Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar yang Mengikat Jiwa
Hutan Provinsi Hutan tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya mengubah irama napasnya, dari desau angin siang yang malas menjadi dengungan malam yang penuh dengan mata-mata tak terlihat. Bagi Ren Zexian, setiap bayangan di antara pepohonan raksasa itu tampak seperti jari-jari panjang yang siap mencengkeram, dan setiap suara ranting patah terdengar seperti langkah kaki Elder Han yang mendekat.
Mereka telah berjalan selama berjam-jam setelah ledakan di rawa gas, menjauh sejauh mungkin dari lokasi pertempuran. Lin berjalan di samping Ren, tangannya erat menggenggam ujung jubah kakaknya yang sudah compang-camping. Gadis kecil itu lelah; penggunaan energi peraknya untuk melepaskan ikatan Anjing Darah menguras tenaganya lebih dari yang ia sadari. Wajahnya pucat, dan cincin perak di matanya berkedip lemah, seperti lampu minyak yang hampir kehabisan bahan bakar.
Ren sendiri berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Tendangan Han di perutnya telah memarkan organ dalamnya, dan luka bakar ringan dari percikan api masih menyengat di kulitnya. Setiap napas terasa seperti menghirup kaca pecah. Tapi ia tidak boleh berhenti. Jika mereka tertangkap sekarang, semua pengorbanan ini akan sia-sia.
"Kakak," bisik Lin, suaranya serak. "Kita harus istirahat. Aku... aku tidak bisa melihat jalan dengan jelas."
Ren berhenti. Ia menatap adiknya, hatinya remuk melihat kelelahan di wajah gadis kecil itu. Ia tahu Lin benar. Mereka tidak bisa terus berlari tanpa henti. Tubuh manusia memiliki batas, bahkan dengan bantuan Qi.
"Di sana," kata Ren, menunjuk ke sebuah celah di dasar pohon raksasa yang akarnya membentuk rongga alami tertutup oleh lumut tebal. "Itu cukup aman untuk semalam. Kita akan bergantian jaga."
Mereka merayap masuk ke dalam rongga akar itu. Ruangannya sempit, berbau tanah basah dan jamur, tapi terlindung dari angin dan pandangan langsung. Ren mengumpulkan beberapa daun kering dan ranting kecil, lalu menggunakan sisa energinya yang minim untuk menciptakan percikan api kecil melalui gesekan kuas dan batu. Api itu redup, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk memberikan kehangatan tipis di udara malam yang menusuk tulang.
Lin segera tertidur, tubuhnya meringkuk rapat. Ren duduk di mulut gua, punggungnya bersandar pada akar kayu yang keras. Ia tidak tidur. Matanya terbuka lebar, menatap kegelapan hutan, Mata Void-nya aktif parsial untuk mendeteksi gangguan energi di sekitarnya.
Sambil menjaga Lin, Ren mengeluarkan kotak kayu kecil berisi Bunga Kebalisan. Ia membukanya perlahan. Bunga itu bersinar lembut dalam kegelapan, kelopak-kelopak peraknya berdenyut pelan, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri. Aroma manis dan dingin menyebar, menenangkan rasa sakit di dada Ren sejenak.
"Ini harapan kita, Lin," gumam Ren pada dirinya sendiri. "Besok, kau akan baik-baik saja."
Tapi pikiran Ren melayang ke kejadian tadi siang. Cara Lin melepaskan ikatan Anjing Darah... itu bukan sekadar teknik kaligrafi atau manipulasi Qi biasa. Itu adalah empati murni yang diubah menjadi kekuatan fisik. Lin merasakan rasa sakit beast itu, dan melalui koneksi batin mereka, Ren juga merasakannya—sebuah gema kesedihan dan kemarahan yang terperangkap.
Apakah ini masa depan? Bukan menghancurkan musuh, tapi menyembuhkan mereka? Ide itu terasa asing bagi Ren, yang seluruh hidupnya dibangun di atas prinsip bertahan hidup dengan kekerasan. Tapi melihat Lin, ia mulai mempertanyakan apakah jalannya selama ini adalah satu-satunya jalan.
Tiba-tiba, Mata Void-nya menangkap sesuatu. Sebuah fluktuasi energi kecil di kejauhan, bergerak cepat menuju posisi mereka. Bukan Qi manusia. Bukan beast. Sesuatu yang lebih halus, lebih tua.
Ren segera mematikan api kecilnya, menggelapkan rongga akar. Ia menarik kuas patahnya, siap bertarung.
Dari balik kegelapan hutan, sesosok figur muncul. Kecil, ringkih, mengenakan jubah anyaman daun. Elara.
Wanita tua itu tidak sendirian. Di belakangnya, dua sosok besar berdiri diam—Penjaga Hutan versi lebih kecil, terbuat dari akar dan batu, mata mereka bersinar hijau tenang.
Ren menahan napas. Apakah ini jebakan? Apakah Elara bekerja sama dengan Han?
Elara mengangkat tangan, menunjukkan telapak tangan kosongnya. "Tenang, Anak Muda. Aku tidak datang untuk menangkapmu."
