NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Matahari pagi menyinari atap-atap rumah di kawasan Jalan Melati, memantulkan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah ventilasi kamar kos Keira. Udara pagi itu terasa sejuk, membawa sisa embun yang menguap perlahan dari tanah. Namun, suasana di dalam petak kamar berukuran tiga kali tiga meter tersebut tidak lagi terasa tenang seperti beberapa minggu sebelumnya. Ada ruang-ruang hampa yang mulai berbisik di setiap sudutnya.

Keira duduk di tepi kasur sambil melipat sajadah lipatnya usai menunaikan salat Subuh. Pandangannya kosong menatap ke arah meja plastik kecil tempat ponsel retaknya tergeletak diam.

Sudah beberapa hari sejak insiden pesan dan panggilan dari Nadia di ponsel Davin. Nama itu tidak lagi muncul; tidak ada notifikasi baru, tidak ada lagi dering telepon di luar jam kerja yang sempat mengusik benaknya. Davin kembali bersikap seperti biasa perhatian, datang membawakan sarapan bubur ayam dua hari lalu, dan memastikan kebutuhan kamarnya tercukupi. Semuanya tampak normal di permukaan, seolah retakan kecil yang sempat muncul di antara mereka telah tertutup rapat oleh kehangatan-kehangatan kecil yang diberikan lelaki itu.

Namun, pikiran Keira tidak serta-merta kembali tenang.

Bayangan tentang cabang Bandung, tentang dunia luar tempat Davin bekerja yang sama sekali tidak ia kenal, masih menyisakan rasa asing yang sulit dijelaskan.

Rasanya seperti berdiri di tepi tebing yang berkabut; ia tahu ia berada di sana, tetapi ia tidak bisa melihat apa pun di bawah sana selain jurang ketidaktahuan.

Kenapa aku harus memikirkan hal itu? batin Keira menggelengkan kepala pelan, mencoba menepis sisa-sisa kegelisahan yang mengganjal di dadanya.

Davin sudah bilang semuanya baik-baik saja. Dia bekerja keras untuk masa depan kami. Aku hanya perlu percaya.

Ia beranjak dari kasur, berniat merebus air panas untuk menyeduh teh hangat. Saat ia melangkah melewati meja plastik, layar ponselnya tiba-tiba menyala sendiri.

Sebuah getaran singkat mengusik kesunyian pagi.

Keira menoleh. Bukan dari Davin.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sudah beberapa minggu tidak pernah bertegur sapa dengannya.

Amara: Kei... kalau kamu ada waktu luang hari ini, ketemuan sebentar yuk di kafe seberang stasiun. Ada yang pengin aku bicarakan, sebentar saja. Aku tunggu ya.

Melihat nama Amara terpampang di layar, jantung Keira berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada kerinduan yang mendesak di dalam dadanya kerinduan pada sahabat satu-satunya yang dulu selalu menemaninya ke mana pun, yang tahu persis bagaimana cara membuatnya tertawa lepas tanpa beban. Namun, bersamaan dengan kerinduan itu, rasa bersalah dan rasa takut langsung merayap naik.

Ingatannya melayang pada malam ketika Amara datang mengetuk pintu kosnya, dan ia memilih berdiam diri di balik pintu sambil berbisik menyuruh sahabatnya itu pergi.

Kalau aku menemuinya, apa kata Davin nanti? pikiran itu langsung berkelebat, memadamkan separuh keberanian yang sempat menyala. Davin kan tidak suka aku terlalu sering berhubungan dengan Amara. Dia bilang Amara cuma bakal bikin pikiranku terpengaruh.

Keira berdiri mematung di depan meja, menatap pesan tersebut cukup lama. Jemarinya gemetar di atas layar retak itu, ragu apakah ia harus membalasnya dengan penolakan halus seperti biasa mengarang alasan bahwa ia sedang tidak enak badan atau sibuk membereskan kamar atau mengambil risiko melangkah keluar dari kamar kecilnya barang sejenak.

Pukul dua siang, di sebuah kafe sederhana berkonsep semi-outdoor di dekat stasiun kota, suasana tampak cukup lengang. Aroma biji kopi sangrai berpadu dengan udara sore yang mulai berhembus sejuk.

