NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Dalang di Balik Serangan

Beberapa hari setelah keributan di grup keluarga, pelacak yang ditanam Renata akhirnya mengirim hasil lengkap.

Saat itu hampir pukul satu dini hari. Puri Teratai sunyi. Nathan belum pulang, dan Bik Inah sudah mematikan lampu lantai bawah kecuali lampu kecil di ruang kerja.

Renata duduk sendirian di depan laptop.

Jejak yang semula hanya berakhir pada tiga huruf kini terbuka sedikit demi sedikit. Pelacak mencatat arah sambungan, waktu perintah, dan jalur otorisasi setiap kali pintu belakang mencoba aktif kembali.

Prima Aeroteknik.

Nama perusahaan itu memenuhi layar.

Renata tidak bergerak selama beberapa detik. Ia masih membutuhkan satu hal untuk memastikan sumbernya bukan pegawai biasa yang bertindak sendiri.

“Tata, kamu bangun?” bisiknya melalui panggilan suara.

Suara Tania terdengar berat. “Sekarang bangun. Ada apa?”

“Aku kirim satu rangkaian otorisasi. Cocokkan dengan arsip lama yang pernah kita simpan.”

“Yang dari Prima?”

“Jangan sebut nama dulu.”

Tania menguap, lalu bunyi papan ketik terdengar dari seberang. Mereka membandingkan pola persetujuan dengan dokumen keamanan yang pernah masuk ke jaringan klien lain. Setiap perusahaan memiliki cara sendiri memberi tanda pada perintah tingkat tinggi. Prima memakai token terpisah untuk tim biasa, kepala keamanan, dan pimpinan proyek.

Rangkaian yang ditemukan Renata berada di tingkat tertinggi.

Beberapa menit kemudian, Tania mengirim hasil pencocokan.

Pemegang otorisasi: Nathan Halim.

Renata membaca nama itu tanpa berkedip.

Tania mengirim berkas kedua. Ia telah memeriksa apakah Marcus pernah memberi perintah tersembunyi melalui akun klien Awan. Tidak ada. Awan Group hanya menerima hasil pembersihan dan membayar kontrak. Pintu belakang tersebut masuk jauh sebelum JK disewa, dengan jalur kendali yang seluruhnya kembali ke Prima.

“Marcus bersih dari urusan ini,” kata Tania.

“Dari urusan pintu belakang,” koreksi Renata. “Belum tentu dari urusan lain.”

“Baik. Tapi kali ini dia target, bukan dalang.”

Renata menambahkan catatan itu pada arsip. Ia memisahkan fakta dari dugaan, karena suatu hari bukti tersebut mungkin harus berdiri tanpa bantuan nama JK.

Tania menyimpan salinan kedua dengan penanda waktu terpisah, sehingga perubahan apa pun pada berkas asli akan langsung terlihat.

“Ren?” panggil Tania.

“Aku dengar.”

“Mungkin dia cuma menyetujui proyeknya. Belum tentu dia yang mengatur setiap langkah.”

“Tapi dia tahu.”

Tania tidak membantah.

Nathan menanam jalur pengawasan di perusahaan Om Marcus, mempertahankannya selama berbulan-bulan, lalu memburu siapa pun yang berani membersihkannya. Semua dilakukan dari balik meja, tanpa pernah mengotori tangannya sendiri.

Renata seharusnya tidak terkejut. Nathan selalu seperti itu. Ia memegang rumah Mama Yolanda atas nama perlindungan. Ia menahan pernikahan atas nama Opa. Ia memutuskan siapa yang harus dipercaya, siapa yang patut ditolong, dan siapa yang boleh menunggu.

Namun melihat namanya di ujung jejak itu tetap memadamkan sesuatu.

Bukan cinta. Renata sudah berhenti menyebut perasaan itu cinta.

Mungkin hanya sisa keyakinan bahwa di balik semua sikap dinginnya, Nathan masih memiliki batas yang tidak akan dilewati.

Ternyata batas itu bisa dipindahkan kapan pun mengganggu kepentingannya.

“Mau kita kirim buktinya ke Marcus?” tanya Tania.

“Belum.”

“Kamu mau konfrontasi Nathan?”

Renata menyalin seluruh rangkaian ke penyimpanan terpisah. “Kalau kutanya, dia akan bilang ini urusan bisnis dan aku nggak mengerti.”

“Memang menyebalkan karena kemungkinan besar dia akan bilang begitu.”

