Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Nama yang Dilewatkan Begitu Saja
Surat itu masih terbuka di meja panjang markas ketika matahari pagi baru separuh naik di atas atap-atap Aldenmere, membakar kabut tipis yang menggantung di puncak Menara Verlanth sejak subuh. Bau roti panggang Wick masih tersisa di udara ruang utama, bercampur aroma tinta dan kertas lembap dari surat yang sudah berpindah tangan tiga kali sejak semalam. Corym membacanya untuk ketiga kalinya, jarinya berhenti di kalimat terakhir, lalu meletakkan kertas itu pelan-pelan seperti takut merusaknya.
"Tulisan tangannya terburu-buru," katanya. "Tapi bukan asal coret. Lihat cara huruf G-nya."
Arden menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kayu yang sudah dikenalnya selama tujuh tahun. "Greywood."
"Wilayah Liar Greywood," Corym mengoreksi. "Aku belum pernah dengar Draymoor mendanai ekspedisi ke sana."
"Aku juga." Arden mengambil surat itu, membaca ulang baris terakhir. Jangan percaya sepenuhnya pada Lord Draymoor. Dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan pada kalian. Tanyakan padanya soal ekspedisi Greywood tahun lalu, sebelum terlambat. "Tidak ada nama pengirim. Tidak ada segel."
"Bisa siapa saja."
"Atau bisa berarti kita harus lebih hati-hati dari siapa saja." Arden melipat surat itu, memasukkannya ke saku dalam jaketnya, tepat di sebelah tempat liontin biasa bersembunyi.
Ness masuk ruangan sambil membawa map kulit tebal, rambut abu-abunya masih basah dari cuci muka pagi, langkahnya lebih cepat dari biasa. "Kalau ini soal surat misterius itu lagi, aku sudah menyuruh dua orang kenalan lama memeriksa catatan pendanaan ekspedisi tahun lalu. Butuh waktu. Catatan semacam itu biasanya disimpan di tiga tempat berbeda dan tidak satu pun dari mereka suka berbagi."
"Berapa lama?"
"Kalau beruntung, sore ini." Ness meletakkan map di meja, membukanya, lalu menutupnya lagi setelah menyadari isinya belum lengkap. "Tapi ada yang lebih mendesak dulu. Laporan rutin ke Guild jatuh tempo hari ini. Kalau kau lewatkan lagi, Orin tidak akan seramah kemarin."
"Aku tidak pernah melewatkannya sepenuhnya."
"Kau menundanya sampai batas terakhir setiap minggu. Bagi Orin, itu sama saja." Ness mengetuk map dengan buku jarinya, dua kali, cepat. "Aku sudah cukup sering mengurus wajahmu di depan klien yang marah. Jangan tambahkan Guildmaster ke daftar itu."
Arden menghela napas pelan, cukup pelan agar tidak terdengar seperti keluhan. Sejak pengawasan resmi dimulai, setiap minggu ada dokumen baru yang harus ditandatangani, diperiksa, dijelaskan. Ia sudah kehilangan hitungan berapa banyak formulir yang pernah ia isi sepanjang hidupnya sebelum minggu-minggu terakhir ini menyalip semuanya sekaligus.
"Aku akan pergi," katanya. "Corym, ikut. Aku butuh orang yang bisa membaca dokumen resmi lebih cepat dariku."
"Kau meremehkan dirimu sendiri."
"Aku realistis." Arden berdiri, meraih jaketnya. "Brann juga ikut. Kalau ada waktu, minta izin akses ke arsip publik soal Keruntuhan Abu. Mungkin ada yang belum kita baca."
Brann muncul dari lorong dapur dengan mulut penuh roti, mengangkat jempol sebagai jawaban.
...****************...
Jalan menuju Balai Guild memotong pasar pagi yang baru buka, deretan kios menjajakan roti hangat dan kain celup yang masih basah dijemur di antara tiang-tiang kayu. Brann berjalan sedikit di belakang, sibuk membaca ulang salinan catatan lama sambil menghindari tabrakan dengan pedagang yang lewat, hampir dua kali tersandung keranjang sayur. Corym berjalan di sisi Arden dalam diam, sesekali melirik ke arah Menara Verlanth yang menjulang di ujung jalan, puncaknya masih diselimuti kabut tipis yang enggan hilang meski matahari sudah naik.
