Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Mencari tameng
Altair memarkir Ducatinya agak jauh dari lobi biar nggak menarik perhatian. Sambil melepas helm, ia mencangklong jaket kulitnya di lengan. Pelipisnya masih agak basah oleh keringat, tapi pandangannya tetap fokus. Soal istrinya yang mulai paham siapa dia sebenarnya, Altair tak ambil pusing. Lagipula, gadis itu kelihatannya juga ogah membahasnya lebih lanjut.
Aquilla turun dari motor, lalu meremas ujung kaos Altair persis anak kecil yang takut ketinggalan.
"Takut?" tanya Altair pelan.
Aquilla mengangguk dengan bibir agak pucat. "Gue nggak kenal orangnya. Takut ditanya-tanya."
"Nanti gue temenin sampai depan pintu," hibur Altair sambil mengusap punggung tangan Aquilla memakai ibu jarinya. "Tapi pas masuk, lo sendiri ya. Biar lo nyaman ngobrolnya. Janji, gue nggak bakal nguping."
Mereka masuk ke ruang tunggu yang terasa adem. Dindingnya putih, ada tanaman monstera, dan tercium wangi lavender yang samar. Alunan musik pianonya juga pelan, sama sekali tak terasa seperti rumah sakit.
"Selamat pagi," sapa resepsionis ramah. "Ada janji?"
"Aquilla," sahut Altair singkat. "Jam 10."
"Silakan duduk dulu ya, nanti dipanggil dr. Livia."
Aquilla duduk di sofa. Kakinya gemetar halus dan jarinya makin dingin. Melihat itu, Altair menggenggam tangan Aquilla lebih erat.
"Gue di sini," bisik Altair. "Nggak kemana-mana. Gue tungguin."
Pukul 10.05, pintu terbuka.
"Aquilla?" panggil seorang wanita 35-an tahun. Rambutnya dikuncir rapi, memakai kemeja linen krem santai tanpa makeup tebal. Senyumnya lembut dan menenangkan.
dr. Livia.
Aquilla mendadak berdiri dan menatap Altair panik.
"Gue tunggu di luar," kata Altair sambil menepuk pelan tangan Aquilla. "Pelan-pelan aja. Nggak ada yang nuntut apa-apa kok."
Aquilla akhirnya melangkah masuk, lalu pintu tertutup pelan.
Di dalam, suasananya cukup hangat dengan sofa abu-abu empuk dan meja kecil berisi kotak tisu. Tak ada meja kerja besar yang kaku.
"Duduk aja," panggil dr. Livia ramah sambil mengambil tempat di kursi rotan seberang Aquilla. "Panggil Livia aja ya, santai aja."
Aquilla duduk mengindil di ujung sofa, kaku persis patung sambil meremas bajunya.
Melihat ekspresi cemas pasien barunya, dr. Livia bertanya pelan. "Sebelumnya pernah ke psikiater?"
Aquilla menggeleng lemah. "Enggak. Dulu... nggak ada yang peduli."
Hati Livia mencelos kasihan. Kebanyakan pasiennya memang memendam luka karena kurang perhatian dari orang sekitar.
"Gimana perasaan kamu hari ini?" tanya Livia santai, seperti mengajak teman ngobrol.
Aquilla diam sebentar, menatap lantai.
"Takut," bisiknya pelan.
"Takut kenapa?"
"Takut dihakimi. Takut ditanya hal yang nggak mau saya ingat... takut nangis juga."
Livia mengangguk mengerti. "Menangis di sini boleh kok, nggak bakal ada yang nge-judge. Kita pelan-pelan aja ya."
Livia sengaja tak langsung membahas topik berat. Ia memulainya dari hal kecil dulu.
"Kamu suka makan apa?"
Aquilla agak kaget. "Hah?"
"Makanan favorit," Livia tertawa kecil. "Biar makin akrab aja, biar kamu tau saya nggak galak."
Aquilla mikir sejenak. "Mie ayam pedas. Sampai keringetan."
Livia tersenyum dan mencatatnya. "Oke, mie ayam pedas. Sip."
Dua puluh menit berikutnya berlalu cair layaknya ngobrol santai. Livia jadi tahu warna favorit Aquilla itu putih, dia suka segala jenis musik, dan paling benci matematika.
Begitu bahu Aquilla tak lagi tegang, Livia baru bertanya pelan.
"Boleh cerita sedikit... apa yang bikin kamu datang ke sini?"
Aquilla menarik napas panjang. Jemarinya meremas kain baju sampai memutih.
"Semalam... saya diadang preman," ujar Aquilla dengan suara bergetar. "Saya panik banget, terus teringat kejadian lama."
Livia menyimak tanpa menyela.
"Empat tahun lalu," lanjut Aquilla sambil menahan air mata. "Saya hampir dilecehkan sama kakak kelas. Dia obsesif banget... sampai pernah ngurung saya di apartemennya seminggu lebih. Dia memaksa saya..."
Air mata Aquilla akhirnya menetes.
"Sejak itu, saya selalu takut sama cowok asing. Takut disentuh. Badan saya otomatis panik duluan sebelum otak saya sempat mikir."
Livia menyodorkan tisu. "Makasih udah berani cerita, Aquilla. Itu pasti berat banget. Tapi wajar kalau kamu trauma, tubuh kamu cuma berusaha melindungi kamu."
"Gimana cara sembuhnya?" tanya Aquilla polos dengan mata memerah. "Saya mau cepat sembuh. Saya nggak mau nyusahin Altair terus. Cuma dia yang saya punya sekarang..."
"Sembuh itu butuh proses, bukan balapan," balas Livia lembut. "Tapi kita bisa coba teknik grounding. Kalau panik, coba pegang benda di sekitar kamu. Rasakan teksturnya. Sebutkan lima benda yang kamu lihat, lalu atur napas perlahan."
Livia membimbing Aquilla latihan napas sampai gadis itu sempat terbatuk kecil karena napasnya masih pendek.
"Kamu juga bisa bawa 'benda aman' kayak gelang atau gantungan kunci buat dipegang pas panik," tambah Livia. Lalu ia bertanya pelan, "Soal Altair... kamu merasa aman di dekat dia?"
"Banget..." aku Aquilla lirih. "Dia orang pertama yang bikin saya mau bangkit lagi."
Livia tersenyum hangat. "Kalau begitu, pertahankan dia. Selama dia nggak keberatan, jangan ragu buat bersandar. Lagipula, dia sendiri yang daftarin kamu ke sini."
Aquilla cuma bisa tersenyum tipis, masih menyimpan takut kalau Altair melakukan ini cuma karena kasihan.
Sesi 50 menit itu berlalu cepat.
"Kamu hebat sudah berani datang," puji Livia sebelum Aquilla pamit. "Sampai ketemu minggu depan ya? Pelan-pelan aja."
Aquilla mengangguk lega. Meski matanya sembap, dadanya terasa jauh lebih ringan.
Begitu keluar, Altair langsung berdiri. "Gimana?"
"Capek," jawab Aquilla jujur. "Tapi... ternyata nggak seseram yang gue bayangin."
Altair mengacak pelan rambut Aquilla. "Bangga gue sama lo." Ia lalu menambahkan datar, "Mulai besok, lo belajar bela diri sama gue."
Aquilla cuma mengangguk pasrah. Nggak bakal dibantah juga, toh Altair memang selalu ada buat dia.
...
Rumah Daniel — Ruang Kerja
Daniel duduk santai di kursi kulitnya sambil memegang gelas wiski yang esnya sudah mencair. Matanya menatap dingin ke luar jendela.
Pintu diketuk. Anak buahnya masuk dengan kondisi babak belur dan baju berdarah.
"Gimana?" tanya Daniel dingin.
"Gagal, Tuan," lapornya sambil menunduk. "Ceweknya histeris, terus anak-anak geng Black Hounds mendadak datang menghajar kami."
"Sialan!" Daniel membanting gelasnya ke tembok hingga pecah berantakan.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela dengan napas memburu. "Urus satu cewek aja nggak becus!"
Daniel menoleh tajam. "Altair turun tangan?"
"Iya, Tuan. Dia yang bawa cewek itu. Katanya, kalau ada yang berani nyentuh istrinya lagi, dia bakal habisi sendiri."
Daniel merapatkan rahangnya. Benci mengakui kenyataan ini. "Ternyata bocah itu beneran pasang badan..."
"Ruby mana?" tanyanya lagi.
"Di kamar, Tuan. Masih histeris."
Daniel memijit pangkal hidungnya, frustrasi karena rencananya berantakan. "Keluar."
Begitu pintu tertutup, Daniel bergumam dingin. "Aquilla... kenapa harus sekeras kepala ini? Apa hebatnya kamu sampai Altair mau bela kamu? Sialan..."
Pintu tiba-tiba terdorong keras. Ruby menerobos masuk dengan mata sembap dan makeup luntur.
"Papa! Gimana?!" cecar Ruby histeris. "Aquilla udah kapok, kan?!"
Daniel menatap putrinya kasihan. "Gagal, Sayang."
Ruby membeku, lalu tangis histerisnya pecah lagi.
"Kok bisa gagal?!" jeritnya sambil melempar vas ke lantai. "Aku udah bayar mahal-mahal!"
"Karena Altair," potong Daniel. "Dia jagain Aquilla terus. Dia nggak main-main."
"Terus kita cuma bisa diam?!" jerit Ruby. "Aku mau cewek itu MATI!"
Daniel merangkul bahu Ruby, berusaha menenangkan. "Ruby, tenang."
"Maksud Papa apa?"
"Kita nggak bakal diam," bisik Daniel dengan mata dingin. "Kita lanjut dengan cara yang lebih bersih."
"Papa setuju?!" Ruby langsung memeluk ayahnya. "Papa bakal hancurin dia, kan?"
Daniel mengelus rambut putrinya. "Iya, Sayang. Apapun buat kamu."
"Aku benci lihat Altair mulai meratapi dia..." isak Ruby.
"Papa tahu. Serahkan sama Papa."
Ruby menyunggingkan senyum sinis di balik tangisnya. "Mungkin Evan bisa bantu kita, Pa... Kita butuh tameng yang lebih kuat, kan?"