Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Tembok Tinggi Keluarga Hartono
Malam merayap makin lambat di atas kawasan perumahan elit di sudut kota Semarang. Rumah megah keluarga Hartono berdiri kokoh dengan pilar-pilar gaya klasik Eropa yang menjulang tinggi, dibalut lampu-lampu taman bernuansa kuning hangat yang memantul di atas permukaan air kolam renang. Namun, di balik kemegahan yang terlihat dari luar, atmosfer di dalam rumah itu terasa begitu dingin, kaku, dan mencekam tak ubahnya sebuah penjara berlapis emas.
Di dalam kamarnya yang luas bernuansa pastel, Clarissa duduk bersandar di tepi tempat tidur berukuran king size. Tirai beludru tebal sengaja ia tutup rapat-rapat, memblokir seluruh pemandangan luar dan menyisakan pendar kebiruan yang redup serta dingin dari layar ponsel cadangannya. Rambut panjangnya terurai berantakan, dan gaun tidurnya tampak kusut. Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi senyum percaya diri kini memucat, dihiasi lingkaran hitam tipis di bawah mata akibat kurang tidur semalaman.
Pesan singkat yang ia kirimkan beberapa saat lalu ke kontak terenkripsi milik Vince sang perantara bayaran di dunia hitam akhirnya berstatus read, disusul oleh balasan berupa simbol titik hijau pendek. Artinya, uang muka hasil penjualan dua gelang berlian simpanan Clarissa telah resmi diterima oleh pihak perantara. Bagi Clarissa, rasa takut akan amarah ayahnya kini sepenuhnya telah lenyap, berganti menjadi bara dendam yang menggelegar dan membakar habis seluruh akal sehatnya.
“Tunggu saja, Aurel,” bisik Clarissa seorang diri di tengah kegelapan kamar. Suaranya gemetar oleh emosi, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang mengerikan. “Kamu mungkin merasa menang hari ini karena dibela oleh kepala sekolah dan Cristan. Kamu mungkin berpikir aku sudah hancur karena skorsing murahan ini. Tapi di luar tembok sekolah itu, aku punya seribu cara untuk membuat hidupmu seperti di neraka... tanpa perlu mengotori tanganku sendiri.”
Di luar pintu kamarnya yang terkunci rapat dari luar, sesekali terdengar derap langkah kaki berat milik pengawal pribadi yang ditugaskan Pak Hartono. Pengawal itu berjaga nonstop di lorong lantai dua, memastikan putri tunggal keluarga Hartono tersebut tidak melangkahkan kaki sejengkal pun keluar rumah selama masa skorsing dua minggu berjalan.
Sementara itu, di lantai bawah, perdebatan tegang antara Pak Hartono dan Bu Maya Larasati masih terdengar sayup-sayup menembus sela-sela lantai kayu berkualisi tinggi.
"Papa tidak mau tahu, Maya!" suara bentakan Pak Hartono menggema dari balik pintu ruang kerja utamanya. "Gara-gara kelakuan anakmu itu, direksi yayasan mulai mempertanyakan integritas keluarga kita! Saham investasi di proyek apartemen baru juga ikut terguncang karena berita kecurangan Clarissa mulai menyebar di kalangan pengusaha! Kalau reputasi kita hancur total, mau ditaruh di mana muka Papa?!"
"Tapi tidak perlu mengurung Clarissa seperti penjahat, Mas!" sahut Bu Maya Larasati dengan suara parau bercampur isak tangis. "Dia itu anak kita satu-satunya! Dia hanya emosi karena cemburu melihat Cristan mendekati anak dari keluarga biasa itu!"
"Cemburu tidak bisa dijadikan alasan untuk berbuat bodoh!" balas Pak Hartono mutlak, memutus perdebatan itu dengan dentuman keras tangan yang memukul meja kerja.
Di atas tempat tidurnya, Clarissa memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram sprei sutranya hingga kencang. Ia benci mendengar perdebatan itu. Ia benci melihat bagaimana orang tuanya hanya memikirkan nama besar dan posisi sosial, ketimbang rasa sakit hatinya saat Cristan menatapnya dengan pandangan penuh jijik di depan para guru.
Bagi Clarissa, Cristan Dewangga adalah milik yang harus ia dapatkan dengan cara apa pun. Dan siapa pun yang berani menghalangi jalannya terutama gadis seperti Aurel harus disingkirkan tanpa ampun.
Keesokan paginya, matahari terbit menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam, memancarkan sinar keemasan yang hangat di atas lapangan upacara dan bangunan megah SMA Loyola. Udara pagi terasa sejuk, dan lalu-lalang murid berseragam putih abu-abu mulai memenuhi lorong-lorong sekolah.
Karena Clarissa sedang menjalani masa skorsing penuh di rumahnya, atmosfer di koridor lantai dua terasa jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketegangan yang membayangi, tidak ada lagi derap sepatu hak tinggi yang angkuh, dan tidak ada lagi tatapan sinis nan meremehkan dari geng murid elit yang biasa mengerumuni Clarissa.
