Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*5
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Irza terus menatap layar ponsel di mana nomor kontak Asha ada di depan layar tersebut. Fokusnya tak teralihkan sedikitpun dari layar ponsel itu. Seolah, di sana ada hal yang paling mengasikkan untuk di lihat.
Pak Kamil, sopir yang selalu mengantar tuan muda Rahardi itu ke manapun si tuan muda ingin pergi, sudah melirik tuan mudanya berulang kali. Perhatiannya terpecahkan karena Irza yang biasa suka menikmati dunia luar dari balik kaca mobil, kini malah sibuk memperhatikan layar.
"Tuan muda."
"Eh, iya?"
"Tuan muda sedang memperhatikan apa?"
Irza mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Itu ... sedang lihat saja, Pak."
"Tumben lihat layar ponselnya seserius itu, Tuan muda. Kayak ada yang paling asik aja."
Irza hanya bisa nyengir kuda saja. Dia tidak punya jawaban untuk apa yang baru saja pak Kamil katakan. Beberapa saat kemudian, perhatian yang awalnya berhasil ia alihkan, kini kembali fokus ke satu pandangan. Lagi-lagi Irza menatap layar ponselnya dengan pandangan yang serius.
'Mama benar. Aku hanya kurang keberanian sebelumnya, hingga sampai ke titik ini tidak berhasil mendekati orang yang aku suka.' Anak itu bicara dalam hati.
'Apa ... aku hubungi saja dia sekarang? Ku ajak ketemu untuk bicara soal perjodohan itu. Atau, aku .... Nggak. Jangan sekarang. Karena ini bukan saat yang tepat.'
Ada akhirnya, Irza tetaplah Irza. Keberaniannya untuk berbicara dengan Asha tetap tidak bisa ia bangun walau hanya bicara lewat udara melalui pesan singkat saja.
'Ya Tuhan ... kenapa ini sulit sekali buat aku?'
"Tuan muda. Kita sudah sampai do gerbang sekolah sekarang."
"Ah. Maaf, pak Kamil. Aku turun sekarang."
Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Irza tetap melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan. Belajar dengan baik. Mengabaikan cemoohan yang teman sekampusnya berikan. Lalu, melewati waktu dengan tenang seperti biasa.
Padahal sesungguhnya, hati Irza tidak setenang yang dia perlihatkan di luaran. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja sejak kemarin. Pikirannya pun sedang terbebani dengan orang yang sangat ia sukai.
'Mungkin aku harus temui dia saat jam kuliah selesai.'
'Ayo, Za. Kamu bisa, Za. Bisa.'
Beberapa saat kemudian, waktu kuliah akhirnya usai. Irza bergegas membereskan barang-barang miliknya. Lalu, segera beranjak meninggalkan kelas.
Di lorong menuju kelas Asha, pria itu malah bertemu dengan geng anak nakal yang suka mengganggu.
"Eh, mas Irza. Mau ke mana, Mas? Jalan pulang di sana noh," ucap salah satu dari tiga orang cowok yang sedang berdiri di lorong tersebut.
"Ada urusan."
"Ooo ... mas Irza ada urusan. Kamu dengar itu, si mas nya ada urusan."
"Aku sedang tidak ingin bercanda. Tolong menyingkir."
"Astaga, Mas. Galak amat."
"Iya, Mas. Jangan galak-galak. Entar gak ada cowok yang mau sama kamu lho."
Cowok? Ah, Irza sudah kebal akan kata-kata itu. Katanya memang tidak salah. Tapi makna dibalik kata itulah yang sangat salah. Mereka selalu mencemooh Irza yang gemulai dengan hal-hal yang bertolak belakang dengan karakter sebenarnya.
Mereka selalu beranggapan kalau Irza yang gemulai ini tidak normal. Sudah belok atau apapun itu. Tentu saja itu cukup untuk menyakiti hati Irza. Walau fisiknya bertolak belakang dengan lelaki kekar yang terlihat pada umumnya. Tapi hatinya tetap normal. Batinnya tidak belok sedikitpun.
Irza menggenggam tali tas punggung yang terpasang di bahunya. Tatapannya tajam bukan kepalang. Tapi, amarahnya tidak lepas. Amarahnya masih tertahan dengan baik. Nada bicaranya juga masih rendah.
"Tolong jangan halangi jalan ku sekarang. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Menyingkir lah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni candaan kalian."
Irza langsung melangkah setelah melihat celah untuk pergi dari tempat tersebut. Hidupnya memang tidak mudah. Saat ia berjalan, cemoohan terus saja mengiringi langkah kakinya. Tawa mengejek jarang tinggal dari telinga. Selalu saja ada. Bahkan, bisikan-bisikan kecil tentang fisiknya tak pernah mereda, atau berkurang sedikitpun. Padahal, mereka semua tidak ada baru mengenali dia. Mereka sudah kenal sejak lama. Tapi tetap saja, masih menatapnya dengan tatapan asing penuh akan penghakiman.
'Abaikan, Irza. Abaikan. Semua akan baik-baik saja. Kamu sudah terbiasa. Semua itu bukan apa-apa.'
Perjalanan singkat yang terasa sangat panjang bagi Irza akhirnya sampai ke tempat yang ingin pria itu tuju. Kelas Ashanti yang ada di ujung lorong kampus tersebut.
Sampai di depan kelas, ia langsung di tatap dengan tatapan asing. Namun, dia mengabaikan tatapan itu. Sayangnya, saat mata menelusuri setiap tempat dari ruang kelas yang selama ini Asha tempati saat jam kuliah berlangsung, orang yang Irza ingin temui tidak terlihat di sana.
"Maaf, ada perlu apa?" Tanya seorang perempuan yang tak lain adalah teman dekat Asha.
"Eee ... Asha .... Asha di mana?"
Gadis itu menoleh ke samping tempat di mana teman wanita yang lainnya masih duduk manis. Sesaat mereka saling bertukar pandang karena pertanyaan tersebut.
"Sha tidak masuk. Ia izin hari ini."
Seketika, harapan Irza langsung pupus. Semangat yang awalnya ia bangun dengan susah payah, kini menghilang. Putus asa pun datang melanda.
"O-- oh ... begitu?"
"Iya. Memangnya, ada urusan apa nyari Asha?" Akhirnya, gadis yang masih duduk itu ikut bicara.
Irza hanya bisa tersenyum kecil sambil menggeleng. "Nggak. Cuma keperluan kecil saja."
"Terima kasih," ucap Irza sebelum beranjak meninggalkan pintu kelas Asha.
Baru juga beberapa langkah Irza beranjak, suara berisik langsung terdengar dari dalam kelas tersebut. Suara itu seakan sangat tidak sabar untuk membicarakan dirinya di belakang. Tidak menunggu dirinya hilang dari pandangan lagi.
"Dia Irza kan? Anak fakultas ekonomi yang gemulai itu?" Salah satu siswa angkat bicara.
"Ya iyalah. Gak lihat kamu barusan gaya jalannya. Uh ... lemah gemulai. Lebih lembut dari perempuan."
"Sayang banget lho dengan wajah setampan itu, kalo kekar kan luar biasa banget."
"Rugi banget mamanya ngelahirin dengan wajah yang setampan itu tapi malah jadi pria kemayu."
Ucapan itu masih bisa Irza dengar dengan sangat jelas. Kalau ditanya hatinya terluka atau baik-baik saja. Jelas jawabannya terluka. Sangat-sangat terluka. Fisiknya selalu saja jadi bahan omongan padahal dia sama sekali tidak menginginkan hal itu.
Irza mempercepat langkah kakinya agar tidak lagi mendengar apa yang mereka bicarakan. Sementara itu, di dalam kelas, Cindy dan Laura yang diam sejak tadi akhirnya bicara juga.
"La, dia nyariin Asha buat apa?"
"Ya mana aku tau. Mungkin Sha bikin si gemulai ini terusik barang kali," ucap Laura enteng tanpa beban.
"Astaga. Mana mungkin. Sha gak mungkin ganggu orang. Apalagi dia kan?"
"Ya, aku tahu. Aku kan cuma jawab asal aja, Cindy. Kita ini kan teman Sha. Ya jelas kita tahu dong kek mana wajah asli teman kita."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi