NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

All About You

Day 10

"Ara, aku bosan. Aku nggak mau balik ke kamar dulu."

"Kamu bosan?"

Ara menatap Bara yang masih duduk di kursi rodanya.

"Kalau gitu, mau jalan-jalan di sekitar rumah sakit dulu, nggak?"

"Boleh. Aku juga pengin menghirup udara segar di luar."

Keduanya baru saja hendak kembali ke kamar Bara setelah lelaki itu selesai menjalani pemeriksaan rutin. Namun, karena Bara sedang tidak ingin kembali ke kamar, Ara akhirnya memutar balik kursi rodanya.

Dengan senang hati, Ara mengajak Bara berjalan-jalan di luar. Lagipula, sebenarnya ia juga mulai bosan karena terlalu lama berada di dalam kamar.

Ara membawa Bara ke taman rumah sakit yang cukup sepi. Setelah menemukan tempat yang nyaman, ia mengunci roda kursi agar tidak bergerak ke mana-mana.

Ara kemudian duduk di bangku yang berada tepat di samping Bara sambil menatap langit sore yang terlihat cukup cerah.

"Ara, sayang?"

"Hmm?"

Bara menoleh kepadanya.

"Kalau ke depannya aku benar-benar nggak bisa jalan lagi, kamu nggak apa-apa?"

Ara langsung mengalihkan pandangan.

"Kalau aku harus pakai kursi roda terus, apa kamu nggak malu sama keadaanku?"

"Bara, kenapa kamu ngomongnya kayak gitu, sih?"

Ara menatapnya dengan heran.

"Aku sama sekali nggak malu, mau bagaimana pun keadaan kamu. Lagian, aku punya pacar yang ganteng banget kayak gini. Ngapain juga aku harus malu?"

"Apa aku nggak akan ngerepotin kamu ke depannya?"

"Bara, sayang."

Ara tersenyum lembut.

"Aku nggak masalah kalau kamu ngerepotin aku terus. Aku nggak akan merasa capek atau mengeluh, kok."

Ia meraih tangan Bara.

"Aku itu udah terlalu sayang sama kamu. Jadi, kamu nggak perlu nanya yang aneh-aneh kayak gitu."

Bara terdiam beberapa saat.

"Kayaknya aku memang nggak salah pilih kamu."

Ia tersenyum sambil menatap Ara.

"Kamu benar-benar beda dari cewek lainnya. Kamu kuat, ceria, terus juga tegas."

Bara menghela napas pelan.

"Untung aja kamu bukan cewek yang lemah. Makanya, aku senang banget karena kamu ada di sisiku, meskipun aku lagi sakit kayak gini."

Ara langsung mengerutkan hidung.

"Hmm, berat banget bahasamu."

Ia mengibaskan tangannya.

"Mending ganti topik aja."

Bara tersenyum kecil.

Ia memandang Ara dari samping sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke langit sore yang mulai dihiasi semburat jingga.

"Ara, sayang?"

"Iya, Bara?"

"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi sama orang yang udah meninggal?"

Ara terdiam.

Astaga! Kenapa pembicaraannya selalu mengarah ke sana?

"Mereka pasti pergi ke surga."

Ara berusaha tersenyum.

"Memangnya kenapa?"

"Nggak apa-apa."

Bara kembali menatap langit.

"Tiba-tiba aja aku pengin jadi langit, terus ngelihat kamu dari atas sana."

Bara...

Ara menahan napas. Namun, sebelum kesedihan kembali menguasai pikirannya, ia justru tersenyum.

"Baiklah."

Ara ikut menatap langit.

"Jadi, bisa aku asumsikan kayak gini."

Bara menoleh kepadanya.

"Setiap aku mandang ke arah langit, berarti aku anggap kamu lagi merhatiin aku dari atas."

Ara menunjuk langit.

"Kalau langit cerah, artinya suasana hati Bara lagi bahagia."

Ia tersenyum.

"Kalau hujan turun, artinya Bara lagi bersedih atau lagi nangis."

Bara mulai tersenyum.

"Kalau matahari mau terbenam kayak sekarang, artinya Bara lagi merasa malu."

Ara terkekeh.

"Dan kalau malam tiba, artinya Bara lagi meluk aku."

Entah mengapa Ara tiba-tiba mengatakan hal itu. Namun, kalimat sederhana tersebut berhasil membuat Bara terdiam.

Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian meraih tangan Ara yang sedang memegang pegangan kursi roda dan menggenggam tangan mungil itu erat-erat.

Bahagia. Hanya itu yang dirasakan Bara saat ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi takut menghadapi hari esok. Karena ada seseorang yang membuatnya ingin terus bertahan.

"Rasanya aku pengin banget ngasih kamu hadiah."

"Hadiah apa?"

"Bintang di langit."