Aurel melangkah melewati pintu gerbang utama SMA Loyola dengan helaan napas lega. Tas punggungnya tersampir rapi di bahu kanan, sementara beberapa buku catatan pelajaran terdekap erat di dadanya. Senyuman tipis terukir di wajah cantiknya yang polos tanpa riasan berlebih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bisa bernapas lega di sekolah ini.
Beberapa murid kelas sebelas dan dua belas yang berlalu-lalang di koridor bahkan berani melemparkan senyuman ramah dan mengangguk sopan saat berpapasan dengannya. Kebenaran yang terungkap lewat rekaman CCTV di ruang kepala sekolah kemarin telah membongkar siapa yang sebenarnya bersalah, sekaligus mengembalikan nama baik Aurel di mata seluruh warga sekolah.
Saat Aurel menyusuri koridor lantai dua menuju ruang kelas 12 IPS, sesosok tubuh jangkung berwajah tampan berdiri bersandar di dekat pilar marmer putih, menunggunya dengan senyuman hangat yang seketika meneduhkan suasana.
"Pagi, Aurel," sapa Cristan Dewangga lembut seraya melangkah mendekat. Pemuda itu tampil amat rapi dengan seragam yang disetrika sempurna dan aroma parfum maskulin yang khas.
Aurel menghentikan langkahnya, mendongak dan membalas senyuman itu dengan sopan. "Pagi juga, Cris. Hari ini datang pagi sekali?"
"Tentu saja," jawab Cristan dengan binar mata yang jenaka. "Aku harus memastikan koridor ini aman dan bebas dari gangguan sebelum kamu lewat."
Pipi Aurel mendadak merona merah tipis mendengar godaan halus itu. Ia berusaha menundukkan kepala, mengalihkan pandangannya pada sampul buku sejarah di dekapannya untuk menyembunyikan rasa canggung sekaligus mendebarkan di dadanya. Kedekatan mereka yang makin erat dalam beberapa hari terakhir memang terus menjadi bahan pembicaraan hangat di antara siswa-siswi Loyola, tetapi baik Aurel maupun Cristan memilih untuk tidak terlalu memusingkan desas-desus tersebut.
"Kamu ini selalu saja berlebihan," gumam Aurel pelan sambil berjalan perlahan mendampingi Cristan menyusuri koridor.
"Aku serius, Rel," ujar Cristan, raut wajahnya yang tadinya santai perlahan berubah menjadi lebih serius dan tegas. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan suasana kelas-kelas yang mulai terisi. "Bagaimana suasana hatimu hari ini? Tanpa kehadiran... kamu tahu siapa."
Aurel menghela napas pendek, menyunggingkan senyum tipis. "Jauh lebih tenang, Cris. Rasanya seperti beban berat yang menggelayuti pundakku terangkat begitu saja. Aku bisa fokus mendengarkan penjelasan guru dan belajar untuk ujian tanpa harus merasa khawatir akan ada fitnah baru yang tiba-tiba dijatuhkan padaku."
Cristan mengangguk pelan menyetujui, namun rahang tegasnya mengeras kaku. Ada rasa bersalah yang masih bersisa di dalam hatinya karena pernah membiarkan Aurel menjadi sasaran empuk kelicikan Clarissa.
"Bagus kalau kamu merasa lebih tenang," kata Cristan dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Tapi aku mohon, jangan pernah melonggarkan kewaspadaanmu, Aurel. Aku tahu betul tipe orang seperti Clarissa dan keluarganya. Mereka terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, dan mereka tidak akan menerima kekalahan begitu saja di depan umum. Meskipun Clarissa dikurung di rumahnya selama dua minggu ini, bukan tidak mungkin dia memakai cara lain dari luar."
Aurel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas 12 IPS, menatap mata Cristan dengan keteguhan yang matang. "Aku paham, Cris. Aku tidak pernah menganggap masalah ini sudah sepenuhnya selesai. Tapi aku juga tidak mau membiarkan rasa takut mengatur hidupku di sekolah ini. Selama aku berdiri di atas kebenaran, aku tidak akan mundur."
Mendengar ucapan polos namun berani dari bibir Aurel, Cristan tertegun sesaat. Rasa kagum di dadanya makin bertambah dalam. Aurel bukan sekadar gadis sederhana yang anggun, melainkan sosok yang memiliki jiwa sekuat baja di balik kelembutannya.
"Apapun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian lagi," tegas Cristan penuh keyakinan, menatap Aurel dengan tatapan yang menyiratkan perlindungan mutlak. "Aku akan selalu ada di sampingmu."
Aurel mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman paling tulus pagi itu. Namun, di saat keduanya menikmati ketenangan sejenak di koridor sekolah yang damai tersebut, bayangan teror kotor yang dipesan Clarissa dari balik tembok rumah mewahnya telah mulai menyusup pelan, siap memporak-porandakan kedamaian mereka di babak-babak selanjutnya.
kalau bisa double up