"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
Hari-hari Vandra di Lebanon dipenuhi jadwal yang hampir tidak memberinya banyak waktu untuk memikirkan kehidupan pribadi.
Pagi dimulai dengan pemeriksaan perlengkapan dan pengarahan. Setelah itu, ia menjalankan tugas sesuai penempatan. Ada patroli, koordinasi dengan personel dari negara lain, pemeriksaan situasi di wilayah operasi, hingga kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari pasukan perdamaian, Vandra dituntut selalu menjaga disiplin dan kewaspadaan.
Situasi di Lebanon Selatan tidak selalu mudah. Ada kalanya patroli harus menyesuaikan rute karena kondisi keamanan. Ada pula saat-saat ketika ketegangan meningkat dan seluruh personel harus meningkatkan kewaspadaan.
Namun setelah tujuh bulan, Vandra sudah terbiasa. Ia bisa bekerja dalam tekanan tanpa kehilangan fokus. Misi ini ternyata memang memberinya sesuatu yang selama ini ia cari.
Jarak.
Jauh dari rumah, jauh dari Levia, jauh dari segala persoalan pernikahan yang selama hampir setahun membuatnya merasa tertekan.
Dulu ia mengira satu tahun tanpa Levia akan menjadi kebebasan yang sempurna. Dan ternyata... memang tidak buruk.
Setidaknya pada awalnya.
Sore itu, setelah menyelesaikan tugas, Vandra duduk di area istirahat bersama beberapa rekannya.
Salah seorang rekannya sedang memeriksa ponsel. "Tujuh bulan sudah."
Vandra menoleh. "Kenapa?"
"Gak kerasa kita sudah lebih dari setengah perjalanan."
Yang lain tertawa kecil. "Sebentar lagi pulang."
Vandra hanya mengangguk. Pulang. Kata itu membuat pikirannya tanpa sengaja melayang ke Indonesia. Dan entah kenapa, wajah seseorang muncul begitu saja.
Levia.
Vandra mengerutkan kening mengingat percakapannya dengan ibunya sebulan lalu. Levia sibuk. Itukah alasan berbulan-bulan ia tidak mendengar suara wanita itu. Tidak ada pesan, telepon.
Bahkan tidak ada pesan singkat sederhana seperti hati-hati atau sudah makan?
Padahal dulu, sebelum Levia kembali ke rumah ayahnya, perempuan itu hampir setiap hari menghubunginya. Pesan-pesan itu bahkan sering ia hapus tanpa dibaca. Dulu ia merasa terganggu.
Sekarang... ia justru menyadari betapa panjangnya waktu tujuh bulan tanpa satu pun pesan dari wanita itu.
"Kapten?" tanya rekannya.
Vandra tersadar. "Hm?"
"Kamu melamun."
"Gak." Vandra berusaha bersikap biasa.
Rekannya menyeringai. "Jangan-jangan mikirin rumah?"
Vandra menggeleng. "Enggak."
"Atau mikirin istri?"
Vandra langsung diam karena tebakan itu seratus persen benar.
Beberapa rekannya tertawa.
"Kenapa diam?" tanya salah seorang di sebelah kirinya.
"Gak ada." Vandra berdiri dan mengambil botol air. "Aku mau istirahat."
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Entah mengapa ia teringat satu hal.
Sebelum berangkat, Levia pernah mengatakan bahwa hidup terlalu berharga untuk mengejar orang yang tidak mencintainya.
Saat itu Vandra menganggapnya hanya ucapan sesaat. Namun selama tujuh bulan terakhir... wanita itu benar-benar tidak mengejarnya. Tidak sekali pun.
Vandra mengerutkan kening. "Apa dia benar-benar sudah menyerah?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Dan anehnya... ia tidak menyukai jawaban yang mungkin muncul.
***
Sore itu, halaman belakang rumah Gultom kembali dipenuhi suara langkah kaki dan hentakan ringan.
Ruangan latihan yang beberapa bulan lalu masih berupa tempat penyimpanan kini benar-benar berubah menjadi tempat olahraga. Samsak tinju tergantung di salah satu sudut. Beberapa dumbbell tersusun di rak, sementara matras latihan terbentang di tengah ruangan.
Sudah satu bulan sejak Gultom mulai mengajari Levia dasar-dasar silat. Dalam waktu itu, latihan mereka menjadi semacam rutinitas baru. Hampir setiap sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Levia akan datang ke ruangan tersebut. Kadang mereka hanya melakukan latihan dasar, tetapi beberapa kali Gultom mulai mengajarkan teknik bertahan dan menjatuhkan lawan.
Sore ini pun tidak berbeda.
Gultom berdiri di tengah ruangan mengenakan kaus olahraga dan celana training. Perubahan pada tubuhnya terlihat semakin jelas. Tujuh bulan menjaga pola makan dan rutin berolahraga membuat perut yang dulu sedikit buncit kini jauh lebih rata. Bahunya lebih tegap, napasnya lebih teratur, dan tubuhnya terlihat jauh lebih bugar dibandingkan beberapa bulan lalu.
