NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Hujan Zombie Kedua

Pada malam hari ke-30, langit Kota Harapan robek.

Garis-garis hitam terbuka di antara awan, lalu gelembung-gelembung gelap jatuh seperti telur busuk dari perut langit.

Satu gelembung pecah di luar tembok utara.

Tubuh Zombie besar menghantam tanah.

Ia tidak langsung berdiri.

Selama beberapa napas, tubuhnya berkedut. Mata merahnya belum fokus. Tangannya mencakar lumpur tanpa arah.

Arga berdiri di atas tembok dengan bahu kanan masih dibalut tipis.

Tiga hari cukup untuk menutup luka.

Belum cukup untuk membuatnya lupa rasa cakar Tingkat 3 menembus daging.

Di bawah, seluruh Tim Harem Arga sudah berkumpul.

Sekitar dua ratus enam puluh anggota tempur siap bergerak. Sisanya menjaga dapur, gudang, klinik, anak-anak, dan penyewa luar. Kiara berdiri di sisi Arga, perutnya masih dibalut rapat di balik Combat Suit.

Wulan sudah meminta Kiara tetap di belakang.

Kiara hanya menjawab, "Aku lebih berguna di gelap."

Arga tidak melarang.

Ia hanya berkata, "Jangan mengejar."

Kiara mengangguk.

Nadira membuka peta di meja tembok. Dara memeriksa sepuluh regu depan. Yuni berdiri di dekat tangga, wajahnya tegang, tangan kecilnya memegang daftar korban dan jalur evakuasi.

Suara retakan di langit semakin rapat.

Lebih banyak gelembung jatuh.

Lebih banyak tubuh bangkit.

Mereka bukan Tingkat 1 biasa.

Tubuh lebih besar.

Leher lebih tebal.

Kaki lebih cepat.

Hidung mereka bergerak seperti anjing pemburu yang baru mencium darah.

Tingkat 2.

Mayoritas.

Nadira menatap Arga.

"Jika bertahan di balik tembok, kita bisa mengurangi korban."

"Dan memberi mereka waktu beradaptasi."

"Anda yakin tiga menit?"

"Tiga menit pertama setelah jatuh, kekuatan mereka sekitar enam puluh persen. Setelah itu, mereka mulai mencari bau manusia."

Dara mendengar dan menyeringai keras.

"Berarti kita bunuh saat mereka masih pusing."

Yuni menoleh cepat.

"Keluar malam ini?"

Tidak ada yang menjawabnya.

Arga mengangkat tangan.

"Semua regu tempur. Buka gerbang utara."

Beberapa wajah langsung berubah.

Mereka baru saja belajar betapa mengerikannya Tingkat 3. Sekarang langit menjatuhkan ratusan Tingkat 2, dan Arga memerintahkan mereka keluar dari tembok.

Arga tidak menenangkan mereka.

"Kita menyerang selama enam jam. Target: bunuh yang baru jatuh, ambil Kristal, mundur sebelum fajar penuh. Regu yang pecah akan ditinggalkan jika membahayakan formasi."

Kalimat terakhir membuat udara beku.

"Malam ini kalian hidup sebagai pasukan, atau mati sebagai orang panik," lanjut Arga.

Gerbang terbuka.

Mereka keluar.

Gelap menjadi senjata pertama.

Kiara menghilang di sisi kanan seperti noda hitam yang menelan cahaya. Bayangan membuat langkahnya nyaris tanpa suara. Zombie Tingkat 2 yang baru merangkak keluar dari gelembung pertama bahkan belum sempat berdiri ketika belati Kiara masuk ke belakang lehernya.

Di sisi kiri, Dara memimpin pukulan depan.

"Lutut dulu! Jangan kepala dulu kalau leher terlalu tebal!"

Tiga anggota menusuk kaki Zombie. Satu ketua Tingkat 2 menghantam tengkuk. Dara mengakhiri dengan golok.

Kristal jatuh ke tanah berlumpur.

Nadira berdiri di pos komando sementara, lima belas meter di belakang garis depan.

"Regu tiga, jangan terlalu maju. Regu tujuh, ambil kanan. Ada lima gelembung baru jatuh di dekat kios runtuh."

Suara radio memotong teriakan, geraman, dan denting besi.

Di selatan kota, tembok utama Kota Harapan juga menyala. Pasukan Surya menembak dari balik karung pasir dan pagar logam. Di kejauhan, Arga melihat kilatan api pendek. Galang ada di sana, di salah satu titik pertahanan Surya.

Telepati menangkap satu pikiran yang akrab.

Bang Arga pasti juga bergerak.

Jangan kalah.

Galang sedang bertarung.

Baik.

Arga kembali menatap utara.

Gelombang pertama pembantaian berjalan cepat.

Zombie yang baru jatuh seperti prajurit mabuk. Mereka kuat, tetapi geraknya terlambat setengah detik. Setengah detik cukup bagi orang yang sudah dilatih untuk memotong sendi, menusuk mata, dan menghantam kepala dari samping.

Satu jam pertama, Tim Harem Arga meraih banyak Kristal.

Dua jam kedua, langit menjatuhkan lebih banyak.

Tiga menit kelemahan menjadi terlalu pendek ketika jumlah musuh tiga kali lebih banyak daripada perkiraan tim biasa.

Garis kanan tiba-tiba pecah.

Tiga Zombie Tingkat 2 yang sudah beradaptasi berlari bersamaan. Mereka tidak lagi linglung. Mereka mencium darah Kiara dari luka lama yang belum sembuh total.

Kiara membunuh satu.

Yang kedua menerjang perutnya.

Arga muncul di depan Kiara dengan satu langkah cepat, bukan Teleportasi, hanya kecepatan Tingkat 3 yang dipaksa melewati batas.

Pedangnya memotong rahang Zombie.

Kiara menggertakkan gigi.

"Aku baik-baik saja."

"Mundur tiga meter."

"Aku bilang--"

"Itu perintah."

Kiara menatapnya, lalu mundur.

Di tengah garis, seorang anggota muda terpeleset darah. Zombie Tingkat 2 langsung menindihnya. Temannya menusuk punggung Zombie, tetapi terlalu dangkal.

Jeritan perempuan itu putus ketika rahangnya digigit.

Kematian pertama malam itu membuat beberapa orang membeku.

Dara meraung.

"Jangan lihat dia! Lihat yang masih hidup!"

Terlambat untuk dua orang.

Zombie lain masuk dari celah sempit dan menyeret mereka ke lumpur.

Nadira menutup mata sepersekian detik.

Lalu suaranya kembali dingin.

"Regu empat tutup celah. Regu sembilan ambil jenazah jika aman. Jika tidak, tinggalkan."

Kata "tinggalkan" membuat Yuni yang berada di pos belakang menoleh tajam.

Namun medan perang tidak menunggu belas kasihan.

Jam ketiga berubah menjadi kekacauan terukur.

Mereka membunuh banyak.

Mereka juga kehilangan banyak.

Wulan bekerja tanpa henti di belakang.

Air bersih mengalir dari tangannya ke luka robek, luka gigitan, mata yang terkena darah Zombie. Antidot dipakai hanya untuk luka dengan warna hitam yang mulai menyebar. Ia tidak punya cukup untuk semua orang.

"Yang ini Racun Zombie ringan, cuci terus. Yang ini butuh Antidot. Yang ini..."

Ia berhenti.

Perempuan di depannya sudah tidak bernapas.

Meilan menarik kain menutup wajah korban.

"Lanjut, Wulan."

Wulan menggigit bibir sampai berdarah, lalu menoleh ke korban berikutnya.

Jam keempat, satu Zombie Tingkat 2 elite menerobos dekat pos Nadira.

Tubuhnya lebih ramping, tetapi kecepatannya jauh lebih tinggi. Ia melompati mayat, melewati dua penjaga, lalu langsung mengarah ke meja peta.

Nadira tidak mundur.

Pedangnya keluar.

Pembelah menyala tipis, hampir tidak terlihat.

Satu tebasan.

Lengan Zombie jatuh.

Tebasan kedua.

Lehernya terbuka.

Zombie itu masih mencoba menggigit.

Nadira melangkah satu jengkal ke samping dan menusukkan pedang ke pelipisnya.

Tubuhnya roboh di atas peta.

Seorang penjaga menatap Nadira dengan wajah pucat.

Nadira menarik pedang.

"Ganti peta."

Tidak ada suara panik dalam kalimat itu.

Karena itu, orang-orang di sekitarnya tetap berdiri.

Jam kelima, Dara menahan terobosan dari arah selokan runtuh.

Ketangguhan membuat tubuhnya bisa menerima benturan yang seharusnya mematahkan tulang, tetapi kemampuan bukan tembok tanpa batas. Setelah pukulan ketujuh, lututnya goyah.

Arga masuk dari samping.

Pedang Hi-Tech membelah kepala Zombie yang menekan Dara.

"Masih bisa berdiri?"

Dara meludahkan darah.

"Masih bisa memaki."

"Berarti cukup."

Mereka bertarung berdampingan selama dua puluh menit.

Di atas tembok Kota Harapan, banyak kelompok lain akhirnya sadar Arga tidak bertahan. Mereka melihat cahaya Kristal jatuh di tanah utara. Mereka melihat regu perempuan bergerak di antara tubuh Zombie seperti pisau dalam gelap.

Beberapa ingin meniru.

Kelompok Serigala keluar terlambat.

Mereka menabrak Zombie yang sudah sepenuhnya beradaptasi.

Jeritan dari barat terdengar lebih keras daripada geraman.

Tim Kilat milik Budi keluar setengah jam setelah itu, lebih rapi, tetapi tetap kehilangan banyak orang. Tim Macan juga mencoba mengambil celah selatan dan mundur dengan puluhan korban.

Pasukan Surya bertahan di posisi utama. Korban mereka paling kecil, tetapi Kristal yang mereka ambil juga tidak sebanyak yang berada di luar.

Arga tahu semua itu.

Ia tidak punya waktu untuk peduli.

