Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMPAH DIATAS ATAP
Angin malam di lantai paling atas gedung setengah jadi itu berhembus liar, menampar wajah Leo dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Hujan memang sudah reda sejak beberapa jam lalu, tapi sisa gerimis tipis masih terbawa angin, meninggalkan lapisan embun di atas permukaan beton yang kasar.
Leo berdiri di ujung atap yang tidak memiliki pagar pembatas. Ujung sepatu botnya hanya berjarak lima sentimeter dari jurang maut setinggi lima belas lantai. Di bawah sana, gemerlap lampu jalanan dan lampu neon dari papan reklame membentuk urat nadi kota yang tak pernah tidur. Kota yang selama ini ia anggap sebagai taman bermainnya, kini berubah menjadi arena perburuan raksasa di mana dirinya adalah mangsa utama.
Tatapannya tidak tertuju pada jalanan di bawah, melainkan lurus ke arah pusat kota. Di kejauhan, menembus kabut malam, berdiri sebuah gedung pencakar langit megah berlapis kaca hitam. Logo huruf 'V' raksasa memancarkan cahaya keemasan di puncaknya. Valenti Tower. Simbol kekuasaan, kekayaan, dan warisan darah keluarganya selama tiga generasi.
Dua malam yang lalu, Leo berdiri di penthouse gedung itu dengan segelas sampanye, siap menerima tongkat estafet sebagai raja dunia bawah tanah. Malam ini, ia berdiri di atas gedung reyot berdebu, memakai jaket bekas yang bau apek, dengan luka tembak yang terus berdenyut di bahu kanannya.
"Kau bisa mati kedinginan kalau terus berdiri di sana, atau lebih parah, tertiup angin dan jatuh ke aspal," tegur Elena santai dari arah belakang.
Leo tidak menoleh. Ia hanya merapatkan ritsleting jaket kulitnya dengan tangan kiri.
"Ayahku yang membangun gedung itu," ucap Leo pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam.
Elena berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar pelan di atas kerikil dan serpihan beton. Gadis itu menyodorkan sebotol air mineral dan sebungkus roti isi daging yang entah dari mana ia dapatkan.
"Makanlah. Kau butuh kalori sebelum kita menemui temanku si pemalsu wajah besok," perintah Elena datar.
Leo mengambil botol dan roti itu tanpa banyak protes. Ia membuka tutup botol dengan gigi dan satu tangannya yang sehat, lalu menenggak airnya rakus. Rasa dingin air itu sedikit meredakan panas di kerongkongannya.
"Dulu, kakekku cuma punya satu gudang kecil di pelabuhan tua," lanjut Leo mengunyah roti dagingnya dengan kasar, matanya masih terpaku pada Valenti Tower. "Dia mati ditembak geng saingan. Ayahku mengambil alih saat umurnya baru dua puluh tahun. Dia membantai geng itu, mengambil alih pelabuhan, dan pelan-pelan membangun kekaisaran ini. Ayahku selalu bilang, kota ini tidak menghargai orang baik, kota ini hanya menghargai orang kuat."
"Dan ayahmu kurang kuat untuk melihat pengkhianatan tangan kanannya sendiri," potong Elena tanpa ampun.
Kata-kata gadis itu terasa seperti tamparan keras, tapi Leo tahu Elena benar.
"Dia terlalu percaya pada Marco," desis Leo meremas bungkus plastiknya. "Ayahku berpikir loyalitas bisa dibeli dengan kekayaan dan rasa hormat. Dia lupa bahwa anjing yang terlalu sering diberi makan daging segar, lama-lama akan mencoba memakan majikannya sendiri."
Elena melangkah maju, kini berdiri tepat di sebelah Leo. Ia ikut menatap lautan lampu kota di bawah mereka. Wajah gadis itu terlihat tenang, diterangi cahaya kebiruan dari pantulan lampu neon di kejauhan.
"Kota ini seperti mesin raksasa, Leo. Marco sekarang sedang duduk di kursi kemudi, menarik semua tuasnya," ucap Elena melipat kedua lengannya di depan dada. "Polisi, politisi, preman jalanan, hakim... semuanya adalah roda gigi yang bergerak karena uang yang disuplai Marco. Besok malam, saat kita merampok Kasino Golden Palace, kita bukan cuma mencuri uangnya. Kita mulai merusak roda gigi itu satu per satu."
"Aku tahu," jawab Leo membuang napas panjang yang menghasilkan kepulan asap putih tipis di udara dingin. "Aku cuma memikirkan seberapa jauh aku harus bertindak. Dulu, ayahku selalu menjauhkanku dari urusan eksekusi kotor. Dia ingin aku jadi pebisnis, CEO yang bersih, sementara Marco yang mengurus darah di jalanan. Ayahku salah. Kau tidak bisa memimpin serigala kalau kau sendiri bertingkah seperti domba."
Leo mengangkat tangan kirinya. Di jari manisnya, cincin perak berukir kepala serigala—lambang Don klan Valenti—memantulkan cahaya kota. Ia menatap cincin itu cukup lama. Cincin yang sama yang berlumuran darah ayahnya dua malam lalu.
Dengan gerakan tiba-tiba, Leo merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis berukuran kecil yang ia ambil dari ruang bawah tanah tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elena mengernyitkan dahi.
Leo tidak menjawab. Ia membuka bilah pisau itu dengan giginya, lalu menggenggamnya kuat-kuat dengan tangan kirinya. Tanpa ragu, ia menggores telapak tangan kirinya sendiri. Darah segar seketika merembes keluar dari sayatan dangkal tersebut, mengalir turun membasahi cincin serigala di jarinya.
Elena terdiam, matanya menatap tajam ke arah aksi pria itu, menyadari bahwa ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ini adalah ritual jalanan.
Leo mengepalkan tangannya yang berdarah, membiarkan tetesannya jatuh ke atas beton pembatas atap. Ia mengangkat kepalanya, menatap langsung ke arah Valenti Tower yang angkuh di kejauhan.
"Aku, Leonardo Valenti, bersumpah di atas darahku sendiri malam ini," geram Leo dengan suara berat yang dipenuhi kebencian murni. Matanya berkilat buas, tidak ada lagi sisa-sisa pangeran manja di sana. "Aku tidak akan lari lagi. Aku tidak akan bersembunyi. Mulai detik ini, aku akan membakar setiap bisnis yang Marco bangun. Aku akan menumbangkan setiap pilar yang menopang kekuasaannya."
Angin berhembus semakin kencang, seolah alam merespons kemarahan pria itu.
"Aku akan mengambil kembali takhta keluargaku, bukan sebagai pewaris yang sah, tapi sebagai penakluk," lanjut Leo menekan lukanya sendiri agar darahnya semakin banyak membasahi cincin itu. "Dan saat aku berdiri di hadapan Marco nanti, aku tidak akan memberinya pengadilan. Aku akan memastikan dia merasakan semua penderitaan ini sebelum aku mencabut nyawanya dengan tanganku sendiri."
Leo menoleh menatap Elena. Tatapan pria itu sangat tajam, gelap, dan berbahaya.
"Dan aku juga bersumpah padamu, Phantom," ucap Leo menunjuk gadis itu dengan tangannya yang berdarah. "Setelah takhtaku kembali, aku akan menjadi pedangmu. Siapa pun dalang di balik Ares Group yang menghancurkan keluargamu... kita akan menyeret mereka ke neraka bersama-sama."
Elena balas menatap Leo dalam diam selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak ia menemukan pria ini sekarat di dermaga, Elena melihat sosok seorang raja mafia yang sesungguhnya. Leo telah melepaskan kenaifannya dan sepenuhnya menerima kegelapan yang dibutuhkan untuk memenangkan perang ini.
Perlahan, sudut bibir Elena tertarik membentuk senyum miring yang mematikan.
"Sumpah diterima, Pangeran," jawab Elena pelan namun tegas.
Gadis itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar kain perban bersih, dan melemparkannya ke dada Leo.
"Sekarang balut tangan bodohmu itu sebelum kau kehabisan darah dari tempat yang lain," omel Elena kembali ke nada sinisnya yang biasa. "Kita punya kasino yang harus dirampok besok malam, dan aku tidak mau senjatamu tergelincir karena tanganmu penuh darah sendiri."
Leo menangkap perban itu dengan sigap. Ia terkekeh pelan, tawa kering yang terdengar serak di udara malam. Ia membalut telapak tangannya sambil terus menatap ke arah kota.
"Bersiaplah, Marco," gumam Leo memicingkan matanya menembus kegelapan. "Masa tenangnya sudah habis."
Di atas atap beton yang dingin itu, aliansi paling mematikan dalam sejarah dunia bawah tanah kota telah resmi disegel dengan darah dan dendam. Perburuan baru saja berganti arah. Sekarang, sang mangsa telah bermutasi menjadi predator yang siap menerkam dari dalam bayangan.