NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Jejak Brian

Pagi harinya...

Klik!

Pintu kamar VIP terbuka.

Seorang perawat masuk sambil mendorong troli berisi sarapan dan beberapa obat.

Rania yang sejak tadi duduk di atas ranjang langsung menoleh ke arah suara tersebut.

"Suster?"

"Selamat pagi, Nyonya Rania."

"Pagi..." Rania menghela napas pelan. "Bisa jelaskan kenapa saya ada di rumah sakit?"

Perawat itu tersenyum tipis.

"Tuan Daffa membawa Anda ke rumah sakit tadi malam dalam keadaan tidak sadarkan diri."

Rania terdiam.

"Dokter menyarankan agar Nyonya melakukan bed rest total untuk sementara waktu. Kondisi fisik dan mental Nyonya harus benar-benar dijaga."

Tangan Rania perlahan menyentuh perutnya. "Karena kandungan saya?"

"Benar." Perawat mengangguk.

"Usia kandungan Nyonya masih sekitar satu bulan, jadi sebaiknya jangan terlalu banyak mengalami kelelahan fisik maupun tekanan emosional."

Rania hanya mengangguk pelan.

Pandangan matanya kemudian beralih menuju jendela. Cahaya pagi masuk melalui sela-sela tirai.

Ada sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya. "Suster..."

"Ya?"

"Semalam..." Rania berhenti sejenak. "Apa ada seorang pria yang datang menjenguk saya?"

Perawat itu berpikir sebentar, kemudian menggeleng. "Tidak ada, Nyonya."

Rania menundukkan kepala. Entah mengapa ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya, apakah semalam munculnya Brian adalah mimpi atau nyata, ia menyentuh bibirnya, kehangatan singkat semalam disana masih bisa ia asakan.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, perawat itu kembali berkata, "tapi pagi ini ada seseorang yang menitipkan berkas untuk Nyonya."

"Berkas?"

Perawat mengangguk. Ia mendorong troli mendekati ranjang. Di atasnya terdapat sarapan, segelas air, obat-obatan, dan sebuah amplop cokelat.

"Tapi saya tidak akan menyerahkan berkas ini sebelum Nyonya makan dan meminum obat terlebih dahulu."

Rania tersenyum tipis. "Baiklah."

Rania kemudian mulai menyantap sarapan yang disediakan.

Tidak terburu-buru.

Ia menghabiskan seluruh makanannya, kemudian meminum obat sesuai anjuran dokter.

Setelah semuanya selesai, barulah perawat mengambil amplop cokelat tersebut. "Ini untuk Nyonya."

"Dari siapa?"

"Rio," jawab perawat.

Rania langsung terdiam.

Rio.

Asisten Brian.

"Baik, terima kasih." jawabnya lirih.

"Saya pamit dulu, Nyonya. Semoga lekas sembuh."

Klik! Pintu kembali tertutup.

Kini hanya tersisa Rania dan amplop cokelat di tangannya.

Rania meraba permukaan amplop tersebut sebelum perlahan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah map hitam.

Jemarinya berhenti sesaat ketika menyentuh bagian sampul.

"Rio..." Ia menghela napas. "Apa yang sedang Brian rencanakan?"

Rania membuka map tersebut. Namun beberapa detik kemudian...

Matanya membulat.

Sebuah dokumen resmi terbentang di hadapannya.

PT. Herbalife

Dan tepat di bawah nama perusahaan tersebut tertera sebuah nama pemilik.

Rania Almira.

Deg!

Jantung Rania seakan diremas, tangannya gemetar. Air mata langsung menggenang di sudut matanya.

"Kakek Barra..." Suaranya bergetar. "Kakek..." Rania mengusap air mata yang jatuh di pipinya. "Kakek memberikan perusahaan ini kepadaku?"

Ia membaca kembali dokumen tersebut. "Kenapa?"

Rania menggeleng pelan. "Tidak..." Air matanya semakin deras. "Ini pasti sudah disiapkan sebelum aku bercerai dengan Brian."

Pikirannya kembali pada tiga minggu lalu.

Saat itu Kakek Barra sempat menghubunginya.

Pria tua itu mengatakan bahwa dirinya memiliki sebuah kejutan untuk Rania dan Brian.

Namun karena ada urusan di Kota Laven tidak bisa di tinggalkan, kepulangannya ditunda. Rania menatap dokumen di tangannya.

PT. Herbalife — Kota Laven.

"Jadi..." bibirnya bergetar. "Ini kejutan yang Kakek maksud saat itu?" Rania terisak. "Seandainya waktu itu aku tidak pergi bersama Brian mencari tanaman herbal ke Gunung Pulo..." Tangannya mengepal. "Mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini."

Rania memejamkan mata. "Maafkan aku, Kakek." Air matanya kembali jatuh. "Aku membuat Brian mengalami kecelakaan saat itu."

Ia menundukkan kepala. "Dan..." Napasnya tercekat. "Kenapa Kakek tiba-tiba masuk rumah sakit?" Pertanyaan itu kembali menghantuinya.

Sampai sekarang tidak ada satu pun orang yang memberitahunya mengenai kondisi Kakek Barra.

Rania bahkan tidak tahu apakah pria tua itu masih sadar atau tidak.

Ia memeluk map tersebut erat-erat. "Kakek..."

Tanpa Rania sadari...

Di ambang pintu yang masih sedikit terbuka, seseorang berdiri memperhatikannya.

Daffa.

Pria itu mendengar setiap perkataan Rania. Daffa akhirnya melangkah masuk. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Rania.

"Rania."

Rania mengangkat wajahnya.

Daffa mengulurkan tangan, mencoba mengambil berkas tersebut. "Ini hanya cara Brian agar kau kembali memperhatikannya."

Rania langsung menarik berkas itu kembali.

"Tidak." Tatapannya berubah tegas. "Ini bukan akal-akalan Brian."

Rania mendekap map tersebut. "Ini amanah dari Kakek." Ia menatap Daffa. "Dan aku akan menjaganya."

Daffa terdiam.

"Aku akan mengembangkan perusahaan ini." Untuk pertama kalinya pagi itu, Rania terlihat benar-benar memiliki tekad.

Bukan sebagai istri Brian. Bukan sebagai wanita yang sedang diperebutkan Daffa. Melainkan sebagai dirinya sendiri.

Daffa menghela napas. "Baiklah." Ia akhirnya mengangguk. "Aku akan membantumu mengurus perusahaan itu."

Rania sedikit terkejut. Dan Daffa menjadikan momen tersebut sebagai peluang agar dirinya bisa berada di sisi Rania.

Lalu Daffa melanjutkan, "Tapi ingat tujuanmu, Rania." Tatapan pria itu menjadi lebih serius. "Aku khawatir Brian sedang berusaha menarikmu kembali ke dalam lingkarannya."

Rania terdiam.

"Seseorang bisa berubah, Rania." Daffa kemudian menyentuh kedua bahunya. "Lihat aku."

Rania perlahan mengangkat wajah. Ia tahu maksud perkataan Daffa.

Pria itu sedang menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh.

Daffa yang dahulu hanya ia kenal sebagai seorang kakak...

Kini berubah menjadi pria yang mengejarnya.

Dan sekarang...

Brian juga mungkin akan berubah.

Rania menghela napas panjang. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Ia menegakkan tubuh. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menentukan hidupku lagi."

Daffa tersenyum tipis. "Bagus."

Melihat tekad Rania, Daffa merasa sedikit lega. Setidaknya wanita itu tidak terlihat sedang tenggelam dalam masa lalunya bersama Brian.

Daffa kemudian berdiri, tangannya terangkat dan mengusap pucuk kepala Rania. "Aku pergi bekerja dulu."

Rania terdiam.

"Istirahatlah hari ini. Sore nanti dokter mengizinkanmu pulang." Daffa menatapnya. "Aku akan menjemputmu."

Kemudian ia membungkuk dan mengecup pucuk kepala Rania.

Rania membulatkan matanya. Daffa kembali melanggar batasnya.

Namun Rania menahan emosinya.

Ia harus tenang menyikapi Daffa, dan juga ia tidak boleh terus bergantung kepada siapa pun, ia harus belajar berdiri sendiri.

Daffa berbalik. Langkahnya semakin menjauh.

Klik! Pintu tertutup.

Rania mengangkat kedua tangannya, kemudian menyentuh matanya.

Pandangan yang sebelumnya kabur kini jauh lebih jelas. Ia dapat melihat garis-garis dokumen di tangannya. Bahkan tulisan kecil pada beberapa bagian sudah mulai terbaca.

"Penglihatanku sudah jauh lebih baik." Rania menarik napas panjang.

"Dan sekarang..." Tatapannya jatuh pada map hitam di pangkuannya.

"Sudah waktunya aku mengejar tujuanku sendiri." Ia tidak ingin terus berada di antara Daffa dan Brian.

Tidak ingin hidupnya ditentukan oleh perasaan dua pria. "Aku akan berdiri sendiri."

Rania menatap dokumen perusahaan itu. "Dan aku akan menjaga amanah Kakek."

Tangannya mengusap nama yang tercetak jelas di sana.

PT. Herbalife.

"Terima kasih, Kakek."

Beberapa menit kemudian...

Ponsel Rania berbunyi.

Ting!

Sebuah notifikasi email masuk.

Rania mengambil ponselnya, matanya berbinar ketika membaca isi email tersebut.

Sebuah proposal kerja sama. Penawaran investasi untuk PT. Herbalife.

Rania membaca beberapa baris pertama dengan penuh perhatian.

"Investor?"

Ia tersenyum kecil.

Mungkin...

Ini adalah kesempatan pertamanya untuk benar-benar berdiri dengan kakinya sendiri.

Namun Rania tidak tahu...

Di balik proposal tersebut terdapat sebuah nama yang sama sekali tidak pernah ia duga.

Brian Aristama.

Mantan suaminya.

Pria yang baru saja berjanji kepada dirinya sendiri untuk membawa Rania kembali.

Dan kali ini...

Brian tidak akan datang sebagai seorang suami.

Ia akan datang sebagai investor pertama perusahaan milik Rania.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!