Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pagi jam 06.00. Seminggu setelah jebakan investor palsu 2 Triliun di Hotel Mulia Sky Suite 45 yang gagal total dan bikin Clarissa Wijaya malu setengah mati diusir satpam hotel.
Rumah Pondok Indah Pondok Indah kembali tenang. Tidak ada lagi dress merah marun Chanel, tidak ada lagi buket 100 tangkai fitnah inisial R, tidak ada lagi bule palsu guru bahasa Inggris Kemang yang ngaku Robert Smith Fund UK.
Tapi ketenangan itu aneh. Ada yang beda dari Alena.
Dua hari ini Alena aneh banget.
Biasanya jam 05.30 pagi, Alena sudah ceria di dapur, daster bunga-bunga bersih, rambut dicepol rapi, wajan panas, nasi goreng spesial telur mata sapi bulat sempurna sudah jadi 3 piring untuk Aditya, Sean, dan dirinya sendiri. Telur bulatnya selalu sempurna, kuningnya di tengah, tidak pecah, tidak gosong.
Tapi dua hari ini, telur mata sapinya tidak bulat lagi. Pinggirnya agak gosong hitam, kuningnya agak pecah ke samping. Karena Alena masak sambil melamun, sambil mual.
Baru nyium aroma minyak panas dan bawang putih, Alena langsung mual, lari ke wastafel, muntah. Nasi gorengnya tidak habis, cuma dimakan 2 suap.
Bi Ijah yang lihat dari jauh jadi khawatir, "Bu Alena, Ibu sakit Bu? Masuk angin Bu? Mau saya kerokin Bu?"
Alena cuma geleng, senyum pucat, "Gak apa-apa Bi, cuma mual biasa Bi."
Di kamar lantai 2, Sean juga lihat perubahan Bundanya. Sean yang biasanya dibangunin Bunda jam 06.30 dengan teriakan ceria "Sean sayang bangun, nasi goreng Bunda sudah jadi!", dua hari ini dibangunin dengan suara pelan dan pucat.
"Bunda kok pucat Bun? Bunda sakit?"
Alena cuma elus rambut Sean, "Bunda kecapean aja nak."
Aditya, sebagai CEO dingin yang biasanya cuek dan hanya fokus tanda tangan kontrak Triliunan di Pradana Tower, justru jadi orang paling peka.
Tiap pagi jam 06.00 sebelum berangkat, Aditya selalu tempelkan punggung tangannya ke jidat Alena, cek demam. Tiap malam sebelum tidur, Aditya peluk Alena dari belakang lebih lama dari biasanya, di depan Bi Ijah pun ia tidak malu lagi.
"Sayang kamu pucat dua hari ini, mau ke dokter? Mas temenin ya?" tanya Aditya malam itu jam 21.00 di ranjang king size, lampu dengan warm temaram.
Alena yang dipeluk dari belakang, diam. Jantungnya deg-degan kencang. Dia mau bilang, tapi takut salah. Takut PHP. Jadwal datang bulannya telat 10 hari. Sejak nikah sama Aditya, Alena tidak pernah telat sehari pun. Selalu tepat 28 hari.
Tapi kali ini 38 hari dan si merah tak kunjung datang-datang.
Jam 05.00 pagi keesokan harinya, saat Aditya masih tidur pulas, napasnya teratur, tangan masih meluk pinggang Alena, Alena bangun pelan-pelan. Dia ambil tas belanja sayur kain, pakai jaket hoodie Aditya yang kebesaran, dan jalan kaki pelan-pelan ke apotek 24 jam di depan komplek Pondok Indah.
Di apotek, mbak apotekernya masih ngantuk.
"Mbak, beli tespack yang akurat 2 merk beda ya mbak," bisik Alena pelan, mukanya ditutup masker.
Mbak apoteker kasih 2 kotak, 1 merk mahal 85 ribu, 1 merk biasa 25 ribu. Alena bayar cash, masukin ke tas belanja sayur, tutup pakai sayur kangkung biar Bi Ijah tidak lihat.
