NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.

Sejak pagi, suasana sekolah sudah jauh lebih ramai dari biasanya. Para siswa berlalu-lalang membawa perlengkapan, beberapa guru sibuk mengawasi jalannya acara, sementara anggota OSIS terlihat mondar-mandir memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Alesha berdiri di tengah keramaian sambil melihat sekeliling.

"Ramai banget."

Dinda yang berdiri di sampingnya mengangguk.

"Iya. Dan ingat, kamu punya tugas hari ini."

Alesha langsung mengangguk serius.

"Tenang. Aku tidak akan membuat masalah."

Dinda menatapnya curiga.

"Kalimat itu justru membuat aku khawatir."

Alesha langsung menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena biasanya setelah bilang begitu, ada saja kejadian."

Alesha hanya tertawa kecil.

Sementara itu, di depan lapangan, Arka sedang memberikan arahan terakhir kepada para anggota.

"Pastikan semua bagian berjalan sesuai jadwal. Kalau ada masalah, segera laporkan."

"Baik, Ka."

Arka memang selalu seperti itu. Tegas, tenang, dan sulit terlihat panik meskipun situasi sedang ramai.

Kevin yang kebetulan melewati lapangan bersama Reza dan Alvian melihat adiknya yang sedang membantu.

"Dia benar-benar ikut."

Reza tersenyum.

"Masih nggak percaya?"

"Percaya. Cuma heran."

Alvian tertawa.

"Kenapa?"

"Karena biasanya dia lebih suka cari tempat tidur daripada kegiatan."

Mereka tertawa kecil.

Namun Kevin diam-diam merasa senang melihat Alesha.

Sejak pindah ke sekolah baru, adiknya mulai berubah sedikit demi sedikit.

Bukan berubah menjadi orang lain.

Tapi mulai belajar bertanggung jawab.

Saat acara dimulai, Alesha sibuk membantu mengarahkan peserta dan mencatat beberapa hal.

Beberapa kali ia hampir lupa tugasnya karena terlalu asyik mengobrol dengan siswa lain.

"Alesha."

Suara Arka membuatnya langsung berhenti.

Ia menoleh.

"Iya?"

"Daftar peserta."

Alesha langsung melihat tangannya.

Ia baru sadar bahwa ia masih memegang daftar yang seharusnya diberikan kepada Arka.

"Oh iya."

Ia menyerahkannya.

Arka menerima.

"Jangan melamun saat bekerja."

Alesha langsung mengangguk.

"Iya, Pak Ketua OSIS."

Arka menatapnya datar.

"Jangan panggil begitu."

Alesha tersenyum jahil.

"Kenapa? Kan benar."

Arka hanya menghela napas kecil lalu pergi.

Dinda yang melihat kejadian itu langsung tertawa.

"Kamu satu-satunya orang yang berani bercanda begitu sama Arka."

Alesha mengangkat bahu.

"Dia juga nggak marah."

"Itu karena mungkin dia sudah terbiasa."

Alesha tersenyum kecil.

Tidak terasa, waktu berjalan cepat.

Acara pertama selesai dengan lancar.

Alesha duduk sebentar di pinggir lapangan sambil minum.

"Capek?"

Dinda bertanya.

"Sedikit."

"Tapi?"

Alesha tersenyum.

"Seru."

Dinda ikut tersenyum.

"Aku senang lihat kamu sekarang."

Alesha menoleh.

"Kenapa?"

"Awalnya kamu kelihatan takut banget pindah ke sini."

Alesha terdiam.

Ia memang masih ingat hari pertama datang.

Sekolah baru.

Teman baru.

Lingkungan baru.

Semuanya terasa asing.

Tapi sekarang...

Ia mulai merasa nyaman.

"Kayaknya aku beruntung."

Dinda mengangguk.

"Iya."

Di sisi lain, Kevin sedang membantu bagian lain bersama Arka.

"Adik lo cepat beradaptasi."

Kevin melihat ke arah Alesha.

"Iya."

Arka ikut melihat.

"Dia tidak seperti murid baru."

Kevin tersenyum kecil.

"Memang sifatnya begitu."

"Bagaimana?"

"Dia gampang merasa nyaman."

Arka mengangguk pelan.

Mungkin itu alasan Alesha bisa masuk ke kehidupan banyak orang dengan cepat.

Dia tidak mencoba terlihat sempurna.

Dia hanya menjadi dirinya sendiri.

Siang hari, ketika semua kegiatan hampir selesai, tiba-tiba terjadi sedikit masalah.

Salah satu perlengkapan acara tidak ditemukan.

Beberapa anggota OSIS mulai panik.

"Barangnya tadi ada di sini."

"Sudah dicari belum?"

Suasana mulai sedikit kacau.

Alesha yang mendengar langsung mendekat.

"Ada masalah?"

Dinda langsung menarik tangannya.

"Jangan ikut campur dulu."

"Tapi kalau bisa membantu?"

Alesha melihat sekeliling.

Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Tunggu."

Semua menoleh.

Alesha berjalan menuju salah satu meja di dekat panggung.

"Ini?"

Ia mengambil sebuah kotak yang tertutup kain.

Salah satu anggota OSIS langsung terkejut.

"Itu barangnya."

Arka menatap Alesha.

"Kamu tahu di mana?"

Alesha tersenyum kecil.

"Tadi pagi aku lihat ada yang meletakkan di sini."

Reza yang baru datang langsung tertawa.

"Hebat. Kali ini bukan bikin masalah, tapi menyelesaikan masalah."

Alesha langsung tersenyum bangga.

"Lihat? Aku juga bisa berguna."

Kevin yang mendengar langsung mengangguk.

"Iya. Bagus."

Alesha langsung melihat kakaknya.

"Kak Kevin bilang bagus lagi."

Reza tertawa.

"Catat tanggalnya."

Sore hari, kegiatan sekolah akhirnya selesai.

Semua siswa mulai pulang dengan wajah lelah tapi puas.

Alesha berjalan keluar gerbang bersama Kevin.

Hari ini ia merasa sangat senang.

"Kak."

"Hm?"

"Ternyata sekolah baru nggak buruk."

Kevin meliriknya.

"Gue sudah bilang."

Alesha tersenyum.

"Iya, tapi awalnya aku nggak percaya."

Kevin menggeleng kecil.

"Kamu memang suka berpikir terlalu jauh."

Alesha tertawa.

Di belakang mereka, Arka, Reza, dan Alvian juga berjalan keluar.

Reza menatap Alesha.

"Hari ini aman."

Alesha langsung menunjuknya.

"Jangan bilang begitu. Nanti terdengar seperti aku biasanya tidak aman."

Reza tertawa.

"Memang."

Alesha langsung memasang wajah kesal.

Arka yang mendengar hanya menggeleng kecil.

Namun kali ini, tidak ada yang luput dari perhatian mereka.

Alesha bukan lagi sekadar murid baru.

Dia sudah menjadi bagian dari suasana sekolah itu.

Gadis yang selalu membawa keramaian.

Gadis yang sering membuat Kevin pusing.

Dan gadis yang tanpa sadar mulai membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum.

Malam itu, Alesha duduk di kamarnya sambil melihat foto-foto kegiatan sekolah yang tadi ia ambil.

Ia tersenyum kecil saat mengingat kejadian hari ini.

"Seru juga."

Pingky yang berada di sudut kamar kembali bersuara.

"Kwek."

Alesha menoleh.

"Iya, iya. Kamu juga ikut senang, kan?"

Ia tertawa kecil lalu meletakkan ponselnya di samping.

Tidak terasa, sudah beberapa hari ia berada di sekolah barunya. Awalnya ia merasa semuanya akan sulit, tapi ternyata ia mulai menemukan banyak hal menyenangkan.

Ada Dinda yang selalu menemaninya.

Ada Kevin yang meskipun sering mengomel tetap menjadi orang yang paling khawatir tentang dirinya.

Dan ada Arka yang awalnya terlihat dingin, tapi ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.

Keesokan paginya, Alesha kembali bersiap pergi sekolah.

Saat turun ke ruang makan, Kevin langsung memperhatikannya.

"Kamu tidur tepat waktu?"

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Benar?"

"Iya, Kak."

Kevin terlihat sedikit puas.

"Bagus."

Alesha langsung tersenyum.

"Kak, akhir-akhir ini kamu sering bilang bagus."

Kevin mengangkat bahu.

"Karena kamu memang mulai berubah."

Alesha merasa bangga.

Namun, sebelum ia sempat membalas, Oma langsung berkata,

"Tapi jangan sampai terlalu percaya diri."

Alesha langsung terdiam.

"Kok semua orang kompak?"

Kevin hanya tertawa kecil.

Sesampainya di sekolah, Alesha berjalan menuju kelas bersama Dinda.

Hari ini suasana terasa biasa saja, tidak ada hukuman, tidak ada kejadian aneh.

Setidaknya sampai jam istirahat tiba.

Saat Alesha sedang duduk di kantin, tiba-tiba Reza datang membawa sebuah kabar.

"Les."

Alesha menoleh.

"Apa?"

"Lo dipanggil guru."

Wajah Alesha langsung berubah.

"Kenapa?"

Dinda langsung ikut panik.

"Jangan bilang..."

Alesha menatap mereka.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh."

Mereka pun berjalan menuju ruang guru.

Ternyata bukan karena masalah.

Guru hanya ingin memberikan ucapan karena Alesha dianggap aktif membantu kegiatan sekolah kemarin.

Alesha menghela napas lega.

"Gue kira kena masalah lagi."

Reza yang ikut mengantar tertawa.

"Lo memang sudah punya reputasi."

Alesha mendengus.

"Tolong hapus reputasi itu."

Namun, dalam hati ia merasa senang.

Untuk pertama kalinya, ia dipanggil bukan karena melakukan kesalahan.

Tapi karena sesuatu yang baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!