"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Telunjuk Berdiri Kelingking Berkait
Malam itu, langit di atas puncak perbukitan sunyi seolah ikut berduka, awan hitam tergantung rendah tanpa bintang, menaungi tragedi yang di tulis dengan tinta penghianatan paling keji.
Bilah pedang membela udara dengan suara yang memilukan, membawa hawa kematian yang pekat kearah leher itsuki yang terduduk pasrah, bagi siapapun yang melihatnya, semua orang mengira bahwa riwayat pemuda itu telah tamat. Namun, di titik nadir kehidupannya, sesuatu di dalam tubuh Itsuki justru meletup.
Itu bukan lagi sekadar insting bertahan hidup, melainkan gejolak perih dari sebuah jiwa yang di paksa menyaksikan runtuhnya tiang persahabatan masa kecil mereka.
Clang!.....
Suara benturan logam terdengar begitu nyaring, menggema membelah keheningan malam yang mencekam. Waktu seolah-olah berhenti berputar dan udara mendadak menjadi begitu berat hingga menyesakkan dada.pemuda penghianat di depannya terbelalak.
Matanya yang semula di penuhi kegilaan kini melebar, memancarkan ketidak percayaan dengan apa yang di saksikan nya. Itsuki telah menangkap bilah pedang yang tajam itu dengan telapak tangan kosongnya.
Tidak ada darah yang mengalir dari jari- jemarinya , kulit dan daging Itsuki kini telah di selimuti oleh cahaya merah menyala dari kekuatan magma core Sovereign, kekuatan Kono yang biasanya tertidur tenang di dalam inti sukmanya kini bergejolak hebat, meledak-ledak bagaikan gunung berapi yang siap memuntahkan isi buminya.
Amarah yang membakar jiwa itsuki bertindak bagai bahan bakar yang tak bertepi, rasa perih akibat di hina, ditambah kepedihan mendalam akibat di khianati oleh orang yang paling ia percayai, membuat lava cair yang mengalir di sekujur tubuhnya mengalir dengan ritme menakutkan.
"Mengapa....."!bisik Itsuki, suaranya berat dan bergetar menahan beban emosi yang teramat sangat, "Kenapa harus sampai seperti ini?".......
Belum sempat sang penghianat memberikan jawaban atau menarik senjatanya, Itsuki bergerak cepat, di dorong dengan rasa murka yang di campur dengan kekecewaan, ia merangsek maju, Itsuki menerjang dengan membabi buta, melepaskan seluruh tekanan batinnya menjadi serangkaian serangan beruntun yang dashyat.
Setiap pukulan tangan kosongnya yang di lapisi magma menyala meninggalkan jejak pukulan dashyat di udara. Sang penghianat yang tadinya merasa di atas angin terdesak hebat, ia terpaksa mundur selangkah demi selangkah, menahan benturan energi panas dengan sisa kekuatan hitamnya.
Wajahnya yang semula di penuhi dengan tawa kepuasan kini memucat, menyadari bahwa ia telah membangunkan raksasa yang salah, Itsuki terus memburunya tanpa ampun, memojokkannya hingga ke ujung tebing batu tanpa memberikan celah sedikitpun untuk bernapas.
Sebagai serangan penutup Itsuki menghentakkan kakinya ke bumi dengan kekuatan penuh, tanah di bawah pijakannya bergetar hebat, retak dan terbelah menjadi parit-parit api dan menganga, dari kedalaman celah bumi itu, sebuah manifestasi energi primordial bangkit, sosok naga api yang dahsyat tercipta dari jilatan magma murni.
Naga itu mendongak ke langit, mengeluarkan raungan yang menggetarkan Cakrawala sebelum akhirnya menembakkan gelombang lava yang sangat panas ke arah lawannya. Melihat wujud malaikat maut meluncur ke arahnya, sang penghianat mengerahkan seluruh elemen kegelapan miliknya.
Dengan jeritan frustasi, ia memanggil naga bayangan hitam untuk menyambut serangan itsuki, dia kekuatan makhluk misterius itu beradu di udara, menciptakan bola energi raksasa yang memancarkan gelombang kejut luar biasa.
Namun, kegelapan yang rapuh tidak akan pernah mampu menandingi murninya cahaya magma, naga bayangan itu kalah telak. Dalam hitungan detik, tubuh legamnya retak dan hancur berkeping-keping menjadi abu yang tersapu angin.
Dentuman besar dari hancurnya naga bayangan melemparkan tubuh mantan teman seperguruan Itsuki tersebut, ia terpelanting parah, tersungkur, dan berguling-guling hingga ratusan meter ke belakang di atas tanah yang tandus.
Dampak serangan naga magma Itsuki begitu masif hingga membakar seluruh kawasan gunung di sekitar mereka, menciptakan lautan api yang menjilat langit malam.
Kini, situasi telah berbalik sepenuhnya. Itsuki berjalan perlahan menembus kobaran api yang tak sedikitpun melukai kulitnya. Setiap langkah kakinya begitu berat, yang menyusahkan jejak kaki gosong di atas tanah.
Di hadapannya, sang sahabat masa kecilnya terbaring lemah, terbatuk-batuk dengan tubuh yang di penuhi luka bakar dan pakaian yang telah koyak.