Jam 06.00, rumah masih sepi. Sean masih main game semalaman dan baru tidur jam 03.00. Aditya masih tidur di ranjang king size, selimutnya berantakan.
Alena masuk kamar mandi utama, kunci pintu, duduk di lantai keramik dingin yang bersih mengkilap. Tangannya gemetar buka 2 kotak tespack itu.
Instruksinya dibaca 3 kali, padahal sudah hafal dari Google semalam.
Alena tes satu-satu. Dua-duanya.
Lalu menunggu.
1 menit terasa kayak 1 jam.
Detak jantung Alena kencang banget, kedengeran di telinga sendiri. Tangan dingin, keringat dingin.
2 menit...
Alena pelan-pelan lihat ke bawah, ke plastik putih kecil di lantai keramik itu.
Tespack pertama, merk mahal 85 ribu...
Dua garis. Merah. Jelas banget. Garis kedua tidak samar, tapi tebal, merah jelas.
Tespack kedua, merk biasa 25 ribu...
Dua garis juga. Sama. Merah jelas. Dua-duanya.
Dua-duanya dua garis.
Alena langsung lemas, duduknya melorot di lantai keramik dingin, tangan langsung nutup mulutnya kuat-kuat biar isak tangisnya tidak kedengeran Aditya di luar.
Air matanya jatuh deras ke lantai keramik.
"Ya Allah... ya Allah Aku hamil... ya Allah..."
Nangisnya sesenggukan, bahunya naik turun.
Di lantai 2, Sean juga lagi deg-degan, tapi bukan karena hamil, melainkan karena masa depan kuliah.
Meja belajarnya berantakan. Ada 3 brosur kampus mengkilap: Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi Bisnis, UGM Fakultas Ekonomika dan Bisnis, sama Binus International Business Management. Laptopnya kebuka 3 tab: pendaftaran SIMAK UI, pendaftaran UM UGM, sama pendaftaran Binus.
Nilai 92,5 tiga besar paralel bikin Sean bebas pilih, semua kampus kasih jalur undangan tanpa tes. Teman-teman SMA-nya pada daftar ke luar negeri, ke Singapura, ke Australia. Sean juga dapat tawaran beasiswa ke Nanyang Singapore.
Tapi Sean bingung, dari semalam tidak tidur mikirin itu. Dia tulis di buku catatannya: "Kalau Sean ke Jogja / Singapore, siapa yang jagain Bunda? Bunda kan gampang nangis habis drama Clarissa kemarin. Ayah sibuk kantor terus."
Jam 06.15, pintu kamar mandi utama kebuka pelan, krek.
Alena keluar, mata sembab merah, daster tidur bunga-bunganya agak basah di bagian bawah karena duduk di lantai, rambut dicepol berantakan, tapi di balik punggungnya, di genggaman tangan kanannya yang gemetar, dia sembunyiin 2 tespack dua garis itu.
Aditya sudah bangun, duduk di pinggir ranjang king size, kemeja tidur putihnya kusut, rambut acak-acakan, masih ngantuk, tapi lihat Alena keluar dari kamar mandi dengan mata sembab jam segini langsung berdiri panik.
"Sayang? Kamu dari jam berapa di kamar mandi? Kamu nangis? Mual lagi sayang? Pucat banget kamu sayang?"
Aditya jalan cepat, pegang kedua pipi Alena.
Alena tidak jawab, dia peluk lengan Aditya erat, suaranya gemetar, pelan banget kayak waktu pertama kali dia bicara dengan Aditya.
"Mas... Alena telat 10 hari Mas..."
Aditya yang masih setengah ngantuk, langsung melek 100%, mata langsung besar.
"Telat? Telat apa sayang? Telat datang bulan?"
Alena angguk, air mata jatuh lagi, pelan-pelan dia keluarin 2 tespack dari balik punggungnya, taruh di telapak tangan Aditya yang besar, yang biasa tanda tangan kontrak 2 Triliun, tapi sekarang dingin dan gemetar.
Aditya lihat.
Diam.
Hening 5 detik. Hanya suara AC kamar utama yang dingin 18 derajat.
Dua tespack, dua-duanya dua garis merah jelas.
Mata Aditya yang biasanya CEO dingin, datar, tidak ada ekspresi, yang bahkan saat ngusir Clarissa dress merah marun dari gerbang Pondok Indah tidak berkedip, sekarang langsung merah, berkaca-kaca, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Tangan yang biasa tanda tangan kontrak Triliunan itu gemetar hebat megang tespack kecil 85 ribu dan 25 ribu itu.
"Alena... ini... ini dua garis sayang? Kita... kita punya baby sayang? Kamu hamil sayang?"
Alena nangis keras, angguk kencang-kencang, peluk Aditya erat.
"Iya Mas... Aku hamil Mas... kayaknya aku hamil Mas... dua-duanya dua garis Mas..."
Aditya tidak jawab lagi pakai kata-kata, Kata-katanya mendadak hilang.
Dia langsung peluk Alena seerat-eratnya, pelukan paling erat sepanjang beberapa bulan pernikahan mereka. Sampai Alena susah napas, sampai daster bunga Alena kusut di punggung. Dia cium kening Alena berkali-kali, cium rambut Alena, bisik di telinga Alena dengan suara pecah nangis.
"Ya Allah... terima kasih Ya Allah... terima kasih sayang... kamu hamil sayang... kita punya baby sayang..."
Nangisnya Aditya jadi-jadian. CEO dingin Pradana Group nangis di kamar.
Jam 07.00, Sean turun tangga bawa berkas kampus di tangan, masih pakai kaos oblong, mau minta pendapat Ayah Bunda soal kuliah, karena deadline pendaftaran UI besok.
"Bunda, Ayah, Sean bingung mau daftar mana, UI atau..."
Kalimat Sean berhenti di tengah tangga.
Dia lihat di ruang tamu bawah, Ayah Bundanya pelukan di sofa besar, Bunda nangis keras, Ayah juga mata merah nangis, di meja ada 2 tespack dua garis.
Berkas brosur UI, UGM, Binus di tangan Sean jatuh semua ke lantai. BRAK! Berserakan.
"BUNDA? AYAH? BUNDA SAKIT? ITU APA? BUNDA KENAPA NANGIS? AYAH KENAPA NANGIS JUGA?"
Sean lari turun, loncat 2 anak tangga sekaligus.
Alena buru-buru hapus air mata, tarik Sean duduk di tengah mereka, di sofa besar yang empuk.
Sean lihat 2 tespack itu dekat, baca dua garis.
Alena peluk Sean, bisik pelan tapi senyum bahagia, "Sean... Bunda hamil nak... kamu bakal punya adik nak... kamu bakal jadi kakak beneran nak..."
Sean diam. Otaknya loading. 10 detik diam total.
Lalu meledak.
"WHAT?! APA?! BUNDA HAMIL?! AKU PUNYA ADIK?! AYAH BAKAL PUNYA BABY LAGI?! BUNDA HAMIL BENERAN?!"
Sean loncat berdiri di sofa, teriak paling kencang se-Pondok Indah, sampai Bi Ijah di dapur kaget, Mbak Siti lari dari belakang.
"YA ALLAH BUN! AKHIRNYA! SEAN JADI KAKAK! SEAN JADI KAKAK BENERAN BUN! YEEEES!"
Sean loncat lagi, peluk Bunda dan Ayah sekaligus, bertiga pelukan di sofa, sampai sofa hampir terguling.
"Ya Allah Bun akhirnya Sean gak sendirian lagi Bun! Sean janji Sean bakal jagain adik! Sean bakal jadi kakak terbaik sedunia Bun!"
Aditya yang masih meluk Alena, ketawa sambil nangis, lihat Sean yang loncat-loncat kayak anak kecil umur 5 tahun, padahal sudah 18 tahun dan lulus SMA dan hampir masuk perguruan tinggi.
"Sean, terus kuliah kamu gimana jagoan? Jadi daftar mana? Singapura yang jauh itu? Atau UGM di Jogja?"
Sean yang tadi semalaman bingung, tidak bisa tidur mikirin kampus, sekarang jawab dengan mantap, tanpa ragu sedetik pun, dengan mata masih berkaca-kaca.
"Sean daftar UI aja Yah! Manajemen Bisnis UI Yah! Yang deket rumah! Yang di Depok! Biar Sean bisa tiap hari pulang, bisa antar jemput Bunda kontrol hamil, bisa jagain Bunda yang lagi mual-mual, bisa jagain adik nanti pas lahir! Sean gak mau jauh-jauh dari Bunda yang lagi hamil Yah! Sean gak jadi ke Singapore Yah! Sean mau di rumah terus sama Bunda sama adik!"
Alena yang dengar jawaban Sean langsung nangis lagi, makin kencang, peluk Sean erat.
"Sean yang hamil istri ayah kenapa kamu yang sibuk urus kehamilan dia? Itu tugas ayah bukan kamu!" kali ini Aditya protes dengan muka cemberut sekaligus cemburu.
Alena yang tengah terharu terkekeh akan tingkah anak dan suaminya.
" Ya sudah kalian semua yang harus jagain bunda antar bunda priksa kedokter.Tapi ingat Sean,kamu harus fokus sama kuliah kamu oke nak!"
" Betul kata bunda kamu sean!" ucap Aditya.
Jam 09.00, Aditya batal ke kantor. Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun jadi CEO Pradana Group, Aditya batalkan semua rapat penting, batalkan meeting proyek 2 Triliun Senopati Tower, hanya untuk antar istri cek kehamilan ke dokter kandungan.
Dia telepon Dokter Kandungan pribadi Pondok Indah Hospital, dokter yang langganan artis-artis.
"Dok, istri saya Alena hamil, saya mau USG hari ini jam 10.00, siapkan ruangan VIP paling bagus, saya mau lihat calon janinya dan mendengarkan detak jantungnya Dok."
Jam 10.30, Pondok Indah Hospital, ruang USG VIP dingin dan wangi.
Alena tiduran di ranjang USG, perutnya dioles gel dingin. Aditya genggam tangan kiri Alena erat, tidak lepas sedetik pun. Sean di sebelah kanan Alena, pegang tangan kanan Bunda, matanya fokus ke layar hitam putih besar di depan.
Dokter yang rambutnya sudah putih, senyum, gerakin alat USG di perut Alena yang masih rata.
"Nih lihat Bu Alena, Pak Aditya, Kak Sean..."
Di layar hitam putih, ada kantung kecil hitam, dan di dalamnya ada titik kecil putih kedip-kedip... kedip... kedip...
Dokter senyum lebar, "Selamat Pak Aditya, Bu Alena, usia kandungan 6 minggu 2 hari, jantung janin sudah ada detaknya, sehat, kuat, kedip-kedip itu jantungnya Bu. Detaknya 120 per menit, normal."
Titik kecil itu kedip-kedip terus.
Aditya genggam tangan Alena makin erat, air matanya jatuh lagi ke pipi Alena.
Sean yang lihat titik kedip-kedip itu, anak 18 tahun yang kemarin baru lulus SMA nilai 92,5, sekarang nangis sesenggukan di ruang USG, tidak malu sama suster.
"Itu adik Sean ya Dok? Itu adik Sean yang kedip-kedip itu ya Dok?"
Alena nangis bahagia, angguk.
"Iya nak... itu adik kamu nak..."
Setelah drama panjang Clarissa S2 London dress merah marun Chanel tas Chanel foto London Eye, fitnah buket 100 tangkai mix merah putih inisial R pengagum rahasia di Cafe Senopati, dan jebakan bule palsu guru bahasa Inggris Kemang ngaku investor 2 Triliun Robert Smith Fund UK di Hotel Mulia Sky Suite 45...
Akhirnya rumah Pondok Indah jam 10.30 pagi itu isinya bukan lagi drama mantan yang licik met, tapi suara detak jantung baru.
Detak jantung kecil kedip-kedip di layar USG.
Bersambung...