Suara wanita tua itu bergema langsung di pikiran Ren, bukan melalui telinga. Teknik telepati tingkat tinggi.
Ren tetap waspada, tapi ia tidak menyerang. "Apa yang Anda inginkan?" tanya Ren, suaranya rendah agar tidak membangunkan Lin.
"Aku ingin memastikan kalian selamat," jawab Elara, melangkah lebih dekat. Penjaga Hutan di belakangnya tetap di tempat, menjadi benteng hidup. "Han tidak akan berhenti. Dia telah memanggil bala bantuan dari Klan Naga. Pasukan elit 'Penulis Bayangan' sedang dalam perjalanan. Mereka spesialis dalam melacak jejak spiritual, bahkan yang paling samar."
Jantung Ren berdegup kencang. Penulis Bayangan. Nama itu saja sudah cukup membuat darah beku. Mereka adalah pemburu hantu, praktisi yang bisa memanipulasi bayangan orang lain untuk melacak lokasi fisik mereka.
"Kami tidak punya tempat untuk lari," aku Ren jujur. "Hutan ini semakin sempit."
Elara mengangguk. "Karena itu, kalian tidak boleh lari lagi. Kalian harus bersembunyi di tempat yang tidak bisa dipetakan oleh jiwa mereka."
Ia menunjuk ke arah utara, ke puncak gunung tertinggi yang terlihat samar di balik kanopi pohon. "Gunung Kabut Abadi. Di puncaknya, terdapat Kuil Sunyi. Tempat di mana waktu berhenti mengalir. Di sana, jejak spiritual kalian akan terputus. Mereka tidak akan bisa menemukan kalian."
Ren mengerutkan kening. "Gunung Kabut Abadi? Itu legenda. Katanya siapa pun yang naik ke sana akan kehilangan ingatan."
"Bukan kehilangan ingatan," koreksi Elara. "Tapi melepaskan beban ingatan. Untuk memasuki Kuil Sunyi, kau harus meninggalkan ego-mu di pintu gerbang. Hanya jiwa yang kosong yang bisa masuk."
Ren menatap Lin yang tertidur. Meninggalkan ego? Itu berarti meninggalkan identitasnya sebagai pelindung, sebagai kakak, sebagai Ren Zexian si Pemulung. Itu berarti menerima ketiadaan.
"Kenapa Anda membantu kami?" tanya Ren tiba-tiba. "Apa keuntungan bagi Anda?"
Elara tersenyum sedih. "Karena hutan ini juga sekarat, Ren. The Fade tidak hanya memakan manusia. Ia memakan dunia. Jika Lin—Anomali itu—bisa belajar mengendalikan kekuatannya, ia mungkin bisa menyembuhkan hutan ini juga. Dan jika hutan sembuh, aku selamat. Ini bukan altruisme, anak muda. Ini simbiosis."
Ren terdiam. Jawaban yang jujur. Lebih bisa dipercaya daripada janji-janji manis politikus.
"Bagaimana cara kami ke sana?" tanya Ren akhirnya.
Elara melemparkan sebuah benda kecil kepada Ren. Itu adalah biji kenari hitam yang berukir rune kuno.
"Tanam ini di tanah saat fajar," instruksi Elara. "Akar yang tumbuh akan membentuk jembatan menuju puncak gunung. Kalian punya waktu sampai matahari terbit sepenuhnya. Setelah itu, rune akan mati, dan jalur akan tertutup selamanya."
Ren menggenggam biji itu erat-erat. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu," kata Elara, berbalik untuk pergi. "Ujian sesungguhnya belum dimulai. Kuil Sunyi tidak menguji kekuatanmu. Ia menguji kejujuranmu terhadap dirimu sendiri. Dan itu... adalah ujian yang paling sulit bagi seorang pejuang."
Elara dan Penjaga Hutannya menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Ren sendirian lagi dengan keheningan yang mencekik.
Ren menatap biji kenari di tangannya, lalu menatap Lin. Gadis kecil itu bergidik dalam tidurnya, mungkin karena dingin. Ren menutupinya dengan jubahnya, lalu bersandar kembali ke akar pohon.
Fajar masih beberapa jam lagi. Waktu yang cukup untuk berpikir. Waktu yang cukup untuk takut.
Ren menutup matanya, mencoba meditasi. Tapi pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Siapa dia sebenarnya? Apakah ia hanya alat untuk menyelamatkan Lin? Atau apakah ia memiliki tujuan sendiri? Dan yang paling penting: apakah ia bersedia melepaskan siapa dirinya demi keselamatan adiknya?
Angin malam berhembus lebih kencang, membawa aroma hujan yang akan datang. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh petir. Badai sedang berkumpul. Dan Ren Zexian tahu, badai terbesar dalam hidupnya baru saja akan dimulai.
Ia memegang kuas patahnya, alat terakhir yang menghubungkannya dengan realitas. Besok, ia mungkin harus melepaskannya. Besok, ia harus menjadi kosong.
Tapi untuk malam ini, ia hanyalah seorang kakak yang menjaga adiknya tidur, menunggu cahaya pertama yang akan menuntun mereka ke ketidakpastian.