Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Yang Membelah Hati
“Mawar, kamu harus segera menggugurkan kandunganmu sebelum ada orang lain yang tahu. Demi kebaikanmu dan nama baik keluarga kita, Nak.” Suara Bu Gendis bergetar hebat, namun matanya menatap tajam, tak bergeming sedikit pun ke arah sang putri bungsu. Wanita itu rela melakukan apa saja, asal reputasi keluarga yang telah ia bangun dengan susah payah selama puluhan tahun tidak hancur seketika karena kabar buruk yang akan menyebar bagai api di musim kemarau.
“Tidak, Bu. Anak ini tidak bersalah. Aku akan melahirkannya dan merawatnya dengan segenap kasih sayangku.” Mawar menggeleng kuat, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang pucat pasi. Kedua tangannya bergerak refleks memeluk erat perutnya yang masih tampak rata, seolah sedang melindungi makhluk kecil yang tumbuh di dalam sana dari segala ancaman dunia luar yang kejam.
“Tidak boleh! Anak ini tak boleh melihat dunia! Kau mendengar, Mawar?!” Bu Gendis menaikkan nada bicaranya, amarah dan kecemasan bercampur aduk mendidih di dadanya. “Kau masih gadis! Belum menikah! Bagaimana orang-orang akan memandang kita nanti?”
“Bu, tolonglah… Aku mohon…”
“Sekarang kau harus memilih antara Ibu atau anak itu. Jika kau tetap bersikeras mempertahankan kandunganmu, maka Ibu akan menganggap tak pernah memiliki putri sepertimu!” Ancaman itu meluncur begitu saja, tajam dan menyakitkan, tanpa ragu sedikit pun, meski hatinya terasa teriris setiap kali melihat wajah sedih putri kesayangannya.
Mawar berlutut di lantai yang dingin dan keras, kedua tangannya terkatup rapat di depan dada, menatap memohon ke wajah sang ibu yang kini tampak asing baginya.
“Bu, selama ini aku selalu menuruti setiap perkataan Ibu. Sekali ini saja aku mohon, dengarkanlah aku. Anak ini tak tahu apa-apa, Bu. Ia tidak meminta untuk lahir ke dunia ini. Tolong biarkan aku melahirkannya dan membesarkannya.” Suara Mawar pecah, isak tangisnya menguap di udara.
“Jika Ibu takut aku akan mempermalukan keluarga, aku tak keberatan pergi dari rumah ini. Aku akan pindah ke tempat yang jauh, di mana tak ada satu orang pun yang mengenal kita. Aku akan bekerja keras membesarkannya sendiri.”
Kata-kata itu seolah menjadi pukulan telak yang menghantam dada Bu Gendis. Ia mundur selangkah, napasnya tersengal, dadanya terasa sesak berat seolah tertimpa beban batu raksasa.
“Kau ini… apa kau tak lagi peduli pada martabat keluarga kita? Bagaimana Ibu akan menghadapi ayahmu kelak di akhirat?” Tubuh wanita paruh baya itu perlahan melemas, lututnya tak sanggup lagi menopang berat tubuh, lalu jatuh terduduk di lantai. Telapak tangannya menekan kuat dada kirinya yang terasa nyeri menyengat, napasnya pendek dan terengah.
“Ibu! Apa yang terjadi?!”
Suara Jingga memecah ketegangan yang menyelimuti ruangan itu. Ia baru saja tiba setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari ibu kota, namun senyum rindu yang tadi terukir di bibirnya seketika lenyap tanpa jejak. Pemandangan di hadapannya membuat kaki Jingga terasa berat dan dingin. Sang ibu terduduk lemas di lantai sambil menahan tangis, sedangkan Mawar berlutut di depannya dengan wajah basah oleh air mata, tubuhnya gemetar hebat. Hati Jingga langsung teriris tak karuan, perasaan bercampur bingung, cemas, dan takut melanda seketika.
Di belakang Jingga berdiri Bima. Pria itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Mawar yang tampak begitu rapuh dan hancur. Rasa ingin berlari memeluk, menguatkan, dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja meluap di dadanya, namun ada tembok tinggi yang membentengi dirinya, ia adalah suami Jingga, kakak ipar Mawar. Dosa pengkhianatan yang pernah ia lakukan di balik pintu kamar tertutup masih membekas tajam di hatinya, rahasia kelam yang belum boleh terungkap ke siapa pun.
“Jingga… akhirnya kamu datang juga, Nak…” Bu Gendis langsung merangkul putri sulungnya begitu Jingga mendekat, menangis histeris membenamkan wajah di bahu sang putri.
“Tolong nasihati adikmu! Jangan biarkan dia menghancurkan nama baik keluarga kita! Katakan padanya untuk mengakhiri ini sebelum semua orang tahu!”