Balai Guild pagi itu ramai oleh antrean rutin: petualang muda menukar lencana lama, pedagang menyewa izin ekspedisi kecil, dua orang berdebat soal biaya perbaikan gerbang lantai yang rusak minggu lalu. Marmer di bawah kaki mereka memantulkan cahaya dari jendela kaca warna, melempar bercak biru dan merah yang bergerak pelan seiring matahari naik, menyapu lantai seperti bayangan air.
Arden mengambil nomor antrean di meja depan, menyerahkannya pada petugas yang sudah hafal wajahnya. "Jangkar Kelabu. Laporan rutin."
"Lantai tiga, ruang arsip B," jawab petugas tanpa menoleh, sudah sibuk dengan berkas berikutnya.
Mereka menaiki tangga batu yang melingkar, langkah kaki bergema di dinding tinggi, melewati koridor panjang berjajar lukisan pendiri-pendiri Guild dari generasi lampau, wajah-wajah serius dengan mata yang seolah mengikuti langkah siapa pun yang lewat. Udara di koridor lebih dingin dari lantai bawah, berbau lilin tua dan kertas yang sudah disimpan terlalu lama. Corym melirik salah satu lukisan, seorang wanita berjubah biru tua memegang pedang bercahaya, sorot matanya digambar tajam seolah menantang siapa pun yang berhenti terlalu lama menatapnya.
"Kau tahu siapa itu?"
"Tidak," jawab Arden. "Aku tidak pernah cukup lama di sini untuk tahu semua nama."
"Tujuh tahun, dan masih terasa seperti tamu."
"Lebih aman begitu."
Ruang arsip B ternyata bukan ruang privat, melainkan aula terbuka dengan meja-meja panjang berjajar, tempat berbagai kelompok petualang menunggu giliran diproses. Suara pena menggores kertas, stempel dihantamkan berulang-ulang, dan sesekali tawa kecil dari sudut lain mengisi ruangan yang seharusnya terasa formal tapi justru lebih hidup dari yang Arden duga. Brann segera menyelinap ke sudut, berbisik pada petugas arsip soal akses catatan sejarah, sesekali menunjuk-nunjuk rak tinggi di belakang meja petugas. Corym duduk di bangku panjang kayu yang dingin, menarik Arden duduk di sebelahnya.
Menunggu di sana memberi waktu untuk hal yang jarang dimiliki Arden: diam tanpa perlu memutuskan apa pun. Ia menyandarkan kepala ke dinding batu dingin, merasakan getaran samar langkah kaki orang lewat di lantai atasnya, mendengarkan gumaman suara di sekitar: laporan misi, keluhan soal pembagian hasil, seorang anak magang yang gugup melapor pada atasannya dengan suara nyaris berbisik.
Dari balik pintu setengah terbuka di ujung aula, suara Guildmaster Orin terdengar samar, bercakap dengan seseorang yang suaranya lebih tua, lebih formal, dengan nada bicara yang biasa dipakai orang untuk membahas hal-hal yang tidak ingin didengar sembarang orang, meski tidak benar-benar berbisik. Sesekali terdengar derit kursi kayu, seolah salah satu dari mereka berdiri lalu duduk kembali karena gelisah.
Arden tidak sengaja mendengarnya. Ia sedang menatap urat kayu di meja di depannya, menelusuri pola melingkarnya dengan ujung jari tanpa sadar, pikirannya separuh melayang ke surat di sakunya, ke wajah Draymoor yang selalu terlihat sedikit terlalu tenang untuk orang yang menyewa kelompok kecil demi kerahasiaan.
"...ekspedisi Menara Pertama tidak bisa terus ditunda hanya karena Dewan belum sepakat," kata suara yang lebih tua. "Sudah tiga kandidat gagal tahun ini."
"Karena syaratnya memang dibuat berat," jawab Orin. "Sovereign-Rank bukan gelar yang bisa diberikan pada siapa saja yang kebetulan kuat."
"Tepat. Dan itu masalahnya."
