Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisa Melakukan Adegan Orang Dewasa
Mobil Yudha sudah terparkir di garasi, artinya pria itu sudah sampai lebih dulu darinya. Kanaya lalu memarkirkan mobil di belakang mobil suaminya dan bergegas turun.
Karena tadi tertahan oleh murid-muridnya, Kanaya terlambat sampai di rumah. Waktu saat ini mendekati Maghrib. Dia tidak sempat memasak untuk makan malam, sehingga tadi menyempatkan membeli sate untuk menu makan mereka.
"Assalamualaikum."
Ketika pintu ruangan terbuka, penciuman Kanaya disambut aroma pedas yang menusuk penciumannya.
"Hoachim!"
Diiringi suara bersin dari arah dapur.
Kanaya menutup hidungnya, karena jika dibiarkan terbuka ia pun akan mengalami hal serupa.
"Hoachim!" Suara bersin kembali terdengar.
Sesampainya di dapur, ia mendapati Yudha berdiri di depan kompor dengan spatula di tangannya.
"Kamu ngapain, Yud?"
Yudha menoleh. Matanya tampak berair, bukan hanya matanya, hidungnya pun mengeluarkan cairan akibat bersin tadi.
"Lagi ngapain? Nggak lihat aku pakai celemek gini? Sampai bersin-bersin, sampai hidung meler," keluh Yudha.
Kanaya berjalan mendekat. Tak merasa jijik, Kanaya justru menarik tissue lalu mengelap hidung Yudha.
Yudha mematung melihat reaksi Kanaya. Seperti orang dewasa yang meladeni anak-anak.
"Udah besar masih ingusan gini! Kayak bocil aja," cibir Kanaya meledek.
"Orang ne nen aja boleh, masa ingusan nggak boleh!?" jawaban Yudha absurd seraya menyeringai.
"Astaga, Yudha!" Mata Kanaya seketika membulat, menatapnya tak percaya. Bisa-bisanya pikiran Yudha langsung melenceng ke sana. Padahal percakapan mereka saat ini sama sekali jauh dari ritual intim yang biasa pria itu lakukan ketika mereka bercinta.
Setelah membuang tissue dan mencuci tangannya, Kanaya mengambil spatula dari tangan Yudha.
"Kamu mau bikin sambal? Buat apa?"
"Buat bandeng presto. Tadi dapat oleh-oleh dari Pak Edo yang baru pulang tugas di Semarang."
"Karena kamu bilang akan pulang telat. Jadi, aku pikir mau bikin sambalnya dulu, biar kamu nggak kerepotan. Ikannya juga udah aku goreng tuh!" Yudha menunjuk ke arah meja makan yang ditutupi tudung saji.
Kanaya menoleh sekilas ke arah meja makan lalu berpindah pada Yudha. "Suami yang baik."
Tangannya membelai wajah Yudha, memberi pujian karena sudah mau bersusah payah membantu menyiapkan makanan, padahal ia sendiri sudah menyiapkan sate untuk menu makan mereka nanti malam.
"Baru sadar?" Yudha langsung memeluk Kanaya dari belakang. "Memang kemarin ke mana aja?" Yudha menyanggah kepala di pundak sang istri, bibirnya perlahan menyapu ceruk leher Kanaya.
"Yud, aku belum mandi." Kanaya menolak, karena jika dilanjut, suaminya itu akan menuntut lebih, sementara beberapa menit lagi Adzan Maghrib berkumandang, dia pun belum membersihkan tubuhnya selepas beraktivitas seharian di luar.
"Udah biasa cium aroma kamu belum mandi." Alasan Kanaya tidak diterima Yudha.
"Tapi, ini mau Maghrib." Kanaya memberi alasan lain yang tidak mungkin bisa Yudha bantah.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar...."
Baru saja bibir Kanaya mengatup, kumandang Adzan Maghrib terdengar.
"Udah Maghrib! Aku belum mandi." Kanaya mematikan kompor lalu mendorong tubuh Yudha agar menjauh darinya.
***
Yudha naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Sementara Kanaya masih sibuk perawatan wajah malam hari. Di usianya yang sudah kepala tiga, dia harus lebih rajin merawat wajah dan tubuhnya.
Apalagi mempunyai suami yang lebih muda dan berwajah rupawan. Jika tak pandai merawat diri, bisa-bisa wanita lain datang menggoda suaminya. Terlebih saat ini ada satu wanita yang jelas-jelas memasang genderang perang dengannya.
"Udah, Yank. Udah cantik, kok. Jangan dipoles terus wajahnya. Nanti juga aku ciumi hilang lagi. Yang ada nanti nempel di bibirku cream perawatannya." Yudha sengaja menggoda Kanaya, sebab sang istri terlihat betah di depan cermin, menepuk, mengoles cream perawatan pada wajah cantiknya.
"Kalau aku nggak perawatan, beberapa tahun ke depan nanti kamu dianggap jalan sama nenek-nenek."
Kanaya bangkit mengakhiri aktivitas perawatan wajahnya lalu berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, bergabung dengan Yudha yang sudah lebih dulu naik ke peraduan.
Yudha menarik senyuman di bibirnya mendengar kata-kata Kanaya. Bukan pada 'kalimat jalan sama nenek-nenek' tapi pada kalimat 'beberapa tahun ke depan'. Itu mengandung arti jika mereka akan tetap bersama di masa mendatang, tidak seperti yang direncanakan Kanaya dalam surat perjanjian sebelumnya, yang hanya menginginkan pernikahan mereka berjalan selama tiga bulan.
