Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pintu penthouse tertutup rapat di belakang mereka.
Baskara segera membawa Alena ke kamar tidur utama, membaringkan tubuh istrinya yang terus menggigil kepanasan di atas ranjang king size yang luas.
Napas Alena semakin memburu, kulitnya memerah, dan kesadarannya benar-benar berada di ambang batas.
Tanpa ragu demi menyelamatkan kondisi istrinya, Baskara bergerak cepat.
Dengan tangan yang cekatan namun tetap terkontrol, ia melepas pakaiannya sendiri yang terasa menyesakkan, lalu perlahan membuka sisa gaun malam yang robek di tubuh Alena untuk meredakan panas ekstrem yang membakar wanita itu.
"Bas..." rintih Alena lemah, mencoba menutupi tubuhnya dengan sisa kesadarannya yang tipis.
Baskara mencondongkan tubuhnya, menangkup wajah Alena dengan kedua telapak tangannya yang hangat.
Suaranya terdengar serak, penuh penegasan yang menenangkan sekaligus menghanyutkan.
"Diam, Alena... kamu membutuhkannya," bisik Baskara tegas.
"Tapi, Bas..." protes Alena tertahan, napasnya tersengal tepat di depan bibir suaminya.
Belum sempat Alena melanjutkan kata-katanya, Baskara menepis keraguan itu dengan menyatukan bibir mereka.
Ciuman itu awalnya lembut, namun berubah menjadi dalam dan menuntut, menghapus seluruh sisa ketakutan dan siksaan obat yang meracuni tubuh Alena.
Kehangatan dan sentuhan penuh kepemilikan dari suaminya membuat benteng pertahanan Alena runtuh sepenuhnya.
Perlahan namun pasti, Alena membalas ciuman yang diberikan oleh suaminya, membiarkan malam itu dikuasai oleh gairah dan cinta yang membara di antara mereka.
Suara desahan terdengar jelas di kamar itu, berpadu dengan ritme napas yang berangsur-angsur tenang setelah badai gairah melanda.
Satu jam kemudian, Alena berbaring miring sambil mengatur napasnya yang masih tersengal.
Bulir-bulir keringat tipis membasahi pelipis dan punggungnya yang terekspos.
Rasa lelah yang luar biasa mendera tubuhnya, namun rasa malu jauh lebih mendominasi.
Dengan jemari yang gemetar, ia menarik selimut sutra putih untuk menutupi tubuhnya, pipinya merona merah padam hingga ke leher karena teringat betapa ia kehilangan kendali tadi.
Melihat istrinya yang salah tingkah, Baskara tersenyum tipis.
Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, lalu menarik pinggang ramping Alena agar menempel sempurna di dadanya.
"Jangan malu, Alena. Kita suami istri," bisik Baskara lembut di dekat telinganya.
Tanpa mempedulikan peluh yang masih menempel, Baskara membawa tubuh istrinya dalam dekapannya.
Ia mengecup dengan penuh kelembutan pada punggung Alena yang masih berkeringat, menyalurkan rasa aman dan kepemilikan mutlak.
Alena memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari pelukan sang suami. Namun, bayangan kejadian di rumah keluarga Baskara tadi sore kembali berkelebat di benaknya, menghadirkan rasa sesak yang belum sepenuhnya hilang.
"Bas, mereka tidak menyukaiku," ucap Alena parau, suaranya terdengar begitu rapuh di keheningan malam kamar tersebut.
Baskara mengelus rambut Alena dengan penuh kasih sayang, lalu mengecup puncak kepala istrinya.
"Sayang, kita bahas itu besok. Sekarang, istirahatlah," jawab Baskara mutlak, melindungi wanita itu dari segala beban pikiran yang ingin merusak malam mereka.
Alena menganggukkan kepalanya pelan. Menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan, ia membiarkan matanya terpejam, menyerah pada rasa lelah dan tertidur pulas dalam dekapan hangat Baskara.
Keesokan paginya, cahaya matahari merayap masuk melalui celah tirai penthouse, menyinari kamar tidur utama yang luas.
