NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DOKTRIN DIBALAS DOKTRIN

Suara derap langkah kaki kuda melambat saat memasuki pelataran Padepokan Panawijen.

Udara sore itu hangat, bertiup lembut menerpa dedaunan beringin tua yang menaungi halaman padepokan.

Waktu menunjukkan bahwa kedatangan dua pangeran Tumapel itu bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi warga Panawijen "Lihat, Raden Anusapati dan Raden Mahisa datang lagi," bisik seorang wanita desa yang sedang menumbuk padi di samping balai, menyenggol lengan kawannya.

Warga padepokan yang melintas langsung menghentikan kegiatan mereka. Tidak ada rasa tegang atau canggung.

Sebagian tersenyum hangat, sebagian lagi membungkuk hormat memberi salam.

Mereka sudah terbiasa melihat kedua pemuda itu datang berkunjung, entah mengawal Ibunda Ken Dedes saat menengok sang ayah, atau sekadar datang berdua untuk bertukar pikiran dengan Mpu Parwa.

Anusapati turun dari kudanya lebih dulu, disusul Mahisa Wong Teleng. Keduanya melepas tali kekang dan menyerahkannya kepada seorang cantrik padepokan yang menyambut dengan senyum ramah.

"Selamat datang kembali di Panawijen, Raden," sapa cantrik itu tulus.

"Terima kasih, Kang. Apakah Eyang Mpu ada di dalam?" tanya Anusapati lembut.

Dari balik pintu balai utama, sosok Mpu Parwa muncul. Berbeda dengan pandangan orang luar yang mengira sang Mpu terisolasi, mata tua Mpu Parwa langsung berbinar penuh kehangatan saat melihat kedua cucunya. Ia mengenali persis sorot mata Anusapati yang mirip mendiang Tunggul Ametung dan gestur tegap Mahisa yang mewarisi darah Ken Arok.

Bagi Mpu Parwa dan warga Panawijen, tidak ada kebohongan atau pura-pura tidak tahu; ikatan darah dan ingatan akan Ken Dedes membuat kedatangan mereka selalu dinantikan.

"Kalian datang tepat waktu," ujar Mpu Parwa sambil melangkah turun dengan tongkat kayunya. "Udara sore sedang bagus, dan air teh daun jati baru saja diseduh."

Mahisa tersenyum lebar dan langsung mendekat untuk menghormati sang ketua padepokan. "Ibu tidak bisa ikut kali ini, Eyang. Tapi beliau menitipkan salam dan kain tenun baru untuk Eyang."

"Ibumu selalu ingat rumah," Mpu Parwa terkekeh pelan, menepuk bahu kedua pemuda itu. "Mari masuk. Warga Panawijen senang melihat kalian sering berkunjung ke sini. Tempat ini selalu terbuka untuk anak-anak Dedes."

Di bawah naungan padepokan yang damai, mereka melangkah masuk bersama. Di tanah kelahiran ibundanya, Anusapati dan Mahisa selalu menemukan apa yang tidak pernah mereka dapatkan di istana Tumapel: keterbukaan, rasa kekeluargaan, dan kehangatan sebuah rumah.

Mpu Parwa mengangguk-angguk mendengar salam dari Ken Dedes yang disampaikan Mahisa, lalu beralih menatap seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari tiang balai.

"Sena," panggil Mpu Parwa pelan.

Sena segera melangkah maju dan membungkuk hormat. "Iya, Guru."

"Antarkan Raden Anusapati berkeliling padepokan, Aku dan Mahisa ingin berbincang sebentar di dalam," perintah sang Mpu.

"Baik, Guru," jawab Sena lugas.

Ia berpaling ke arah Anusapati, mengisyaratkan jalan dengan tangannya "Mari, Raden."

Anusapati menepuk bahu Mahisa pelan sebelum melangkah mengikuti Sena menuju area belakang padepokan, sementara Mahisa berjalan mengekor di samping Mpu Parwa memasuki ruang dalam balai yang sejuk.

Menyusuri jalan setapak berkerikil, suasana riuh suara warga Panawijen yang menyapa Anusapati perlahan tergantikan oleh gemercik air pancuran bambu. Sena berjalan berdampingan dengan Anusapati, menyusuri deretan tanaman herbal dan bangsal pertukangan.

"Padepokan ini selalu terasa lebih tenang dibandingkan Tumapel, Sena," ujar Anusapati sambil memperhatikan para cantrik yang sedang mengasah pahat kayu.