"Ngeledek?" Kanaya menduga senyuman di bibir suaminya itu sebagai cibiran atas kata-katanya tadi.
"Nggak!" bantahnya, "Aku justru tertarik dengan kalimat sebelumnya.'
Kening Kanaya mengeryit sambil bertanya bingung, "Apa?"
"Beberapa tahun ke depan, artinya pernikahan kita nggak hanya sampai tiga bulan, kan?" goda Yudha mengingatkan kembali pada surat perjanjian yang dibuat Kanaya di hari pernikahan mereka.
Bola mata Kanaya membulat diingatkan kembali surat perjanjian itu. Sedangkan wajahnya langsung merona.
"Itu tergantung kamu," sahutnya.
Yudha mengubah posisi tidurnya menyamping dan menyangga kepala dengan kepala telapak tangan.
"Kamu tahu saja kalau aku punya yang menggantung." Senyum nakalnya mulai terbit, menandakan Kanaya harus hati-hati jika Yudha sudah mengeluarkan kalimat-kalimat yang menjurus keintiman pasangan suami istri.
"Oh ya, kamu mau tahu apa yang dibicarakan aku sama murid-muridku tadi?" Kanaya mengubah percakapan.
Kanaya belum sempat menceritakannya kepada Yudha. Yudha sendiri tak menanyakan, apa yang dibahas Kanaya dengan anak-anak muridnya, karena menganggap itu adalah privasi Kanaya dengan pekerjaannya.
"Memang kalian membahas apa?" Jemari Yudha sibuk memainkan anak rambut Kanaya.
"Membahas gosip."
Yudha terkekeh menanggapi jawaban istrinya yang dinilai tak serius.
*Kenapa ketawa? Nggak percaya kalau aku bahas gosip sama murid-murid aku?"
"Memangnya bahas gosip apa, sih?"
"Gosip tentang cewek yang kamu suka."
"Kanaya" jawab Yudha spontan dibarengi suara tawa kecil.
Ekor mata Kanaya melirik pada suaminya. Sebab, Yudha asal menjawab dan namanya yang disebut. Mana mungkin Yudha langsung menyukainya, sementara pernikahan mereka baru berjalan beberapa minggu saja.
"Nggak usah modus!"
"Modus apanya? Emang benar cewek yang aku suka itu Kanaya. Suka masakannya, suka perhatiannya, suka kesabarannya, suka goyangannya...."
Tangan Kanaya langsung membekap mulut Yudha yang tidak bisa direm. Percakapan apa pun, selalu diselingin kata-kata absurd.
"Udah, ah! Kamu itu nggak pernah serius kalau diajak bicara!" Kanaya enggan melanjutkan percakapan, karena ucapan-ucapan Yudha semakin tak terkendali.
"Iya, iya, iya, aku dengar sekarang. Emang siapa yang kamu maksud?"
"Siapa itu namanya? Cewek yang sempat kamu dekati di kantor itu, lho!*
"Ayumi?"
"Ciih, hapal banget sampai langsung ketebak," cibir Kanaya.
Yudha tertawa kencang, melihat istrinya mulai dihinggapi rasa cemburu.
"Memang Apa hubungannya murid kamu sama Ayumi?"
"Kemarin itu anak-anak ketemu sama orang yang mengaku sebagai anak buah kamu. Terus dia membeberkan semuanya tentang pernikahan kita." Kanaya mulai menceritakan dari awal hingga akhir kepada Yudha tanpa ditutup-tutupi.
Yudha mendengarkan Kanaya dengan serius. Dia juga sudah mendengar gosip tentangnya di kantor, hanya saja dia tak menggubrisnya.
"Aku nggak sangka dia sampai melakukan hal itu. Aku juga udah dengar gosipnya, tapi aku malas meladeninya.".
Kanaya menoleh ke arah Yudha dengan wajah tak percaya.
"Jadi, berita ini udah beredar di kantor kamu, tapi kamu nggak cerita sama aku?" Rasanya malu sekali jika bertemu dengan kerabat dan rekan Yudha.
"Untuk apa diceritakan sama kamu? Yang ada nanti kamu baper." Yudha beralasan Kenapa tidak menceritakan hal itu kepada Kanaya.
"Terus, kamu diam aja?"
"Apa yang digosipkan itu memang benar. Pernikahan kita memang mendadak, itu benar. Aku menggantikan mempelai pria untuk menikahi kamu, itu juga benar . Usia aku lebih muda tujuh tahun dari kamu, itu juga benar. Jadi, apa yang harus dibantah? Itu semua fakta," jawab Yudha santai.
"Biarkan mereka berasumsi dengan pikiran masing-masing Lambat laun, gosip itu akan menghilang dan orang pun akan lelah menggosipkan kita. Yang penting kita sendiri jalaninnya happy-happy aja," sambungnya.
Kanaya menatap wajah Yudha. Tangannya terulur mengusap wajah suaminya itu.
"Ternyata kamu dewasa juga, Yud." Sejak awal Kanaya memang sudah dapat menduga jika Yudha sosok pria dengan pola pikir dewasa.
"Hei, aku udah 28 tahun bukan anak 18 tahun," protes Yudha. "Usiaku udah dewasa, sikapku juga dewasa dan aku juga bisa melakukan adegan orang dewasa." Sejurus kemudian, Yudha sudah berhasil mengungkung tubuh Kanaya, siap untuk bertempur malam ini.
"Yudha!!"
❤️❤️❤️
Bersambung ...
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay