NovelToon NovelToon
CEO Arogan Jatuh Cinta

CEO Arogan Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.

Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.

Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.

Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.

Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.

Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 15

Tok...tok...tok

Emma terus mengetuk pintu unit tiga. Ia tak akan berhenti sampai pintu dibuka Dave.

"DAVE BANGUN !!," seru Emma dengan tangannya tak henti mengetuk pintu.

Di kejar waktu yang terbatas, Emma semakin muak dengan Dave. Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya. Apa benar Dave belum bangun ? Atau memang ia sengaja tidak mendengar suaranya ?.

"Kamu benar-benar menghabiskan energiku pagi ini," ucap Emma. "BANGUN DAVE !!," lanjutnya dengan suara cukup keras.

Dari dalam terdengar suara langkah kaki mendekat ke pintu. Emma pun berhenti mengetuk pintu dan tak sabar ingin marah ke pria yang akan berdiri didepannya sebentar lagi.

"Iya...iya aku dengar," ucap Dave sambil membuka pintu. "Kenapa berisik sekali ?" tanyanya.

Dave berdiri di depan Emma mengenakan kaus dan celana pendek. Pria itu sangat tak beraturan. Rambutnya acak-acakan dan mukanya lesu.

"Jam berapa ini ?" sahut Emma dengan muka kesalnya. "Kenapa baru bangun ?" lanjutnya.

Pria itu tampak setengah sadar. Ia tambah mengacak-acak rambutnya. "Memangnya jam berapa ?" ucapnya.

"Jam delapan, Dave. Kamu kesiangan," balas Emma kesal.

"Uoohh jam delapan," jawab Dave santai. "Memangnya jam delapan, kenapa ? Apa yang aku lewatkan ?" lanjutnya.

"Serius Dave ? Aku tidak sedang bercanda." Balasan Dave membuat api kesal Emma semakin menyala.

"Iya, aku juga serius. Kamu kenapa kesini ?"

"Kamu sudah terlambat bekerja Dave," kata Emma. "Lebih baik kamu masuk lagi. Lalu mandi dan ganti pakaian. Jangan lupa pakai rompi dan topimu. Aku tunggu di sini."

"Beri aku waktu sejenak untuk menyelesaikan tidurku," jawab Dave dengan wajah lesunya dan menguap. "Kamu tadi mengganggu mimpi indahku," lanjutnya.

Plakk..

Tiba-tiba Emma menampar Dave. Sontak pria ini langsung membuka mata lebar-lebar dan mengusap pipinya yang terasa nyeri dan panas.

"Emma kenapa kamu menamparku ?" tanya Dave penuh kebingungan.

"Itu karena kamu buang-buang waktu berharga kita," jawab Emma. "Sekarang kamu lebih baik kedalam dan bersiap untuk kerja. Aku tunggu kamu disini."

Tak ada respon langsung dari Dave. Pria itu terdiam dengan terus memandang Emma penuh tanda tanya—Kenapa tiba-tiba perempuan ini menamparnya ?—sambil mengusap pipinya yang masih terasa nyeri.

"Ayo masuk Dave !!" Emma kembali kesal. "Mau aku tampar lagi ?" lanjutnya sambil mengangkat tangan kanannya.

"Jangan...jangan..." ucap Dave. Ia tak mau merasakan tamparan Emma untuk yang kedua kali. "Oke, aku akan mandi dan bersiap. Tunggu aku sebentar," lanjutnya. Ia lalu menutup pintu. Sementara Emma, berdiri di depan pintu, tepatnya di koridor.

...----------------...

"Itu tadi sangat menyakitkan, Emma," ucap Dave dibonceng Emma. "Bisa tidak lebih lembut sedikit padaku ?" lanjutnya.

"Tidak," sahut Emma singkat. Ia fokus berkendara.

"Kenapa ?"

"Kamu tidak pantas mendapatkan perlakuan yang lembut," jawab Emma. "Kamu memang seharusnya diberi tindakan yang kasar. Agar kamu bisa tahu diri," lanjutnya.

"Dari kemarin, kamu selalu bahas aku tidak tahu diri ? Memangnya kamu lebih tahu diriku ketimbang aku ?."

Lampu lalu lintas di persimpangan menyala merah. Emma perlahan mengurangi kecepatan dan mengerem. Skuter pun berhenti.

"Memang kenyataannya, kamu tidak tahu diri," kata Emma. "Seharusnya kamu malu jika aku lebih tahu dirimu ketimbang kamu."

"Kenapa harus malu ? Aku bangga pada diriku sendiri."

"Ternyata bicara denganmu sangat sulit." Lampu lalu lintas menyala hijau. Emma segera melajukan skuter. "Kamu itu terlalu berbangga diri. Coba lihat sekitarmu ?. Mereka tidak sombong sepertimu dan tidak arogan," Jelas Emma.

Emma menghentikan skuter sejenak di dekat halte bus.

"Kenapa berhenti disini ?" tanya Dave bingung. Ia lalu melihat kesekitar. Suasananya tenang, tak banyak orang yang berjalan di trotoar, begitu juga dihalte bus. "Memangnya ada pizza yang harus kita antarkan kesini," lanjutnya.

"Coba kamu lihat tuna wisma di depan toko itu." Emma menatap toko buah yang cukup ramai diseberang jalan.

"Memangnya ada apa dengan orang itu ?" tanya Dave heran. "Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita, daripada memandang hal yang tidak jelas," lanjutnya.

"Coba kamu lihat dulu Dave," sahut Emma. Dave pun kembali memandang kearah seorang pria tuna wisma.

"Ketika aku antar pesanan lewat jalan ini, aku selalu mengamati pria itu. Dia tidak pernah pindah dari depan toko itu. Kalau kamu jadi pemilik toko, apa yang akan kamu lakukan ?" Emma kembali melajukan skuter.

"Pastinya aku akan usir pria itu," jawab Dave tegas. "Karena aku tidak mau gelandangan itu mengotori tokoku," lanjutnya.

"Itu menurutmu, tapi apa yang dilakukan pemilik toko itu lebih manusiawi dan bijaksana," jawab Emma.

"Memangnya apa yang dilakukannya ?"

"Pemilik itu mengijinkan pria itu di depan toko. Dia tidak marah. Bahkan beberapa kali aku lihat dia memberikan buah ke pria itu dan baju yang layak pakai. Pria tuna wisma itu tahu diri. Setiap pagi dia selalu membersihkan depan toko buah itu sebagai ungkapan balasan terima kasih. Pria itu juga—"

Belum selesai menjelaskan, Dave tiba-tiba memotong. "Sebentar," ucap Dave. "Memangnya apa hubungan pria tuna wisma itu denganku ?" lanjutnya.

"Kamu kebalikan dari sifat pemilik toko buah itu. Kamu memandang pria itu rendahan. Padahal dia juga sama seperti kita—manusia yang butuh makan, minum dan pekerjaan. Pemilik toko itu, memandang pria tuna wisma itu sama. Dia tidak membanggakan dirinya yang punya jabatan tinggi di toko. Sekarang coba kamu ingat Dave, berapa kali kamu menghargai orang lain di sekitarmu ?" jelas Emma.

Dave tak langsung menjawab Emma. Ia terdiam sambil mengingat momen saat ia masih menjabat CEO. Memang selama di kantor, ia lebih banyak memaksakan kehendaknya agar dituruti para karyawannya. Ia tak pernah sekali pun memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan. Pria itu selalu ambil keputusan tanpa memikirkan nasib karyawannya yang akan ia pecat.

Penjelasan Emma benar-benar bisa merobohkan dinding kokoh kesombongan Dave. Ditambah lagi ucapan ibunya saat ditelpon tadi malam membuat dinding itu benar-benar runtuh. Ia sekarang paham apa maksud ayahnya yang mengasingkan dirinya ke kota ini.

"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, Dave ?" tanya Emma yang tak kunjung mendengar respon pria yang diboncengnya.

Seketika itu juga, Dave sadar dari lamunannya. "Eeeh...memangnya kamu bertanya apa ?" tanya pria itu.

"Hah...ternyata percuma aku menjelaskan panjang lebar kepadamu," kata Emma. "Lebih baik aku fokus berkendara dan tidak mau membahasnya lagi," lanjutnya cukup kesal.

"Memang lebih baik seperti itu," jawab Dave. Jauh di lubuk terdalam hatinya dan pikirannya, penjelasan Emma masih terngiang dikepalanya.

Selama perjalanan untuk pengantaran pizza pertama, Dave lebih banyak diam. Sementara Emma terus fokus ke jalanan agar segera sampai di titik antar pertama.

Sepertinya memang benar, aku selama ini tidak menghargai orang lain. Aku lebih mementingkan diriku dan tidak pernah sedikit pun memikirkan nasib orang lain yang telah aku pecat. Batin Dave yang membuatnya hingga melamun.

Seketika Dave keluar dari lamunannya, saat Emma tak sengaja melintasi jalan yang tidak rata. "Aduh. Maaf Dave," ucap Emma spontan.

"Kamu harus lebih berhati-hati," jawab Dave.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di titik pengantaran pertama, tepat pukul sembilan kurang lima belas menit. Dave dan Emma bergegas masuk sambil membawa lima kotak pizza. Lima menit lagi pizza-pizza itu harus segera di terima pelanggan.

1
Endah Lestary
ceritanya simpel ga ribet mikir dan ga kepanjangan pula.semoga semakin sukses 🥰
Putry Chan
jadi dia bos nya harus nungguin tanggapan orang ini dulu
@Semua orang
ya udh aku tinggal jejak di sini yah, semoga si author menepati yg di katakannya. semangat thor 💜💜💜
@Semua orang
ini pilihannya yg mana motor atau skuter
@Semua orang
hallow em.
@Semua orang
ala ebew
@Semua orang
PD banget om
@Semua orang
kayaknya ni org macam kayak aki mono itu ih.
@Semua orang
ho'oh
@Semua orang
hah cepet banget pak james, aneh. oh iya saran dari aku itu setelah tanda kutip hurufnya harus kapital udh itu aja.
@Semua orang
sekeras apapun cari duit org juga butuh rileksasi om
@Semua orang
dor
@Semua orang
di gw mah gerah bukan dingin, blm hujan lagi.
@Semua orang
hallow pak, salken pak.
Rumah Pena
lanjuuut
Rumah Pena
ceritanya seru dan menarik. lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!