Di salah satu meja sudut yang menghadap langsung ke jalan raya, Amara duduk sambil mengaduk segelas es teh manis pesanannya. Matanya menatap ke arah pintu masuk dengan kilat cemas bercampur harap.

Tepat ketika ia hampir menyerah dan mengira Keira tidak akan datang, sesosok perempuan berkerudung abu-abu melangkah masuk ragu-ragu ke dalam area kafe. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu, dan gerak-geriknya menyiratkan kehati-hatian yang berlebihan.

"Kei...!" panggil Amara spontan, melambaikan tangan kecilnya.

Keira terkesiap kecil, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi berhadapan dengan sahabatnya itu. Senyuman tipis dan kikuk tersungging di bibirnya.

"Maaf, Mar, aku agak telat tadi nunggu angkutan."

"Gak apa-apa, santai aja. Yang penting kamu dateng," ujar Amara tulus, matanya meneliti setiap jengkal wajah Keira dengan saksama. Ada sorot sedih yang tidak bisa disembunyikan oleh sahabatnya itu.

"Ya ampun, Kei... Kamu kurusan banget. Beneran sehat kan di kos?"

Keira menunduk, merapikan ujung pashminanya untuk menghindari tatapan tajam Amara.

"Aku sehat kok, Mar. Cuma akhir-akhir ini memang jarang keluar kamar aja, jadi kurang gerak."

Amara menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tidak langsung menghakimi, tetapi ada kekecewaan yang kentara jelas di wajahnya.

"Kei, jujur sama aku... Kamu sebenarnya lagi nutupin apa dari aku? Sudah beberapa minggu kita kayak orang asing. Kamu nolak waktu aku ajak jalan, kamu menghindar waktu aku datang ke kos, dan setiap kali aku chat, balesannya selalu singkat."

Pertanyaan itu meluncur begitu telanjang, menohok tepat di ulu hati Keira. Tenggorokannya mendadak tercekat. Ia ingin sekali menceritakan semuanya tentang bagaimana Davin membatasinya, tentang rasa sesak di dalam kamar kos, tentang keraguannya sendiri yang mulai menumpuk. Namun, begitu ia hendak membuka mulut, bayangan wajah Davin dan kalimat-kalimat protektif lelaki itu langsung berkelebat di kepalanya.

“Teman kayak Amara itu cuma bakal bikin pikiran kamu terpengaruh...”

Rasa takut itu bekerja lebih cepat dari pada kejujuran. Keira menelan ludah, lalu memaksakan seulas senyum hambar. "Enggak ada apa-apa kok, Mar. Aku beneran gak nutupin apa-apa. Aku cuma... lagi ingin sendiri aja, nyesuaiin diri sama situasi baru semenjak aku tinggal di kos."

Amara menatap Keira lekat-lekat, mencari celah kebohongan di mata sahabatnya itu.

"Situasi baru? Atau karena cowok itu, Kei? Karena Davin?"

Nama itu disebut secara langsung, membuat Keira tersentak kaget.

"Kok bawa-bawa Davin, sih?" tukas Keira, nada suaranya sedikit meninggi untuk membela diri.

"Davin baik sama aku, Mar. Dia yang nolongin aku pas aku diusir dari rumah. Kalau bukan karena dia, aku mungkin udah luntang-lantung di jalan."

"Aku gak bilang Davin jahat, Kei!" balas Amara dengan nada frustrasi, namun tetap berusaha menahan suaranya agar tidak menjadi pusat perhatian orang lain.

"Tapi aku kenal kamu dari kuliah. Kamu bukan tipe orang yang mau dikurung di dalam kamar seharian tanpa kegiatan. Kamu suka seni, suka galeri, suka jalan-jalan, suka ngobrol bareng teman-teman. Tapi sekarang? Kamu kayak kehilangan diri kamu sendiri!"

Kalimat itu menghantam Keira bagaikan hantaman palu di dada. Kehilangan diri sendiri.