"Panawijen memang tidak memiliki dinding benteng yang tinggi, Raden," balas Sena mengamati raut wajah sang pangeran. "Tapi di sini, orang-orang hidup tanpa perlu terus menoleh ke belakang."

Anusapati tersenyum tipis, menangkap makna tersirat dari ucapan murid Mpu Parwa tersebut. Langkah mereka berlanjut mengitari batas luar padepokan, membuka ruang bagi dua pemuda itu untuk saling mengenal lebih jauh di tanah kelahiran Ken Dedes.

Mereka berhenti disebuah pondok yang tidak ada orang disekitarnya lalu Sena membuka obrolan "Mau sampai kapan Raden akan seperti ini terus."

"Apa maksudmu Sena."

Sena menghela nafasnya lalu duduk disebelahnya "Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kepadamu, Kalau sebenarnya Ken Arok bukan ayah kandungmu Raden."

Anusapati sontak marah berdiri lalu mencengkram leher Sena "Atas dasar apa cacing tanah sepertimu berani meracuni pikiranku dengan fitnah keji ini?! Kau mau menghina darah bangsaku?! Kau mau menuduh ibuku pezina, begitu?."

Anusapati menarik sedikit kerisnya dari sarung bunyi gesekan logam yang dingin terdengar jelas di udara.

"Satu kata lagi yang keluar dari mulutmu tentang ayahku atau keluargaku, aku bersumpah bilah keris ini yang akan mencabut nyawamu di sini, di tanah kelahiran ibuku sendiri!"

Sena sama sekali tidak bergeming. Ia tidak mencoba melepaskan cengkeraman Anusapati di lehernya, tidak pula mengelak saat dinginnya bilah keris yang terhunus sedikit menempel di lehernya. Matanya tetap menatap Anusapati dingin, tajam, dan tanpa rasa takut sedikit pun.

Ia membiarkan sang pangeran terengah-engah dalam amarahnya, membiarkan gema bentakan itu menghilang pelan ditelan angin Panawijen.

Kebisuan Sena justru membuat udara di antara mereka terasa makin menghimpit.

Setelah beberapa saat hanya terdengar napas Anusapati yang memburu, Sena akhirnya bersuara. Tatapannya lurus membendung murka sang pangeran.

"Sudah selesai, Raden?" tanya Sena datar, hampir tanpa nada.

Anusapati terpaku, cengkeramannya pada kerah Sena perlahan melonggar karena heran melihat ketenangan lawan bicaranya.

"Hujamkan keris itu jika Raden pikir itu bisa menghapus kenyataan," lanjut Sena dingin.

Ia melangkah maju satu tapak—justru sengaja merapatkan lehernya pada mata keris Anusapati. "Tapi sebelum mata bilah ini menembus tenggorokanku, jawab satu hal Kenapa Raden selalu dijadikan yang nomor dua?"

Kata-kata Sena mengalun pelan, namun dampaknya menghantam dada Anusapati bagai pukulan telak.

"Buka mata Raden. Ingat kembali setiap malam di kedaton Tumapel," Sena berbisik, matanya berkilat memancarkan fakta yang selama ini berusaha dikubur Anusapati.

"Bagaimana perlakuan Sri Rajasa Ken Arok kepada Mahisa Wong Teleng? Kepada Tohjaya? Kasih sayang, kebanggaan, dan lirikan mata penuh kehangatan seorang ayah... pernahkah Raden mendapatkannya walau hanya sekejap?"

Sena memegang pergelangan tangan Anusapati yang gemetar memegang keris, lalu menurunkannya perlahan tanpa perlawanan dari sang pangeran.

"Mahisa diajari memegang pedang oleh beliau sendiri. Tohjaya dimanja dengan segala kemewahan istana. Sedangkan Raden?" Sena tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit. "Raden disingkirkan. Raden diberikan takhta hanya sebagai formalitas yang dingin, dipandang dengan mata penuh kebencian dan kecurigaan setiap kali Raden melangkah di pendopo.

Apakah seorang ayah kandung akan menatap darah dagingnya sendiri seperti menatap musuh yang menunggu waktu untuk menghabisi nyawanya?"

Anusapati mematung. Jemarinya yang memegang keris melemas, hingga ujung bilah logam itu terkulai ke bawah. Bayangan masa kecilnya di Tumapel tatapan dingin Ken Arok, jarak yang selalu terbentang di antara mereka, dan rasa terasing di tengah keluarganya sendiri mendadak berputar hebat di kepalanya. Semua kepingan kebenaran yang selama ini ia sangkal, kini ditumpahkan tanpa ampun oleh Sena.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!