Jingga melepaskan pelukan sang ibu perlahan, lalu menarik napas panjang berusaha menenangkan diri. Ia melangkah mendekati Mawar dengan langkah yang terasa berat seolah diikat timah. Wajahnya dingin, matanya menatap tajam penuh kekecewaan yang mendalam. Tanpa memberi aba-aba, tanpa berpikir panjang, tangan Jingga bergerak cepat.
Prak!
Bunyi tamparan keras menggema di seluruh ruangan, membuat Mawar terhuyung ke samping, hampir jatuh terjerembap ke lantai. Pipi putihnya seketika memerah, meninggalkan jejak telapak tangan yang jelas.
“Selama ini kami selalu menyayangimu, melindungimu, dan memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya! Katakan, apa kesalahan kami sampai kau berani melakukan dosa sebesar ini, Mawar?!” teriak Jingga, suaranya pecah karena marah sekaligus sedih. Matanya memerah, menahan tangis yang hampir tumpah.
“Kau tahu betapa beratnya perjuangan Ayah dan Ibu membangun nama baik keluarga ini!”
Mawar menunduk dalam, air matanya makin deras jatuh membasahi lantai keramik yang mengkilap. “Maafkan aku, Kak… Maafkan aku…”
“Katakan siapa pria brengsek yang berani menghamilimu! Kita harus menuntut tanggung jawab darinya! Tak boleh dia lepas begitu saja setelah merusak masa depanmu!” Jingga mencengkeram bahu sang adik, mengguncang pelan namun penuh amarah.
“Siapa dia?!”
Mendengar ucapan itu, lutut Bima tiba-tiba terasa lemas seolah tak bertulang. Jadi masalah besar yang diceritakan Bu Gendis lewat telepon dengan suara gemetar itu adalah soal kehamilan Mawar. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, jantungnya berdegup kencang nyaris melompat keluar dari rongga dada.
“Apakah anak di kandungan Mawar itu anakku? Tidak mungkin… pasti itu anak Gala. Dia bersama Gala sebelum pergi merantau.” Bima berusaha menyangkal kenyataan, berusaha menenangkan diri, meski rasa bersalah mulai melalap hatinya perlahan namun pasti. Ingatan malam yang kelam itu kembali menghantui, saat ia masuk ke kamar Mawar, saat gadis itu tak berdaya, saat ia membiarkan hasutan setan menguasai akal sehatnya.
“Pasti itu milik pria bernama Gala!” Bima berbicara tiba-tiba dengan suara lantang, berusaha terdengar tegas, seolah berusaha menutupi kegelisahannya sendiri dengan tuduhan itu.
“Bukankah sebelum Gala pergi ke luar kota, kita pernah melihat mereka berdua bermesraan di kamar? Pasti dia yang melanggar batas sebelum pergi merantau!”
Bima memalingkan wajah, tak berani menatap mata Mawar, sementara di dalam hatinya ia berdoa, berdoa agar gadis itu mengangguk, membenarkan tuduhan itu, menyelamatkan dirinya dari kehancuran yang tak terbayangkan.
Namun Mawar perlahan mengangkat wajahnya. Air mata masih mengalir di pipinya yang memerah, namun tatapan matanya tajam, lurus, dan penuh kepedihan yang tak terlukiskan. Ia menatap tepat ke arah Bima, menembus ke dalam jiwa pria itu yang mulai gemetar ketakutan.
“Bukan Gala…” suara Mawar pelan namun jelas, tegas, terdengar di segenap ruangan yang seketika hening mencekam. “Ayah dari bayi yang sedang aku kandung… adalah dia.”
Jari telunjuk Mawar yang gemetar menunjuk tepat ke arah Bima.
Keheningan menyelimuti ruangan itu, begitu pekat hingga detak jantung masing-masing orang seolah bisa didengar. Jingga menatap sang adik, lalu menoleh perlahan ke arah sang suami, matanya membelalak tak percaya, seakan baru saja mendengar berita kematian orang yang paling dicintainya. Bu Gendis berhenti menangis, mulutnya ternganga, napasnya tertahan.
Bima mundur selangkah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia ingin bicara, ingin membantah, namun tak ada satu kata pun yang mampu keluar dari tenggorokannya yang terasa kering dan tercekat.
“Mawar… apa yang kau katakan?” tanya Jingga pelan, suaranya bergetar lemah.
“Katakan itu tidak benar… Katakan itu bohong…”
Mawar menggeleng pelan, air matanya kembali menetes. “Aku berharap itu bohong, Kak. Aku berharap sekali… Tapi itu kenyataannya.”
Bersambung...