Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa yang Tertinggal di Sungai Kampung Seberang
Halo semuanya! Di episode Cuma Modal Cerita kali ini, aku mau dibawain satu kisah kiriman dari temen aku yang berjudul: Jiwa yang Tertinggal di Sungai Kampung Seberang
Dahulu kala di sebuah desa yang dikelilingi rimbunnya pepohonan bambu dan riak aliran air, ada tiga orang sahabat yang hubungannya bagaikan saudara kandung. Sejak kecil, ke mana pun langkah kaki melangkah, mereka bertiga selalu berada di jalur yang sama. Tidak ada rahasia di antara mereka, dan tidak ada hari yang dilewati tanpa gelak tawa. Di antara ketiganya, Hana adalah sosok yang paling menonjol. Ia gadis yang riang, sangat ceria, dan celotehannya seakan tidak pernah habis mengudara. Kehadiran Hana selalu berhasil menghidupkan suasana sepi menjadi riuh rendah.
Suatu sore saat matahari mulai mencongkel bayang-bayang panjang di tanah, mereka bertiga berencana mandi di sungai kampung seberang. Aliran sungai di sana memang terkenal jernih, mengalir tebal menembus celah-celah batu hitam besar. Namun, orang-orang tua kerap berbisik bahwa area itu menyimpan batas tak kasat mata yang tidak boleh dilanggar. Hari itu, gemericik air melenyapkan rasa waspada mereka. Tawa gembira menyelimuti sore yang berangsur remang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ketika kegelapan malam mulai turun membalut pepohonan.
Namun, sore di sungai kampung seberang itu ternyata menjadi titik awal dari segala kemalangan. Sejak hari itu, ada sesuatu yang lenyap dari dalam diri Hana. Gadis yang dulunya paling banyak bicara itu perlahan berubah menjadi sososok yang sama sekali berbeda. Mulutnya yang biasanya riuh dengan cerita kini terkunci rapat. Pandangan matanya sering kali kosong, menatap lurus ke sudut-sudut ruangan seolah-olah sedang mengamati sosok yang tak terlihat oleh orang lain.
Hari berganti minggu, dan minggu berangsur menjadi bulan, tetapi kondisi Hana tak kunjung membaik. Ia makin menarik diri dari pergaulan dua sahabatnya dan keluarganya. Senyum manisnya menguap tanpa bekas, digantikan oleh raut wajah datar yang dingin. Pihak keluarga yang cemas setengah mati melakukan berbagai cara agar Hana bisa kembali seperti dulu. Mereka membawanya berobat ke dokter dan beberapa rumah sakit besar di kota, namun hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa tubuh Hana sehat secara fisik. Tidak ada kelainan pada otak, jantung, maupun organ tubuhnya. Secara medis, Hana adalah manusia yang sepenuhnya sehat.
Karena kebuntuan itu, rasa putus asa mulai menggerogoti hati kedua orang tua Hana. Atas dorongan tetangga dan kerabat dekat, mereka akhirnya memilih jalan terakhir, membawa Hana menemui seorang pendoa spiritual sekaligus pencerah gaib setempat yang biasa disapa Mbah Sukun. Rumah Mbah Sukun berdiri menyendiri di ujung kampung, dihiasi wewangian kemenyan halus dan bilah-bilah bambu tua yang berderit ditiup angin.
Saat rombongan keluarga menapakkan kaki di pelataran rumah Mbah Sukun, raut wajah lelaki tua itu langsung berubah keruh. Tatapan matanya tajam, tertuju lurus pada diri Hana yang berjalan lambat dengan pandangan kosong. Belum sempat orang tua Hana mengutarakan maksud kedatangan mereka, Mbah Sukun sudah berdiri dari duduknya. Matanya membelalak penuh kemarahan yang membendung rasa keprihatinan yang mendalam.
"Kenapa kalian baru datang sekarang?! Kenapa terlambat?!" teriak Mbah Sukun dengan suara berat bergetar. Mukanya memerah meramoni rasa amarah. "Anak ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi! Kenapa kalian membiarkannya hingga berbulan-bulan?!"
Ibunya Hana bersimpuh di lantai kayu, gemetar ketakutan mendengarkan bentakan itu. "Ada apa dengan anak saya, Mbah? Tolong disembuhkan, Mbah... dia anak kami satu-satunya..." tangis sang ibu pecah, memohon iba.
Mbah Sukun menggelengkan kepala dengan napas berat yang menderu. "Sia-sia! Anak ini sudah tidak bisa dibawa kembali! Jiwanya sudah ditahan dan dikunci di dasar air sungai itu! Yang berjalan bersamamu selama berbulan-bulan ini hanyalah raga kosongnya!"
Kata-kata Mbah Sukun menghantam dada kedua orang tua Hana bagaikan petir di siang bolong. Rasa guncangan batin yang luar biasa hebat membuat ibunya Hana seketika terkulai lemas, kehilangan kesadaran dan pingsan di atas lantai kayu rumah panggung tersebut. Suasana ruangan seketika menjadi kacau dan mencekam.
Di tengah kepanikan orang-orang yang berusaha menyadarkan sang ibu, Mbah Sukun mendadak bangkit berdiri menatap ke arah pintu luar. Wajah pencerah gaib itu mengeras, urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak energi negatif yang tiba-tiba menekan dada semua orang di dalam ruangan. Mbah Sukun menghentakkan tongkatnya ke lantai seraya berteriak lantang dengan nada mengusir yang penuh murka.
"Pergi kau! Jangan masuk ke rumahku! Pergi!" bentak Mbah Sukun, mengarahkan telapak tangannya ke udara kosong seolah sedang berhadapan langsung dengan bayangan hitam yang tak kasat mata.
Sontak saja, tepat setelah gema usiran Mbah Sukun memecah udara, tubuh Hana yang tadinya berdiri diam membatu mendadak kejang-kejang secara hebat. Matanya membalik ke atas hingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Tubuh ringkih itu roboh ke lantai lalu mendadak terduduk kaku dengan sudut tubuh yang tidak wajar. Hana telah kesurupan sepenuhnya.
"Jangan usir aku... Jangan..." bisik Hana. Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suara gadis riang yang dikenal selama ini. Suara itu lirih, serak, bergetar dingin, dan sarat dengan nada ejekan yang merindingkan bulu kuduk.
Mbah Sukun maju satu langkah, membaca doa-doa keselamatan dengan suara tebal menggelegar untuk menekan kekuatan ghaib tersebut. Namun, makhluk yang merintisi tubuh Hana tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dengan perlahan, leher Hana tertekuk miring secara ganjil. Ditatapnya Mbah Sukun dengan senyuman miring yang begitu mengerikan, lalu ia menjulurkan lidahnya panjang-panjang, ngeledek dan menantang keberanian pencerah tua itu.
Melihat raut wajah Mbah Sukun yang kian memerah terbakar amarah, sosok penunggu di dalam tubuh Hana itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya ke atas. Dari mulut kecil gadis itu, meluncur keluar gelak tawa yang sangat nyaring dan bergema hebat. Suara tawa itu berat, besar, dan menggema tebal memenuhi seluruh ruangan—suara milik sesosok makhluk raksasa yang mengerikan, yang kini telah menguasai raga Hana sepenuhnya tanpa menyisakan harapan bagi jiwanya yang telah hilang di dasar sungai.
Nah Genk Ini Hanya Segini Kalau Ada lanjutannya Nya Aku Bakal Up Ya ,Papay Chan❤️