Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 29
Pintu kamar VVIP mendadak tebuka dari luar. Raihan melangkah masuk dengan kemeja rapi dan gulungan cetak biru di tangannya. Namun, langkah sang arsitek terhenti seketika saat melihat Tsania sedang menangis terisak di pelukan Maya sambil membicarakan nama Arsen dan Pak Bisma.
"Tsania?" panggil Raihan, raut wajahnya mengeras perlahan saat mendekati tempat tidur.
"Ada apa ini? Kenapa kamu menangis lagi? Apa pria itu menyusup ke sini lagi semalam?"
Tsania menghapus air matanya dengan cepat menggunakan lengan bajunya. Ia menatap Raihan dengan sorot mata penuh kepasrahan.
"Pak Raihan..." panggil Tsania dengan suara yang parau.
Raihan meletakkan berkas kerjanya di atas sofa, lalu berdiri tegap di samping tempat tidur Tsania. Matanya menatap Tsania penuh penilaian dan rasa perlindungan yang kuat.
"Saya mendengarnya sedikit dari luar," kata Raihan datar namun penuh penekanan.
"Kamu sudah tahu kalau Arsen menyusup ke sini semalam dan kamu mengkhawatirkannya?"
"Pak Raihan, tolong jangan marah pada Arsen..." bisik Tsania memohon.
"Dia... dia sudah tahu kejadian tiga tahun lalu. Dia tahu apa yang dilakukan Papanya pada almarhum Ayah saya."
Raihan menghembuskan napas panjang yang berat. Ia mengusap wajahnya yang tampak lelah. Sebenarnya, ia sudah mengetahui percakapan Arsen dari pertemuan mereka di studio lantai delapan kemarin sore, namun melihat Tsania yang kini justru mengkhawatirkan keselamatan sang CEO membuat dadanya berdenyut cemas.
"Tsania, dengarkan saya," ujar Raihan lembut namun tegas, merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi duduk Tsania.
"Arsen Pratama adalah pria dewasa dengan kekuasaan dan kekuatan hukum di tangannya. Apa pun yang direncanakannya untuk Sabtu malam nanti, entah itu membongkar kejahatan ayahnya atau menghancurkan pertunangannya itu adalah konsekuensi dan kewajiban yang harus dia selesaikan sebagai seorang pria."
"Tapi Pak Bisma berbahaya, Pak Raihan..." potong Tsania lirih.
"Dan Arsen tahu risiko itu lebih baik dari siapa pun," balas Raihan cepat.
"Kamu tidak boleh membebankan keselamatan Arsen di atas pundakmu yang sedang sakit ini, Tsania. Tugas kamu saat ini hanyalah pulih. Biarkan Arsen menyelesaikan perangnya sendiri. Kalau dia memang benar-benar mencintaimu seperti yang dia katakan pada saya kemarin... dia akan bertahan hidup dan kembali padamu dengan cara yang terhormat."
Tsania membisu. Kalimat tajam namun rasional dari Raihan menghantam kesadarannya. Raihan meraih cangkir teh hangat dari meja dan menyerahkannya kepada Tsania.
"Minum ini," perintah Raihan halus.
"Jangan biarkan dirimu makin drop. Kalau kamu terus-terusan stres dan menangisi pria itu, kamu tidak akan pernah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi setelah Sabtu malam nanti."
Tsania menerima cangkir hangat itu dengan kedua tangannya yang masih gemetar. Ia menatap permukaan teh yang bergelombang pelan, lalu menatap Maya dan Raihan secara bergantian, dua orang yang telah menjadi benteng pelindungnya di masa-masa paling kritis ini.
"Terima kasih, Pak Raihan... Terima kasih, Mbak May..." bisik Tsania pelan, menyesap teh hangat itu perlahan.
Di dalam hatinya yang paling dalam, Tsania memejamkan mata dan memanjatkan doa khusyuk yang teramat pasrah pada Sang Pencipta:
'Lindungilah Mas Arsen pada Sabtu malam nanti... Jangan biarkan dia hancur sendirian di dalam neraka yang diciptakan oleh keluarganya sendiri,'
Hari-hari menjelang Sabtu malam berlalu bagaikan perhitungan mundur menuju ledakan besar. Di lantai teratas gedung Pratama Group, atmosfer kerja di ruang kerja CEO terasa begitu mencekam, dingin, dan sarat akan intrik yang tersembunyi rapi di balik tirai kaca tebal.
Arsen duduk di balik meja kerja mahoninya. Jas hitam mewahnya terpasang sempurna, sementara jemarinya bergerak lincah di atas keyboard laptop terenkripsi. Di depannya, Danu berdiri seraya memeriksa puluhan berkas fisik berlogo dinas kepolisian dan dokumen audit independen.
"Seluruh dokumen bukti pembayaran dari rekening rahasia Pak Bisma ke tiga oknum debt collector tiga tahun lalu sudah dilegalisir," panggil Danu dengan suara berbisik, memajukan map tebal berwarna merah ke meja Arsen.
"Video pengakuan dari saksi kunci, mantan pengawal yang memblokir ambulans almarhum Ayah Tsania juga sudah disimpan dalam flashdisk terenkripsi yang akan terhubung langsung ke proyektor utama ballroom hotel."
Arsen mengangkat wajahnya. Manik matanya membeku, memancarkan kilat tekad yang dingin dan tak tergoyahkan.
"Bagaimana dengan susunan tamu undangan VIP?" tanya Arsen datar.
"Tim kita sudah memastikan bahwa amplop-amplop dokumen bukti itu terpasang rapi di dalam souvenir box eksklusif untuk lima puluh tamu paling berpengaruh," jawab Danu cepat.
"Di antaranya ada komisaris utama Pratama Group, jajaran investor asing, serta sepuluh pimpinan media massa nasional. Begitu kamu memberi kode pada tombol presenter dari atas podium, Danu dan tim hukum independen akan langsung mengunci pintu keluar ballroom agar tidak ada yang bisa melarikan diri dari konferensi pers darurat."
Arsen mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit tingginya.
"Pastikan tidak ada kebocoran informasi sekecil apa pun sampai Sabtu malam tiba, Nu," tegas Arsen penuh penekanan.
"Jika Papa curiga selangkah saja sebelum acara dimulai, dia bisa menggunakan pengaruh politisnya untuk memblokir penayangan dokumen tersebut."
"Tenang, Arsen. Pak Bisma saat ini benar-benar lengah," sahut Danu.
"Dia sedang sibuk merayakan kenaikan harga saham perusahaan setelah rumor aliansi dengan keluarga Aurelia menyebar luas di pasar bursa."
TOK!
TOK!
TOK!
Ketukan centil di pintu kaca ruang kerja CEO mendadak memotong pembicaraan rahasia mereka. Pintu terdorong terbuka tanpa menunggu izin dari dalam.
Aurelia melangkah masuk dengan gaun elegan berwarna merah muda pastel, menenteng tas bermerek dan sebuah kotak bekal mewah berukiran emas. Wajahnya dipenuhi senyum manja yang dibuat-buat, berjalan dengan langkah anggun yang disengaja.
"Arsen, sayang!" panggil Aurelia riang, mengabaikan keberadaan Danu yang langsung menutup map merah di meja dengan sigap.
"Aku bawakan makan siang dari restoran Prancis langganan Mamaku. Kamu pasti belum makan siang, kan?"
Arsen menghembuskan napas pelan melalui hidungnya, menahan kejijikan yang membakar dadanya. Dengan keahlian akting yang terasah beberapa hari terakhir, Arsen mengubah raut wajah kerasnya menjadi datar dan tenang.
"Danu, tinggalkan kami," perintah Arsen dingin.
Danu membungkuk hormat formal.
"Baik, Pak Arsen. Berkas laporan audit akan saya selesaikan di ruangan saya." Danu mengambil map tebalnya, lalu melangkah keluar seraya memberi anggukan dingin pada Aurelia.