NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL

Tia menamai rencananya “Konslet Tapi Jujur” dan mengumumkannya seperti sutradara yang baru mendapat dana film nasional. Ia memasang ring light di depan bengkel, menempel kertas bertuliskan EPISODE 1, lalu menyuruhku berdiri sambil memegang tang dan tersenyum.

“Aku teknisi, bukan pasta gigi,” kataku.

“Makanya jangan senyum lebar. Cukup kelihatan tidak kriminal.”

Fadli tertawa dari atas motor. Binsar muncul dengan helm proyek terbalik dan langsung meminta bagian wawancara.

“Aku bisa jelaskan jenis kabel,” katanya.

“Kau kemarin memberi label berbahaya pada termos,” jawab Liza.

“Itu pencegahan. Air panas memang berbahaya.”

Tujuan Tia sebenarnya masuk akal. Setelah rumor dan pembatalan pelanggan, ia ingin menunjukkan proses kerja kami: pemeriksaan awal, perkiraan harga, persetujuan pemilik rumah, penggantian bahan, dan pengujian akhir. Liza menyusun daftar yang boleh direkam. Aku diminta menjelaskan tanpa makian dan tanpa kalimat “aman, bah” sebelum pemeriksaan selesai.

“Berarti aku harus belajar bahasa baru,” kataku.

Episode pertama merekam kami memperbaiki stopkontak warung yang menghitam. Tia mengambil gambar tanganku saat memutus MCB, menunjukkan kabel lama, lalu menampilkan harga material di layar. Aku menjelaskan bahwa stopkontak tidak terbakar karena nasib buruk, melainkan karena beban dan sambungan longgar.

“Ulang,” kata Tia.

“Apa lagi?”

“Wajah Abang seperti sedang mengancam stopkontak.”

Video itu tayang sore hari. Dalam dua jam, ada tiga pesan pelanggan baru. Satu ibu meminta kami memeriksa meter karena takut tagihannya ikut naik. Seorang pemilik kios bertanya apakah biaya kunjungan benar-benar sesuai yang tertulis. Untuk pertama kalinya, komentar menanyakan pekerjaan, bukan kesalahan pesta.

Untuk pekerjaan berikutnya, Liza menyiapkan lembar persetujuan satu halaman. Pemilik rumah membaca sampai tiga kali dan bertanya apakah tanda tangan itu berarti ia akan terkenal. Tia menjawab bahwa terkenal tidak termasuk paket servis. Binsar berdiri di belakang sambil memegang papan kecil bertuliskan WAJAH TIDAK DIREKAM, tetapi papan itu terbalik selama setengah video.

Hasilnya justru terasa lebih manusiawi. Kamera hanya menyorot tangan, alat, kabel, dan suara pemilik rumah dari luar gambar. Tidak ada wajah yang dipakai sebagai bahan tertawaan. Aku mulai melihat bahwa konten tidak harus mempermalukan orang untuk menarik perhatian, walaupun jumlah penontonnya memang tidak sebanyak video ketika aku hampir tersetrum.

Tia langsung membuat episode kedua. Kali ini ia merekam meja kerja, buku jadwal, kotak alat, dan Pak Tor yang sedang menyolder kipas kecil. Bapak tidak suka kamera, tetapi tidak menyuruhnya pergi. Ia hanya menunduk lebih dalam.

Aku sedang mengangkat galon ketika kulihat layar ponsel Tia. Kamera menyorot tangan Pak Tor. Getarannya jelas. Solder bergerak sedikit sebelum menyentuh titik timah. Tia memperlambat gambar agar terlihat dramatis.

“Hapus bagian itu,” kataku.

“Kenapa? Ini menunjukkan Bapak tetap bekerja.”

“Ini menunjukkan sesuatu yang bukan urusan orang.”

Tia menggulir video. Adegan berikutnya memperlihatkan Mak Mina duduk di meja makan, menghitung uang hasil jualan dan memisahkannya ke dalam amplop bertuliskan SEWA, UTANG, BELANJA. Kamera bahkan sempat menangkap angka di buku.

“Yang ini pun hapus.”

“Bang, konsepnya transparan.”

“Transparan bukan telanjang.”

Tia menurunkan ponsel. “Waktu Kak Sri malu karena videonya, Abang bilang itu promosi. Waktu wajah pelanggan masuk, Abang bilang nanti bisa dijelaskan. Sekarang karena yang kelihatan Bapak dan utang kita, baru Abang ingat privasi.”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya. Ia benar, dan itu membuatku lebih marah daripada jika ia salah.

Liza mengambil ponsel Tia dan memutar seluruh video. “Bagian pekerjaan boleh. Bagian tangan Pak Tor harus minta izin. Angka utang dihapus. Wajah Mak Mina jangan dipakai tanpa persetujuan.”

“Kalau semua dipotong, ceritanya tidak kuat,” protes Tia.

“Kita bukan menjual penderitaan keluarga.”

“Tapi orang peduli karena ada cerita.”

Pak Tor ternyata berdiri di pintu bengkel. Entah sejak kapan ia mendengar. Ia melihat layar tanpa meminta video diputar lagi.

“Hapus,” katanya.

Tia langsung diam. “Iya, Pak.”

Mak Mina tidak sependek itu reaksinya. Ia mengambil sendok sayur dan mengejar Tia sampai ke depan warung karena bagian dirinya menghitung uang direkam dari sudut yang menurutnya membuat dagunya terlihat dua.

“Utang boleh kauhapus, daguku pun hapus!” teriaknya.

Fadli menyelamatkan ring light, Binsar menyelamatkan termos yang masih berlabel berbahaya, dan aku menyelamatkan diri dengan berdiri di belakang Liza.

Tia mengunci diri di kamar untuk mengedit. Setengah jam kemudian ia keluar dengan mata merah, bukan karena menangis, melainkan karena terlalu lama menatap layar. Ia menunjukkan versi baru. Bagian Pak Tor tinggal dua detik dari jarak jauh. Buku utang tidak terlihat. Mak Mina diganti dengan gambar panci sambal.

“Kirim dulu ke semua orang yang muncul,” kata Liza.

Tia mengangguk. Ia mengirim pratinjau ke grup keluarga. Pak Tor tidak membalas. Mak Mina memberi tanda jempol lalu menulis bahwa gambar pancinya kurang bersih.

Video belum sempat kami tayangkan ulang ketika pesan masuk dari salah satu pengikut. Sebuah akun hiburan sudah mengunggah salinan versi lama. Judulnya ditulis besar-besar: BENGKEL BANGKRUT MINTA DIKASIHANI - AYAH SAKIT, IBU HITUNG UTANG.

Tia memucat. “Aku baru unggah sebagai draf tertutup.”

“Tertutup di mana?” tanyaku.

Ia melihatku, lalu melihat ponselnya. “Rupanya tadi sempat publik tiga menit.”

Tiga menit cukup untuk seseorang mengunduhnya. Tiga menit juga cukup untuk mengubah tangan Bapak, buku utang, dan periuk Mak Mina menjadi hiburan orang yang tidak pernah duduk di rumah kami.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!