Bara menatap Ara.

"Aku pengin ngasih kamu semua bintang yang ada di langit."

Ara mengerjapkan mata.

"Kenapa?"

"Karena aku sebahagia ini setelah bisa jadi milik kamu."

Bara tertawa kecil melihat wajah Ara yang perlahan berubah merah. Ara benar-benar merasa malu setiap kali Bara mengatakan hal-hal romantis kepadanya.

Kalau saja Bara dari dulu nggak usil, mungkin kami sudah bersama sejak lama.

"Ah!"

Ara tiba-tiba teringat sesuatu.

"Aku mau membuat pengakuan penting buat kamu."

"Apa?"

"Sebentar, ya."

Ara mengambil ponsel dari saku bajunya. Ia membuka galeri dan mencari foto-foto Bara yang selama ini diam-diam ia ambil.

Ada begitu banyak foto Bara di sana. Foto saat Bara sedang makan. Foto ketika Bara tertidur. Foto saat Bara sedang tersenyum. Bahkan beberapa foto diambil ketika Bara sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.

Ara tersenyum lebar sebelum memilih salah satu foto terbaik. Tanpa ragu, ia mengunggah foto tersebut ke Instagram dan menandai akun Bara.

Setelah itu, Ara mengambil ponsel Bara yang sedari tadi ia bawa karena Bara harus menjalani pemeriksaan. Ia menyerahkannya kepada Bara.

Dengan tatapan bingung, Bara langsung membuka notifikasi Instagram. Begitu membaca tulisan yang disertakan Ara, ia langsung tertawa.

Instagram

aramoana_:

Jujur ini foto pertama kamu yang aku ambil diam-diam. Inget waktu awal kuliah kita semua lagi ngerjain tugas di perpus? Waktu itu kamu malah ketiduran di sofa dengan ekspresi senyum. Ini pertama kalinya aku naksir kamu, Bara @barasamudera. Di sini kamu ganteng banget banget banget sampe aku ngasih love sign! ❤️😘

Comments:

biru_namaku:

Gila! Kok abang baru tahu kalau adek abang ini level bucinnya udah parah banget? Abang ngiranya selama ini adek nggak suka sama cowok 😭

yohan.dewa:

Wow! Berita terpanas 🔥🔥🔥 Nggak nyangka kalau lo udah suka sama Bara sejak awal. Gila!

yuvindipt:

Kok gue baru tahu!!! Kagak nyangka banget gue!!!

sorazura_:

Gue kira gue tahu semua hal tentang lo, tapi masalah ini aja gue baru tahu sekarang 😭😭😭

Bara masih tertawa ketika membaca komentar teman-temannya.

"Udah terbukti kalau aku suka sama kamu sejak awal, kan?"

Ara menunjuk layar ponsel.

"Itu ada tanda hati juga buat kamu."

Bara menatapnya.

"Jujur, waktu itu kamu kelihatan ganteng banget. Sampai bikin aku benar-benar lemah."

"Astaga, Ara!"

Bara tertawa.

"Kalau aja aku tahu kamu juga udah suka sama aku sejak awal, aku pasti langsung ngedeketin kamu waktu itu."

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Bodohnya aku malah selalu ngejahilin kamu karena aku nggak tahu gimana perasaanmu dulu."

"Nggak masalah, Bara."

Ara tersenyum.

"Jujur aja, aku lega bisa ngomong yang sebenarnya sama kamu sekarang. Kalau aku memang suka semua hal tentang kamu."

Lega karena aku bisa kembali ke waktu ini dan mengatakan semuanya. Apalagi aku bisa sampai jadi pacar kamu dan merawat kamu seperti ini. Rasanya bahagia banget.

"Terima kasih, sayang."

"Iya, Bara."

Ara menatap langit yang mulai berubah semakin gelap.

"Hmm, mending sekarang kita balik ke kamar aja. Anginnya udah mulai kencang."

Ara berdiri dan memegang pegangan kursi roda.

"Nggak baik juga buat kamu kalau terlalu lama di luar kayak gini. Apalagi tadi kamu nggak pakai jaket sama masker."

"Mulai bawel, ya, kamu."

Bara memanyunkan bibirnya.

Ara terkekeh dan mulai mendorong kursi roda Bara kembali ke kamar.

...---...

"Oke! Ini dia pasangan terpanas tahun ini yang telah memasuki ruangan!"

Suara Yohan terdengar begitu mereka membuka pintu kamar.

"Kita sambut dengan meriah! Ara Moana dan Bara Samudera!"

Ara dan Bara langsung terdiam. Keduanya tampak bingung ketika melihat teman-teman mereka, termasuk Biru, sudah berada di dalam kamar.

Confetti bertebaran di udara. Sebuah terompet bahkan dibunyikan dengan suara yang cukup keras.

