Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Indra yang Menajam, Bayangan di Layar
Rasa sakit pertama tidak membuat Hendra berhenti.
Ia hanya membuat jadwalnya lebih rapi.
Hari pertama setelah pohon milenium mati, ia tidak keluar. Ia tinggal di bunker, duduk di ruang kontrol dengan lampu diredupkan, dan membiarkan pendengaran barunya belajar membedakan suara yang penting dari suara yang hanya mengganggu.
Awalnya semua hal terasa seperti serangan.
Dengung kipas.
Air di pipa.
Mesin pemanas.
Kuku Blacky menyentuh lantai.
Sendok jatuh di dapur kecil.
Semuanya terlalu dekat.
Pada malam hari, Hendra hampir tidak tidur. Ia mendengar salju bergeser di pagar belakang seperti kain kasar diseret di atas besi. Ia mendengar es retak di dahan. Ia mendengar kabel listrik di dinding berdengung tipis seperti benang tegang.
Tetapi pada pagi berikutnya, rasa kacau itu mulai berubah menjadi peta.
Suara paling jauh berada di lapisan belakang.
Suara bunker berada di tengah.
Suara Blacky berada paling dekat.
Ancaman, jika datang, akan punya tempat sendiri.
Hendra menulis satu kalimat di jurnal:
Kemampuan tanpa kendali hanya bentuk lain dari luka.
Setelah itu ia bersiap untuk pohon kedua.
Kali ini Blacky tidak ikut sampai batang utama. Hendra menempatkannya di ruang transisi dalam, di balik pintu baja kedua, dengan kamera kecil mengarah padanya dan mangkuk daging sebagai sogokan. Blacky protes selama tiga menit. Setelah itu ia makan sambil tetap menatap pintu.
"Kau menjaga rumah," kata Hendra lewat interkom.
Blacky menggonggong sekali.
Hendra keluar sendiri.
Di hutan belakang, jejaknya kemarin sudah setengah tertutup serpihan es baru. Pendengaran super membuat langkahnya lebih hati-hati. Ia tahu di mana lapisan es kosong di bawah salju. Ia tahu cabang mana yang hampir patah sebelum benar-benar jatuh.
Pohon kedua berdiri lebih rendah di lereng, tidak sebesar yang pertama, tetapi umurnya cukup tua. Cincin menghangat sebelum Hendra menyentuh batang.
Ia menarik napas.
"Bayar," gumamnya.
Cincin menempel.
Nyeri kali ini menyerang mata.
Seolah seseorang menuangkan air mendidih ke belakang kedua bola matanya, lalu memaksa cahaya masuk dari semua arah.
Hendra menahan tubuh dengan satu tangan di batang. Salju putih di depannya pecah menjadi ribuan garis. Serat kulit kayu menjadi jelas. Retakan kecil di es yang berjarak sepuluh meter tampak seperti goresan di kaca tepat di depan wajahnya.
Cincin menarik aliran hijau.
Pohon itu kehilangan vitalitas.
Penglihatan Hendra terbuka.
Saat serapan selesai, ia berlutut, memuntahkan sedikit asam dari perut, lalu tertawa serak.
Ia bisa melihat terlalu banyak.
Butiran es di udara tidak lagi hanya kabut putih. Ia bisa menghitung arah putarannya. Ia bisa melihat bekas tapak kecil yang sudah mengeras di bawah akar, tertinggal lama sebelum badai terakhir menutup semuanya. Ia bisa membaca angka kecil di panel kamera portabel dari jarak yang biasanya membutuhkan kaca pembesar.
Di dunia es, mata seperti ini berarti ia lebih dulu melihat orang yang ingin melihatnya.
Ia pulang sebelum serakah.
Malam itu ia melatih mata dengan layar kamera. Ia memperbesar gambar, lalu menguranginya. Ia mematikan lampu ruang kontrol, lalu membaca tulisan kecil pada peta. Kepala masih sakit, tetapi kendali mulai tumbuh.
Hari ketiga, ia keluar untuk pohon ketiga.
Blacky kembali ikut dalam tas dada, kali ini karena geramannya sejak pagi tidak berhenti. Hendra tidak suka mengabaikan insting yang sudah beberapa kali menyelamatkan sistem.
Pohon ketiga tumbuh dekat lekukan tanah, separuh akarnya terkubur es. Batangnya tidak paling besar, tetapi cincin bereaksi lebih kuat daripada kemarin.
Hendra sudah tahu harga akan datang.
Ia tetap menempelkan tangan.
Rasa sakit menghantam hidung, tenggorokan, dan dada.
Untuk beberapa detik, ia tidak bisa bernapas.
Lalu dunia masuk melalui bau.
Bau es ternyata tidak kosong. Ada logam tipis dari pagar jauh. Ada plastik pemanas dari tas Blacky. Ada minyak senjata di sarung pistol Hendra. Ada tanah beku di bawah lapisan salju. Ada jejak darah lama dari pengungsi di depan pagar, sangat jauh, sangat samar, tetapi nyata.
Hendra menggigit gigi sampai rahangnya nyeri.
Cincin menghisap lebih cepat.
Pohon ketiga mati lebih cepat daripada dua sebelumnya, tetapi rasa sakitnya lebih kotor. Pendengaran dan penglihatan bisa diarahkan. Bau masuk seperti banjir tanpa pintu.
Blacky merengek.
"Aku tahu," Hendra berbisik. "Sebentar."
Ketika serapan selesai, ia hampir jatuh telungkup. Ia menusukkan pisau ke es untuk menopang tubuh, menarik napas pendek-pendek, lalu memaksa dirinya kembali berdiri.
Sekarang ia bisa mencium bunker dari luar.
Bukan sebagai bau makanan atau manusia yang jelas, karena sistem isolasi terlalu bagus. Hanya jejak panas bahan, minyak mesin yang tertahan, dan udara kering yang berbeda dari hutan beku.
Jika ia bisa menangkap perbedaan itu, maka makhluk yang lebih tajam kelak mungkin juga bisa.
Catatan baru:
Perkuat kamuflase bau dan panas.
Jangan remehkan penciuman musuh masa depan.
Ia kembali ke bunker dengan kepala berdenyut, mata perih, hidung seperti terbakar, tetapi hati sangat tenang.
Pendengaran.
Penglihatan.
Penciuman.
Tiga pintu indra sudah terbuka.
Kayu belum tuntas, tetapi tubuhnya tidak lagi bergantung hanya pada kamera dan sensor. Ia sendiri mulai menjadi sensor.
Sore itu, kemampuan baru langsung membayar harga dirinya.
Hendra sedang duduk di ruang kontrol, menempelkan kompres hangat ke mata, ketika telinganya menangkap sesuatu di luar pola biasa.
Bukan angin.
Bukan es.
Langkah manusia.
Dua orang.
Satu berat, mengejar.
Satu ringan, tersandung.
Ia membuka mata.
Kamera belakang nomor empat memperlihatkan hutan kelabu. Dengan penglihatan lama, layar itu hanya penuh butiran es. Dengan mata baru, Hendra melihat gerakan kecil di sela batang.
Seorang wanita berlari.
Tubuhnya terbungkus jaket tebal yang sudah sobek. Satu tangannya memegang sesuatu di dada. Napasnya berat, langkahnya kacau, tetapi ia masih bergerak menuju arah perimeter bunker.
Di belakangnya, seorang pria muncul dengan tongkat besi pendek. Wajahnya tertutup kain. Ia bukan sekadar orang hilang. Cara ia bergerak terlalu fokus untuk korban panik.
Pemburu.
Wanita itu jatuh sekali, bangkit, lalu menoleh ke belakang.
Pria itu mempercepat langkah.
Hendra tidak menyalakan speaker.
Belum.
Ia memperbesar rekaman, menandai waktu, lalu mengirim kamera kecil belakang ke mode pelacakan otomatis. Pagar listrik masih aktif. Zona luar masih jauh. Jika ia bergerak terlalu cepat, ia hanya akan membuka informasi tentang pintu dan kebiasaan bunker.
Ia menunggu.
Blacky berdiri di samping kursi, geraman rendah keluar dari tenggorokannya.
"Aku lihat," kata Hendra.
Lalu suara lain masuk.
Jauh lebih berat.
Berulang.
Memukul udara dari atas.
Hendra mematikan kompres, menoleh ke layar langit barat.
Pada awalnya kamera hanya menangkap garis kabur merah di balik salju. Lalu penglihatan barunya menyusun bentuk itu: badan helikopter kecil, cat merah kusam, lampu bawah dimatikan, bergerak rendah mengikuti kontur bukit.
Helikopter.
Di suhu sekitar -50°C.
Di dunia yang baru saja kehilangan listrik, jalan, dan hukum.
Hendra segera mematikan sebagian lampu luar bunker, menurunkan tanda panas permukaan, dan mengalihkan kamera ke mode pasif. Semua panel rekaman menyala.
Helikopter merah itu tidak mendekat langsung. Ia hanya memutar jauh, seolah mengukur wilayah, mencari cahaya, asap, gerakan, atau orang yang masih punya sesuatu.
Pria di hutan berhenti mengejar wanita selama dua detik.
Ia menatap langit.
Jadi mereka saling mengenal, atau setidaknya pria itu tahu siapa yang berada di atas.
Hendra menyimpan kesimpulan tanpa terburu-buru.
Kelompok terorganisasi pertama pasca-beku akhirnya muncul.
Mereka punya pengintai di tanah.
Mereka punya helikopter merah.
Dan mereka sudah menyapu wilayah dekat bunkernya.
Blacky menggonggong sekali.
Hendra menyentuh pistol di meja, tetapi matanya tetap pada layar.
Orang yang masih bisa menerbangkan helikopter di minus lima puluh bukan pengungsi.
Itu pemilik wilayah yang sedang mencari siapa lagi yang pantas dirampas.