Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kaki di Salju dan Janji yang Tak Tergoyahkan
Hantaman angin musim dingin langsung menyambut tubuh mereka begitu pintu besar rumah keluarga Giorgiana tertutup rapat di belakang. Salju turun semakin lebat, menutupi trotoar jalanan Kensington dengan selimut putih tebal yang sunyi. Langkah kaki Adnan dan Martha berderak pelan di atas tumpukan es, meninggalkan jejak panjang di tengah malam yang membeku.
Martha berjalan cepat dengan napas memburu dan air mata yang terus meleleh, melebur bersama butiran salju yang menimpa pipinya. Kakinya yang mengenakan sepatu bot musim dingin terasa kaku, tetapi rasa sakit di dadanya jauh lebih hebat daripada dinginnya udara malam London. Ia merasa terhina, marah, sekaligus takut.
Tanpa sepatah kata pun, Adnan menyadari gemetar di tubuh wanita itu. Pria tersebut langsung melepas mantel wol tebalnya sendiri, lalu menyampirkannya ke bahu Martha yang rapuh, menyelubunginya dengan kehangatan sisa tubuhnya yang masih menyisakan aroma kayu cendana khas.
Martha menghentikan langkahnya di bawah lampu jalan kota yang memancarkan cahaya kekuningan temaram. Ia mendongak, menatap wajah Adnan yang kini hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan rambut hitamnya yang basah oleh lelehan salju.
"Adnan... kenapa kau tenang sekali?" suara Martha tercekat, parau di antara isak tangis yang tertahan. "Mereka baru saja menghinamu. Mereka merendahkan asal-usulmu, budayamu, dan... dan mereka menjodohkanku dengan pria lain! Pria bernama Julian Vance itu... keluarganya menguasai separuh industri pelayaran Eropa. Ayahku tidak akan pernah main-main dengan ancamannya."
Adnan berhenti. Ia membalikkan badan, menghadap Martha sepenuhnya. Di tengah badai salju yang menderu, pria itu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah Martha yang membeku. Sentuhan telapak tangan Adnan begitu hangat, mengalirkan gelombang ketenangan yang langsung meredakan gemetar di sekujur tubuh wanita itu.
"Martha, dengarkan saya," ucap Adnan dengan suara baritonnya yang rendah, tenang, namun penuh wibawa yang tak terbantahkan. "Kemarahan mereka adalah bentuk ketakutan. Orang tua Anda takut kehilangan kendali atas hidup putri satu-satunya. Mereka menilai dunia dari balik jendela kaca istana mereka yang tinggi, di mana segalanya diukur dengan lembaran saham, gelar kehormatan, dan status sosial."
Adnan menatap lurus ke dalam bola mata biru-kehijauan Martha yang basah.
"Tetapi mereka lupa satu hal," lanjut Adnan dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Hati manusia tidak bisa dibeli dengan perjodohan di atas meja makan, dan cinta tidak tunduk pada aturan aristokrasi mana pun. Apakah Anda ingin menikah dengan Julian Vance itu?"
Martha menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tegas, air matanya kembali tumpah. "Tidak! Demi Tuhan, aku tidak mencintainya, Adnan! Aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik! Aku hanya mencintaimu... hanya kamu."
"Kalau begitu, tidak ada yang perlu ditakutkan," balas Adnan mantap. "Selama Anda berdiri di samping saya, dan selama saya memegang tangan Anda, badai sebesar apa pun di London ini tidak akan mampu meruntuhkan apa yang sedang kita bangun."
Kata-kata itu bekerja bagai mantra penenang di jiwa Martha. Di tengah dinginnya malam Eropa, di bawah naungan salju yang turun tanpa henti, Martha kembali menghambur memeluk tubuh Adnan, membenamkan wajahnya di dada pria itu dan menangis sepuas-puasnya. Adnan mendekapnya erat-erat, melindungi wanita itu dari dunia luar yang kejam, berjanji di dalam hatinya untuk tidak menyerah pada takdir yang mencoba memisahkan mereka.
Keesokan harinya, badai salju di luar jendela telah mereda, meninggalkan kota London dalam balutan putih yang berkilau disorot matahari pagi yang pucat. Namun, ketenangan di luar tidak sejalan dengan apa yang terjadi di dalam apartemen Martha.
Ponsel di atas meja terus berdering tanpa henti. Panggilan demi panggilan tak terjawab dari ibunya, Lady Eleanor, serta pesan-pesan bernada ancaman dan peringatan keras dari sang ayah yang menuntut Martha untuk segera pulang ke rumah keluarga Kensington guna mempersiapkan diri menyambut kedatangan Julian Vance pada jamuan makan malam minggu depan.
Martha duduk di tepi sofa, menatap layar ponselnya yang menyala terang dengan tatapan kosong. Rasanya seperti ada beban ribuan ton yang menindih pundaknya.
Adnan, yang baru saja selesai menyeduh secangkir teh hijau hangat di dapur kecil, berjalan mendekat dan meletakkan cangkir itu di hadapan Martha. Pria itu menarik kursi, duduk di sampingnya, lalu mengambil ponsel yang terus berdering tersebut dan mematikan daya perangkat itu dalam satu gerakan tenang.
Martha terperanjat kecil, menatap Adnan dengan mata terbelalak. "Adnan... ponsel itu... kalau aku mematikannya, ayahku akan semakin murka."
"Biarkan mereka mereda sejenak, Martha," kata Adnan lembut. "Hari ini, kita tidak memikirkan mereka. Hari ini, kita memikirkan diri kita sendiri. Mari keluar. Saya ingin mengajak Anda ke suatu tempat."
Meskipun diliputi keraguan, Martha akhirnya menuruti ajakan itu. Mereka mengenakan mantel tebal, syal, dan sarung tangan, lalu keluar menyusuri jalanan kota London menuju sebuah taman publik tua yang tertutup salju putih di dekat Hyde Park.
Pemandangan di taman itu tampak magis. Pohon-pohon besar berdiri kokoh tanpa daun, ranting-rantingnya berbalut kristal es yang memantulkan cahaya matahari pagi. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak di atas salju yang masih perawan. Di tempat yang sunyi dari kebisingan kota itu, Martha dan Adnan duduk di atas bangku taman kayu yang dibersihkan dari salju sekadarnya.
"Martha," Adnan membuka percakapan, suaranya terdengar menyatu dengan desau angin musim dingin. "Selama kita bersama di sini, saya menyadari satu hal yang sangat penting. Perbedaan kita bukan sekadar tentang batas negara atau budaya. Perbedaan terbesar kita... ada pada keyakinan yang kita miliki."
Martha menoleh, menatap Adnan dengan tatapan siaga. Topik tentang agama dan keyakinan adalah salah satu dinding paling tebal dan paling menakutkan yang selama ini sengaja mereka hindari untuk disentuh secara mendalam, karena keduanya tahu betapa rapuhnya batas tersebut jika dibahas di tengah situasi yang rumit ini.
"Adnan..." bisik Martha lirih, suaranya mendadak bergetar.
Adnan menoleh, membalas tatapan itu dengan kejujuran mutlak di matanya yang hitam legam. "Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang memegang teguh nilai, ajaran, dan prinsip agama saya, Martha. Salat, doa, dan kepatuhan pada Tuhan adalah fondasi dari setiap napas hidup saya di tanah Jawa. Dan saya tahu, Anda dibesarkan dengan tradisi dan keyakinan yang berbeda di daratan Eropa ini."
Martha menundukkan kepalanya. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia tahu betul arah pembicaraan ini. Ini adalah inti dari segala kerumitan yang selama ini dicoba dihindari oleh akal sehat mereka. Di Indonesia maupun di Eropa, perbedaan keyakinan adalah jurang pemisah paling terjal yang sering kali tidak menyisakan ruang untuk kompromi.
"Apakah... apakah ini akhirnya, Adnan?" suara Martha tercekat di tenggorokan, begitu rapuh dan menyayat hati. "Apakah pada akhirnya perbedaan ini yang akan mengalahkan kita?"
Adnan tidak langsung menjawab. Pria itu mengulurkan tangannya, perlahan mengangkat dagu Martha agar wanita itu kembali menatap matanya. Tidak ada keraguan di sana, yang ada hanyalah ketulusan yang teramat dalam.
"Bukan akhir, Martha," jawab Adnan dengan suara baritonnya yang menenangkan, meski sarat akan beban batin yang besar. "Tetapi ini adalah ujian yang paling nyata. Kita tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa jalan di depan kita akan sangat terjal. Iman saya adalah bagian dari diri saya, begitu juga dengan prinsip hidup Anda. Kita tidak boleh saling meminta untuk menghianati apa yang kita yakini, karena cinta yang dibangun di atas pengkhianatan terhadap keyakinan tidak akan pernah membawa kedamaian."
Martha meremas ujung mantelnya erat-erat, dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen. "Lalu bagaimana kita bisa bertahan? Jika keluargaku menolakku karena perjodohan, dan jurang keyakinan kita begitu lebar... apa yang tersisa untuk kita, Adnan?"
Adnan tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kesabaran yang justru membuat air mata Martha tewas tumpah ke pipinya.
"Yang tersisa adalah keberanian untuk berjalan perlahan, mencari jalan keluar dengan doa dan ketulusan, bukan dengan keputusasaan," bisik Adnan lembut, jemarinya menghapus air mata di pipi wanita itu. "Wong sing sabar, bakal pick dewi kesucian tresno." (Barang siapa yang sabar, akan memetik buah kesucian cinta).
Di bawah langit musim dingin London yang membeku, dua insan manusia dari dua dunia yang berbeda itu duduk berdampingan—saling menggenggam erat, sadar sepenuhnya bahwa badai paling mengerikan dalam kisah cinta mereka baru saja dimulai, dan mereka harus memilih apakah akan bertahan bersama atau merelakan satu sama lain demi keyakinan yang mereka junjung tinggi.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️