik cakrawala, memancarkan sinar keemasan yang mengusir pekatnya malam. Pertarungan hidup dan mati yang mengoyak lembah itu kini telah berakhir dengan sunyi.
Bersamaan dengan lenyapnya sisa-sisa energi yang mengudara, Itsuki berdiri mematung. Tubuhnya bergetar hebat. Seluruh energi kristal yang tadinya membumbung tinggi mendadak surut tanpa sisa, meninggalkan kekosongan yang teramat sangat di dalam pembuluh daranya.
Di detik itu juga, pertahanan mental, dan pisik Itsuki runtuh seketika. Pandangan Itsuki menggelap, dan ia langsung pingsan, jatuh terjerembab di atas tanah lembah yang dingin.
pada saat yang sama, kabut magis yang sempat memicu pingsan massal di seluruh penjuru kota perlahan-lahan ter-uap terbawa angin pagi. Satu demi satu, kelopak mata warga di sekitar mereka mulai terbuka.
Mereka mengerang kesakitan, mencoba mengumpulkan kembali kesadaran yang sempat di renggut secara paksa. Namun, kedamaian pagi itu langsung pecah oleh jeritan kepanikan ketika pandangan mereka tertuju pada pusat lembah.
Medan perang itu telah hancur berantakan, tanah terbelah, pepohonan tumbang, dan puing-puing es berserakan di mana-mana. Di kehancuran itu, pemandangan yang lebih memilukan menyambut mereka.
Tim itsuki yang selama ini berjuang di garis depan tergeletak tak berdaya. Roy, kaguya, dan Hinata, tampak bersumpah darah. Mereka mengalami luka-luka patah tulang yang parah demi menahan gempuran sebelum Itsuki membangkitkan wujud pamungkasnya.
Melihat para pelindung mereka dalam kondisi sekarat, kepanikan warga berubah menjadi penyelamatan massal. Tanpa membuang waktu, kerumunan warga yang masih memiliki sisa tenaga bergerak maju, mereka mengangkut tubuh Itsuki, Roy, Kaguya, dan Hinata yang terurai lemas, lalu melarikan mereka ke rumah sakit terdekat dengan ambulans dan kendaraan apapun yang dapat melaju cepat.
Setelah itu, suasana di dalam ruangan rumah sakit terasa begitu tenang, kontras dengan badai yang baru saja mereka lalui.bau antiseptik yang menyengat bercampur dengan bunyi ritmis di layar monitor jantung yang terpasang di dekat ranjang.
Itsuki di nyatakan koma. Epek dari penggunaan elemen kristal yang di paksakan serta bantuan energi dari pil misterius milik Roy telah membebani sukmanya yang melampaui batas kemanusiaan.
Satu minggu berlalu tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari pemuda itu. Selama tujuh hari yang penuh penderitaan itu pula, ranjang Itsuki pun tidak pernah di tinggalkan sendirian.
Sahabat-sahabat setimnya Roy, Kaguya, hinata yang untungnya telah mendapatkan perawatan insentif dan mulai membaik dari luka patah tulang mereka, selalu setia menunggu di samping itsuki yang tidak sadarkan diri. Mereka duduk melingkar dengan wajah-wajah yang digelar kecemasan, berharap mukjizat segera datang.
Di saat hari ketujuh, tepat di saat matahari mencapai titik tertinggi di langi, takdir yang di nanti akhirnya berjalan, jari-jemari itsuki bergerak sedikit, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka.
Di detik kesadarannya yang kembali, sepasang manik matanya sempat memancarkan cahaya keemasan yang sangat terang dan sakral sisa aura magis dari naga es dan elemen kristal murninya.
Namun, cahaya itu hanya bertahan beberapa saat sebelum akhirnya meredup dan memudar sepenuhnya, mengembalikan warna matanya ke manusia biasa yang tampak lelah dan rapuh.
Itsuki menerapkan mata, menatap langit-langit kamar putih yang tampak asing. "Di..... Mana aku?" bisiknya dengan suara serak yang Yaris tak terdengar, mendengar kata yang keluar dari mulut Itsuki Hinata langsung bangkit dari kursinya, matanya berkaca-kaca menahan haru "Itsuki! kamu akhirnya sadar!"...
Namun di tengah kelegaan yang di rasakan Hinata dan Kaguya, ada satu anomali di ruangan itu. Roy yang biasanya yang pertama kali bersikap santai atau selalu melemparkan gurauan medis tentang pil racikannya, kali ini menunjukkan reaksi yang sangat berbeda.
Ia berdiri agak jauh di sudut ranjang. Tatapan matanya tertuju lurus kepada itsuki, namun sorot matanya tampak begitu dingin, serius dan di penuhi dengan sejuta kalkulasi rahasia. Seolah-olah Roy sedang memandang sosok makhluk asing yang berbahaya, bukan lagi sahabat karib yang ia rawat.
Itsuki menyadari perubahan tatapan Roy yang menusuk itu. Ada kecanggungan dan ketegangan yang perlahan merayap di udara. Alih-alih mendingin suasana dengan Itsuki yang baru bangun, Roy tiba-tiba membalikkan tubuhnya, ia menjalan mendekat ke kaguya, lalu menaruh perhatian besar kepadanya.
"Kaguya, bagaimana dengan kondisi tangan kananmu? Apakah perban dan struktur tulangnya sudah terasa nyaman? Sini, biar ku periksa secara detail", ujar Roy dengan nada suara yang sengaja di buat pormal dengan penuh perhatian khusus, mengabaikan Itsuki yang baru saja lolos dari maut.
Itsuki yang melihat hal itu memilih untuk tidak meresponnya, labirin emosi akibat pengkhianatan di masa lalu dan kelelahan mental yang ia miliki. Membuatnya mati rasa untuk memedulikan dinamika aneh yang di tunjukan oleh Roy.
Ia hanya memejamkan mata kembali,membiarkan keheningan rumah sakit menelan tanda tanya yang menggantung di pikirannya.
Waktu berlalu sangat cepat setelah insiden rumah sakit tersebut. Setelah di pastikan pulih total dari luka fisik, kehidupan yang sempat porak-poranda di paksa untuk kembali berjalan normal. Status mereka sebagai pemburu dan pelindung kota untuk sementara waktu harus di kesampingkan demi melindungi ke stabilitas sosial.
Situasi kini berubah drastis, bergeser dari Medan pertempuran berdarah dan lorong rumah sakit yang sunyi menuju ke lingkungan sekolah yang bising.
Pagi itu, di sekolah tempat biasa para siswa menuntut ilmu tampak ramai, dengan para siswa yang mengenakan seragam rapi. Suara tawa, obrolan ringan tentang tugas, dan langkah kaki yang terburu-buru memenuhi koridor sekolah .
Bagi orang awam, sekolah ini tampak seperti institusi pendidikan biasa, namun bagi Itsuki dan timnya, tempat ini adalah tempat yang penuh kepura-puraan.
Itsuki kembali menyusuri koridor dengan tas yang tersampir di salah satu pundaknya. Langkahnya lambat, tatapannya lurus ke depan, mengabaikan bisikan-bisikan dari siswa lain yang melintas di sekitarnya.
Meskipun ancaman sang pengkhianat telah terkubur di perut bumi, Itsuki tau bahwa kedamaian di sekolah ini hanyalah lapisan tipis yang menutupi konspirasi yang lebih besar.
Di ujung dekat ruang kelas, ia melihat Kaguya dan Roy sedang berjalan bersama. Roy tetap mempertahankan sikap protektif dan sikap perhatiannya yang berlebihan kepada Kaguya sejak mereka berada di rumah sakit. Sementara Kaguya tampak menanggapi dengan senyuman tipis yang sulit di artikan.
Itsuki menghentikan langkahnya sejenak, menatap kedua rekannya dari kejauhan, kehidupan sekolah yang damai ini terasa asing baginya yang baru saja pulang dari gerbang kematian.
Kebahagiaan dan tawa yang menggema di koridor sekolah ini seolah berdiri di atas pengkhianatan bayangan yang belum sepenuhnya tuntas.
Dengan helaan napas panjang, Itsuki kembali melangkah, bersiap menghadapi hari-hari yang tidak akan pernah sama lagi.
TAP, TAP, TAP.
(Bersambung).