Itsuki mengangkat tangan kanannya. Energi magma berkumpul di jari jemarinya, memadat, dan membentuk sebuah pedang magma yang menyala terang. Dengan tatapan mata yang dingin namun menyembunyikan kesedihan, Itsuki mengarahkan ujung pedang tajam itu tepat ke leher sahabatnya.
Ujung pedang yang membara itu tinggal since lagi dari kulit sang penghianatan, siap menghabisi nyawanya dalam sekali tekan.
Namun, tepat di saat yang menentukan itu, ketika Itsuki tinggal perlu menggerakkan tangannya sedikit saja untuk membalaskan dendam, waktu seolah kembali melambat.
Ia menatap wajah pemuda di bawahnya, wajah yang kini kotor yang tertutup debu dan darah itu sama dengan wajah anak kecil yang dulu sering tertawa bersamanya, tersenyum, bersembunyi bersama di bawah pohon rindang saat hujan, dan berjanji untuk saling melindungi.
Kenangan masa kecil itu mendadak menyeruak, menghantam dinding pertahanan emosi itsuki. Rasa kasihan dan empati yang sangat tinggi tiba-tiba membuncah di dalam dadanya, meredam sisa amarah yang membakar jiwanya.
"Tidak..... Aku tidak bisa melakukan ini!"...... 'batinnya, 'membunuhnya melanggar hukum kemanusiaan yang selama ini aku jaga'.
Dengan tangan yang gemetar, Itsuki perlahan menurunkan pedang magmanya hingga cahaya nya meredup dan lenyap, ia menarik napas dalam-dalam. Mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar hebat.
Ia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah pemuda yang terbaring tak berdaya itu, dengan suara yang mulai stabil Itsuki berbicara dengan sangat lembut.
"Kau.... Kuberi kesempatan." ucap Itsuki lirih penuh ketulusan. "Kerena aku percaya siapapun layak untuk mendapatkan kesempatan kedua, marilah kita bersama-sama melangkah ke cahaya yang benar dan kembali kejalan yang sesungguhnya. Kita adalah teman dan sahabat masa kecil yang selalu berjuang memikul masa-masa pahit bersama!"......
Mendengar perkataan Itsuki, pemuda di tanah itu terdiam sejenak. Sorot matanya yang semula di penuhi kabut kegilaan mendadak melunak.
"iya.... Aku pun..... aku telah menyadari semuanya." jawab pemuda itu dengan suara yang sangat lirih dan serak, seolah di penuhi dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Ia menggerakkan tangannya,perlahan menyambut uluran tangan Itsuki. Namun, di balik wajah memelas itu, sebuah rencana busuk sedang di gulirkan. Itsuki telah melupakan sebuah pepatah kuno yang sangat kejam: telunjuk berdiri, kelingking berkait.
Di depan seseorang biasa saja menunjukkan sikap lurus seperti jari telunjuk yang berdiri, namun di belakang, jari kelingkingnya, diam-diam berkait dengan niat culas untuk menusuk dari belakang.
Saat tubuhnya di tarik bangkit oleh Itsuki, tangan pemuda itu diam-diam bergerak meraih kembali gagang pedang kegelapannya, begitu posisinya sudah benar-benar berada dalam jarak yang sangat dekat.
ia dengan cepat mengunci pergerakan Itsuki dari dekat, Itsuki yang merasakan dekapan itu terlalu erat mendadak merasakan firasat buruk. Dengan suara berbisik, Itsuki bertanya, "Menyadari? Apa yang kau maksud dengan jalan yang sesungguhnya?".
Pemuda itu menghentikan sandiwaranya dan menyeringai dingin sambil berkata "Tidak".
"Hah?" sahut itsuki dengan penuh keheranan
Jleb!
Sebelum akal sehat Itsuki mampu mencerna keadaan, rasa dingin yang luar biasa menghujani masuk menusuk perutnya, mata pedang kegelapan milik temannya telah tertanam dalam di dalam tubuh itsuki, matanya langsung tercekat dan matanya terbelalak lebar.
Dengan sentakan kasar, pemuda itu menarik pedangnya kembali hingga darah segar menyembur keluar, lalu mendorong tubuh itsuki ke belakang.
Itsuki terhuyung-huyung dengan tangan mendekap erat perutnya yang bersimbah darah, cairan merah kental terus mengalir dari celah jarinya. Tubuhnya bergetar hebat, mental Itsuki hancur berkeping-keping melihat penghianatan kedua yang jauh lebih kejam ini.
"Aku telah menyadari kalau kau adalah seorang yang lemah!" teriak pemuda itu dengan suara sinis yang menggema di kobaran api, "Kau merasa sok suci dengan seluruh kekuatan dan kebaikanmu! Dan lihatlah sekarang, kebaikanmu yang membuatmu bodoh dan menghembuskan napas terakhir di tempat terkutuk ini!"....
Lalu dengan kasar ia menengang tubuh Itsuki dan mengayunkan pedangnya bersiap mengakhiri hidup Itsuki di tempat itu juga.
SINNGG!.......
(Bersambung).