Baskara membuka matanya perlahan. Di sampingnya, Alena masih tertidur pulas, napasnya teratur dengan wajah yang menyisakan sedikit jejak kelelahan setelah malam panjang yang penuh gejolak.
Melihat wanita yang sangat dicintainya terlelap begitu rapuh, dada Baskara bergemuruh oleh rasa iba sekaligus kemarahan yang belum sepenuhnya padam.
Ia teringat bagaimana keluarganya kemarin menghina, merendahkan, hingga tega menjebak Alena dengan cara kotor.
Baskara bergerak hati-hati agar tidak membangunkan istrinya.
Ia meraih ponselnya yang diletakkan di nakas, lalu mendial nomor Tanti.
"Halo, Tanti," bisik Baskara pelan dengan suara baritonnya.
"Mulai hari ini, cari karyawan tambahan untuk mengurus toko roti Alena. Alena butuh istirahat total untuk beberapa waktu ke depan."
Di ujung sambungan, Tanti sempat terkejut namun langsung mengiyakan instruksi tersebut.
"Baik, Tuan. Saya akan segera mengurusnya."
"Bagus," balas Baskara singkat sebelum menutup sambungan teleponnya.
Ia meletakkan kembali ponselnya, lalu menatap wajah Alena yang tampak damai dalam tidurnya. Tekad di dalam hatinya semakin bulat.
"Untuk saat ini, Alena harus bersamaku. Aku tidak mau musuh-musuh menyerang istriku saat aku lengah," gumam Baskara penuh ketegasan.
Setelah merapikan selimut untuk menutupi tubuh istrinya dengan sempurna, Baskara beranjak dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk bersiap menghadapi hari baru dan memperhitungkan setiap orang yang berani menyakiti wanita miliknya.
Alena mengerjapkan matanya, merasakan setiap jengkal otot di tubuhnya terasa pegal dan nyeri.
Ia terduduk pelan, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ingatan tentang kejadian semalam—kericuhan di rumah keluarga Baskara hingga efek obat yang menyiksa—kembali menghantui pikirannya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Baskara yang keluar dengan handuk melilit pinggang, rambutnya masih basah meneteskan air.
Ia berhenti sejenak saat melihat Alena sudah terjaga.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Baskara dengan senyum tipis yang hangat.
Alena membalas dengan suara serak, "Selamat pagi, Bas. Kita di mana?"
"Di apartemenku," jawab Baskara singkat sambil berjalan mendekat.
Alena menunduk, meremas selimut di pangkuannya.
"Semalam..." ia menggantung kalimatnya, wajahnya kembali memerah saat memori tentang keintiman mereka semalam melintas.
Baskara duduk di tepi ranjang, lalu mencondongkan tubuh dan memberikan kecupan hangat di kening Alena yang masih terasa sedikit hangat.
Pria itu menatap istrinya dengan tatapan geli, namun juga penuh kasih.
"Kenapa? Kurang? Mau lagi?" ledek Baskara dengan nada jenaka, seringai tipis menghiasi wajahnya.
Alena langsung mendongak, matanya sedikit membelalak sementara pipinya semakin merona merah padam.
"Bas, serius sedikit," protes Alena sambil memukul pelan bahu suaminya, merasa malu sekaligus tersipu.
Alena menyingkirkan tangan Baskara dari bahunya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan sorot yang menyiratkan keraguan mendalam.
"Bas, sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Kalau hanya tentang wasiat ayahmu, lebih baik kita..."
Cethak!
Suara sentilan yang cukup nyaring menghentikan kalimat Alena.
Baskara baru saja menyentil kening istrinya dengan pelan, membuat Alena mengaduh kecil sambil mengusap dahinya.
"Ini tentang tanggung jawabku sebagai seorang anak, dan tidak ada kata perceraian di kamusku, Alena," ucap Baskara tegas, sorot matanya berubah menjadi lebih serius dan teduh.
Ia meraih kedua tangan Alena, menggenggamnya erat.
"Sejak dulu ayahku bekerja keras sendirian, tapi mama malah memilih lelaki lain demi harta. Aku hidup bersama ayahku sejak kecil, Alena. Dan sekarang, aku bertekad membuktikan kepada mendiang Ayah kalau aku memang bisa menjadi suami yang baik dan menjagamu."
Alena terdiam, merasakan ketulusan yang mengalir dari genggaman tangan suaminya. Namun, sebuah ganjalan kembali muncul di benaknya.
"Maaf tentang sepuluh poin persyaratan pernikahan yang aku berikan waktu itu," lanjut Baskara dengan nada yang sedikit melunak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Sebenarnya, aku melakukan semua itu hanya agar kamu mau menikah denganku."
Alena terperangah. "Bas...?"
"Apa kamu lupa dengan mendiang ayahku?" tanya Baskara balik.
Alena mengerutkan keningnya, mencoba memutar kembali memori masa lalunya.
"Aku lupa, Bas. Memangnya siapa beliau?"
"Kamu pernah menyelamatkan ayahku saat beliau terkena serangan jantung di depan toko rotimu," jawab Baskara pelan, menatap lurus ke mata istrinya.
Mendengar kata-kata itu, mata Alena melebar. Ia mencoba mengingat-ingat kembali foto pria paruh baya yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya saat membicarakan perjodohan mereka dulu.
Seketika, kepingan memori dari beberapa tahun lalu berkelebat di kepalanya.
"Bas, aku ingat..." cicit Alena tak percaya.
"Beliau waktu itu tiba-tiba pingsan di depan toko rotiku, dan aku panik lalu segera menghubungi ambulans serta memberikan pertolongan pertama. Tapi... kejadian itu sudah sangat lama sekali, Bas."
Baskara mengangguk pelan, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Alena.
"Memang sudah lama. Tapi mendiang Ayah tidak pernah melupakannya," ucap Baskara lirih.
"Kebaikan kecilmu hari itu meninggalkan kesan yang begitu besar baginya, hingga sebelum beliau menutup mata, beliau berpesan agar aku menemukan wanita berhati tulus sepertimu untuk menjadi pendamping hidupku."
Alena menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Bas, tapi keluarga besarmu menentangku. Mereka tidak akan pernah berhenti membuatku merasa rendah," keluhnya dengan nada getir.
Baskara menangkup pipi Alena, memaksa istrinya untuk menatap matanya.
"Biarkan saja, Alena. Aku tidak peduli dengan mereka. Apalagi dengan Billy—pria itu bukan hanya mantan kekasihmu, tapi dia juga sepupu yang paling busuk di keluarga kami. Tapi, bagaimana bisa kamu mengenal bajingan itu?"
Alena menghela napas panjang, bayangan masa lalunya kembali muncul.
"Ceritanya saat itu aku butuh tumpangan, dan dari situ kami kenalan. Tapi lama-kelamaan, dia justru sering mengejekku. Dia selalu mengatakan aku perawan tua..." Alena terdiam sejenak, wajahnya muram.
"Tapi memang benar, Bas. Aku sudah tua, aku bukan wanita muda yang cantik seperti Areta."
Baskara menatap Alena dengan tatapan tajam namun jenaka.
Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu dengan suara bariton yang menggoda.
"Umur kamu mungkin sudah banyak, Sayang, tapi tenaga kamu semalam... sangat 'menjepit' dan luar biasa," bisik Baskara sambil menaikkan satu alisnya, sengaja memancing reaksi istrinya.
Wajah Alena seketika memerah padam seperti kepiting rebus.
Ia mencubit pelan lengan suaminya, wajahnya tampak kesal namun tidak bisa menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.
"Bas! Sudah, Bas, hentikan!" serunya dengan nada yang tertahan, berusaha menutupi wajahnya dengan bantal.
Baskara tak bisa menahan diri lagi, ia tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar.
Tawa itu terdengar lepas dan jujur, suasana kamar yang tadinya tegang kini berubah menjadi jauh lebih ringan.
Bagi Baskara, melihat Alena yang tersipu malu adalah pemandangan paling berharga yang pernah ia miliki, sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada harta atau takhta keluarga yang selama ini membelenggunya.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