"Kalian ngapain?!"

Teriakan Ara membuat semua orang tertawa puas. Bara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita kan juga mau bikin Bara senang."

Yuvin mengangkat beberapa bungkusan makanan.

"Iya, kan, guys?"

"Maksud lo gimana, Vin?"

"Kita mau adain pesta malam ini di sini."

Yuvin membuka salah satu bungkusan.

"Tenang, kita nggak bakal berisik, kok. Kita cuma pengin nemenin Bara biar nggak kesepian sambil makan-makan."

Ia menunjukkan berbagai makanan yang mereka bawa.

"Ada ayam, pizza, soda, dan masih banyak lagi."

"Kan ada gue yang bakal nemenin dia."

Ara menunjuk dirinya sendiri.

Biru langsung menyela.

"Emangnya abang bakal ngizinin kamu kalau cuma ada kalian berdua di sini, hmm?"

Ara langsung menatap kakaknya.

"Kalau kalian berbuat yang aneh-aneh gimana?"

"Abang!"

"Makanya, abang ajak aja teman-temanmu ini buat nginep bareng di sini. Abang tahu kamu nggak akan pulang malam ini."

Ara menghela napas panjang.

"Abang!"

"Sayang, nggak apa-apa."

Bara justru tersenyum.

"Aku malah senang. Aku juga pengin sekali-kali menghabiskan waktu bareng teman-temanku sendiri."

Ia menatap Yohan, Yuvin, dan Sora.

"Kamu tahu, kan, selama ini aku nggak pernah punya teman."

Ara terdiam.

"Tuh! Bara aja malah senang, kok, Ra."

Sora langsung menghampiri Ara.

"Ayolah. Kita juga kangen ngumpul bareng sama lo."

Ara akhirnya menyerah.

"Oke, Sor."

Ia menunjuk mereka satu per satu.

"Kalian beruntung karena ini permintaan Bara. Kalau nggak, kalian pasti udah gue usir."

Ara mengangkat telunjuknya.

"Tapi janji jangan sampai bikin keributan. Ini rumah sakit, bukan kandang ayam."

"Siap, Nyonya Bara!"

"Yohan!"

Bara hanya tertawa kecil melihat perdebatan mereka. Ia kemudian menyuruh Ara untuk segera bergabung dengan teman-temannya yang sudah duduk lesehan di atas tikar.

Malam itu, kamar rumah sakit yang biasanya sunyi berubah menjadi tempat berkumpul mereka. Mereka mengobrol, tertawa, saling meledek, bermain kartu, dan menikmati makanan yang dibawa Yuvin.

Bara yang biasanya menghabiskan malam seorang diri kini dikelilingi orang-orang yang membuatnya merasa diterima.

Tanpa terasa, malam semakin larut. Ara akhirnya menyadari bahwa Bara sudah mulai terlihat lelah. Ia segera membantu Bara bersiap tidur.

Dengan bantuan Biru, Bara kembali berbaring dengan nyaman di atas ranjang. Ara menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

"Udah, sekarang tidur."

Namun, Bara justru menatap Ara.

"Ara?"

"Hmm?"

"Apa kamu bisa nemenin aku tidur di sini?"

Ara mengerutkan kening.

"Di sini?"

"Iya. Di sampingku."

Bara menggeser tubuhnya sedikit.

"Aku nggak bisa tidur."

"Nanti ranjangnya jadi sempit, sayang."

"Gak masalah."

Bara menatap Ara dengan wajah memelas.

"Aku pengin dipeluk sama kamu."

Ia mengusap lengannya sendiri.

"Persendianku rasanya sakit semua. Jadi, aku pengin menghilangkan rasa sakitnya sambil dipeluk sama kamu."

Ara menghela napas.

"Kalau aku ikut tidur di sini, nanti badan kamu malah tambah sakit, Bara."

Bara hanya diam.

Kemudian, ia mulai merengek seperti anak kecil. Ara yang melihatnya akhirnya tidak tega.

"Ya udah."

Ara naik ke ranjang dan berbaring di samping Bara.

"Tapi jangan banyak gerak."

Bara langsung tersenyum lebar. Ia mendekat, lalu menenggelamkan kepalanya di pelukan Ara sambil memejamkan mata.

Entah kenapa, rasanya rasa sakitku hilang kalau kamu ada di sini, Ra.

Bara tersenyum kecil.

Sementara itu, bagaimana dengan teman-temannya? Dan juga Biru Mereka ternyata sejak tadi justru asyik menonton drama gratis Ara dan Bara sambil menikmati pizza dan soda di lantai yang beralaskan tikar.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mengganggu kemesraan pasangan itu. Mereka hanya saling pandang, lalu tersenyum. Untuk malam ini, biarkan Bara menikmati kebahagiaan yang mungkin selama ini tidak pernah ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!