Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Mendengar teriakan panik Pak RT, Amel yang sedang memegang gayung kecil seketika menghentikan siramannya.
Wajahnya menjadi pucat, dan gayung plastik di tangannya terlepas jatuh ke tanah.
"Papa... orang-orang jahat itu datang lagi ya?" bisik Amel gemetar, berlari kecil merapat dan menyembunyikan wajahnya di balik paha Mahardika.
Mahardika berjongkok pelan, membelai lembut pipi putrinya. "Amel percaya sama Papa, kan?"
Amel mendongak, menatap ayahnya lalu mengangguk pelan.
"Amel percaya Papa," jawabnya pelan.
"Pintar." Mahardika tersenyum.
Ia berdiri lalu menoleh ke arah Pak RT. "Pak RT, tolong jaga Amel di dalam rumah sebentar. Jangan biarkan dia keluar sampai saya panggil."
"B-baik, Dik Dika! Mari, Nduk Amel, ikut Pak RT ke dalam," ujar Pak RT terburu-buru menuntun Amel masuk dan mengunci pintu kayu dari dalam.
Setelah memastikan Amel aman, Mahardika berbalik dan berjalan santai ke tengah pekarangan rumahnya.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Brak! Brak! Brak!
Dua unit ekskavator raksasa berwarna kuning berhenti tepat di depan pekarangan rumah, disusul oleh empat mobil jip hitam dan belasan sepeda motor.
Lebih dari tiga puluh orang pria berbadan kekar dengan tato memegang balok kayu, besi ulir, hingga pipa besi, turun dan mengepung area rumah tua itu.
Warga desa yang melihat dari kejauhan ketakutan setengah mati, menutup pintu dan jendela rumah mereka rapat-rapat.
Dari dalam salah satu sedan mewah, Haryo melangkah turun dengan setelan jas rapi, disusul oleh Siska yang mengenakan kacamata hitam dan pakaian serba mahal.
Di belakang mereka, seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan luka parut di pipi kanan melangkah maju sambil membawa tongkat pemukul besi.
Pria itu adalah Bos Jarot, pimpinan geng preman paling ditakuti di kota tersebut.
Siska tertawa melihat Mahardika.
"Hahaha! Mahardika! Masih mau sok jagoan kamu hari ini?! Kemarin di balai desa kamu bisa sok pamer surat tanah tua itu! Tapi di dunia nyata, hukum tidak ada artinya di hadapan uang dan kekuasaan!" kata Siska penuh kemurkaan dan dendam.
Haryo maju dua langkah sambil mengisap cerutunya.
"Bocah miskin! Aku sudah bilang, tanah ini milik Perusahaan Properti Perkasa! Kami tidak butuh surat tanahmu, kami hanya butuh meratakan tempat ini! Hari ini, rumah ini beserta kamu di dalamnya bakal jadi puing-puing!" ujar Haryo culas.
Bos Jarot juga ikut melangkah ke depan, menancapkan tongkat besinya ke tanah.
"Oi, Bocah! Anak buahku yang kamu lumpuhkan kemarin itu cuma pemanasan! Hari ini aku bawa tiga puluh orang dan dua ekskavator! Kalau kamu tidak berlutut memohon di kaki Bos Haryo dan Mbak Siska sekarang juga, aku pastikan kamu mati membusuk di bawah reruntuhan rumah ini!" gertak Bos Jarot dengan suara serak menakutkan.
Mahardika hanya berdiri tegap di tengah pekarangan. Tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya.
"Haryo... Siska...Kalian membawa nama Perusahaan Properti Perkasa untuk menindas rakyat kecil dan merebut tanah orang lain. Apakah Tuan Baskoro tahu kalau anjing-anjingnya berbuat sebusuk ini di luar?" kata Mahardika dengan nada suara rendah tanpa emosi.
Mereka malah tertawa.
"Hahaha! Tuan Baskoro?!" seru Haryo geleng-geleng kepala.
"Kamu tahu nama Chairman kami dari mana, Hah?! Pengemis sepertimu bahkan tidak layak mencium bau sepatunya! Tuan Baskoro itu pengusaha nomor satu di kota ini, mana mungkin peduli dengan cacing tanah sepertimu!" ejeknya denga puas.