NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat

Pagi itu, kantor Orion Creative terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa karyawan berdiri di depan mesin kopi, sebagian lagi sibuk membahas proyek baru yang kabarnya bernilai miliaran rupiah.

Nadira baru saja keluar dari lift ketika suara yang sudah mulai dikenalnya menyapa dari belakang.

"Selamat pagi, Partner."

Langkahnya berhenti.

Ia menarik napas panjang sebelum menoleh.

Arga berdiri beberapa meter di belakangnya sambil membawa dua map dan tas selempang yang tampak asal disampirkan.

"Aku belum pernah setuju dipanggil partner."

"Pak Dimas sudah setuju."

"Aku belum."

Arga tersenyum santai.

"Berarti kita tinggal menunggu kamu ikhlas."

Nadira memilih berjalan meninggalkannya.

"Kayaknya prosesnya lama."

"Aku orangnya sabar."

"Itu baru lelucon pertama hari ini."

"Masih ada stok."

"Tolong habiskan buat diri sendiri."

Arga hanya tertawa kecil.

Entah kenapa, setiap kali Nadira membalas ucapannya, ia justru terlihat semakin senang.

---

Setibanya di meja kerja, Nadira langsung membuka laptop.

Belum lima menit bekerja, notifikasi dari aplikasi kantor berbunyi.

**Arga Mahendra mengundang Anda ke ruang diskusi pukul 09.00.**

Ia mengernyit.

Tidak lama kemudian, pesan lain masuk.

> **Arga:** *Biar nggak bolak-balik revisi. Kita samain dulu konsepnya.*

Nadira membalas singkat.

> **Nadira:** *Oke.*

Hanya satu kata.

Tidak lebih.

---

Pukul sembilan tepat, Nadira memasuki ruang diskusi.

Arga sudah lebih dulu berada di sana. Di atas meja tersusun beberapa lembar hasil riset, sticky notes berwarna-warni, dan sebuah laptop yang dipenuhi sketsa konsep.

"Kamu datang tepat waktu."

"Aku memang selalu tepat waktu."

"Aku tahu."

"Kok tahu?"

"Tiga hari terakhir aku lihat sendiri."

Nadira terdiam.

Ia baru sadar Arga ternyata cukup memperhatikan kebiasaan orang.

"Mulai?"

Arga mengangguk.

Selama hampir satu jam mereka membahas kebutuhan klien.

Awalnya Nadira mengira Arga hanya pandai bercanda.

Ternyata pria itu mampu menjelaskan strategi pemasaran dengan rinci. Ia tahu kapan harus serius, kapan harus mendengarkan, dan tidak memotong pembicaraan saat Nadira sedang menyampaikan pendapat.

Beberapa kali mereka bahkan memiliki ide yang sama.

"Aku pikir konsep visualnya lebih sederhana," ujar Nadira sambil menunjuk layar.

"Aku juga."

"Tapi target pasarnya keluarga muda."

"Iya."

"Berarti harus lebih hangat."

Arga tersenyum.

"Nah, kita sejalan."

Kalimat itu membuat Nadira sedikit terdiam.

*Aneh... ternyata dia bisa diajak kerja.*

---

Rapat kecil mereka selesai menjelang makan siang.

Saat keluar ruangan, Rina menghampiri Nadira sambil menyenggol pelan lengannya.

"Gimana partner barunya?"

"Biasa."

"Biasa?"

"Iya."

"Padahal tadi dari luar aku lihat kalian akur."

"Itu kerja."

"Kerja juga bisa bikin orang saling kenal."

Nadira hanya menggeleng.

"Jangan mulai."

Rina tertawa.

"Oke, oke."

---

Siang itu, seluruh tim memutuskan makan di kantin kantor.

Nadira mengambil baki makanannya lalu mencari meja kosong.

Sayangnya...

Satu-satunya kursi yang tersisa berada tepat di depan Arga.

"Silakan."

"Aku bisa cari tempat lain."

"Udah penuh."

Nadira melihat sekeliling.

Benar.

Semua meja terisi.

Dengan enggan ia duduk.

Belum sempat mulai makan, Arga tiba-tiba berdiri.

"Nasi goreng satu, ya, Bu."

Nadira mengangkat kepala.

"Kamu belum makan?"

"Belum."

"Lho, terus dari tadi?"

"Ngantri buat kamu dulu."

Nadira mengernyit.

"Buat apa?"

"Soalnya tadi lihat kamu lagi revisi. Takut keburu habis."

Nadira tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan,

"Aku nggak minta."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

Arga tersenyum kecil.

"Kan tetangga harus saling bantu."

"Tetangga atau partner?"

"Dua-duanya."

Nadira menggeleng pelan.

"Kalau terus begini, orang kantor bisa salah paham."

Arga tertawa.

"Emang kenapa kalau salah paham?"

"Itu nggak lucu."

"Oke."

Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Nggak bercanda lagi."

---

Menjelang sore, Pak Dimas memanggil mereka ke ruangannya.

"Aku sudah lihat hasil diskusi kalian."

Beliau membuka beberapa lembar proposal.

"Bagus."

Nadira mengangguk.

"Terima kasih, Pak."

"Tapi masih ada yang kurang."

"Apa itu?"

"Kalian terlalu fokus pada konsep."

Pak Dimas tersenyum tipis.

"Coba turun langsung ke lokasi proyek besok."

"Survey?"

"Iya."

"Kalian berdua saja."

Nadira spontan menoleh ke arah Arga.

Arga juga tampak sedikit terkejut.

"Berdua, Pak?"

"Iya."

"Supaya keputusan di lapangan lebih cepat."

Nadira membuka mulut hendak menyanggah, tetapi Pak Dimas sudah lebih dulu menambahkan,

"Mobil kantor penuh. Jadi silakan atur sendiri berangkatnya."

Keluar dari ruangan, suasana langsung hening.

Arga akhirnya memecah keheningan.

"Naik mobilku aja."

"Nggak."

"Kenapa?"

"Aku bawa motor."

"Kalau hujan?"

"Aku bawa jas hujan."

"Kalau panas?"

"Aku pakai sunscreen."

Arga menahan tawa.

"Kamu memang selalu punya jawaban ya?"

Nadira menatap datar.

"Aku cuma nggak mau merepotkan orang."

Arga mengangguk pelan.

"Boleh jujur?"

"Apa?"

"Kayaknya..."

Ia berhenti sejenak.

"...kamu terlalu terbiasa ngurus semuanya sendiri."

Kalimat itu membuat Nadira terdiam.

Tidak ada nada mengejek.

Tidak ada candaan.

Hanya sebuah pengamatan sederhana.

Entah kenapa, kalimat itu terasa menembus dinding yang selama ini ia bangun.

Namun sebelum Nadira sempat menjawab, ponselnya berdering.

Layar menampilkan nama yang membuat wajahnya berubah seketika.

**Mama.**

Ia segera mengangkat telepon.

"Halo, Ma?"

Suara di seberang terdengar panik.

"Nadira... kamu bisa pulang cepat? Mama butuh bantuan."

Jantung Nadira langsung berdegup lebih cepat.

"Ada apa, Ma?"

"Papa masuk rumah sakit."

Wajah Nadira seketika pucat.

Ponselnya hampir terlepas dari genggaman.

Arga yang berdiri di depannya langsung menyadari perubahan ekspresinya.

"Nadira..."

Namun Nadira tidak menjawab.

Pikirannya hanya dipenuhi satu hal.

**Papa.**

**Bersambung ke Episode 4...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!