Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 NOEL VS RAJA IBLIS KEMARAHAN
_WUUU WUUU WUUU_
Alarm merah memantul di setiap dinding batu Akademi Valthera.
"EVAKUASI! SEMUA MURID MASUK KE BUNKER!" teriak Prof. Marlow sambil membuat kubah sihir.
Tapi tidak ada yang bergerak. Semua mata tertuju ke tengah arena.
Di sana, Aldric melayang. Tubuhnya diselimuti aura hitam yang berdenyut seperti jantung. Tanduk melingkar menembus tengkoraknya. Sayap energi merah sobek-sobek.
"AAAKHHH!!!" Raungannya membuat kaca jendela pecah.
"RASA SAKIT INI... RASA MARAH INI... ENAK SEKALI!"
Di bawahnya, Kael berdiri. Jubahnya berkibar. Topeng peraknya sudah retak setengah, memperlihatkan rahang dan luka bakar lama.
`[Ding!]`
`[WADAH TERDETEKSI: ALDRIC VON RHEIN]`
`[RAJA IBLIS: BELIAL - KEMARAHAN]`
`[LEVEL: S+]`
`[Misi Utama: Bertahan 10 Menit / Kalahkan Wadah]`
`[Gagal: Akademi Hancur + 10.000 Nyawa Melayang]`
Kael menarik napas. `10 menit. Aku bisa.`
"NOEL!" Aldric menukik seperti meteor. Kecepatannya membuat udara terbakar.
_BOOOOOOM!_
Tinju bertanduk menghantam tanah. Kawah sedalam 5 meter terbentuk. Debu menutup seluruh pandangan.
"MATI KAU!" Suara Aldric bergema dari segala arah.
Dari dalam debu, bayangan bergerak cepat.
_SHING!_
Kael muncul di atas Aldric. Pedang apinya sudah menebas.
Aldric menoleh. Matanya hitam. "Terlalu... LAMBA-"
_DUG!_
Tebasan Kael menghantam bahu Aldric. Tapi hanya memercikkan aura hitam. Tidak ada luka.
Aldric tertawa. "Kau pikir bisa melukaiku dengan api murahan itu?"
Dia balik menebas. Cakar energi 3 meter menyapu.
Kael berguling. _KRAK!_ Batu di belakangnya hancur.
"Api murahan?" Kael berdiri. Api di tubuhnya mulai naik. "Coba lihat ini."
"Nyala Pertama: Cakar Naga!"
_GRAAA!_
5 cakar api melesat dari tanah, mencengkeram Aldric dan melemparkannya ke langit.
Aldric berputar di udara. "Lucu."
Dia menghentak. "Kemarahan: Hujan Duri!"
Langit langsung gelap. Ribuan duri energi merah jatuh seperti hujan.
Penonton berteriak. Prof. Selene langsung membuat perisai raksasa. "JANGAN KELUAR!"
Kael berdiri di tengah hujan. Dia tidak menghindar.
"Perisai: Sisik Naga."
_FWOOOSH!_
Api membentuk kubah sisik di atasnya. Semua duri meleleh saat menyentuh.
3 menit berlalu. Keduanya belum ada yang terluka parah. Hanya saling menguji.
Di tribun, Elara mengepalkan tangan. Es di ujung jarinya mencair karena panas.
`Itu... bukan sihir akademi. Teknik itu... teknik terlarang.`
*AKT 2: BAYANGAN MASA LALU - 1200 KATA*
_BUAK!_
Kael terpental. Punggungnya menghantam tiang bendera. Tulangnya retak.
"BATUK..." Darah keluar dari sudut bibirnya.
Aldric mendarat pelan. Dia berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah retak.
"Kau tahu rasanya apa, Noel?" suaranya serak. "Rasanya dikhianati? Rasanya dibuang?"
Dia menginjak dada Kael. "AKU MERASAKANNYA SETIAP HARI KARENA KALIAN!"
Untuk sesaat, mata hitam Aldric berkedip. Kembali jadi biru.
"Ka...Kael? Lari... dia mengendalikan..."
Kael terkejut. "Aldric? Kau masih di sana?"
Tapi sedetik kemudian mata Aldric hitam lagi.
"DIAM!" Raungan Raja Iblis. "TUBUH INI MILIKKU!"
_DUG!_
Aldric menendang Kael sampai menghantam dinding arena. Dinding retak.
Kael batuk darah. Pandangannya kabur.
Flashback menyerbu.
_1 tahun lalu. Lorong akademi._
_Kael tergeletak. Aldric menendangnya._
_"Sapu yang bersih ya, sampah!"_
_Tawa. Ludahan. Hinaan._
Kael mengepalkan tangan. Api di dalamnya bergetar.
"Dulu... aku diam," bisiknya. "Dulu aku lemah."
Dia berdiri. Tulang rusuknya berbunyi.
"Tapi sekarang..."
_KRAK_
Sisa topengnya pecah dan jatuh. _CLANG_
Wajah Kael Veyn. Penuh bekas luka. Tapi matanya menyala merah keemasan.
"Aku Kael Veyn. Dan aku tidak akan diam lagi."
Seluruh stadion hening.
"Kael?!"
"Itu Kael Veyn?! Yang 0 Mana?!"
"Tidak mungkin!"
Di tribun, Elara berdiri. Tangannya menutup mulut. Air mata jatuh.
"Kael... itu benar-benar kau..."
Prof. Selene menyipitkan mata. "Jadi begitu... Warisan Api."
Aldric menatap Kael. Untuk pertama kalinya, Raja Iblis itu ragu.
"Kau... kau bukan manusia biasa."
"Benar," kata Kael. Api di tubuhnya meledak. Membentuk sayap di punggungnya.
"Aku adalah kesalahan kalian. Dan hari ini... aku akan memperbaikinya."
`[Ding!]`
`[Warisan Api: 50% Tersinkronisasi]`
`[Skill Baru Terbuka: `Naga Pembebas - Mode Penuh`]`
*AKT 3: PERANG NAGA VS IBLIS - 1500 KATA*
"Berisik!" Aldric meraung. "KEMARAHAN: DUNIA KIAMAT!"
Langit langsung memerah. Awan darah. Petir hitam. Tanah bergetar.
Di belakang Aldric, ilusi neraka terbuka. Tangan-tangan iblis keluar.
Kael tidak gentar. Dia menancapkan pedang apinya ke tanah.
"Naga Pembebas!"
Tanah di bawahnya retak.
_GRUUUUNG..._
Dari 4 penjuru arena, pilar api meletus. Menyatu di atas kepala Kael.
Membentuk seekor naga. Panjang 50 meter. Sisiknya dari api murni. Matanya dua matahari.
"RAAAAHHH!!!"
Raungan naga mengguncang penghalang Prof. Selene.
Pertarungan dimulai.
Naga vs Iblis.
Kael menunggangi kepala naga. Aldric terbang dengan sayapnya.
_BUAK! BUAK! BUAK!_
Cakar vs Cakar. Ekor vs Sayap. Api vs Aura Hitam.
Setiap benturan membuat akademi bergetar. Murid yang di bunker bisa merasakan guncangannya.
"Kael hati-hati!" teriak Elara tanpa sadar.
Aldric tersenyum. "Kau punya teman, ya? Bagus. Aku bunuh dia duluan."
Dia menembakkan laser hitam ke arah tribun Elara.
"ELARA!" Kael berteriak.
Naga berbalik. Menahan laser itu dengan tubuhnya. _SHHHHHH_
Sisik naga meleleh. Kael ikut terluka. Bahunya terbakar.
"Jangan... ikut campur..." Kael terengah.
Elara menggigit bibir. Dia ingin membantu. Tapi dia tahu, ini pertarungan Kael.
7 menit. Keduanya kelelahan.
Kael: Luka bakar di setengah badan. Napas tersengal.
Aldric: Sayapnya sobek. Aura hitamnya menipis.
"Kenapa... kenapa kau tidak mati?!" Aldric berteriak frustasi.
"Karena..." Kael berdiri di atas kepala naga. "Karena aku punya sesuatu yang kau tidak punya."
"Apa?!"
"Harapan."
Kael mengangkat pedangnya tinggi. Semua api di akademi, bahkan lampu, bahkan obor, tertarik ke pedangnya.
"Naga Pembebas: Teknik Terlarang - Pemurnian!"
Naga itu meraung dan terjun. Menuju Aldric.
Aldric juga berteriak. "KEMARAHAN MUTLAK!"
Dia membentuk bola hitam sebesar rumah di tangannya.
_BOOOOOOM!!!!!_
Tabrakan. Cahaya putih membutakan semua orang. Suara ledakan membuat semua orang tuli sementara.
*AKT 4: AKHIR & AWAL BARU - 1300 KATA*
30 detik. Seperti 30 tahun.
Cahaya meredup. Asap mengepul.
Arena... hilang. Yang tersisa hanya kawah raksasa berisi lava.
Di tengah lava, ada 2 orang.
Kael. Berlutut. Seluruh tubuhnya luka bakar. Tapi dia masih hidup. Di tangannya ada kristal merah kedua. `Pecahan Api Kedua.`
Di depannya, Aldric. Terbaring. Tanduknya hancur. Sayapnya hilang. Matanya... normal. Biru.
"Me...nang?" bisik Aldric lemah.
Kael terbatuk. "Kita... seri."
Aldric tertawa. Batuk darah. "Sialan... kau... kau memang monster."
Air matanya jatuh. "Kael... maafkan aku. Untuk semua yang kulakukan..."
Kael merangkak mendekat. Menaruh tangan di kepala Aldric.
"Sudah. Tidur."
Aldric tersenyum. Lalu matanya terpejam. Pingsan.
Suasana hening. Lalu...
"KAELLL!!!"
Elara berlari. Menerobos lava yang sudah mendingin. Dia memeluk Kael erat. Tidak peduli darah. Tidak peduli panas.
"Aku kira kau mati! Aku kira..."
Kael memeluk balik. Lemah. "Aku... masih hidup. Elara."
Prof. Selene dan tim medis datang. "Bawa dia ke ruang perawatan! SEKARANG!"
Saat tandu mengangkat Kael, ` [Ding!]`
`[Misi: Selamatkan Akademi SELESAI SEMPURNA]`
`[Hadiah: Pecahan Api Kedua + Judul "Pelindung Akademi" + Akses Perpustakaan Terlarang]`
`[Peringatan Sistem: 3 Sinyal Wadah lain terdeteksi. Lokasi: Kerajaan, Hutan Gelap, Menara Langit]`
Malam itu, di seluruh akademi hanya ada 1 nama yang disebut.
*KAEL VEYN.*
Murid yang dibuang. Yang kembali sebagai pahlawan.
Di ruang perawatan, Elara duduk menjaga. Menggenggam tangan Kael.
"Maaf," bisiknya. "Maaf karena tidak percaya padamu."
Jari Kael bergerak. Menggenggam balik.
"Tidak apa-apa... kita mulai dari awal."
Di luar jendela, 3 titik cahaya merah melesat ke 3 arah berbeda.
Perang sesungguhnya... baru dimulai.