NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:191k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti di dunia lain : 30

“Bu, pohon di semak-semak itu kok bergerak-gerak?” Guntur merapat ke ibunya, menarik ujung baju Hamima.

Rosna mendengar suara ketakutan itu, lantas memperhatikan semak belukar yang dahan pohon kecil bergerak-gerak. “Mungkin Landak atau anakan Babi hutan. Ayo percepat langkah jangan sampai kita berpapasan dengan indukan Babi hutan, kebanyakan sangat agresif ketika merasa terancam.”

Hamima mengambil keranjang anyaman bambu, dijinjing sebelah tangan yang memegang simpul plastik bunga, lalu tangan kosongnya menggandeng lengan Guntur, menarik kuat dan melangkah terburu-buru.

Semakin jauh mereka melangkah, keanehan pun terasa bertambah. Suhu udara turun, serta sinar matahari seolah tidak menembus rimbunnya dedaunan, maka cuaca tampak suram, mendung dan sedikit berkabut.

Srek, srek, srek ....

“Disini bersih dari rumput, tapi tumpukan daunnya tinggi sekali ya, Bu?” Guntur menginjak dedaunan kering.

Hamima sependapat dengan putranya. Pepohonan disini tumbuh rapat, dan dahannya saling bersinggungan, sangat rimbun sampai sinar matahari tidak dapat menembus ke tanah.

‘Mengapa perasaanku jadi gak karuan? Seperti ada yang mengikuti?’ tengkuk Hamima meremang, dia melepaskan genggaman tangan sebentar untuk mengusap belakang leher.

Eheekkk hekk ....

Pujiara merengek, tiba-tiba saja bergerak gelisah dalam gendongan kain panjang.

“Gapapa, jangan takut, kan kamu mau ketemu teman yang sering ngajak main,” Rosna berbisik pelan sekali di telinga kiri bayi mulai menangis pelan.

“Rosna, sini gantian gendong. Kamu pasti capek bopong Ara sedari tadi,” pinta Mima merasa sungkan, ia mempercepat langkah agar berdiri disamping tetangganya.

“Ini, biar buah tangannya gantian aku yang bawa.” Rosna mengendurkan simpul jarik terikat pada punggung.

Hamima mengangkat sang putri, lalu mengambil kain panjang dan mulai mengikat pada belakang pundak.

Barang yang dipinta mbah Nar dibawa oleh Rosna, dan dia gantian menggandeng tangan Guntur.

“Masih jauh gak, Rosna?” Hamima haus.

“Sedikit lagi sampai,” jawab santai wanita meneruskan perjalanan.

Kwak kwak kwak ....

“Bunyi burung apa itu, Bude?” Guntur mencari sumber suara terdengar melengking.

Hamima mempercepat langkah kaki, dia mulai takut sebab mengenali suara burung Gagak yang dikenal hewan pembawa kabar duka.

“Burung Gagak, peliharaannya mbah Nar. Itu atap gubuknya sudah kelihatan!” Dagunya terarah ke depan.

Gubuk simbah tepat ditengah-tengah hutan bersuhu dingin, cuaca mendung, dan berkabut tipis. Dikelilingi pohon coklat, ada juga tanaman herbal seperti Jahe, Kunyit.

‘Aku seperti berada di dunia lain,’ batinnya Mima berisik, sibuk menilai dengan sepasang mata bergerak liar memandangi sekeliling.

Tidak ada siapa-siapa di sana, tetapi Pujiara bertepuk tangan lalu melambai-lambai ke satu arah. Kakinya menendang-nendang perut ibunya, dia kesenangan.

Hamima memperlambat langkah, memandang mengikuti tangan putrinya menunjuk halaman belakang gubuk panggung beratap daun rumbia.

Samar-samar tampak nyala lampu, tetapi tidak bisa dipastikan dari obor atau damar.

Cuping hidung Hamima menyempit, semerbak wangi bunga Kamboja tercium kuat, arahnya dari tempat yang ditunjuk Pujiara.

“Gaboleh asal tunjuk, Dek!” Ditariknya jari sang putri, lalu wajah Ara disembunyikan ke dada atas.

“Tamunya sudah datang ternyata.” Mbah Nar membuka pintu depan gubuknya, menyambut Mima dan kedua anaknya. Ia berdiri di teras lebih tinggi dari tanah.

Gubuk mbah Nar ditopang batang kayu kuat, dan berdiri pada ketinggian satu meter dari tanah. Bagian kolong bisa dijadikan tempat bermain anak-anak.

“Mari masuk!” ucapnya mempersilahkan.

Rosna lebih dulu menaiki anak tangga empat buah, berdiri disamping simbah.

Guntur pun naik, saat sudah menjejakkan kaki di lantai papan teras rumah, ia melompat rendah, telapak kakinya seperti terkena setrum listrik bertenaga rendah.

“Kenapa, Guntur?” Mima mulai waspada, tanpa ragu naik ke atas, hendak menarik tangan putranya lalu menyuruhnya bersembunyi di belakang badan.

“Lantainya dingin sekali, Bu,” ucap Guntur terdengar meyakinkan.

Hamima pun merasakan hal sama, kakinya seperti menginjak bongkahan es sampai rasa dingin itu menjalar naik ke ubun-ubun kepala. Badannya nyaris menggigil.