Percakapan bergeser ke topik lain, sesuatu soal anggaran, soal jadwal pertemuan Dewan bulan depan. Arden mendengar kata-kata itu lewat begitu saja, seperti gumaman air sungai di kejauhan: ada, tapi tidak menuntut perhatian. Ia menggeser posisi duduk, meraba saku jaketnya sekali, memastikan surat masih di sana, lalu kembali menatap urat kayu meja.
Kalau ditanya lima menit kemudian apa isi percakapan itu, ia hanya akan mengingat suaranya, bukan katanya.
"Kau melamun," kata Corym.
"Memikirkan Draymoor."
"Bagus. Aku pikir kau memikirkan liontin lagi."
Arden tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, hanya pengakuan kecil bahwa Corym cukup mengenalnya untuk menebak dengan tepat.
Nama mereka dipanggil beberapa menit kemudian. Proses laporan berjalan seperti biasa: petugas arsip mencatat ringkasan insiden terbaru (patroli rutin, tidak ada anomali baru dilaporkan, sebuah kebohongan kecil yang sudah disepakati bersama Ilena), memeriksa tanda tangan, mencap dokumen. Guildmaster Orin tidak muncul untuk sesi ini; ia sedang sibuk dengan tamu yang tadi terdengar dari balik pintu.
Brann kembali dari sudut arsip dengan wajah puas, membawa dua gulungan salinan yang masih sedikit berbau tinta segar. "Petugasnya baik hati. Aku dapat salinan bagian awal Kodeks Verlanth yang belum pernah kita lihat, dan katalog singkat soal insiden serupa Keruntuhan Abu di masa lalu. Tidak banyak, tapi lumayan." Ia membuka salah satu gulungan sedikit, menunjukkan tulisan tangan rapi berbahasa kuno yang tak satu pun dari mereka bisa baca langsung. "Butuh waktu untuk menerjemahkan ini dengan benar. Tapi ada satu baris yang kutangkap sekilas, sesuatu soal 'lantai yang tidur, bukan mati'. Mirip sekali dengan yang dibisikkan orang Ashcloak itu di Hollowreach."
Corym dan Arden bertukar pandang singkat, tidak perlu kata untuk mengakui bahwa kemiripan itu terlalu jelas untuk kebetulan.
"Bagus," kata Arden, berdiri, merenggangkan bahu yang kaku karena duduk terlalu lama. "Kita sudah selesai di sini."
Mereka turun tangga yang sama, melewati lukisan-lukisan yang sama, keluar ke jalan yang mulai ramai oleh siang. Tidak ada yang menyebut kembali percakapan yang terdengar dari balik pintu tadi, sebab tidak ada yang benar-benar mendengarnya selain Arden, dan Arden sendiri sudah membiarkannya tenggelam di antara ratusan hal lain yang perlu diingat hari itu: laporan, surat anonim, jadwal kontrak, luka Petra yang belum sepenuhnya sembuh.
...----------------...
Markas terasa berbeda ketika mereka kembali, bukan tegang, tapi sibuk dengan cara yang khas hari-hari investigasi. Ilena duduk di meja dekat jendela dengan tumpukan catatan lama soal Draymoor: kontrak awal, korespondensi singkat, bahkan sketsa relik yang pernah mereka ambil dari Menara Verlanth.
"Ada sesuatu?" tanya Arden, meletakkan gulungan salinan Brann di meja.
"Belum yang berarti," jawab Ilena tanpa mengangkat kepala, jarinya masih menelusuri baris demi baris di catatan lama. "Tapi aku menemukan pola kecil. Draymoor selalu membayar lebih cepat dari kebanyakan klien, bahkan untuk kontrak yang tidak mendesak. Seolah ia ingin urusan selesai secepat mungkin, bukan soal uang." Ia mengangkat salah satu lembar korespondensi lama, menunjukkan tanggal yang digarisbawahi dua kali dengan tinta merah. "Dan lihat ini: surat pertamanya pada kita datang hanya dua hari setelah kita menyelesaikan misi Kaldreth yang kita tolak. Seolah ia sudah menunggu kesempatan begitu tahu kita menolak tawaran besar."
"Konsisten dengan 'secepat dan sediam mungkin'," gumam Corym.
