Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Debu yang Tersisa & Firasat Buruk di Puncak Gunung
Di aula utama Sekte Xuanwu, setelah mendapatkan semua yang diinginkannya, Ning Xuanwu mengangkat tangan kanannya—satu-satunya tangan yang tersisa—dan menghantam dada Yu Wujie dengan telapak terbuka.
Blaaam.
Tubuh pemuda itu terlempar keluar dari pintu aula seperti karung gandum kosong. Namun sebelum Yu Wujie sempat menyentuh tanah, sesuatu yang tidak kasat mata—sekecil debu, setipis napas—menyelinap masuk ke dalam tubuhnya tanpa suara. Serangga penyusup. Mulai saat itu, setiap langkah Yu Wujie akan terpantau dari balik kabut gunung.
Yao Linger memandang ke arah pintu dengan dahi berkerut. "Guru... apakah aman mengirim Wuchen sendirian?"
Ning Xuanwu tidak langsung menjawab. Ia duduk kembali di singgasananya, jari-jarinya mengetuk sandaran kayu cendana pelan. "Aku telah memberikan Batu Penggoncang Langit kepadanya sebelum berangkat."
Yao Linger tercekat. Batu itu adalah salah satu pusaka terbesar Sekte Xuanwu—artefak pelindung yang mampu menangkis serangan seorang Patriark tingkat tinggi. Bahkan dalam perang antar sekte sekalipun, benda itu tidak pernah dikeluarkan sembarangan.
"Selama benda itu bersamanya," lanjut Ning Xuanwu dengan nada datar, "tidak ada bahaya di dunia ini yang mampu menyentuhnya. Kita hanya perlu menunggu kabar baik."
Jing Wuchen tiba di Kota Yunzhou saat langit masih kelabu.
Ia bergerak seperti bayangan—tanpa suara, tanpa jejak, tanpa belas kasihan. Dari satu sasana bela diri ke sasana berikutnya, ia menyisiri kota itu dengan metode yang hanya bisa disebut satu kata: pembantaian. Setiap penghuni yang tidak bisa memberikan informasi berguna akan menjadi tumbal. Setiap ruangan yang tidak menyimpan petunjuk akan ditinggalkan dalam keadaan hancur.
Namun hasilnya selalu sama.
Darah. Puing. Keheningan.
"Wah, semakin ke sini ukurannya semakin kecil dan menyedihkan," gumamnya sambil menjilat noda darah di ujung belatinya, memandang dengan tatapan bosan ke arah bangunan berikutnya. "Sungguh mengecewakan."
Akhirnya ia tiba di ujung gang sempit yang hampir terlupakan oleh kota itu sendiri. Di sana berdiri sebuah bangunan sederhana tanpa hiasan, tanpa ukiran mewah, tanpa papan nama besar yang menyombongkan diri—hanya sebilah papan kayu usang bertuliskan dua aksara: Bela Diri.
Jing Wuchen menatapnya dengan tatapan meremehkan, sudut bibirnya melengkung ke bawah.
Ini? Tempat ini yang menghasilkan senjata yang membuat Guruku kehilangan lengannya?
Ia mengibaskan tangannya, melontarkan gelombang qi yang cukup untuk merobohkan tembok batu setebal dua hasta.
Gelombang itu menghantam papan kayu tersebut—dan lenyap. Tidak ada suara. Tidak ada retak. Tidak ada goresan. Seolah energinya ditelan oleh kekosongan itu sendiri.
Jing Wuchen mengernyit. Ia melangkah masuk.
Begitu kakinya melewati ambang pintu, nalurinya sebagai seorang pengintai berbisik keras:" pergi!!!"
Namun kesombongan lebih cepat berbicara dari naluri. Ia menyebarkan qi-nya ke seluruh ruangan,sebuah pemindaian kasar, cara seorang kuat mengumumkan kehadirannya.
Lalu sesuatu terjadi.
Delapan belas lukisan senjata yang tergantung di dinding—yang semula tampak seperti hiasan biasa, memudar dan berdebu—tiba-tiba menyala dengan cahaya keemasan. Satu per satu, dari permukaan kanvas masing-masing, muncul wujud nyata: pisau melengkung, tombak bermata tiga, pedang panjang, kapak perang, trisula, cambuk baja,delapan belas senjata kuno yang masing-masing memancarkan aura lebih tua dari sekte mana pun yang pernah ia kenal.
Dan semuanya mengarah kepadanya.
Wajah Jing Wuchen pucat seketika. Rasa sombong yang menempel di tulangnya lumer seperti lilin di depan tungku.
Dengan tangan gemetar ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan Batu Penggoncang Langit—cahaya birunya menyala, membentuk perisai pelindung di sekelilingnya.
Perisai itu bertahan selama setengah detik.
Kemudian hancur, seperti kertas tipis yang dilempar ke dalam api.
Tidak ada teriakan. Tidak ada kesempatan untuk mundur. Tidak ada waktu untuk menyesal.
Hanya debu halus yang perlahan mengendap ke lantai, bersama sebuah batu biru yang terguling pelan, lalu berhenti di dekat kaki meja.
Di halaman belakang, Lin Qian sedang berbaring di kursi bambu, satu kaki terangkat santai, membelai kepala Wangcai yang mendengkur puas di pangkuannya. Sore itu terasa damai—angin sepoi, cahaya matahari hangat, dan tidak ada hal penting yang perlu dipikirkan.
Gedebuk.
Lin Qian membuka satu mata.
Han Yu sudah lebih dulu berlari ke ruang depan, wajahnya bingung. "Guru! Lantai retak, dan ada batu besar di sini. Dari mana asalnya?"
Lin Qian masuk, memandang retakan di lantai, lalu batu biru yang tergeletak di sana. Ia menghela napas panjang. "Bajingan mana yang melempar batu ke rumahku? Kalau ketahuan orangnya, pasti ku ajari sopan santun dengan sungguh-sungguh."
Ia celingukan ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa pun. Angin bertiup kosong.
"Sudahlah. Buang saja benda itu."
Han Yu memungut batu itu, lalu tiba-tiba berhenti. Ia memandang ke arah pintu masuk, lalu ke batu itu, lalu ke pintu lagi. "Guru... bukankah anak tangga depan itu selalu membuat Guru tersandung setiap pagi? Tingginya tanggung sekali. Kalau batu ini diletakkan di sana sebagai pengganjal......"
Mata Lin Qian berbinar.
"Murid pintar." Ia menepuk bahu Han Yu dengan puas. "Taruh di sana. Siapa sangka keusilan orang asing malah jadi berkah buat kita."
Hari-hari berlalu tenang di sasana kecil itu. Penyakit Han Yu sudah pulih sepenuhnya, dan Lin Qian mulai mengajarinya teknik baru dengan ritme yang santai namun teratur. Kehidupan berjalan damai, tidak ada angin tidak ada hujan.
Di Sekte Xuanwu, suasananya jauh berbeda.
Yao Linger berdiri di depan gurunya dengan wajah tegang. "Guru. Sudah melewati batas waktu yang ditentukan. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada sinyal dari Batu Penggoncang Langit."
Hening.
Alis Ning Xuanwu mengerut sangat dalam. Ia tahu kemampuan Wuchen. Ia tahu kekuatan batu itu. Keheningan seperti ini bukan keterlambatan biasa,ini adalah ketiadaan yang berbicara lebih keras dari kata-kata mana pun.
"Jing Wufeng."
Seorang pria berwajah dingin seperti batu granit melangkah keluar dari barisan.
"Turun ke Kota Yunzhou. Cari jejak Wuchen. Cari tahu apa yang terjadi, dan bawa aku laporan lengkap—sampai detail terkecil sekalipun."
"Mengerti, Guru."
Sosok itu lenyap.
Ning Xuanwu duduk diam di singgasananya, memandang ke kegelapan sudut ruangan. Di dadanya, untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, sesuatu yang tidak ia kenali mulai tumbuh perlahan.
"Rasa was was."