Jam keenam, langit mulai memucat.

Zombie yang jatuh dari retakan semakin sedikit. Yang tersisa sudah tersebar dan mulai mengejar bau manusia ke arah tembok.

Arga mengangkat tangan.

"Mundur bertahap."

Nadira mengulang melalui radio.

"Regu satu sampai tiga mundur. Empat sampai enam tahan. Tujuh sampai sepuluh bawa korban. Jangan lari."

Mundur selalu lebih sulit daripada maju.

Tiga orang mati di menit-menit terakhir karena ingin mengambil Kristal yang jatuh terlalu jauh.

Arga melihatnya.

Ia tidak menyelamatkan mereka.

Satu langkah menyelamatkan orang yang melanggar formasi bisa merusak garis mundur puluhan orang.

Itu keputusan yang membuat dadanya tidak hangat.

Tapi ia tetap mengambilnya.

Ketika matahari pertama menyentuh reruntuhan, gerbang utara ditutup.

Orang-orang roboh di halaman.

Ada yang menangis tanpa suara.

Ada yang muntah.

Ada yang memeluk senjata seperti memeluk mayat.

Nadira duduk di atas peti amunisi dan membaca daftar.

Suaranya datar, tetapi ujung jarinya putih.

"Empat puluh satu gugur. Tujuh puluh tiga luka, termasuk dua puluh satu berat. Antidot terpakai sembilan. Kristal Tingkat 2... belum selesai dihitung."

Tidak ada yang bicara.

Empat puluh satu.

Angka itu jatuh di halaman seperti batu.

Yuni berdiri di tengah kerumunan. Matanya merah. Di tangannya ada daftar jalur evakuasi yang kini penuh coretan darah.

Ia berjalan ke depan.

Dara melihatnya.

"Yuni."

Yuni tidak berhenti.

Ia berdiri di depan Arga, tubuh kecilnya gemetar.

"Keputusan malam tadi salah."

Halaman menjadi sunyi.

Nadira menutup buku perlahan.

Yuni menelan ludah, tetapi suaranya keluar lebih keras.

"Kalau kita bertahan di balik tembok, tidak akan mati sebanyak ini."

Halaman senyap. Orang-orang menahan napas, menunggu kepala siapa akan jatuh lebih dulu.

Arga menatap Yuni.

Ia tidak marah.

Itu membuat suasana lebih berat.

"Bertahan di balik tembok, berapa Tingkat 2 yang bisa kita bunuh?"

Yuni terdiam.

"Berapa Kristal yang bisa kita ambil?"

Yuni menggenggam kertasnya.

"Tapi empat puluh satu orang--"

"Tiga hari lagi, apa yang mereka makan kalau kita tidak punya Kristal untuk membeli beras? Sebulan lagi, siapa yang naik tingkat kalau semua Kristal diambil Serigala? Saat Hujan Zombie ketiga datang, kamu mau mereka mati di balik tembok dengan perut kosong?"

Wajah Yuni memucat.

Arga melangkah satu langkah mendekat.

"Di dunia ini, bertahan hidup bukan berarti menunggu bahaya lewat. Bahaya tidak lewat. Ia tumbuh."

Yuni membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Arga menoleh ke Nadira.

"Mulai hari ini, pekerjaan Yuni ditahan."

Yuni mendongak.

Tidak dipukul.

Tidak dimaki.

Tidak dikurung.

Hanya dihentikan.

Untuk Yuni, itu lebih sakit daripada tamparan.

"Bos..."

Arga sudah berjalan melewatinya.

"Kamu istirahat."

Dara ingin bicara, lalu menahan diri.

Nadira menatap Yuni sebentar. Tatapannya terasa seperti peringatan, dingin dan berat.

Di luar gerbang, medan perang mulai terlihat jelas oleh matahari.

Mayat manusia dan Zombie bercampur di antara lumpur, puing, dan Kristal yang belum sempat diambil.

Kelompok Serigala di barat mundur dengan wajah hancur. Mereka kehilangan lebih dari dua ratus orang semalam. Budi dari Tim Kilat membawa sisa anak buahnya dengan langkah pincang. Tim Macan menyeret puluhan korban ke arah selatan.

Surya berdiri di menara jauh, menatap utara cukup lama.

Arga berdiri di atas tumpukan tubuh Zombie.

Bahu kanannya terasa panas.

Matanya kering.

Ia mengangkat kepala.

Langit yang baru memucat mulai membuka retakan baru.

Bukan hitam.

Kali ini berwarna perak pucat.

Airdrop Box.

Datang setelah pembantaian.

Selalu begitu.

Yang berani membunuh lebih banyak akan lebih dekat dengan hadiah.

"Datang," kata Arga pelan.

Nadira sudah berdiri di belakangnya, wajah lelah tetapi siap.

Arga menoleh.

"Panggil semua yang masih bisa bergerak."

Ia menatap retakan yang makin banyak di langit.

"Dua puluh menit lagi kita berangkat."

Pedangnya menunjuk ke luar tembok.

"Airdrop Box, satu pun jangan jatuh ke tangan orang lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!