“Simpan satu salinan di tempatmu. Jangan pakai kecuali aku minta.”

“Siap.” Tania terdiam, lalu bertanya lebih pelan, “Kamu baik-baik saja?”

Renata memandang pintu ruang kerja yang gelap. “Aku jadi lebih yakin.”

“Tentang apa?”

“Pergi.”

Pada malam yang sama, Nathan menghadiri jamuan mitra penerbangan di sebuah hotel SCBD. Acara itu mempertemukan pimpinan Angkasa Air, pemegang saham Prima, dan beberapa investor.

Cheryl berdiri di sisinya sejak awal acara.

Ketika seorang tamu bertanya bagaimana mereka bisa saling mengenal begitu lama, Cheryl tertawa kecil dan menyentuh lengan Nathan.

“Kami bertemu waktu belajar di luar negeri.”

“Berarti cinta pertama?” goda seseorang.

Cheryl menunduk, membiarkan wajahnya memerah tepat pada waktunya. “Nate dulu susah sekali didekati.”

“Tapi akhirnya berhasil?”

“Kami pernah bersama,” jawab Cheryl. “Hanya keadaan yang membuat kami berpisah.”

Beberapa tamu langsung saling pandang. Nathan sedang berbicara dengan seorang investor di sisi lain dan tidak mendengar kalimat pertama. Ketika ia kembali, topik sudah bergerak ke masa mereka di luar negeri.

“Cheryl bilang pernah menyelamatkan hidupmu,” ujar seorang tamu kepada Nathan. “Cerita seperti film.”

Nathan menatap Cheryl.

Perempuan itu tersenyum lembut. “Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan waktu itu.”

“Apa yang terjadi?” tanya tamu lain.

Cheryl memegang gelasnya dengan dua tangan. “Nate terluka di gunung. Cuacanya buruk, bantuan terlambat. Aku menahan pendarahannya dan tetap bersamanya sampai tim penyelamat datang.”

“Jadi sejak itu Kapten Halim berutang nyawa.”

Nathan tidak membenarkan kalimat tersebut, tetapi ia juga tidak menyangkal. Bertahun-tahun ia memang percaya Cheryl adalah perempuan yang menolongnya pada malam itu. Selembar kain lama dengan noda darah menjadi satu-satunya benda yang ia pegang dari kejadian tersebut.

Cheryl melihat diamnya sebagai izin.

“Aku nggak pernah menganggapnya utang,” katanya. “Kalau menyayangi seseorang, kita nggak menghitung.”

Kalimat itu cukup untuk membuat dua tamu perempuan mengangkat ponsel. Sebelum acara selesai, cerita tentang cinta pertama dan penyelamat nyawa Nathan sudah berpindah ke beberapa grup WhatsApp.

Kapten Halim sama Cheryl sebenarnya masih saling sayang, ya?

Pantas selalu bareng.

Yang nolong dia waktu hampir mati ternyata Cheryl.

Tania meneruskan tangkapan layar kepada Renata ketika mereka masih terhubung lewat panggilan.

“Mau aku muntah sekarang atau nanti?” tanyanya.

Renata membaca pesan-pesan itu. Ada foto Cheryl berdiri dekat Nathan, ada potongan cerita tentang gunung, dan ada pembahasan mengenai selembar kain berdarah yang disimpan Nathan.

Detail terakhir membuat ujung jarinya berhenti di layar.

“Kenapa?” tanya Tania.

“Nggak tahu.”

Ada sesuatu yang terasa ganjil, seperti ingatan yang bergerak di balik pintu tertutup. Namun ketika Renata mencoba meraihnya, yang tersisa hanya kilasan hujan, dingin, dan warna merah pada kain.

Ia menutup tangkapan layar.

“Biarkan mereka punya cerita itu.”

“Kamu nggak mau tanya Nathan?”

“Tentang cinta pertamanya atau tentang jaringan Awan?”

“Dua-duanya.”

Renata menutup berkas pelacak dan mengunci arsip bukti. “Nggak ada jawaban yang bisa mengubah tujuan akhirnya.”

Satu tahun. Vila Kenari. Pengadilan Negeri.

Setelah itu, Nathan dan Cheryl boleh hidup dengan kisah cinta mana pun yang ingin mereka ceritakan.

Renata kembali membuka daftar pekerjaan JK dan memilih kontrak berikutnya.

Di tempat lain, cerita tentang Cheryl sang penyelamat terus menyebar, dibangun dari satu kain berdarah dan kenangan yang belum pernah diperiksa siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!