NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

​Sore harinya, saat Raka sedang santai di ruang tengah, dia melihat Nadia baru saja selesai merapikan pakaian Reno. Raka langsung mendapat ide untuk merealisasikan janjinya kepada Reno tempo hari.

​"Nad, sore ini kita main ke rumah tetangga depan yuk," ajak Raka sambil berdiri.

​Nadia menoleh, agak heran. "Tetangga yang mana, Mas? Perasaan kita nggak terlalu sering main ke daerah depan sana."

​Reno yang mendengar kata 'main' langsung melompat girang dari tempat tidur. "Mau! Mau main sama Shena, Ibu! Yang kemarin Reno ceritain main ibu-ibuan!"

​Nadia langsung teringat obrolan tempo hari. "Oh... jadi anak kecil yang waktu itu Reno maksud itu namanya Shena? Ibunya siapa, Mas?"

​"Namanya Mbak Linda. Kemarin pas gua—maksudnya aku jalan-jalan sama Reno, nggak sengaja lewat depan rumahnya. Anaknya kesepian banget kagak ada temen main. Makanya sekarang mending kita ke sana aja, sekalian silaturahmi," jelas Raka.

​Nadia mengangguk setuju. "Ya udah, bentar aku ganti baju Reno dulu ya, Mas. Bajunya udah bau keringat begini."

​Setelah siap, mereka bertiga berjalan kaki menuju rumah Linda. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, hanya melewati beberapa rumah dari gang tempat tinggal mereka. Begitu sampai di depan pagar rumah yang dipenuhi tanaman bunga itu, Raka langsung mengetuk pintu pagar kayu.

​"Permisi... Mbak Linda," panggil Raka cukup keras.

​Nggak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Linda keluar dengan pakaian santainya. Begitu melihat Raka membawa istri dan anaknya, wajah Linda langsung berubah cerah dan tersenyum ramah.

​"Eh, Mas Raka! Wah, bawa keluarga ya? Mari, mari, silakan masuk," sambut Linda langsung membukakan pagar.

​"Iya, Mbak. Ini kenalin, istri saya namanya Nadia," kata Raka memperkenalkan Nadia.

​Nadia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Nadia, Mbak."

​"Linda, Mbak. Ayo silakan duduk di teras dulu, kebetulan udaranya lagi adem banget sore ini," ucap Linda mempersilakan mereka duduk di kursi rotan yang ada di teras.

​Belum juga para orang dewasa sempat mengobrol jauh, Shena kecil tiba-tiba mengintip dari balik pintu.

Begitu melihat kehadiran Reno, mata anak perempuan itu langsung berbinar senang. Dia langsung berlari keluar sambil membawa kotak berisi boneka Barbie miliknya yang kemarin.

​"Reno! Kamu beneran datang lagi!" seru Shena kecil senang.

​Reno langsung turun dari pangkuan Nadia dan menghampiri Shena. "Kan kemarin aku udah janji mau main lagi. Sekarang kita main apa?"

​"Main rumah-rumahan lagi kayak kemarin! Tapi sekarang boneka aku ada 3, jadi kamu yang pegang yang ini," kata Shena sambil menyodorkan salah satu boneka plastiknya.

​Raka yang melihat dari kejauhan cuma bisa menahan tawa dalam hati. Dia memandangi Shena kecil yang sekarang kelihatan sangat polos, ramah, dan imut.

"​Gila ya, bocah sekecil dan se-kesepian ini kalau udah gede bisa berubah jadi wanita pendendam yang hobi nyiksa gua pakai tugas lembur di kantor. Dunia bener-bener sebercanda itu," batin Raka menggeleng-gelengkan kepala.

​Nadia menyenggol lengan Raka pelan, bingung melihat suaminya senyum-senyum sendiri. "Mas, kamu kenapa sih? Kok ngelihatin anak-anak main sambil senyum-senyum aneh begitu?"

​"Ah? Nggak apa-apa, Nad. Cuma lucu aja ngelihat mereka berdua langsung akrab gitu," kilah Raka cepat.

​Linda kemudian masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman.

Nggak lama, dia kembali keluar sambil membawa nampan berisi tiga gelas es sirup rasa jeruk dan sepiring pisang goreng yang masih hangat.

​"Silakan diminum esnya, Mbak Nadia, Mas Raka. Duh, maaf ya jadi seadanya banget begini," kata Linda merasa agak sungkan.

​"Aduh, Mbak Linda, jangan repot-repot begini. Malah jadi enak kami yang bertamu, hehe," sahut Nadia mencoba mencairkan suasana agar tidak kaku. Nadia mengambil satu gelas sirup, begitu juga dengan Raka.

​Nadia dan Linda pun mulai mengobrol banyak hal, mulai dari masalah harga kebutuhan pokok di pasar, urusan merawat anak, sampai latar belakang tempat tinggal mereka masing-masing.

Raka sendiri lebih banyak mendengarkan sambil sesekali menimpali obrolan kedua wanita itu.

​Dari obrolan itu, Nadia menyadari sesuatu. Rumah Linda ini ukurannya cukup besar dan perabotannya lumayan bagus untuk ukuran lingkungan sekitar, tapi suasana di dalam rumahnya terasa sangat sepi dan kosong.

Tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang kepala keluarga sama sekali di sana.

​"Mbak Linda asli orang sini, atau merantau juga?" tanya Nadia penasaran.

​"Aku asli orang luar kota, Mbak. Pindah ke sini karena ikut suami dulu waktu awal-awal nikah," jawab Linda. Nada suaranya mendadak agak menurun saat menyebut kata 'suami'.

​Nadia yang peka langsung melirik ke arah dalam rumah sejenak. "Oh... Suami Mbak Linda kerjanya di bidang apa kalau boleh tahu? Kok dari kemarin sore pas Mas Raka lewat, katanya suaminya belum kelihatan pulang?"

​Linda menghela napas panjang. Dia memandangi gelas es sirupnya, lalu mengaduk-aduknya perlahan menggunakan sedotan dengan tatapan kosong.

​"Suamiku kerja di perusahaan swasta di pusat kota, Mbak. Tapi... dia emang jarang banget pulang ke rumah sini," ungkap Linda jujur.

Tampaknya dia sudah menahan beban ini sendirian cukup lama sampai akhirnya mau bercerita pada orang baru.

​Nadia mengernyitkan dahi, merasa simpati. "Jarang pulang? Memangnya kerjanya sistem shift atau sering ditugasin ke luar pulau, Mbak?"

​Linda menggelengkan kepalanya pelan. Senyum ramah yang tadi ada di wajahnya kini mendadak memudar, digantikan oleh raut wajah yang tampak sangat lelah secara batin.

​"Enggak kok, Mbak. Kantornya ya di kota ini aja, jaraknya paling cuma satu jam dari sini kalau nggak macet. Tapi dia emang sengaja milih buat jarang pulang. Palingan sebulan cuma sekali atau dua kali dia dateng ke rumah ini. Itu pun cuma buat naruh uang belanja seadanya, habis itu pergi lagi," cerita Linda dengan suara lirih.

​Raka yang sedang mengunyah pisang goreng langsung menghentikan kunyahannya. Dia memajukan badannya, ikut mendengarkan dengan serius.

​"Memangnya ada masalah apa, Mbak? Kalau kantornya deket kan seharusnya bisa pulang tiap hari," tanya Raka ikut penasaran.

​Linda tersenyum kecut, ada rasa sesak yang coba dia sembunyikan. "Hubungan kami... bener-bener lagi nggak baik, Mas, Mbak. Jujur, kami udah sering banget berantem dari setahun yang lalu. Masalahnya sepele, dia ngerasa bosan sama kehidupan rumah tangga kami. Ditambah lagi, suamiku itu tipikal orang yang egois dan keras kepala. Dia ngerasa kalau udah ngasih uang belanja, tugas dia sebagai suami dan ayah udah selesai."

​Linda menoleh ke arah halaman, menatap Shena kecil yang sedang tertawa lebar karena boneka Barbienya diterbangkan oleh Reno.

​"Dia sama sekali nggak pernah peduli sama kondisi mental Shena. Shena itu sering banget nanyain ayahnya ke mana, kenapa ayahnya nggak pernah pulang buat nemenin dia main. Kalau suamiku lagi pulang ke rumah pun, dia bener-bener cuek sama Shena. Malah kalau Shena deket-deket karena kangen, dia sering dibentak karena suamiku alesannya capek butuh ketenangan," lanjut Linda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​Nadia langsung memegang tangan Linda, mencoba memberikan ketenangan sebagai sesama wanita dan seorang ibu. "Astaga... kok tega banget ya. Kasihan Shena-nya, Mbak."

​"Iya, Mbak Nadia. Makanya dari kemarin pas Mbak Linda bilang baru kali ini lihat Shena se-ceria itu pas main sama Reno, aku bener-bener sedih sekaligus terharu. Di lingkungan ini anak-anak seusia Shena jarang, ditambah ayahnya sendiri kayak orang asing di rumah sendiri. Rumah ini rasanya dingin banget kalau malam," ucap Linda, menyeka sudut matanya yang sedikit basah sebelum air matanya benar-benar jatuh.

​Raka terdiam seraya memandangi Shena kecil lagi. Sekarang dia akhirnya paham alasan kenapa di masa depan Shena tumbuh menjadi wanita yang sangat mandiri, dingin, tegas, dan cenderung galak kepada bawahannya.

Sifat itu kemungkinan besar terbentuk sebagai tameng perlindungan diri karena sejak kecil dia tidak mendapatkan figur kasih sayang dan perlindungan dari seorang ayah di rumahnya.

​Suasana di teras rumah itu mendadak menjadi agak emosional dan hening, hanya diramaikan oleh suara tawa riang Reno dan Shena kecil yang masih asyik bermain di halaman tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan oleh orang tua mereka.

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!