Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
inti jiwa yang tersembunyi
Keheningan di dalam aula makam terasa semakin berat setelah api obor padam.
Tidak ada cahaya selain pendaran tipis yang berasal dari pedang kuno Long Junwei yang masih tertancap di antara pecahan meja batu. Cahaya biru keperakannya berdenyut perlahan, seolah-olah pedang itu memiliki kehidupan sendiri.
Shen Xianle berdiri membelakangi Junwei.
Belati peraknya masih terangkat, ujungnya mengarah kepada Tetua Ghost. Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya tertuju kepada pria tua itu. Kata-kata yang baru saja didengarnya terus berputar di dalam kepalanya.
Inti Jiwa Magnolia Spiritual.
Racun darah.
Obat penawar.
Ekstraksi seluruh inti jiwa akan membuatnya mati.
Jika semua itu benar, maka selama ini dirinya bukan sekadar seseorang yang diselamatkan oleh Junwei.
Dirinya mungkin adalah obat yang sejak awal telah dipelihara untuk menyelamatkan hidup seorang pria.
"Xianle."
Suara Junwei terdengar dari belakangnya.
Hanya satu kata.
Namun Xianle bisa merasakan ketegangan yang tersembunyi di balik suara berat itu.
"Jangan panggil namaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa."
Xianle tidak menoleh.
"Aku ingin mendengar jawabannya dari mulutmu sendiri."
Junwei diam.
"Apakah yang dikatakan Tetua Ghost benar?"
Tidak ada jawaban.
Xianle perlahan mengepalkan tangannya.
"Jawab aku."
Tetua Ghost justru tertawa pelan dari seberang aula.
"Bagaimana? Bahkan sekarang dia masih membutuhkan waktu untuk menyusun kebohongan yang cukup meyakinkan."
"Diam."
Suara Junwei mendadak menggelegar.
Energi spiritual yang mengerikan menyapu seluruh aula. Lantai batu bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit. Retakan menjalar di sepanjang dinding makam seperti akar pohon yang tumbuh dengan cepat.
Tetua Ghost mengangkat tongkatnya.
Gelombang energi yang menerjangnya pecah sebelum mencapai tubuhnya.
"Temperamenmu tidak pernah berubah, Long Junwei."
Tetua Ghost tersenyum.
"Begitu seseorang menyentuh kelemahanmu, kau langsung kehilangan kendali."
Junwei tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju kepada Xianle.
"Sebagian dari perkataannya benar."
Jantung Xianle seakan berhenti berdetak.
Ia akhirnya berbalik. Mata mereka bertemu dalam kegelapan.
"Sebagian?"
Xianle mengulang perkataan itu dengan suara pelan.
"Jadi memang benar?"
Junwei menarik napas panjang.
"Di dalam tubuhmu memang terdapat Inti Jiwa Magnolia Spiritual."
Xianle merasakan ujung jarinya menjadi dingin.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?"
"Sejak malam aku menemukanmu di dasar tebing."
"Dan kau tidak pernah memberitahuku."
"Aku tidak bisa."
"Atau kau tidak mau?"
Junwei terdiam.
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada pedang.
Xianle menatapnya dengan mata yang mulai dipenuhi kekecewaan.
"Selama ini kau tahu sesuatu berada di dalam tubuhku. Kau tahu ibuku menanamkannya ketika aku masih bayi. Kau tahu bahwa inti itu berkaitan dengan racun darahmu. Tetapi kau tetap membiarkanku hidup dalam kebodohan."
"Aku sedang melindungimu."
"Melindungiku?"
Xianle tertawa pendek.
Suara tawanya terdengar getir di dalam aula makam.
"Apakah orang yang ingin melindungiku akan menyembunyikan kenyataan bahwa hidupnya mungkin bergantung pada kematianku?"
Junwei mengepalkan tangan.
"Aku tidak pernah berniat mengambil inti itu darimu."
Tetua Ghost langsung menyela.
"Pembohong."
Xianle mengangkat tangannya.
"Jangan."
Tetua Ghost berhenti.
Xianle menatap Junwei tanpa berkedip.
"Aku tidak ingin mendengar perkataan siapa pun lagi. Aku ingin kau menjawab satu pertanyaan."
Junwei mengangguk perlahan.
"Apakah kau pernah merencanakan mengambil Inti Jiwa Magnolia Spiritual dariku?"
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Junwei tidak langsung menjawab. Dan justru diamnya itulah yang membuat dada Xianle terasa sesak.
"Jawab."
"Aku pernah."
Dunia seolah berhenti.
Xianle menatapnya tanpa suara.
Junwei melanjutkan dengan tenang.
"Pada awalnya."
Tetua Ghost tertawa puas.
"Nah, akhirnya kau mengaku."
Junwei mengabaikannya.
"Ketika pertama kali menemukanmu, aku memang mengetahui keberadaan inti itu. Racun darah di tubuhku telah menyebar hingga meridian jantung. Para tabib memberiku waktu kurang dari satu tahun."
Xianle tidak berkata apa-apa.
"Aku mencari segala cara untuk bertahan hidup. Kemudian aku menemukan catatan mengenai Magnolia Spiritual. Catatan itu menyebutkan bahwa inti tersebut mampu memurnikan racun darah tertentu."
"Dan aku adalah wadahnya."
"Ya."
Satu kata itu membuat Xianle merasa seolah-olah tanah di bawah kakinya runtuh.
Junwei melanjutkan, "Namun catatan itu juga menyebutkan sesuatu yang tidak diketahui Tetua Ghost."
Mata pria tua itu menyipit.
Junwei menoleh kepadanya.
"Inti Magnolia Spiritual tidak dapat dipindahkan secara paksa."
Tetua Ghost tidak lagi tersenyum.
"Jika dipisahkan sebelum waktunya, bukan hanya pemilik inti yang akan mati. Racun dalam tubuh penerima juga akan menjadi tidak terkendali."
Xianle menatap Junwei.
"Lalu mengapa kau tetap mendekatiku?"
"Karena aku membutuhkanmu."
Jawaban itu terlalu jujur.
Justru karena itulah Xianle merasa semakin sulit bernapas.
Junwei menatapnya dalam-dalam.
"Aku membutuhkanmu untuk tetap hidup. Tetapi bukan untuk mati demi menyelamatkanku."
Xianle menggigit bibirnya.
"Lalu mengapa kau menyelamatkanku malam itu?"
"Karena setelah melihat keadaanmu, aku menyadari bahwa aku tidak sanggup melakukan apa yang semula kupikir akan kulakukan."
"Jadi?"
Junwei melangkah maju.
Xianle langsung mengangkat belatinya.
"Jangan mendekat."
Junwei berhenti.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai kepedihan di matanya.
"Aku menyelamatkanmu karena aku memilih untuk tidak menjadikan hidupmu sebagai harga kehidupanku."
Tetua Ghost mengetukkan tongkatnya ke lantai.
"Indah sekali."
Suaranya penuh ejekan.
"Namun kau lupa satu hal, Long Junwei."
Pria tua itu mengangkat tangannya. Dari balik lengan jubahnya, ia mengeluarkan sebuah keping batu hitam. Pada permukaannya terdapat lambang yang sama dengan stempel serigala bermata tiga.
"Racun darah yang kau bawa bukan racun biasa."
Mata Junwei berubah tajam.
"Tetua Ghost."
"Kau tahu dari mana racun itu berasal?"
Ghost tersenyum.
"Dari Lembah Terlarang."
Xianle mengernyit.
"Mustahil."
"Kenapa mustahil?"
Tetua Ghost mengangkat keping batu tersebut.
"Karena racun itu bukan berasal dari Lembah Terlarang."
Ia berhenti sejenak.
"Racun itu berasal dari Gerbang Surga Terlarang."
Ekspresi Junwei berubah.
Xianle menangkap perubahan itu.
"Junwei."
Ia menatap pria tersebut.