“Disini memang lebih dingin dari hunian kalian, sebab dataran tinggi, dan dikelilingi hutan,” simbah menjelaskan.

Mbah Nar masuk ke dalam rumah tidak bersekat. Dari depan langsung tampak dapur berjarak sekitar sembilan meter. Lantai papan halus, dan bagian depan dekat pintu tergelar tikar anyaman daun, ada tiga jendela kayu yang dibiarkan terbuka.

Dekat dapur terdapat satu tilam diberi sprei polos warna putih, ada bantal tanpa guling. Lemari pakaian dua pintu terletak disamping tempat tidur.

Kesan pertama Mima saat menilai hunian sederhana ini — bersih, rapi, wangi segar dedaunan dan kayu kering.

Pujiara diturunkan di atas tikar, bayi cantik itu tidak langsung merangkak, dia duduk tenang menarik-narik ujung tikar yang tidak dianyam.

Rosna pergi ke dapur, meletakkan barang bawaan lalu menyeduh teh. Gerakannya natural, seolah sudah biasa berjibaku di rumah simbah.

“Mbah Nar tinggal sendirian di sini?” Hamima membuka obrolan, selain berbasa-basi tentu karena dorongan rasa penasaran.

“Tidak, banyak yang menemani,” jawab simbah.

Hampir saja Mima kelepasan bicara, beruntung masih bisa dicegah, dia hendak bertanya siapa yang menemani, sedangkan rumah simbah seperti hanya dihuni satu orang.

Dari tilam cuma satu, tidak ada lemari pakaian selain dua pintu, dan tak ada kamar, aneh rasanya kalau dihuni ramai-ramai.

Kwak kwak kwak ....

Seekor burung Gagak hinggap di jendela kayu, kepala mengangguk-angguk mengejutkan Guntur yang duduk tepat di bawahnya.

“Jangan takut, dia baik, teman simbah, sering menyiarkan berita kematian di desa,” tutur simbah santai dengan nada datar, dan ekspresi serius.

Guntur malah jadi takut, belum pernah dia mendengar tentang tugas burung Gagak, apalagi dirinya dibesarkan di kota.

Hamima merangkul pundak putranya yang duduk merapat.

“Ayo cicipi teh bunga Rosella, ditanam di kebun Simbah.” Rosna berjongkok, meletakkan nampan kayu di atas tikar.

Aroma teh tersebut tercampur wangi kayu manis, tercium segar.

Hamima menggenggam tangkai cangkir terbuat dari bambu sudah dihaluskan, modelnya unik, klasik.

Saat menempelkan tepian cangkir ke bibir, ia menghirup aromanya, lalu badannya tersentak ....

.

.

Bersambung.

1
Andriani
selalu di tunggu kk cerita keran dan kerennya.. 😍😍😍😍
myPuspa
Alhamdulillah akhirnya candra kanti mau rilis...
lop yu sekebon sehektar kk Cublik...
mau genre horor, mau genre lope2, apa aja asal karya kk Cublik pasti 👍👍👍
myPuspa
diriku malah paling suka cerita2 horormu kk Cublik...
maknyusss
myPuspa
apapun itu asal karya kk Cublik ditungguuuu.../Heart//Heart//Heart/
AFPA
tiba giliranmu penghianat!!!!
Aprisya
jadilah wanita kuat mima
AFPA
ayoo buruan lomba menggatal 🤣🤣🤣🤣🤣
AFPA
heh kelean mau setor nyawa....itu wilayah mbah nya arwan dana
Mumtaz Zaky
dulu kalian ada kasian gak sama istri juragan yg lg hamil... enak bgt u
Dibalik Senja
Awak manut wae thour ,gmn bagusnya aza'krn bagi awak smuanya bafus😍😍😍
mmh nengmuti
tebas aj jgn ksh ampun
Linda Liebeciicapclup
ayo kak semangat lanjut candra kanti, aku udah nungguin... kalo yg penasaran pasti dibaca kisah sblm ny... semangat y kak
Betri Betmawati
tak ada kata ampun untuk orang jahat seperti kau abdi dulu pas mau berbuat jahat apa pernah kau berfikir klu smua perbuatan mu ada balsan nya
udh kayk gini ja baru mau minta maaf selama ini kemana aja
yuyun Rahayu
aku ngikut kak Cublik aja,karena buat hiburan,mau horor kek apa lah itu,pokkny gassss keuennn🤭🤭
yuyun Rahayu: aseloleeeee💃💃💃
total 2 replies
Muhammad Arifin
sekarang minta ampun...lupa kah dirimu jika Arum juga hamil saat Arwan kau bunuh
lyani
paling dijadikan tumbal anakmu di
neni nuraeni
lah sia menta di ampuni Sien paeh,,,podaran be Arwan meh kacung2na si Geneng hiji2 modyar, ngurangan sugan kacungna,, lnjutt
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
enak aja mohon ampun dulu aja brutal membunuh nya🤭.... sekarang hadapi kematian kalian 🤣
neni nuraeni
walah hari pmblsan telah tiba seruu euy,,, ya atuh kak lanjutin cerita Candra kanti aku nunggu2 loh,, kangen ma Rajendra aku,, lnjutt
FiaNasa
paling jijik sama manusia yg jahatnya diluar kewajaran tp pas Kena balasan merengek² minta ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!