Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Fitnah yang Terbongkar
Mirna buru-buru mencari alasan. "Saya cuma khilaf. Waktu itu saya emosi karena Daril terus difitnah."
"Fitnah yang mana?" tanya Hartato.
Mirna berpikir cepat. "Katanya anak saya cuma numpang hidup sama Vira."
Vira tersenyum masam. Dalam hati berkata, "Itu memang kenyataannya."
Hartato menggeleng pelan. "Kalaupun Ibu sedang emosi, itu bukan alasan untuk menyebarkan tuduhan yang belum tentu benar."
Mirna menggigit bibirnya. "Saya juga tidak pernah bilang itu pasti benar."
Bu RT kembali angkat bicara. "Tapi Ibu menyampaikannya seolah-olah itu fakta."
"Iya, Pak," sahut salah seorang ibu. "Makanya kami percaya."
"Saya juga," timpal ibu lain. "Kalau cuma gosip, mungkin saya gak akan percaya. Tapi yang ngomong ibu dari mantan pacarnya sendiri."
Mirna langsung pucat. Ia baru sadar, justru statusnya sebagai ibu Daril membuat ucapannya dianggap paling meyakinkan oleh warga.
Pak Kades menatap Mirna tanpa berkedip. "Bu Mirna, perkataan Ibu membuat nama baik seseorang rusak. Tokonya sepi. Penghasilannya menurun. Semua itu berawal dari ucapan yang tidak bisa Ibu buktikan."
Mirna menundukkan kepala. "Apalagi yang harus aku katakan? Aku udah gak bisa membela diri lagi."
Rahangnya mengatup rapat, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Tenang Mirna. Tenang." Mirna menenangkan dirinya sendiri. "Ini baru kebohongan pertama yang kebongkar, masih ada dua tuduhan lain yang belum dibahas. Dan itu bukan kamu."
"Tega sekali," batin Arvin. "Padahal Bu Mirna juga perempuan."
Pak Kades memandang Mirna beberapa saat. "Baik. Karena Ibu tidak dapat menunjukkan bukti yang mendukung tuduhan tersebut, kesaksian Bu Rini beserta saksi-saksi lain kami catat sebagai fakta bahwa gosip pertama berasal dari Ibu."
Beliau menutup lembar pertama berkas di hadapannya. "Sekarang kita beralih ke gosip kedua."
Tatapannya beralih kepada Daril. "Gosip yang menyebut hubungan Vira dan Daril semasa berpacaran telah melewati batas."
Pak Kades membuka lembar berikutnya. "Untuk gosip kedua, saya panggil Saudara Junaedi."
Seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri dari bangkunya, lalu berjalan ke depan.
"Saudara Junaedi," ujar Pak Kades, "di mana Saudara pertama kali mendengar gosip mengenai hubungan Vira dan Daril?"
"Di warung kopi, Pak," jawab Junaedi.
"Siapa yang membicarakannya?"
"Awalnya kami cuma ngobrol soal kabar Vira yang mau dilamar Hartato, Pak"
Pak Kades mengangguk. "Lalu?"
"Terus ada yang bilang kalau sekarang malah beredar gosip Vira sudah gak perawan."
Pak Kades kembali bertanya, "Saat itu Daril ada di sana?"
"Iya, Pak."
"Apa yang dilakukan Daril?"
Junaedi melirik sekilas ke arah Daril sebelum menjawab. "Awalnya dia pura-pura kaget. Dia bilang, 'Hah? Dari mana dengarnya?'"
"Setelah itu?"
"Kami bilang gak tahu siapa yang mulai," jawab Junaedi. "Tapi gosipnya udah ramai."
Pak Kades mencatat sesuatu.
Junaidi melanjutkan, "Lalu ada yang bilang sama Daril, 'Kamu mantannya. Masa gak tahu apa-apa?'"
"Jawaban Daril?"
Junaedi mengingat-ingat. "Dia diam dulu. Nyalain rokok, terus bilang..."
Junaedi menirukan ucapan Daril. "'Namanya juga kami pacaran hampir empat tahun.'"
Ruangan mulai kembali dipenuhi bisik-bisik.
Pak Kades mengangkat tangan agar semua tenang. "Apakah setelah itu Daril mengatakan hubungan mereka sudah melewati batas?"
Junaedi menggeleng. "Tidak secara langsung, Pak."
Pak kades menatap lurus pada Junaidi. "Lalu kenapa gosip itu menyebar?"
"Karena setelah itu kami tanya lagi."
"Apa yang ditanyakan?"
"'Jangan-jangan gosip itu benar?'"
Pak kades kembali mencatat. "Jawaban Daril?"
"'Maaf. Aku gak enak kalau harus ngomongin mantan. Tapi... aku cuma bisa bilang hubungan kami memang jauh lebih dekat daripada yang orang-orang kira.' Gitu Pak, katanya."
Ruangan kembali riuh.
Pak Kades memandang Junaedi. "Masih ada lagi?"
"Iya, Pak."
"Silakan."
"Setelah kami mulai menyimpulkan sendiri, Daril bilang, 'Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Apa pun yang terjadi, aku tetap gak mau jelek-jelekin Vira.'" Junaedi menarik napas. "Justru setelah ucapan itu, kami semua mengira gosip tersebut benar."
Pak Kades mengangguk pelan. "Apakah Daril pernah membantah bahwa hubungan mereka tidak melewati batas?"
"Tidak pernah, Pak," jawab Junaidi mantap.
"Apakah Daril pernah mengatakan, 'Itu fitnah'?"
Junaidi menggeleng. "Tidak."
"Apakah Daril pernah meluruskan kesalahpahaman yang muncul?"
Junaedi kembali menggeleng. "Tidak juga."
Pak Kades menutup buku catatannya. "Baik."
Beliau lalu menatap Daril dengan sorot mata tajam. "Saudara Daril."
Daril mengangkat wajah perlahan.
"Saudara memang tidak pernah mengucapkan kalimat 'Vira sudah melakukan hubungan di luar nikah'."
Daril tampak sedikit lega.
Namun ucapan Pak Kades berikutnya membuat wajahnya kembali menegang. "Tetapi Saudara sengaja memilih kalimat-kalimat yang membuat orang lain menarik kesimpulan itu sendiri."
Daril menunduk dengan kedua tangan meremas kain celananya sendiri.
"Saudara tahu persis bagaimana masyarakat akan menafsirkan ucapan Saudara." Pak Kades berhenti sejenak. "Dan ketika mereka mulai salah paham, Saudara tidak meluruskan. Justru Saudara membiarkan bahkan memperkuat dugaan tersebut."
Beliau menatap Daril lurus. "Itu namanya menggiring opini."
Daril menelan ludah.
Vira tersenyum getir. Ia sekarang baru tahu bagaimana sifat asli pria yang di kehidupan sebelumnya sangat ia cintai. "Aku benar-benar buta. Hanya karena merasa berhutang budi, aku rela mengorbankan diri untuk pria jahat kayak dia."
"Sekarang saya tanya langsung." Pak Kades berbicara dengan nada tegas. "Apakah selama hampir empat tahun berpacaran, Saudara pernah melakukan hubungan yang melewati batas dengan Vira?"
Seluruh pasang mata langsung tertuju kepada Daril, termasuk Arvin.
Vira menatap pria itu datar nyaris dingin. "Kamu gak bisa lagi sembunyi di balik kalimat-kalimat yang menggantung, Ril. Kali ini, kamu harus jawab dengan jelas."
Daril menelan ludah. Tatapan puluhan pasang mata membuat tenggorokannya terasa kering.
"Jawab, Daril," ujar Pak Kades dengan tenang.
Daril menarik napas panjang. "Tidak, Pak."
Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.
"Berarti memang gak pernah."
"Lalu kenapa ngomong begitu?"
Pak Kades kembali bertanya. "Jadi selama hampir empat tahun berpacaran, kalian tidak pernah melakukan hubungan yang melewati batas?"
"Tidak pernah, Pak."
Pak Kades mengangguk pelan. "Kalau begitu, kenapa waktu di warung kopi Saudara mengatakan hubungan kalian jauh lebih dekat daripada yang orang-orang kira?"
Daril buru-buru menjawab. "Saya gak pernah bilang kami melakukan apa-apa, Pak."
"Tapi Saudara membiarkan orang menyimpulkannya sendiri."
Daril menggeleng. "Itu bukan salah saya. Mereka yang berpikir sendiri."
Rahang Arvin mengeras. "Aku gak nyangka dia orang yang seperti itu. Benar-benar brengsek."
Pak Kades tersenyum tipis. "Baik."
Beliau mengambil sebuah gelas berisi air putih yang berada di atas meja. "Kalau saya berkata..."
Pak Kades mengangkat gelas itu. "Di dalam gelas ini ada sesuatu yang berbahaya."
Beliau berhenti sejenak. "Lalu saya diam."
Pak Kades menyapukan pandangannya ke semua orang yang hadir. "Menurut kalian, apa yang akan dipikirkan orang?"
...✨"Kebohongan mungkin bisa dipercaya oleh banyak orang, tetapi kebenaran hanya membutuhkan satu kesempatan untuk membungkam semuanya."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu