NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

​"Diskualifikasi! Bocah haram itu pasti menggunakan teknik iblis terlarang atau menelan obat terlarang pemacu darah!"

​Suara raungan murka Tetua Agung Klan Li menggelegar dari panggung kehormatan tertinggi, memecah riuh rendah penonton yang masih terpaku. Wajah tua itu memerah padam bagai kepiting rebus, jarinya yang bergetar menunjuk lurus ke arah Wu Tian yang masih berdiri santai di tengah arena. Di bawah tribun Klan Li, tubuh Li Zhen yang remuk tengah digotong oleh para tabib dalam kondisi sekarat.

​"Bagaimana mungkin seorang murid luar berbakat sampah bisa mematahkan lengan zirah darah Pemurnian Qi tingkat puncak dengan tangan kosong?! Klan Wu harus memberikan penjelasan, atau turnamen ini kami anggap batal!"

​Mendengar ancaman itu, Tetua Agung Wu Cang tidak tinggal diam. Naluri politiknya sebagai penguasa oportunis langsung bergejolak hebat. Ia berdiri dari singgasananya, mengibaskan jubah emasnya dengan gerakan agung yang memancarkan tekanan spiritual masif, langsung meredam hawa kemarahan Klan Li.

​Bukan karena Wu Cang peduli pada keselamatan atau harga diri Wu Tian. Sama sekali tidak. Baginya, Wu Tian tetaplah seekor serangga kasta rendah dari cabang terpencil. Namun, melihat potensi Wu Tian yang bertubuh monster fisik, Wu Cang menyadari bahwa pemuda ini adalah "bidak catur" terbaik untuk menghancurkan mental dan kekuatan klan rival sebelum para jenius utama mereka turun ke final.

​"Hmph! Tetua Li, jagalah ucapanmu!" balas Wu Cang dengan suara dingin yang menekan.

​"Koloseum ini dilindungi oleh formasi pendeteksi pil terlarang kuno. Jika bocah itu menggunakan obat, formasi di bawah kakinya pasti sudah menyala merah. Mengatakan dia menggunakan teknik iblis hanya karena murid jeniusmu tidak mampu menahan pukulan fisiknya... bukankah itu hanya menunjukkan betapa rapuhnya didikan Klan Li?"

​Melihat angin politik berpihak pada mereka, salah satu tetua faksi murid dalam Klan Wu yang terkenal vokal dan bermulut tajam langsung berdiri di tepi panggung kehormatan. Dengan sengaja, ia mengalirkan tenaga dalam ke tenggorokannya agar suaranya membahana ke seisi Koloseum, berpura-pura menjadi pelindung yang adil.

​"Bagus sekali, Wu Tian! Hajar dan hancurkan semua lawanmu dari klan luar! Tunjukkan taring dan harga diri Klan Wu yang sesungguhnya!" teriak tetua tersebut dengan wajah penuh kebanggaan palsu.

​Teriakan provokatif itu murni merupakan bentuk manipulasi psikologis. Mereka sengaja menyanjung Wu Tian di depan umum agar pemuda itu merasa diakui oleh klan, dengan harapan bocah itu akan bertarung habis-habisan sampai mati seperti anjing pemburu setianya di babak semifinal besok demi nama baik faksi atas.

​Di atas panggung batu yang retak-retak, Wu Tian mendengar dengan sangat jelas setiap kalimat perdebatan, pembelaan palsu, hingga teriakan sanjungan dari panggung kehormatan.

​Namun, seulas pun rasa bangga atau haru tidak tampak di wajah datarnya. Sepasang mata hitam legamnya melirik sekilas ke arah deretan singgasana giok di atas sana. Di mata sang monster dari daratan Shenzhou yang kejam, intrik politik, kemunafikan para tetua, dan teriakan manis yang terselubung itu tidak lebih berharga daripada dengungan lalat atau serangga busuk yang berisik di atas tumpukan sampah. Mereka mengira sedang memanfaatkannya, tanpa tahu bahwa mereka hanyalah tontonan rekreasi sementara baginya.

​Tanpa memberikan penghormatan resmi atau membungkuk hormat kepada para tetua tertinggi—sebuah pelanggaran etika berat bagi murid klan normal—Wu Tian langsung berbalik badan. Ia melangkah santai turun dari panggung dengan kedua tangan diselipkan di dalam lipatan jubah biru tuanya. Sikapnya yang angkuh dan acuh tak acuh itu sempat membuat senyum di wajah para tetua Klan Wu membeku kesal, namun mereka terpaksa menahan amarah demi kelancaran rencana "Kuda Hitam" mereka.

​Begitu Wu Tian melangkah masuk ke dalam lorong gelap khusus peserta di bawah tribun, ketenangan sunyinya langsung dihancurkan oleh sergapan heboh dari dua sosok bertubuh kekar.

​"WU TIAN!!! KAU BENAR-BENAR DEWA!!!"

​BRUK!

​Wu Chen dan Wu Ao langsung memeluk pundak Wu Tian dengan sangat erat, mengguncang-guncang tubuh pemuda itu dengan wajah yang dipenuhi sisa-sisa histeria. "Demi leluhur, teknik meliukmu tadi saat menghindari belati kabut darah itu... bagaimana caramu melakukannya?! Itu seperti ular naga purba yang sedang mempermainkan mangsanya!" seru Wu Ao dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan murni.

