NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Malam yang Rapuh, Rencana yang Licik

"Masuk," kata Anindya. "Mau berdiri di luar sampai makanannya dingin?"

Bima akhirnya menemukan kembali suaranya. "Saya sedang memastikan alamatnya benar."

"Setelah menekan bel rumahku?"

"Prosedur keamanan."

Anindya menggeleng dan mempersilakannya masuk.

Meja makan hanya disiapkan untuk dua orang. Ada sup hangat, ayam panggang, sayuran, nasi, serta sebotol anggur yang sudah dibuka. Rumah itu terasa jauh berbeda tanpa kepanikan, polisi, atau ancaman Reno.

"Sasa masih di rumah Bu Rini," kata Anindya, seolah membaca pertanyaannya. "Aku akan menjemput setelah pengamanan sekolah dan rumah beres."

"Lebih baik begitu. Reno belum benar-benar menyerah."

Mereka makan sambil membicarakan pekerjaan. Anindya terkejut mengetahui Bima sudah menjadi sopir merangkap pengawal pribadi Vanya dan Gita.

"Dua hari," katanya. "Dalam dua hari kamu naik dari satpam baru menjadi orang yang memegang kunci mobil bos."

"Saya punya wajah yang bisa dipercaya."

"Wajah tanpa malu, mungkin."

Satu gelas anggur menjadi dua bagi Anindya. Bima hanya mencicipi sedikit karena masih harus pulang. Saat makanan habis, percakapan bergeser kepada Reno.

"Orang tuaku dulu melarang," kata Anindya. "Mereka melihat sesuatu yang nggak mau kulihat. Aku pikir cinta berarti membela pilihan sendiri sampai akhir."

Ia memutar gelas kosong dengan jari.

"Aku menjauh dari mereka, menikah, lalu terus berbohong bahwa semuanya baik. Ketika Sasa lahir, Reno mulai berjudi lebih parah. Aku baru pergi setelah dia mengambil uang tabungan sekolah anaknya."

"Pergi bukan kegagalan."

"Aku tahu sekarang. Tapi waktu itu aku merasa sudah mengecewakan semua orang."

Suara Anindya melemah. Beberapa menit kemudian kepalanya bersandar di sofa. Ia menggumamkan permintaan maaf kepada orang tuanya, lalu matanya tertutup.

Bima memandang wajah tanpa pertahanan itu.

Ada ketertarikan. Ia tidak membohongi dirinya sendiri tentang hal tersebut. Namun ketertarikan bukan izin, dan orang yang sedang terpengaruh alkohol tidak berada dalam keadaan untuk memberi persetujuan yang jernih.

Ia mengambil gelas dari tangan Anindya dan meletakkannya jauh dari tepi meja.

"Kak Anin?"

Tidak ada jawaban jelas.

Bima mengangkatnya dengan hati-hati, membawa ke kamar, lalu meletakkannya di atas ranjang. Ia melepas sandal rumah, membersihkan noda anggur di pipi dengan handuk lembap, dan menyeka debu di telapak kaki secara praktis sebelum menarik selimut sampai bahu. Pendingin ruangan dinyalakan pada suhu nyaman. Segelas air dan tempat sampah diletakkan di samping ranjang untuk berjaga jika Anindya mual.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada sentuhan yang tidak diperlukan.

Bima mematikan lampu utama, mengunci pintu depan dari dalam, lalu keluar memakai kunci cadangan yang ditunjukkan Anindya sebelum makan. Kunci itu ia selipkan kembali melalui kotak surat sesuai pesan pemilik rumah.

Beberapa menit setelah langkahnya hilang, Anindya membuka mata.

Ia memang pusing dan mengantuk, tetapi tidak sepenuhnya tertidur ketika Bima membawanya. Ia mengetahui setiap kesempatan yang bisa disalahgunakan pria itu, dan setiap kali Bima memilih menjaga jarak.

Anindya menyentuh selimut di bahunya.

Kepercayaan yang tumbuh malam itu jauh lebih kuat daripada rayuan apa pun.

Di meja samping ranjang, ponselnya menampilkan pesan dari Bima.

Pintu depan sudah terkunci. Kunci cadangan ada di kotak surat. Minum air setelah bangun. Kalau mual atau pusing berat, telepon saya atau layanan medis. Jangan menyetir pagi-pagi.

Anindya membaca pesan itu dua kali. Ia membalas singkat agar tidak terlihat terlalu tersentuh.

Aku baik. Terima kasih sudah nggak meninggalkan rumah berantakan.

