NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kenangan yang Membara

Mata merah pada Patung Pewaris Kedelapan menyala semakin terang, menerangi lorong kristal yang sebelumnya sangat gelap gulita.

Retakan di permukaan batu terus melebar dengan sangat cepat, mengeluarkan suara KRAAK yang menggema keras ke seluruh penjuru.

Potongan-potongan batu berjatuhan ke lantai, namun patung itu tidak hancur melainkan justru memancarkan cahaya putih keperakan yang lembut.

Lin Yuan tidak berkedip sedikit pun, tangannya telah menggenggam erat gagang pedang besi dengan kewaspadaan yang sangat tinggi.

Naluri Tempur terus aktif memberikan laporan, namun hingga saat ini dia masih belum merasakan adanya niat membunuh sedikit pun.

Orang tua penyapu menghentikan aktivitasnya, tatapannya tertuju lurus pada patung tersebut dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

"Sudah ribuan tahun lamanya... akhirnya kau membuka mata lagi," ucapnya pelan dengan suara yang terdengar seperti sebuah gumaman.

Entah ucapan itu ditujukan kepada Lin Yuan atau kepada sosok misterius yang masih terperangkap di dalam patung batu tersebut.

Perlahan, cahaya putih keluar dari retakan batu dan mulai membentuk siluet seorang pria yang tampak sangat tembus pandang.

Jubah putih panjangnya berkibar dengan sangat anggun tanpa tertiup angin, sementara di pinggangnya tergantung sebilah pedang yang sangat indah.

Wajah sosok itu masih tidak dapat dilihat dengan jelas karena selalu diselimuti oleh kabut tipis yang sangat misterius.

Suara sistem segera berbunyi di kepala Lin Yuan, memberikan laporan mengenai identitas dari sosok yang baru saja muncul tersebut.

[Mendeteksi sisa Kenangan Jiwa! Sosok ini tidak memiliki tubuh fisik dan tidak dapat dinilai berdasarkan tingkat kultivasi normal!]

Lin Yuan sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar istilah Kenangan Jiwa yang baru pertama kali dia dengar sepanjang hidupnya ini.

Bayangan pria berjubah putih itu perlahan membuka matanya, menatap lurus ke arah Lin Yuan dengan tatapan yang sangat tenang.

Tatapannya tidak mengandung kebencian ataupun kegembiraan, dia memandang Lin Yuan cukup lama sebelum akhirnya sebuah senyum tipis muncul.

"Akhirnya... ada juga pewaris yang berhasil sampai ke tempat ini setelah sekian lama waktu berlalu," ucapnya dengan nada lembut.

Lin Yuan tetap waspada meskipun suasana terasa tenang. "Apakah kau adalah sosok yang dikenal sebagai Pewaris Kedelapan?" tanyanya serius.

Sosok itu menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda pengakuan. "Dahulu, orang-orang memang sering memanggilku dengan gelar yang sangat terhormat itu."

"Dahulu?" Lin Yuan menangkap kata tersebut dengan cepat. "Apakah itu berarti kau sebenarnya sudah lama meninggal dunia di dunia nyata?"

Bayangan itu tersenyum kecil menanggapi pertanyaan tersebut. "Mati? Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih pantas disebut hidup sekarang."

"Aku hanyalah sebuah kenangan yang tertinggal di dalam patung ini untuk menunggu kedatangan pewaris baru seperti dirimu saat ini."

Keheningan kembali memenuhi lorong kristal, sementara orang tua penyapu membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda rasa hormat yang mendalam.

"Senior," ucap orang tua penyapu dengan nada suara yang bergetar. Pewaris Kedelapan menggelengkan kepalanya perlahan menanggapi panggilan tersebut.

"Jangan memanggilku seperti itu, aku hanyalah seorang pecundang yang telah gagal dalam menjalankan tugas besar yang diberikan kepadaku."

Orang tua penyapu segera membalas dengan nada tegas. "Tidak, semua orang mungkin telah melupakanmu, tetapi aku masih tetap mengingatmu."

Tatapan Pewaris Kedelapan sedikit bergetar mendengar ucapan tersebut, namun dia segera kembali menatap Lin Yuan dengan tatapan yang serius.

"Anak muda, apakah kau tahu alasan sebenarnya kenapa tempat terpencil ini dinamakan sebagai Lorong Para Pewaris oleh leluhur kita?"

Lin Yuan menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Pewaris Kedelapan mengangkat tangannya perlahan menunjuk ke arah deretan patung di lorong.

"Masing-masing patung di sini menyimpan satu kehidupan, satu perjalanan panjang, satu penyesalan mendalam, dan juga satu pilihan hidup yang sulit."

Lin Yuan memandang patung-patung itu sekali lagi, kini dia merasakan adanya denyutan energi yang sangat lemah dari setiap patung.

Seolah masih ada sisa kehidupan yang belum sepenuhnya menghilang dari dalam patung-patung batu yang tampak sudah sangat usang tersebut.

Pewaris Kedelapan kembali berbicara dengan nada suara yang berat. "Para pewaris sebenarnya tidak benar-benar mati, mereka hanya ditinggalkan oleh waktu."

Lin Yuan terdiam merenungkan kalimat yang terdengar sangat sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam dan sulit untuk dipahami.

"Tinggalkan pedangmu di sini," ucap Pewaris Kedelapan secara tiba-tiba, membuat Lin Yuan merasa sedikit terkejut dan juga merasa ragu.

"Meninggalkan pedang? Kenapa aku harus melakukan hal itu?" tanya Lin Yuan sambil mempererat genggamannya pada gagang pedang besi miliknya.

Pewaris Kedelapan mengangguk perlahan. "Yang akan memasuki ujian berikutnya bukanlah tubuh fisikmu, melainkan jiwa murni yang ada di dalam dirimu."

Lin Yuan menatap pedang besi di tangannya yang telah menyelamatkan nyawanya berkali-kali sejak dia meninggalkan Sekte Awan Langit dahulu.

Namun, tatapan mata Pewaris Kedelapan terlihat sangat tenang dan tidak menunjukkan adanya sedikit pun niat jahat untuk memperdaya dirinya.

Orang tua penyapu ikut memberikan penjelasan tambahan. "Senior tidak berbohong kepadamu, tak seorang pun dapat membawa senjata memasuki Kenangan Jiwa."

Lin Yuan menarik napas panjang, kemudian dia perlahan melepaskan genggaman tangannya pada pedang besi yang selama ini selalu dia bawa.

Pedang besi itu ditancapkannya ke lantai lorong dengan kuat, sementara di tangan kirinya Lentera Jiwa masih memancarkan cahaya putih.

Pewaris Kedelapan mengangguk puas melihat keputusan berani tersebut. "Bagus, kau ternyata jauh lebih berani daripada dugaan awal yang aku miliki."

Dia lalu mengangkat tangan kanannya, dan sebuah cahaya putih perlahan berkumpul di ujung telunjuknya membentuk sebuah lingkaran kecil yang berputar.

Ruang di sekitarnya mulai beriak hebat seolah sebuah pintu tak kasatmata sedang dipaksa terbuka oleh kekuatan yang sangat besar.

Pewaris Kedelapan mengulurkan tangannya ke arah Lin Yuan. "Datanglah, aku akan memperlihatkan kepadamu awal dari semua bencana besar yang terjadi."

Lin Yuan menatap tangan tersebut selama beberapa saat, lalu dengan keyakinan yang mantap dia segera mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya.

Begitu kedua tangan mereka bersentuhan, seluruh lorong tiba-tiba dipenuhi oleh cahaya putih yang sangat menyilaukan hingga menutupi pandangan mata.

Cahaya putih memenuhi seluruh pandangan Lin Yuan, sementara tubuhnya terasa menjadi sangat ringan seolah jiwanya sedang tercabut dari raga.

Dia tidak lagi merasakan dinginnya udara lorong ataupun mendengar suara dari orang-orang yang sebelumnya berada di sekitarnya di dalam lorong.

Yang tersisa hanyalah keheningan yang sangat dalam, lalu suara dentingan lonceng yang sangat besar mulai bergema di dalam kesadarannya.

DENG... DENG... DENG...

Perlahan-lahan cahaya putih mulai memudar, dan Lin Yuan segera membuka matanya untuk melihat lingkungan barunya sekarang.

Pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan seketika, dia kini berada di dalam Balai Takdir namun dalam kondisi yang berbeda.

Balai Takdir ini sama sekali tidak memiliki pilar yang retak ataupun lantai yang hancur, semuanya tampak sangat megah dan indah.

Sembilan singgasana berdiri dengan sangat gagah mengelilingi aula, masing-masing memancarkan cahaya warna-warni yang sangat indah dan juga sangat mempesona.

Emas, perak, merah, hijau, biru, ungu, hitam, dan putih semuanya bersinar terang memenuhi seluruh ruangan aula yang sangat luas tersebut.

Udara di tempat ini dipenuhi oleh Energi Takdir yang sangat murni, membuat tubuh Lin Yuan terasa sangat hangat dan segar.

Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang, dan Lin Yuan segera menoleh untuk melihat siapa sosok yang baru saja datang.

Pewaris Kedelapan berdiri di sana dengan tubuh yang tidak lagi tembus pandang, dia tampak seperti seorang manusia biasa yang hidup.

Jubah putihnya tampak sangat bersih tanpa noda sedikit pun, sementara tatapannya tetap tenang seperti yang dia lihat sebelumnya di lorong.

"Inilah Balai Takdir pada masa kejayaannya yang paling agung," ucapnya sambil menatap ke sekeliling aula dengan perasaan yang sangat bangga.

Lin Yuan memandang sekeliling dengan rasa kagum yang luar biasa, sulit membayangkan tempat semegah ini kelak akan berubah menjadi reruntuhan.

"Apakah ini benar-benar masa lalu?" tanyanya penasaran. Pewaris Kedelapan mengangguk perlahan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dari Lin Yuan tersebut.

"Bukan, ini adalah Kenangan Jiwa, kau tidak benar-benar kembali ke masa lalu melainkan hanya melihatnya melalui mata dan ingatanku saja."

Tiba-tiba, suara pintu besar aula terbuka dengan sangat keras, dan sembilan orang pemuda berjalan memasuki aula dengan langkah yang mantap.

Delapan pria dan satu wanita berjalan masuk, aura kekuatan mereka begitu besar hingga ruang di sekitar mereka tampak bergetar hebat.

Yang membuat Lin Yuan sangat terkejut adalah mereka semua ternyata masih sangat muda, tidak ada yang tampak berusia di atas tiga puluh.

"Apakah mereka semua adalah para pewaris Gerbang Takdir?" tanya Lin Yuan dengan nada suara yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya.

Pewaris Kedelapan tersenyum tipis menanggapi pertanyaan tersebut. "Benar sekali, itulah kami semua saat masih berada di masa kejayaan yang agung."

Lin Yuan memperhatikan mereka satu per satu, masing-masing memiliki pembawaan unik mulai dari yang ramah hingga yang sangat dingin seperti es.

Namun, satu hal yang sama adalah tatapan mata mereka semua dipenuhi oleh keyakinan yang sangat kuat terhadap jalan hidup mereka.

Beberapa saat kemudian, seluruh pewaris tersebut serentak membungkukkan badan mereka ke arah pintu utama aula dengan penuh rasa hormat yang tinggi.

Langkah kaki lain terdengar mendekat, suaranya sangat tenang namun setiap langkahnya membuat seluruh Balai Takdir dipenuhi oleh cahaya yang terang.

Seorang pria berjubah putih memasuki aula, namun wajahnya tidak dapat dilihat dengan jelas karena ada kekuatan misterius yang sengaja menyembunyikannya.

Hanya dari kehadirannya saja, Lin Yuan merasakan tekanan aura yang jauh melampaui siapa pun yang pernah dia temui sepanjang hidupnya.

Bahkan Pewaris Ketujuh yang sangat kuat sebelumnya terasa bagaikan setitik debu kecil di hadapan sosok agung yang baru saja masuk.

Semua pewaris berbicara secara bersamaan dengan nada suara yang penuh hormat. "Hormat kami kepada Guru yang agung dan sangat mulia."

Lin Yuan membelalakkan matanya karena merasa sangat terkejut. "Guru?" tanyanya di dalam hati sambil terus mengamati setiap kejadian di depannya.

Pewaris Kedelapan mengangguk pelan memberikan penjelasan. "Dialah sosok yang membimbing kami semua, namun tidak ada yang mengetahui nama aslinya sekarang."

Pria berjubah putih itu berdiri tegak di depan sembilan singgasana, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh dengan wibawa yang sangat besar.

"Hari ini, kalian semua akan memulai langkah terakhir dalam perjalanan panjang kalian, dan tidak ada yang dapat aku pilihkan jalannya."

"Karena setiap orang harus mampu menentukan Takdirnya sendiri tanpa ada pengaruh dari pihak mana pun juga di dunia yang luas ini."

Semua pewaris menjawab secara serempak dengan nada suara yang mantap. "Kami semua mengerti dan siap melaksanakan tugas mulia ini, Guru!"

.......

Bersambung...

1
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!