​Di belakang kedua murid laki-laki yang heboh itu, Wu Lin berjalan mendekat dengan langkah pelan. Wajah cantiknya tampak merona merah halus di bawah remang lampu lorong. Jemarinya meremas saputangan sutranya yang telah robek menjadi beberapa bagian. Ada rasa bersalah yang terselip di dalam hatinya; ia merasa kebodohannya yang terlalu khawatir berlebihan semalam justru terlihat konyol, mengingat betapa mudahnya Wu Tian mematahkan lengan sang "Tangan Darah" di arena tadi.

​Wu Tian melepaskan diri dari rangkulan heboh kedua temannya dengan gerakan malas. Ia melangkah mendekati Wu Lin, lalu berhenti tepat di depan gadis itu. Sepasang mata hitamnya menatap goresan luka kecil yang telah mengering di pipinya akibat angin belati tadi, lalu beralih menatap lekat-lekat mata indah Wu Lin.

​"Sudah kubilang semalam, aku akan berhati-hati," ucap Wu Tian dengan nada suara datarnya yang khas, namun entah kenapa terdengar sangat intim di lorong yang sempit itu. "Luka kecil ini tidak menghitung apa-apa. Ingat janji jalan-jalanku besok setelah semua serangga ini kuselesaikan."

​BLUSH!

​Kalimat pendek yang sarat akan penagihan janji kencan itu seketika membuat wajah Wu Lin meledak dalam warna merah padam yang teramat pekat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia reflek menutupi wajahnya dengan saputangan robeknya, memicu siulan menggoda dari Wu Chen dan Wu Ao yang langsung membuat atmosfer lorong menjadi riuh oleh candaan anak muda.

​Sementara kehangatan kecil tercipta di lorong bawah, jalannya babak kedua di atas panggung utama berlanjut dengan ritme yang teramat cepat dan sepihak. Wu Jun memenangkan pertandingannya hanya dalam tiga jurus pedang emas, memamerkan keanggunan seorang jenius klan. Di partai lain, Wu Xue—sang Bidadari Es—membekukan seluruh tubuh lawan dari Sekte Pedang Langit beserta senjatanya dalam satu hentakan kaki dingin yang anggun, tanpa melepaskan satu sepatah kata pun.

​DONG...!!!

​Tepat ketika matahari mulai bergeser ke arah barat, gong penanda akhir babak kedua bergema besar. Menara formasi klan kembali menembakkan berkas cahaya pelangi raksasa ke langit Koloseum, merestrukturisasi bagan pertandingan untuk babak Semifinal esok pagi.

​Seluruh penonton di tribun, termasuk Wu Lin dan dua temannya, seketika mendongak menatap papan cahaya tersebut. Detik berikutnya, napas mereka seolah terhenti secara serentak. Skema busuk dan manipulasi dari Paviliun Tetua Klan Wu akhirnya mencapai puncaknya di atas bagan spiritual tersebut.

​Di baris pertama babak Semifinal, nama yang tertera adalah:

​Wu Tian (Murid Luar) VS Wu Yan (Murid Inti Peringkat Dua).

​Di seberang lorong arena, Wu Yan yang sejak tadi menahan murka hebat, perlahan mendongak menatap papan pengumuman tersebut. Sebuah seringai kejam yang teramat pekat dan haus darah perlahan terukir di wajah tampannya.

​Ia menatap ke arah kegelapan lorong tempat Wu Tian berada, mengacungkan jari telunjuknya lalu mengarahkannya ke tanah—sebuah janji pembantaian yang mutlak. Pertandingan esok hari bukan lagi sekadar turnamen perebutan poin klan, melainkan arena eksekusi berdarah di mana sang monster Shenzhou akan dipaksa melepaskan seluruh belenggu kemanusiaannya.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe tubuh fisik yang kuat😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
LanzT0k3
keren ❤️❤️
Danzo28: Terimakasih 🥳
total 1 replies
ibarumbung
mantap... lanjut thor
Danzo28: siap KA
ditunggu yahhh🥳
total 1 replies
Was pray
ceritanya bagus sih cuma up nya yg terlalu lama dan sedikit pula... ntar para reader mundur Krn gak sabar nunggu up nya
Was pray: oke... 👍
total 2 replies
Was pray
sayang sekali wu Tian kuat tapi gaya bertarungnya gak ada seninya, kayak babi hutan yg nyruduk
Was pray
cari uang lah.. wu Tian, masak mau mengandalkan diberi makan sama orang lain terus?
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo Thor semangat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mereka tidak tau monster sesungguhnya mulai bangkit😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
monster sesungguhnya mulai beraksi👍😄😄
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii ayooooo bantaaaaaaaiiiiii 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehe..aroma pembantaian nih 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waduh konspirasi tersembunyi 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehehe pura2 jadi babi🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha harga diri yang hancur🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
alur ceritanya bagus dan menarik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
baca beberapa chapter di awal cukup bagus alur ceritanya 👍
ibarumbung
alur cerita yang bagus
Danzo28: Terimakasih
semoga betah yahh
Happy reading 🥳🥳🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!