Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Sera Bertemu Rania.
“Mas Wira bisa tunggu disini, atau mungkin mau menunggu di kafe juga boleh.” Ucap Sera sebelum ia keluar dari dalam mobil.
Mereka sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang terletak kurang lebih satu jam dari rumah.
“Saya akan ikut nona berbelanja.” Ucap Wira sembari mematikan mesin mobilnya.
Sera tidak menjawab. Namun ia melihat pria itu dengan tatapan tak percaya.
Wira pun menyadari tatapan gadis itu padanya.
“Selain menjadi sopir, saya juga harus memastikan keselamatan anda, non.” Ucap Wira kemudian.
“Tapi, mas —
“Apa nona takut ada yang salah paham jika melihat kita?” Tanya Wira.
Sera mengangguk pelan.
Wira menyunggingkan sudut bibirnya. “Dengan melihat pakaian yang saya pakai, orang - orang pasti sudah tau jika saya adalah sopir nona.”
Pria itu menatap seragam sopir berwarna serba hitam yang ia gunakan.
Sera ikut melihat ke arah pandangan Wira, kemudian menghela nafas pelan.
“Ya sudah. Mas Wira boleh ikut.” Putusnya kemudian.
Mereka pun keluar dari mobil, kemudian masuk ke dalam pusat perbelanjaan.
Wira membiarkan Sera berjalan di depannya. Sementara ia berada dua meter di belakang gadis itu.
Sera masuk ke salah satu toko pakaian wanita. Melihat beberapa koleksi gaun yang terpajang di etalase.
Wira tetap mengikuti dari jarak aman, seperti seorang bodyguard yang sedang mengawal majikannya.
“Mas, lebih cocok jadi CEO daripada bodyguard.” Celetuk seorang wanita dewasa yang melintas di samping Wira.
Sera juga mendengarnya, kemudian menoleh ke belakang. Namun Wira tak menanggapi ucapan wanita itu.
Jika diperhatikan dengan teliti, Wira memang lebih cocok bekerja di perkantoran. Daripada menjadi sopir seperti ini.
Sera mengedikan bahu pelan. Kemudian melanjutkan melihat - lihat pakaian wanita.
Setelah mendapatkan dua gaun santai, dua pasang setelan kerja dan dua gaun tidur, Sera pun mengajak Wira untuk pergi membeli kopi.
“Biar saya yang pesan, non.” Cegat Wira ketika Sera hendak pergi memesan.
“Tapi, mas —
Wira menggelengkan kepalanya. “Nona pasti lelah setelah berkeliling di toko baju tadi. Nona tunggu disini saja.”
Sera menghela nafas pelan. Ia kemudian merogoh dompet di dalam tas. Lalu memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada Wira.
“Saya es cappucino ya, mas. Sekalian mas Wira juga beli.” Ucap Sera mengulurkan uangnya.
Wira menganggukkan kepalanya. Ia pun pergi memesan kopi.
Sembari menunggu Wira memesan kopi, Sera membuka ponselnya.
“Aku lupa mengabari kak Ravin.” Gadis itu pun mengirim pesan pada sang suami.
Ia mengatakan jika dirinya pergi berbelanja bersama Wira.
Tidak ada balasan yang Sera terima. Bahkan Ravin tidak membaca pesan itu.
“Sepertinya sangat sibuk, ya.” Sera berdecak pelan. Ia menyimpan kembali ponselnya saat melihat Wira telah kembali.
Wira memberikan es kopi milik Sera. “Non, mau disini atau mau belanja yang lain?”
Sera melirik arloji kecil di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 2 jam, hingga makan siang tiba.
“Apa mas bisa membawa belanjaan saya ke mobil? Saya mau pergi ke salon sebentar.”
Mungkin ia perlu menata sedikit rambutnya. Dengan begitu, siapa tau Ravin melirik ke arahnya.
Wira menganggukkan kepalanya.
“Salonnya dimana, non? Biar nanti saya bisa menunggu di depannya.” Wira meraih kantong belanja yang berada di dekat tempat duduk Sera.
“Di lantai dua, mas. Samping toko kosmetik.” Ucap gadis itu sembari bangkit dari tempat duduknya.
Wira kembali menganggukkan kepalanya. Ia mempersilahkan Sera untuk pergi terlebih dulu.
Setelah melihat gadis itu aman berdiri di eskalator, Wira pun membawa tas - tas belanja Sera ke dalam mobil.
.
.
.
Wira menunggu Sera di depan salon tempat gadis itu melakukan perawatan, sembari bermain dengan ponselnya.
Setelah melihat Sera selesai, Wira pun menyimpan ponsel di dalam saku celana hitam yang ia gunakan.
Saat hendak berdiri dari tempat duduknya, Wira tanpa sengaja melihat seorang wanita muda masuk ke dalam toko kosmetik yang ada disamping salon tempat Sera melakukan perawatan.
Rania.
Mantan kekasih Ravin yang saat ini tinggal di apartemen pria itu.
“Sepertinya Sera belum mengetahui jika Rania ada di Jakarta.” Wira tersenyum mengejek.
“Sudah saatnya kamu tau kalau mantan kekasih suamimu ada di Jakarta, Sera. Aku akan membuat kamu semakin curiga dengan Ravin.”
Wira pun bangkit dengan tersenyum licik, kemudian menghampiri Sera. Ia sempat tertegun sejenak melihat penampilan gadis itu yang terlihat berbeda.
“Mas Wira.” Panggil Sera.
“Ah, ya. Non, apa saya boleh meminta bantuan?” Tanya Wira saat sudah berada di dekat Sera.
“Bantuan apa, mas?” Tanya gadis itu.
“Itu, ibu panti asuhan tempat saya dulu tinggal, lusa berulang tahun. Beliau sangat menyukai wewangian. Apa nona bisa membantu saya memilih parfum yang cocok untuk wanita paruh baya?” Wira sedikit mengarang cerita.
Ia harus bisa membawa Sera masuk ke dalam toko kosmetik itu. Agar bisa bertemu dengan Rania.
Sera kembali melirik arloji di pergelangan tangannya.
“Baiklah. Mumpung di sebelah ada toko kosmetik.” Ucap gadis itu.
Wira pun tersenyum dengan lebar. “Terima kasih, non.”
Mereka pun pergi ke toko kosmetik yang ada di samping kiri salon kecantikan itu.
‘Dimana gadis itu?’
Wira mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Rania.
Ia harus membuat Sera dan Rania bertemu seolah - olah tanpa sengaja.
Pria itu menyunggingkan sudut bibirnya ketika melihat keberadaan Rania.
‘Sesuai dengan yang aku rencanakan.’
“Non. Parfumnya yang di sebelah sana.” Wira menunjuk ke arah kanan. Tempat parfum wanita berada. Dan kebetulan Rania juga berdiri tak jauh dari tempat itu.
Sera menganggukkan kepalanya. Ia pun mengikuti langkah Wira.
Namun belum sampai di etalase tujuan, langkah Sera seketika melambat saat melihat seorang wanita muda yang melintas di sampingnya.
“R-Rania.”
Mata Sera membulat sempurna. Rania ada disini. Di Jakarta, bukan di Yogyakarta.
Sera pun teringat kembali dengan ucapan papa Rajendra saat ia dan Ravin menginap di rumah keluarga Arthadipa.
Rania menghilang dari Yogyakarta menjelang hari pernikahan Sera dan Ravin.
Jantung Sera tiba - tiba berdegup kencang.
“Apa mungkin kak Ravin mengetahui keberadaan Rania? Jangan - jangan —
“Non.” Panggil Wira. Namun Sera masih mematung di tempatnya.
“Non. Ada apa?” Tanya Wira mendekat.
“Itu. Saya harus segera pergi, mas.” Sera berbalik arah dan melangkah dengan cepat.
Ia harus memastikan jika wanita muda tadi benar - benar Rania.
Wira kembali menyunggingkan sudut bibirnya. Sepertinya, semua berjalan sesuai dengan yang ia pikirkan.
“Nona. Tunggu.” Pria itu pun mengejar langkah Sera.
“Mas Wira bisa membeli parfum sendiri. Saya masih ada urusan lain.” Ucap Sera sembari mengedarkan pandangannya.
“Saya ikut dengan nona.” Wira mengikuti langkah gadis itu.
Sera tak menghiraukannya. Ia harus mendapatkan keberadaan Rania.
“Mbak Rania. Tunggu.” Panggil Sera saat melihat Rania.
Orang yang dipanggil pun memutar bahannya.
“Sera.”
Mata Rania membulat sempurna.
Bukannya berhenti, Rania justru melangkah semakin lebar, bahkan berlari kecil.
“Mbak Rania. Tunggu.”