Jawaban Bima datang beberapa menit kemudian.

Piring kotor masih di wastafel. Saya menjaga orang, bukan buka jasa bersih-bersih.

Anindya tertawa sendiri. Ketegangan yang tersisa antara mereka sejak tawaran kerja ditarik akhirnya terasa jauh lebih ringan.

Keesokan pagi, alarm Bima gagal membangunkannya pada bunyi pertama. Ia tiba sepuluh menit terlambat untuk menjemput Gita, setelah memberi kabar begitu sadar.

Gita masuk ke BMW dengan wajah tidak senang.

"Sopir baru sudah berani membuat penumpang menunggu."

"Maaf, Bu Gita. Waktu akan saya catat dan ganti."

Saat Bima mengatur ventilasi, Gita mencium aroma parfum lembut pada lengan jaketnya. Aroma itu terasa dikenal dari kantor.

"Kamu dari rumah siapa?"

"Dari kos."

"Parfum kosmu mahal juga."

Bima mencium lengan sendiri dan teringat ketika menggendong Anindya. "Mungkin tertinggal dari makan malam."

"Dengan siapa?"

"Interogasi ini termasuk jam kerja?"

Gita menatap sisi wajahnya. Kecurigaan kecil, dan sesuatu yang lebih mirip cemburu, muncul, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Di sisi lain Surabaya, Darman duduk di kantor Selvi dengan kompres dingin di pipi.

Sebuah laporan tipis tergeletak di meja. Penyelidik bayaran mereka menemukan catatan bahwa Bima baru kembali ke Indonesia sekitar satu setengah bulan lalu setelah bertahun-tahun berada di luar negeri, termasuk jejak kerja di Afrika. Tidak ada keluarga dekat yang bisa ditemukan. Riwayat pekerjaannya sengaja dibuat kabur.

"Ada satu hal lagi," kata Darman. "Kontak kita di kepolisian melihat pencarian data atas nama Surya Wijaya. Kakak kandung Vanya. Dulu berstatus dicari dalam perkara kematian, lalu kabur ke luar negeri."

Selvi mengetuk meja. "Jadi Bima mendekati Vanya karena kakaknya?"

"Belum tahu. Mungkin utang, warisan, atau urusan kriminal lama. Tapi hubungan itu bisa kita pakai."

"Menyerangnya langsung hanya membuatmu dipukul sandal."

Rahang Darman mengeras.

Selvi membuka rancangan baru. Mereka akan menyewa beberapa preman untuk membuat keributan di tempat umum saat Bima sedang bersama Vanya atau Gita. Preman itu diperintah menghina, mendorong, dan memancing serangan tanpa senjata terlihat pada awal kejadian.

Seseorang akan merekam dari sudut yang hanya menampilkan pukulan Bima.

Kontak polisi yang telah membocorkan ringkasan data akan memastikan laporan pertama menggambarkan Bima sebagai pelaku kekerasan, sementara saksi bayaran memberikan cerita yang sama.

Selvi tidak puas hanya dengan satu video. Ia meminta waktu, lokasi, dan identitas saksi disusun sebelum aksi. Rekaman kamera sekitar harus dipetakan; jika ada kamera yang dapat menunjukkan provokasi sejak awal, preman wajib memindahkan keributan ke titik buta.

"Jangan pakai senjata kecuali Bima menolak terpancing," katanya. "Kalau pisau muncul terlalu cepat, dia terlihat membela diri."

"Kalau dia tetap tidak memukul?" tanya Darman.

"Sentuh salah satu perempuan. Dari laporanmu, itu kelemahannya."

Darman tersenyum. Mereka bukan sedang mencari petarung yang mampu mengalahkan Bima. Mereka sedang membangun potongan kejadian yang cukup meyakinkan untuk menghancurkan reputasinya.

Namun rencana itu juga memiliki risiko. Jika satu preman bicara, satu kamera tersembunyi terlewat, atau kontak polisi meninggalkan jejak akses, seluruh skenario akan berubah menjadi bukti persekongkolan. Selvi memerintahkan pembayaran tunai bertahap dan komunikasi melalui perantara, yakin jarak tersebut akan melindunginya.

"Kita tidak perlu membuatnya kalah bertarung," kata Selvi. "Kita buat Larissa menganggap dia beban hukum."

Darman mengambil ponsel dan menghubungi orang yang akan mengatur preman.

"Besok kita mulai," katanya dengan senyum dingin. "Biar dia yang duluan memukul orang di depan umum."

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!