Di hadapannya, Levia sedang mengikat rambutnya. Berat badannya kini berada di kisaran 84 kilogram. Angka itu masih jauh dari target yang ingin dicapainya, tetapi perubahan bentuk tubuhnya sudah terlihat jelas. Latihan kekuatan membuat tubuhnya semakin padat, sementara latihan kardio dan pola makan yang terjaga perlahan mengurangi lemak yang sebelumnya menutupi bentuk tubuhnya.
Ia masih bertubuh besar, tetapi tidak lagi mudah kehabisan napas hanya karena bergerak cukup lama.
Gultom memerhatikan putrinya sambil tersenyum tipis. "Kamu masih mau latihan silat?"
Levia langsung menoleh. "Kenapa memangnya?"
"Enggak kenapa-kenapa." Gultom mengangkat kedua tangannya. "Ayah cuma memastikan. Sejak sebulan terakhir kamu makin rajin latihan."
"Ya karena seru."
"Seru?" Gultom tertawa kecil. "Dulu Ayah ngajak jalan pagi saja kamu malas."
Levia mendengus. "Dulu itu dulu. Sekarang aku sudah berubah."
"Memang." Gultom mengangguk. "Ayah juga bisa lihat."
Levia tersenyum puas. "Nah, bagus."
Gultom kemudian mengambil posisi. "Kalau begitu, kita mulai pemanasan dulu."
Mereka melakukan beberapa gerakan peregangan sebelum masuk ke latihan utama.
Gultom memperhatikan setiap gerakan putrinya. Sebulan terakhir membuatnya semakin yakin bahwa Levia bukan sekadar mengikuti video latihan di internet.
Awalnya ia mengira putrinya hanya tertarik pada bela diri karena sedang menjalani program penurunan berat badan. Namun semakin sering berlatih, semakin jelas bahwa Levia memiliki kemampuan alami yang sulit dijelaskan.
Ia cepat memahami instruksi. Ia jarang mengulang kesalahan yang sama. Dan yang paling aneh, beberapa gerakan tertentu justru seperti sudah tersimpan di dalam tubuhnya.
"Siap?" tanya Gultom.
Levia mengangguk. "Siap."
Gultom maju perlahan. Levia tidak langsung menyerang. Ia berdiri dengan posisi kaki yang stabil, kedua tangan terangkat menjaga pertahanan, matanya mengikuti setiap pergerakan Gultom.
Gultom melakukan serangan ringan. Levia menghindar. Serangan berikutnya datang dari arah berbeda. Kali ini Levia menangkis, kemudian bergerak ke samping untuk menjaga jarak.
Gultom tersenyum. "Bagus."
Levia tidak menjawab. Konsentrasinya tetap tertuju pada gerakan ayahnya. Gultom kemudian meningkatkan kecepatan.
Levia mundur satu langkah, memiringkan tubuh, lalu memutar kakinya untuk menghindari serangan. Begitu Gultom kehilangan sedikit keseimbangan, Levia langsung bergerak mendekat. Tangannya hampir menyentuh bahu Gultom. Namun Gultom lebih cepat. Ia memutar tubuh dan melepaskan diri.
Keduanya kembali mengambil jarak. Gultom menatap putrinya dengan ekspresi semakin serius. "Via."
"Hm?" sahut Levia.
"Kamu yakin cuma belajar dari video?" tanya Gultom.
Levia tertawa kecil. "Ayah masih belum percaya?"
"Semakin sering kita latihan, Ayah justru semakin gak percaya," jawab Gultom jujur. "Kalau cuma belajar dari internet, perkembanganmu gak seharusnya secepat ini."
Levia mengerutkan kening. "Memangnya secepat apa?"
Gultom memperhatikan putrinya beberapa saat. "Sebulan lalu sebenarnya kemampuan dasar kamu sudah bagus. Kamu sudah bisa menjaga keseimbangan, membaca arah serangan, bahkan melakukan beberapa gerakan tanpa Ayah contohkan."
Levia hanya tersenyum.
"Tapi yang membuat Ayah heran," lanjut Gultom, "dalam waktu sebulan kemampuanmu berkembang jauh lebih cepat daripada orang yang baru mulai belajar."
Ia mengamati kuda-kuda Levia. "Sekarang gerakanmu lebih cepat, lebih terarah, dan kamu semakin pintar menggabungkan beberapa gerakan sekaligus. Kamu juga gak lagi banyak berpikir sebelum bergerak."
Levia terdiam sejenak.
Gultom mengerutkan kening. "Seolah-olah tubuhmu sudah terbiasa melakukan semua itu sejak lama."
Levia mengusap tengkuknya. "Aku memang sering latihan."
"Sejak kapan?"
...✨"Terkadang, kita baru menyadari betapa pentingnya seseorang setelah dia berhenti berusaha mendapatkan tempat di hidup kita."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