Kata-kata itu begitu telak hingga membuat air mata Keira tanpa sadar menggenang di pelupuk matanya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin berteriak membenarkan ucapan Amara, mengakui bahwa ia memang sedang tenggelam. Namun, rasa takut kehilangan Davin satu-satunya jangkar yang ia miliki di kota ini jauh lebih besar daripada keberaniannya untuk mengakui kenyataan pahit tersebut.

"Kamu gak ngerti, Mar..." bisik Keira parau, suaranya bergetar menahan tangis.

"Davin lakuin itu semua karena dia sayang sama aku. Dia cuma takut kehilangan aku."

Amara terdiam. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan nanar, seolah ia sedang melihat seseorang yang berdiri di tepi tebing dan menolak untuk ditolong. Ada rasa putus asa yang menyelimuti hati Amara.

"Terserah kamu, Kei," ucap Amara akhirnya dengan suara lirih, menyerah setelah menyadari bahwa benteng yang Keira bangun di sekelilingnya sudah terlalu tinggi untuk ditembus.

"Aku cuma mau bilang... kalau suatu hari nanti kamu sadar bahwa kamu butuh tempat pulang yang bener-bener aman, pintu rumahku dan mamaku selalu terbuka buat kamu. Kamu gak sendirian."

Pertemuan sore itu tidak berlanjut dengan perdebatan panjang. Mereka menghabiskan sisa waktu beberapa menit berikutnya dalam keheningan yang canggung sebelum akhirnya memutuskan berpisah di depan stasiun.

Saat berjalan pulang menuju gang Jalan Melati, langkah kaki Keira terasa begitu berat. Kata-kata Amara terus berputar-putar di kepalanya seperti gema yang tidak mau berhenti. Kamu kayak kehilangan diri kamu sendiri.

Sesampainya di depan kamar kos, ia membuka kunci pintu, masuk ke dalam ruangan sempit yang remang-remang, lalu menguncinya rapat-rapat dari dalam. Ia melepaskan kerudungnya, melemparkan tas selempangnya ke atas kasur, lalu duduk bersimpuh di lantai karpet.

Di dalam kesunyian kamar itu, air mata Keira akhirnya tumpah tanpa bisa ditahan. Ia menangis bukan karena marah kepada Amara, melainkan karena ketakutan terbesar di dalam dirinya mulai menemukan wujudnya: bagaimana jika apa yang dikatakan Amara memang benar? Bagaimana jika ia benar-benar telah kehilangan dirinya sendiri di dalam pelukan lelaki yang sangat dicintainya?

Namun, di tengah isak tangisnya yang pilu, sebuah suara deru motor matic terdengar berhenti di depan lorong gang. Ketukan tiga kali yang familiar menyusul beberapa detik kemudian di pintu kayunya.

Jantung Keira berdegup kencang. Ia buru-buru mengusap air matanya kasar, berdiri tergesa-gesa, dan membuka pintu.

Davin berdiri di sana dengan senyuman hangat, membawa sekotak martabak manis dan dua kaleng soda dingin. Wajah lelaki itu tampak lelah, tetapi begitu melihat Keira, senyumannya melebar.

"Hai, Sayang. Tadi aku lembur sebentar, tapi pas inget kamu langsung mampir ke sini," sapa Davin lembut, langsung melangkah masuk dan merengkuh tubuh Keira ke dalam pelukannya tanpa curiga.

"Mata kamu kok agak merah, Kei? Habis nangis?"

Mendengar pertanyaan itu, seluruh ketakutan dan keraguan yang sempat bergolak di dada Keira seketika surut. Ia mendongak, menatap wajah Davin yang begitu peduli, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.

"Enggak... cuma kelilipan debu tadi," bohong Keira untuk kesekian kalinya.

Davin mencium keningnya penuh kasih sayang.

"Makanya, jangan suka kucek mata. Udah yuk, masuk, kita makan bareng."

Di dalam dekapan hangat itu, Keira kembali menenggelamkan diri. Ia memilih untuk melupakan ucapan Amara, memilih untuk menutup matanya rapat-rapat dari kenyataan, dan membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam ke dalam pelukan lelaki yang telah merengkuh seluruh dunianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!