Petra masuk dari halaman latihan, keringat masih membasahi kerah bajunya, lengan kirinya masih dibalut ringan meski lukanya sudah jauh membaik. Ia meraih handuk kecil yang tergantung di dekat pintu, mengusap tengkuknya sambil melirik meja penuh kertas itu dengan rasa penasaran yang tidak lagi terasa seperti ambisi yang memaksa, hanya rasa ingin tahu biasa.
"Kita benar-benar mencurigai klien sendiri?"
"Kita mencurigai apa yang belum ia katakan," jawab Arden. "Ada bedanya."
"Buatku sama saja," kata Petra, tapi nadanya lebih ringan dari biasanya, hampir bercanda. Ia menarik kursi, duduk di sudut meja, mengambil salah satu salinan katalog Brann, membacanya dengan alis berkerut serius yang jarang ia tunjukkan sebelum Hollowreach.
"Kau membaca itu sungguhan, atau cuma ingin terlihat sibuk?" tanya Ilena tanpa mengangkat kepala dari catatannya sendiri.
"Keduanya," jawab Petra, dan untuk sesaat sudut ruangan itu terasa ringan, seolah bulan-bulan ketegangan sejak Hollowreach belum pernah terjadi.
Sore datang lebih cepat dari yang diharapkan siapa pun. Cahaya jingga mulai masuk lewat jendela markas ketika Ness akhirnya kembali, langsung menuju meja panjang tanpa melepas jubah cokelatnya, wajahnya menunjukkan campuran lelah dan sesuatu yang lebih tajam dari sekadar lelah.
"Kalian harus dengar ini," katanya, meletakkan map kulit tebal di atas meja, membukanya dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat untuk seseorang yang biasanya tenang soal urusan administratif.
Brann berhenti mengunyah setengah gigitan roti, menatap Ness dengan mata membulat. Corym menggeser tumpukan kertas Ilena ke sisi meja untuk memberi ruang, tanpa diminta.
"Ketemu sesuatu?" tanya Ilena.
"Lebih dari sesuatu." Ness mengeluarkan selembar kertas dari map, meletakkannya di tengah meja agar semua bisa melihat. "Tahun lalu, kira-kira sepuluh bulan sebelum ia menyewa kita, Lord Edmar Draymoor mendanai sebuah ekspedisi swasta ke Wilayah Liar Greywood. Bukan lewat Guild resmi, melainkan lewat kontraktor independen, dibayar langsung dari kas pribadinya, tercatat di buku pajak keluarganya sebagai 'biaya survei tanah warisan'."
"Survei tanah?" Corym mengangkat alis. "Di Greywood? Tidak ada tanah warisan di sana. Itu wilayah liar tak berpenghuni."
"Itulah yang membuatku curiga sejak awal." Ness mengetuk kertas itu dengan jari. "Aku menghubungi dua orang yang pernah kerja untuk kontraktor itu. Satu menolak bicara sama sekali begitu mendengar nama Draymoor, langsung menutup pintu di depanku. Yang satunya mau bicara, tapi cuma sedikit, dan matanya terus melihat ke pintu selama kami ngobrol seperti mengharapkan seseorang muncul."
"Apa katanya?" tanya Arden, suaranya lebih rendah dari biasa.
"Ekspedisi itu berangkat dengan dua belas orang. Kembali dengan tujuh." Ness membiarkan angka itu menggantung sebentar di udara sebelum melanjutkan. "Tidak ada laporan resmi ke Guild soal insiden itu. Tidak ada penyelidikan. Draymoor membayar kompensasi besar pada keluarga yang kehilangan orang, dengan syarat semua pihak diam."
Ruangan menjadi hening. Petra meletakkan katalog yang sedang ia baca, perhatiannya sepenuhnya teralih. Brann meletakkan sisa roti di piring, tidak lagi berselera.
"Dua belas jadi tujuh," ulang Corym pelan, seolah mengucapkannya keras-keras bisa membuatnya lebih masuk akal. "Itu bukan angka kecelakaan biasa. Itu angka pertempuran."
"Itu yang kupikirkan juga," kata Ness.
"Lima orang," gumam Ilena. "Hilang begitu saja, dan tidak ada yang bertanya."
"Bukan hilang," koreksi Ness. "Kontraktor yang kuajak bicara bilang mereka melihat sendiri tiga jenazah dibawa pulang. Dua lainnya... ia tidak mau menjelaskan lebih jauh. Katanya bukan sesuatu yang pantas diceritakan sambil berdiri di jalan terbuka."
Arden menatap kertas di tengah meja: nama Draymoor tertulis rapi di kolom pendana, jumlah pembayaran yang tercoret dan ditulis ulang dua kali seolah seseorang berusaha menyembunyikan angka aslinya. Ia teringat wajah Draymoor saat pertama menawarkan kontrak relik, tenang, sedikit terlalu berhati-hati memilih kata.
"Apa yang mereka cari di Greywood?" tanya Corym.
"Itu bagian yang tidak tercatat di mana pun." Ness menutup map, menyandarkan diri ke kursi dengan wajah lelah yang baru sekarang terlihat jelas. "Tapi kalau kontraktor itu benar, apa pun yang mereka temukan di sana cukup berharga bagi Draymoor untuk membungkam lima keluarga dan menyembunyikannya dari Guild selama setahun penuh."
Arden mengambil kertas itu, membacanya sekali lagi dari awal: tanggal, nama kontraktor, jumlah personel, kolom hasil yang sengaja dibiarkan kosong.
"Kita perlu bicara dengan Draymoor lagi," katanya akhirnya. "Bukan lewat surat atau utusan. Langsung."
"Dia tidak akan mengaku begitu saja," kata Petra.
"Mungkin tidak," jawab Arden. "Tapi setelah ini, aku juga tidak akan pura-pura tidak tahu apa yang ia sembunyikan."
Ilena mengumpulkan catatan-catatannya, menyusunnya rapi di samping laporan baru Ness, membangun sesuatu yang mulai terasa seperti gambaran utuh meski masih banyak bagian yang hilang: relik yang bereaksi aneh, jubah abu-abu dengan simbol Keruntuhan Abu, seorang bangsawan yang membungkam kematian lima orang demi rahasia yang bahkan namanya tidak pernah tercatat.
"Kalau begitu, siapa yang menemui Draymoor?" tanya Petra, memecah keheningan yang mulai terasa berat.
"Aku," jawab Arden. "Sendirian, kalau perlu."
"Tidak sendirian," potong Ilsa, yang baru muncul dari tangga menuju kamar-kamar atas, lengan bersedekap, sudah mendengar cukup banyak dari perbincangan untuk tahu ke mana arahnya. "Kau selalu bilang 'sendirian' seolah itu ide bagus. Belum pernah sekali pun terbukti benar."
Arden tidak membantah. Ia hanya menatap kertas catatan Draymoor sekali lagi, membiarkan nama itu meresap lebih dalam dari sekadar tinta di atas kertas.
Malam turun perlahan, membawa dingin yang menyusup lewat celah jendela markas. Ness pamit lebih dulu untuk beristirahat, wajahnya masih menyimpan bekas kelelahan seharian berbicara dengan orang-orang yang enggan bicara. Brann kembali ke ruang kerjanya membawa salinan Kodeks Verlanth, bergumam sendiri soal kemungkinan menghubungkan Greywood dengan catatan Keruntuhan Abu yang sudah ia baca. Petra dan Corym membereskan meja bersama, dalam diam yang tidak lagi canggung seperti beberapa hari sebelumnya.
Di luar jendela, matahari mulai turun di balik siluet Menara Verlanth, melemparkan bayangan panjang ke seluruh atap Aldenmere, memerah lalu perlahan meredup jadi ungu tua. Arden menatap ke arah itu sebentar, mengingat percakapan tadi pagi yang sudah nyaris terlupakan, dua kata yang lewat begitu saja di antara ratusan hal lain yang perlu ia pikirkan hari itu, tenggelam tanpa jejak di bawah berat yang jauh lebih mendesak: dua belas orang, tujuh yang kembali, dan satu nama yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ia tidak tahu, dan untuk saat ini tidak perlu tahu, bahwa dua kata yang lewat begitu saja pagi itu suatu hari akan disematkan pada namanya sendiri.