Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Malam semakin larut menyelimuti desa dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
Suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan dari arah persawahan menjadi satu-satunya nyanyian di tengah kegelapan.
Di dalam rumah tuanya Arga sedang tertidur sangat pulas di atas kasur kapuknya.
Dengkuran halusnya terdengar teratur menandakan betapa lelah namun puasnya dia setelah menjalani hari yang panjang.
Namun tepat pada pukul satu dini hari mata Arga perlahan terbuka karena rasa haus yang mendera tenggorokannya.
Dia bangkit duduk sambil menguap lebar dan mengucek matanya yang masih lengket.
"Air putih di teko kamarku sudah habis, terpaksa harus jalan ke dapur." Arga bergumam malas sambil melangkah gontai keluar kamar.
Dia berjalan menembus kegelapan ruang tamu tanpa menyalakan lampu karena sudah hafal setiap sudut rumahnya.
Setibanya di dapur Arga mengambil gelas plastik dan menuangkan air dari kendi tanah liat.
Glek glek glek.
Air dingin itu mengalir membasahi kerongkongannya memberikan kesegaran yang instan.
Baru saja Arga meletakkan gelasnya di atas meja telinganya menangkap sebuah suara mencurigakan dari arah luar.
Kres kres kriet.
Terdengar suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering dan dahan patah tepat di balik pagar seng belakang rumahnya.
Arga langsung terdiam dan menajamkan pendengarannya di tengah kegelapan dapur.
"Siapa yang keluyuran di belakang rumah jam satu pagi begini, tidak mungkin itu hantu kan." Arga membatin dengan dahi berkerut.
Dia berjalan mengendap-endap mendekati dinding kayu dapur yang memiliki banyak celah lubang seukuran jari.
Arga menempelkan sebelah matanya ke salah satu lubang itu untuk mengintip ke arah luar pagar seng.
Cahaya bulan purnama yang cukup terang malam ini membantu penglihatannya menembus kegelapan pekarangan belakang.
Di sana dia melihat tiga sosok bayangan manusia sedang berjongkok di dekat sudut pagar seng miliknya.
Satu orang terlihat sangat kurus kerempeng mengenakan topi caping yang sangat familier di mata Arga.
"Itu kan Kardi si preman suruhan Pak Bowo yang tadi sore mengintip di depan rumah." Arga mengenali pria itu seketika.
Di sebelah Kardi ada dua pria berbadan gempal yang sedang menenteng dua buah jerigen plastik berukuran besar.
"Cepat siramkan bensinnya ke sekeliling pagar seng ini Tono." Terdengar suara bisikan Kardi yang parau dan mendesak.
"Jangan sampai ketahuan warga, kita bakar kebun ini lalu langsung lari ke arah sawah." Kardi memberikan instruksi kepada temannya.
Mendengar kata bensin dan bakar darah Arga langsung mendidih naik ke ubun-ubun kepalanya.
"Kurang ajar si lintah darat itu, dia benar-benar menyuruh preman untuk membumihanguskan ladangku malam ini juga." Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah.
Arga berniat mendobrak pintu belakang dan menghajar ketiga preman itu menggunakan Sarung Tangan Tenaga Badak miliknya.
Namun sebelum dia sempat melangkah sebuah layar biru transparan tiba-tiba menyala terang tepat di depan wajahnya di dalam dapur yang gelap.
[Peringatan Darurat: Sistem mendeteksi adanya tiga Hama Raksasa yang mencoba merusak fasilitas kebun.]
[Status Ancaman: Sedang menyiramkan cairan kimia berbahaya ke area pagar pelindung.]
Arga menghentikan langkahnya dan membaca tulisan merah berkedip itu dengan dahi berkerut.
"Hama raksasa? Maksudmu ketiga preman bodoh di luar sana itu dikategorikan sebagai hama oleh sistem." Arga bertanya setengah tidak percaya.
[Sistem Keamanan Otomatis Diaktifkan.]
[Menggunakan Item: Semprotan Hama Gaib untuk menetralisir ancaman Hama Raksasa dalam radius lima meter dari pagar.]
"Wah sistem ini bisa bergerak sendiri ternyata, mari kita lihat pertunjukan apa yang akan terjadi." Arga mengurungkan niatnya keluar dan kembali mengintip dari celah dinding kayu.
Di luar pagar Kardi dan dua temannya baru saja selesai menyiramkan bensin dari jerigen ke sekeliling seng.
Bau bensin yang sangat menyengat langsung tercium hingga ke dalam dapur tempat Arga berdiri.
"Sudah beres Bos Kardi, sekarang tinggal nyalakan korek apinya saja." Tono si preman gempal berbisik sambil menyeringai licik.
Kardi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah korek gas berwarna hijau.
"Mampus kau Arga, rasakan pembalasan dari Pak Bowo malam ini." Kardi bergumam jahat sambil bersiap menyalakan korek tersebut.
Wush.
Tiba-tiba sebuah kabut tebal berwarna hijau berpendar menyembur keluar dari sela-sela pagar seng tepat ke arah mereka bertiga.
Kabut itu bergerak sangat cepat dan langsung menyelimuti tubuh Kardi, Tono, dan Jono dalam hitungan detik.
"Uhuk uhuk
kabut apa ini, baunya busuk sekali seperti bangkai tikus dicampur kotoran sapi." Kardi terbatuk-batuk hebat sambil menutup hidungnya.
Korek gas di tangan Kardi terlepas dan jatuh ke tanah berumput basah tanpa sempat dinyalakan.
Arga yang mengintip dari dalam dapur hanya bisa melihat kabut hijau itu dengan jelas karena dia adalah Host sistem.
Bagi warga biasa kabut itu sama sekali tidak terlihat dan hanya terasa seperti hembusan angin malam yang tiba-tiba berbau sangat busuk.
"Aduh Bos Kardi kulitku rasanya gatal sekali." Tono tiba-tiba berteriak panik sambil menggaruk-garuk lengannya dengan kasar.
"Iya Bos badanku juga panas dan gatal seperti digigit ribuan semut rangrang." Jono ikut berteriak histeris dan berguling-guling di atas tanah berbatu.
Kabut dari Semprotan Hama Gaib itu bereaksi sangat keras terhadap niat jahat manusia yang diklasifikasikan sebagai hama perusak.
Kardi mulai merasakan kulit wajah dan lehernya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum kasat mata.
"Panas panas tolong gatal sekali rasanya." Kardi menggaruk wajahnya sendiri hingga memerah dan meninggalkan bekas cakaran.
Efek halusinasi dari semprotan gaib itu juga mulai menyerang saraf otak ketiga preman amatir tersebut.
Di mata Kardi pagar seng di depannya tiba-tiba berubah wujud menjadi monster tomat raksasa bermulut lebar yang siap menelan mereka.
"Tolong ada siluman tomat raksasa mau memakan kita lari lari." Kardi berteriak melengking dengan suara seperti anak perempuan yang ketakutan.
Dia langsung memutar balik badannya dan berlari terbirit-birit menembus semak belukar tanpa mempedulikan arah.
Tono dan Jono yang juga berhalusinasi melihat ribuan ulat bulu raksasa mengejar mereka ikut lari tunggang langgang menyusul Kardi.
Mereka bertiga berlari membabi buta ke arah persawahan yang gelap gulita di belakang rumah Arga.
Byur byur byur.
Terdengar suara ceburan keras dari kejauhan menandakan ketiga preman itu terjatuh ke dalam selokan sawah yang penuh lumpur kotor.
Suara teriakan minta tolong mereka perlahan menjauh dan akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam.