Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayunan pedang
Suaranya bergema dan membuat telinganya kesakitan. Gelombang kejutnya menyebar seperti ombak. Cahaya merah perlahan-lahan menyebar dari lonceng itu. Lalu tidak lama kemudian jantung besar itu berdetak lebih cepat. Kemudian energi Qi kuning muncul darinya lalu masuk ke seluruh pembuluh darah.
Xuan Han merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan bertenaga. Ia penasaran apa ini. Rasanya sangat nyaman hingga membuatnya tanpa sadar menutup mata.
Suara lonceng itu perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang. Hembusan angin kembali muncul. Pemuda itu membuka matanya. Ia kembali ke gua. Di tangannya ada pedang yang diberikan Meng Chahua dan juga luka yang dibuat sebelumnya. Ternyata ia benar-benar melukai dirinya sendiri. Luka itu masih perih, tapi itu tidak terlalu mengganggu.
Ia menatap gua di depannya dan segera melompat. Tidak terjadi apa-apa dan semuanya berjalan baik. Kini ia berada di seberang. Berbalik menatap tiga orang yang menontonnya, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Sementara Wang Hao tersenyum. “Akhirnya selesai juga. Ayo kita pergi.”
Pemuda itu melambaikan tangannya, muncul sebuah pedang dan segera ia melesat di atasnya dengan cepat. Beberapa tangan muncul untuk mengadangnya. Wang Hao mengayunkan pedangnya dan memotong semuanya secepat kilat, menjadikannya beberapa potongan yang tersebar ke permukaan cairan.
Ketika ia mencapai pertengahan, puluhan anak panah melesat ke arahnya. Ia mengayunkan pedangnya dengan cepat dan memotong semua anak panah yang masuk. Ekspresinya terlihat ganas.
“Ini mudah saja.”
Ia terus melesat ke depan. Sedikit melambat ketika mencapai tiga kotak terakhir, tapi dengan tegas melewatinya. Lalu akhirnya tiba di depan Xuan Han. Xuan Han terbelalak. Wang Hao hanya perlu beberapa detik untuk melewatinya sementara ia rasanya sangat lama. Wang Hao menyeringai. “Sampah, sepertinya kamu sangat lambat.”
Kemudian ia berbalik menatap Meng Chahua dan Nona Xie.
Nona Xie memperhatikan kotak-kotak persegi beberapa saat. Ia melangkah ke bibir kolam dan melambaikan tangannya. Selendang merah muda melesat, dalam sekejap membentang ke ujung. Tidak ada yang menghalanginya. Tidak ada tangan-tangan atau apa pun yang muncul. Itu membuatnya mengerutkan keningnya beberapa saat sebelum menarik kembali selendangnya.
Mengeluarkan pedang lalu mulai melompat ke kotak. Tangan segera muncul. Nona Xie dengan mudah memotongnya. Anak panah melesat, ia melambaikan tangannya dan selendangnya menghadang seluruhnya. Kemudian dengan lihai melompat-lompat.
Ia berhenti di tiga persegi terakhir. Mengamatinya sebentar dan dengan pelan melompat. Tidak terjadi apa-apa. Melakukannya lagi, sama seperti sebelumnya dan akhirnya ia tiba di ujung.
“Meng Chahua, sekarang giliranmu.”
Di seberang sana Meng Chahua diam sembari sedikit mengernyitkan dahinya. Hanya ia yang sendirian sekarang. Ia kemudian Menatap Xuan Han, tatapannya yang tajam itu membuat pemuda itu agak tidak nyaman. Xuan Han merasa gadis ini sangat berhati-hati. Tidak lama Meng Chahua berjalan dan melompat.
Ia diam di kotak pertama sembari mengamati air hijau yang beracun di bawahnya. Gelembung-gelembungnya pecah dan terlihat beberapa buih airnya yang menyeramkan.
Meng Chahua hanya diam beberapa saat. Ia kemudian melompat. Tidak terjadi apa-apa. Melompat lagi, akhirnya sebuah tangan muncul dari dalam air. Meng Chahua melayangkan pedangnya. Itu terlihat dalam sekejap dan tiba-tiba tangan itu terpotong lalu terjatuh. Meng Chahua berhasil melompat.
Xuan Han menatapnya dan merasa penasaran apa yang dilakukan gadis ini. Meng Chahua baginya merupakan salah satu gadis yang misterius dan sulit ditangani.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Wang Hao. Ia tetap menonton dan menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.
Nona Xie di sampingnya hanya diam.
Setelah diam beberapa saat, ia mulai melangkah. Baru pada tiga kotak terakhir berhenti dan mengamati air. Ia juga mendongak menatap Xuan Han. Melambaikan tangannya, pedang terbang melesat. Siulan berbunyi dan air terbelah. Kemudian muncul ombak besar. Percikan-percikan airnya berhamburan dan bergerak ke pinggir kolam.
Ketika memercik ke arah Wang Hao dan Nona Xie, ada sesuatu yang tidak terlihat menghalangi air itu. Lalu muncul suara terbakar dan asap samar-samar muncul. Itu juga terjadi di depan Xuan Han sehingga ia mundur dan menatapnya.
Sementara Meng Chahua menatap permukaan air yang bergejolak seolah ingin melihat atau memastikan sesuatu di dalam sana. Alisnya kemudian berkerut lebih dalam setelah tidak menemukan sesuatu.
Tapi, tidak lama perlahan-lahan tangan kecokelatan dengan kuku-kuku panjang muncul. Lalu muncul satu lagi. Kedua tangan itu bertumpu pada kotak di depan Meng Chahua. Perlahan-lahan muncul rambutnya yang acak-acakan dengan wajahnya yang buruk muncul dan kedua mata bersinar hijau.
Meng Chahua berkedip dan pedangnya kembali ke tangannya. Hembusan angin muncul dan melesat seperti bilah yang segera melesat. Makhluk itu meraung dan suaranya seperti seseorang yang tidak memiliki nada suara. Makhluk itu memuntahkan cairan hijau dan itu segera melesat ke depan.
Ledakan!
Hembusan angin dan cairan itu beradu beberapa saat, sebelum akhirnya bilah angin itu memotongnya. Makhluk itu berteriak nyaring sembari melotot. Ia memuntahkan cairan hijau lagi. Ledakan kembali muncul. Namun, itu lagi-lagi sedikit menghambat bilah angin Meng Chahua sebelum akhirnya itu mengenai wajahnya, membuat cairan hijau memercik, kepala makhluk itu terpental ke belakang dan rambutnya bergerak kacau. Tapi, itu tidak membuatnya terjatuh atau terdorong.
Kepalanya segera menunduk ke depan dengan lemas, seperti makhluk yang tidak punya nyawa. Ada keheningan sebentar.
Xuan Han sedikit terkejut dan berpikir ia pasti akan kesulitan jika bertemu dengan makhluk seperti itu. Ia juga penasaran mengapa gadis itu mencari masalah dengan makhluk seperti itu. Mengapa tidak berjalan seperti Nona Xie dan Wang Hao?
Wang Hao mencibir. “Mari kita lihat apa yang akan kamu lakukan, Nona.”
Tiba-tiba makhluk itu mendongak dan berteriak nyaring. Meng Chahua mengambil satu langkah ke depan. Ia menekan kaki kanan dan segera melompat ke depan.
Dalam sekali langkah ia telah berada di depan makhluk itu. Makhluk itu mendongak dan berteriak dengan matanya yang melotot. Meng Chahua mendengus dingin. Ia mengayunkan tangannya, menggenggam erat pedangnya dan segera melayangkannya ke depan.
Gerakannya lincah dan ketika ia mengayunkan pedangnya, itu terasa mudah.
Makhluk itu ingin memuntahkan sesuatu, tapi pedang segera diayunkan. Garis putih melesat. Xuan Han terbelalak dan penasaran seberapa cepat dan kuat ayunan pedang itu.
Itu sangat cepat!
Suara mendengung muncul. Itu terdengar lama, sebelum akhirnya kepala makhluk itu terpotong dan darah hijau keluar darinya. Air kolam terangkat dan bercipratan ke mana-mana. Xuan Han melompat mundur.
Saat Meng Chahua mendarat, lengan hanfu merah mudanya sedikit terayun. Perlahan-lahan makhluk di belakangnya tenggelam dalam air.
Tanpa melihat lagi, Meng Chahua menatap dua kotak lagi. Tatapannya dingin seperti malam dengan bintang-bintang, langit cerah namun tanpa bulan.
Saat melihatnya, mata Xuan Han bercahaya. Ia melihatnya seperti seorang peri yang berhati dingin. Ia ingat dulu Kakak Yu pernah bercerita tentang salah satu pembudidaya yang memiliki kepribadian seperti ini dan ketika ia melihat lukisannya, ia menyukainya.
Cara Meng Chahua berdiri dan bagaimana tatapannya, itu mengingatkannya.
Tapi Wang Hao tidak menyukainya. “Nona Meng, apa yang kamu lakukan? Cepatlah datang.”
Meng Chahua tidak menanggapinya dan menatap permukaan kolam, kemudian menghela napas dan lanjut melompat. Akhirnya ia bergabung dengan mereka.
Wang Hao tiba-tiba menyeringai dan segera menarik kerah baju Xuan Han, mendorongnya ke depan sembari berseru, “Sampah, ayo kau harus terus di depan!”