"Kau tahu tentang gerbang itu?"
Junwei tidak menjawab.
Xianle mulai memahami sesuatu.
Sejak menerima surat peninggalan ibunya, nama Gerbang Surga Terlarang terus muncul dalam berbagai petunjuk. Darah keluarga Lin. Magnolia Spiritual. Klan Serigala Hitam. Faksi Naga Perak.
Semua bagian itu ternyata terhubung. Tetapi ada satu hal yang belum masuk akal.
"Jika racunmu berasal dari Gerbang Surga Terlarang, lalu mengapa inti dalam tubuhku bisa menjadi penawarnya?"
Tetua Ghost tertawa.
"Karena ibumu sudah mengetahui semuanya sebelum kau lahir."
Xianle membeku.
"Selir Lin bukan sekadar menanamkan inti itu ke dalam tubuhmu untuk melindungimu."
Pria tua itu mengangkat keping batu hitam.
"Ia sedang mempersiapkanmu."
"Untuk apa?"
Tetua Ghost tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah dinding belakang makam.
"Untuk membuka gerbang."
Xianle mengikuti arah jarinya.
Di balik bayangan, perlahan tampak sebuah pahatan raksasa yang sebelumnya tersembunyi dalam kegelapan.
Sebuah pintu batu.
Di tengah pintu itu terdapat ukiran seorang perempuan yang sedang menggendong seorang bayi.
Di bawahnya terdapat tulisan kuno.
Junwei membaca tulisan tersebut lebih dahulu.
Wajahnya seketika berubah.
Xianle melihat ekspresinya.
"Apa yang tertulis?"
Junwei diam.
"Long Junwei."
Xianle melangkah mendekat.
"Aku bertanya apa yang tertulis."
Junwei akhirnya menjawab.
"Anak Magnolia akan membuka jalan menuju surga."
Xianle menatap ukiran perempuan itu. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar. Bentuk wajahnya.
Pakaian panjangnya.
Rambutnya.
Tangannya yang menggendong bayi.
"Itu..."
Suara Xianle bergetar.
"Ibuku."
Tetua Ghost mengangguk.
"Benar."
Xianle mendekati pintu batu tersebut.
Tangannya hampir menyentuh ukiran ibunya ketika tiba-tiba seluruh aula bergetar hebat.
KRAAAK!
Retakan menjalar di permukaan pintu. Pedang biru keperakan Junwei bergetar sendiri.
Xianle menoleh.
Cahaya putih mulai muncul dari telapak tangannya. Inti Magnolia Spiritual di dalam tubuhnya seakan terbangun.
Junwei langsung bergerak.
"Xianle, mundur!"
Terlambat.
Pintu batu terbuka sedikit. Dari celah sempit itu keluar cahaya merah gelap yang membuat udara di dalam makam berubah dingin.
Kemudian terdengar suara. Bukan suara manusia, Melainkan suara seorang perempuan yang sangat jauh.
"Xianle..."
Mata Xianle melebar.
Ia mengenali suara itu.
"Ibu?"
Junwei langsung menarik pedangnya.
"Jangan dengarkan!"
Suara itu kembali terdengar.
"Anakku..."
Xianle berdiri terpaku.
"Datanglah kepadaku."
Tetua Ghost tertawa.
"Sudah terlambat."
Pintu batu terbuka semakin lebar. Dari baliknya muncul bayangan seorang perempuan.
Wajahnya belum terlihat jelas. Namun suara itu kembali memanggil.
"Xianle..."
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki makam, wajah Junwei menunjukkan ketakutan yang sesungguhnya.
"Bukan dia."
Xianle menoleh.
Junwei menggenggam pedangnya erat-erat.
"Itu bukan ibumu."
"Kalau begitu siapa?"
Junwei menatap pintu yang terus terbuka.
"Makhluk yang selama ini bersembunyi di balik Gerbang Surga Terlarang."
Bayangan perempuan itu tersenyum. Dan cahaya merah memenuhi seluruh aula makam.