( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 22 }:{secret journey }
“Aku akan membantu mu keluar dari sini, asalkan kamu memberikan air yang kamu punya.”
Zeo merasa bingung dengan permintaannya.
“Kenapa kamu menginginkan air ini?”
“Air yang kamu miliki akan sangat berguna untuk kami. Air itu dapat membuat kesuburan pada tempat ini.”
“Aku akan memberikan air ini, tetapi saat kamu sudah mengantarkanku.”
Perjanjian disetujui.
Akhirnya Zeo dan anak itu menuju tempat yang Zeo tuju dengan menggunakan monster itu.
“Siapakah nama mu? Bagaimana kamu memiliki peliharaan semacam ini?”
“Namaku Faider. Aku memang ditakdirkan berada di tempat itu. Tempat yang kamu lihat tidak segelap itu dahulu. Monster yang kamu lihat, mereka bukan monster.”
Wajah Zeo mengerut kebingungan.
“Apa? Jadi monster ini bukan hewan yang kejam dan berbahaya?”
“Iya.”
Pada akhirnya, Zeo sampai di tempat yang luas.
“Tempat ini adalah tempat yang terakhir,” ucap Faider.
“Terima kasih telah mengantarkanku.”
“Ambil semua air ini untukmu.”
“Terima kasih. Air ini sangat berguna.”
“Perjanjian ini sudah selesai. Kamu dapat kembali ke tempat asalmu.”
Anak itu pun pergi kembali ke tempat asalnya.
“Aku akan mendapatkan jawaban setelah aku berhasil memasukinya.”
Zeo berjalan masuk.
“Apa ini hanya ruang kosong? Aku kira aku akan menghadapi makhluk atau seseorang.”
Sesaat kemudian terdengar langkah kaki mendekat.
Zeo berbalik.
Di hadapannya berdiri Sora.
“Sora, ini kamu?”
“Iya. Aku sudah lama menunggumu. Aku Sora.”
Ruang kosong itu hening.
“Aku tak percaya kamu benar-benar Sora.”
“Aku Sora. Aku ingat saat aku memberi hadiah di pernikahanmu.”
Zeo langsung memeluk Sora.
“Akhirnya kita dapat bertemu lagi.”
“Sora...”
“Hahaha. Sangat ironis, kau yang sudah memenjarakanku.”
Sora langsung menendang Zeo dan menghantamnya hingga Zeo terpental.
“Kau, Zeo, yang membuat kita saling menjauh.”
Sora melesat ke arah Zeo, menghantamnya tanpa henti hingga Zeo akhirnya menghantam balik Sora.
“Apa yang kamu lakukan, Sora?”
“Hahaha, Zeo. Kau tak ingat saat kau menyerangku tanpa henti dan membawaku ke penjara Api Abadi?”
“Aku sangat dendam padamu, Zeo.”
Jari-jari Sora menggempal.
Pukulan langsung meluncur ke arah dada Zeo.
“Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan, Zeo.”
Zeo yang terkena pukulan Sora berkali-kali akhirnya tak sadarkan diri.
Sora menatapnya dengan dingin.
Saat Zeo tersadar, ia melihat Sora menatapnya tajam.
“Sora, maafkan aku. Aku telah melakukan hal yang buruk padamu.”
“Hahaha... maaf, Zeo? Aku sangat ingin mengakhiri hidupmu. Tapi aku takkan menghabisimu saat ini. Nanti, di waktu yang tepat.”
Zeo yang mendengar itu tak percaya dengan apa yang Sora katakan.
Terdengar suara di balik tubuh Sora.
“Dewi Bunga... Aku sangat merindukanmu. Mengapa kamu selalu pergi dariku terus-menerus?”
“Zeo, aku tidak pergi darimu. Tapi kamu yang membuatku menjauh.”
“Aku tak percaya kamu juga mengatakan aku penyebab dari semua ini.”
“Lihat kebenaran, Zeo. Kamu membuat keputusan yang salah. Kamu buta dengan apa yang ada di hadapanmu. Kamu tidak bisa sedikit pun menahan amarahmu. Kamu sangat buta sampai tidak mendengarkan penjelasan Sora.”
“AAAA!”
Teriakan frustrasi Zeo menggema.
“Sebelum aku pergi, aku ingin kamu mengembalikan semua orang menjadi berjiwa lagi.”
Sora membawa Dewi Bunga menuju portal.
“Berhenti, Sora!”
Zeo menarik tangan Dewi Bunga.
“Aku mohon, berhenti. Lepaskan Dewi Bunga, Sora!”
“Aku takkan membiarkan kau bahagia, Zeo.”
Sora menghantam Zeo dengan tendangannya.
Dewi Bunga dan Sora menghilang.
“Maafkan aku, Sora...”
Teriakan Zeo menggema di ruangan itu.
Suara dari langit kembali terdengar.
“Kau sudah dekat dengan jawaban yang kau cari, Zeo.”
Zeo menatap ke arah langit dan melihat sebuah simbol...Elemen Artefak kuno Angin, Air, Api, dan Tanah. Tugasmu menyatukan semua simbol Artefak kuno di satu tempat, Aula Artefak.
Zeo yang mendengar itu merasakan kebingungan.
“Wahai alam semesta, bagaimana aku bisa menyatukan semua simbol Artefak kuno di alam yang kini telah membeku? Aku dan Iles yang memiliki kekuatan. Simbol Air, Iles Api. Di mana aku akan menemukan dua simbol lagi?”
Namun alam tak memberikan jawaban.
Beralih kepada Iles. Kekuatan Iles dan orang misterius akhirnya melangkah jauh.
“Iles, kita sudah memperbaiki semua reruntuhan ini. Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku mencintaimu, Iles.”
“Apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti.”
“Aku benar mencintaimu. Terima aku, mohon.”
“Tapi kamu pangeran dari negeri Angin, sedangkan aku bangsa Api.”
“Tidak, Iles. Cinta suci tidak memandang asal kita.”
“Maaf, Pangeran. Aku tidak bisa. Aku hanya akan fokus pada kehidupan alam ini.”
Pangeran menatap Iles menjauh.
Di sisi lain, di penjara Api Abadi, Sora menunduk.
“Kapan kamu akan kembali? Dewi bulan Bukankah aku sudah sangat lama menunggumu? Aku berharap kamu akan kembali padaku.”
Raut wajah Sora berubah.
“Aku akan membalasmu, Iles. Zeo dan alam ini, kau membuatku berada di penjara ini, Iles. Zeo, aku akan membuat kalian merasakan keputusasaan. Hahaha. Dengan tanganku, alam akan kuhancurkan hingga tak tersisa.”
Kembali pada alam bawah sadar Zeo.
“Alam semesta, jawab aku! Jawab, alam!”
Sesaat kemudian, boom!
Zeo terseret dari alam bawah sadar. Zeo terbangun dari doanya.
“Alam ini sudah kembali lagi. Namun, kenapa tidak ada satu makhluk pun yang terlihat?”
Iles datang menghampiri.
“Zeo, aku sudah memperbaiki bangunan di seluruh negeri. Aku tidak sendiri membangun ini.”
“Lalu dengan siapa kamu membangun ini?”
“Aku dan pangeran dari negeri Angin.”
Zeo yang mendengar pangeran Angin mendapatkan hawa segar.
“Di mana pangeran negeri Angin itu?”
Sesaat kemudian, pangeran Angin datang.
“Aku pangeran Angin. Apa yang bisa aku bantu?”
“Kau akan menjadi harapan alam ini kembali.”
Zeo cepat melingkar.
“Iles, isi simbol Api dengan kekuatan Api-mu. Dan kau, pangeran, isi simbol Angin itu. Aku akan mengisi simbol Air.”
Kekuatan mulai mengisi simbol-simbol Artefak kuno.
Alam mulai bergetar.
“Zeo, mengapa getaran ini sangat kuat dan tidak berhenti?”
“Bagian simbol Bumi belum terisi.”
Getaran semakin kuat.
“Lalu bagaimana? Apa ini akan berhasil, Zeo?”
“Aku tidak tahu, Iles.”
Iles terkejut dengan jawaban Zeo.
“Kamu tidak tahu?”
Iles berlari ke simbol Bumi dan membakar dirinya.
“Tidak! Apa yang kau lakukan, Iles?”
Pangeran memeluk Iles dan ikut terbakar bersama Iles.
“Tidak! Apa yang kalian lakukan?”
Api melahap dua tubuh itu hingga menjadi abu.
Getaran mulai terhenti.
“Ahh... Apa yang kau lakukan, Iles? Pangeran, kalian tidak harus mengorbankan diri.”
Awan-awan mulai menghitam menutupi Artefak kuno.
Suara terdengar di atas langit.
“Tidak ada yang harus kau sesali. Iles sedang membayar dosanya. Kematian mereka saat ini akan menentukan takdirnya di masa depan.”
“Apa maksudmu, Alam?”
“Kau akan mengetahui di waktu yang tepat.”
Hujan mulai turun membasahi tanah.
Kabut-kabut yang menyelimuti alam mulai menghilang. Getaran kembali terasa hingga membuat Zeo terjatuh.
Saat Zeo melihat Artefak, ia terkejut.
“Apa ini... cahaya?”
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya